IslamDiaries

Month
Filter by post type
All posts

Text
Photo
Quote
Link
Chat
Audio
Video
Ask

March 2011

“Tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Nya”—
Mar 23, 2011
Islam itu Agama Ku !

Allah menganugerahi kepada para hamba Nya dengan nikmat yang sangat banyak sampai tidak terhitung, mungkin nikmat yang terpenting bagi kita sebagai manusia adalah nikmat telah diciptakannya kita sbg manusia, kita juga diberikan nikmat umur panjang agar dapat bertaubat juga nikmat hidayah, atau juga nikmat akan terbatasnya diri kita dan nikmat yang teragung dan tertinggi dari nikmat-nikmat tadi adalah nikmat Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW sebagai utusanNya. Tidak ada keberuntungan bagi umat manusia di dunia dan akhirat kecuali dengan Islam. Allah menciptakan alam ini sebagai bukti akan kesempurnaan ilmu dan kekuasaannya. Islam adalah penerang nya yang menjelaskan perkara yang bermanfaat dan berbahaya. Karena setiap manusia membutuhkan syari'at. Maka, dia berada di antara dua gerakan: gerakan yang menarik kepada perkara yang berguna dan gerakan yang menolak mara bahaya.

Nah, untuk masalah Agama Islam itu ada tiga tingkatan: Islam, Iman danIhsan.

 Perbedaan di antara Islam, Iman dan Ihsan:

            Jika disebutkan secara bersamaan, maka yang dimaksud dengan Islam adalah amal perbuatan yang Nampak atau terlihat secara jelas, yaitu rukun Islam yang lima, sdgkan pengertian iman adalah amal perbuatan yang tidak Nampak, yaitu rukun iman yang enam.

Keimanan ini mencakup keyakinan dan kepercayaan dalam hati.

Dan bila hanya salah satunya (yang disebutkan) maka maksudnya adalah makna dan hukum keduanya.

Ruang lingkup ihsan lebih umum daripada iman, dan iman lebih umum daripada Islam. Dari segi makna maka Ihsan lebih umum dari sisi maknanya; karena ia mengandung makna iman/keimanan. Seorang manusia tidak akan bisa menuju martabat ihsan kecuali apabila ia telah merealisasikan iman.

Kemudian makna Iman lebih umum daripada Islam dari sisi maknanya; karena ia mengandung Islam. Maka, seorang hamba tidak akan sampai kepada tingkatan iman kecuali apabila telah merealisasikan atau dgn kata lain menjalankan Islam. Karena ahli iman adalah segolongan dari ahli Islam (muslim), bukan semuanya.

Maka, jelas sekali kalau setiap mukmin adalah muslim dan tidak setiap muslim adalah mukmin.

Mari kita telusuri lebih dalam.

Pengertian Islam:

            Islam itu adalah Ikhlas/berserah diri kepada Allah dengan tauhidNya dan tunduk kepadaNya, dengan taatNya dan berlepas diri dari perbuatan syirik. Allah ingin komitmen kita. Komitmen yang mana? Komitmen akan SyahadatAin, bahwa SyahadatAin adalah garis batas yang memisahkan keislaman dengan kekafiran.  Tidak ada wilayah abu-abu di antara keduanya.  Pilihannya hanya dua: beriman atau kafir. Lalu kita punya komitmen lagi, sebelum kita diturunkan ke dunia :

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengata-kan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)” (QS Al Araaf:172)

Nah ke 2 contoh tsb diatas adalah bentuk penyerahan diri kita kepada Allah SWT. Bentuk kepasrahan diri kita. Mari kita kembalikan ke konteks ke Islaman. Barangsiapa yang berserah diri kepada Allah, maka dia adalah seorang muslim. Dan barangsiapa yang berserah diri kepada Allah dan yang lainnya, maka dia adalah seorang musyrik. Dan barangsiapa yang tidak berserah diri kepada Allah, maka dia seorang kafir yang sombong. Islam adalah agama yang lurus, yang sangat bijaksana dan sempurna dalam segala berita dan hukum-hukumnya. Ia tidak memberitakan kecuali dengan jujur dan benar, dan tidak menghukum kecuali dengan yang baik dan adil. Tentu kita tidak bisa melupakan Syari’ah Islam. Nah, Syari’ah Islam itu bertujuan untuk:

1. Memperkenalkan manusia dengan Tuhan dan Pencipta mereka, melalui nama-nama-Nya yang mulia dan sifat-sifat-Nya yang agung, serta perbuatan-perbuatan-Nya yang sempurna.

2. Menyeru manusia untuk beribadah hanya kepada Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya; dengan menjalankan semua perintah dan menjauhi semua larangan-Nya, yang merupakan kemaslahatan bagi mereka di dunia dan akhirat.

3. Mengingatkan mereka akan keadaan dan tempat kembali mereka setelah mati, dan apa yang akan mereka hadapi di dalam kubur, serta ketika dibangkitkan dan dihisab. Kemudian tempat kembali mereka surga atau neraka.

Rukun-Islam

            Rukun Islam ada lima:

“Rasulullah bersabda, ‘Islam dibangun atas lima perkara: Bersaksi bahwa tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan dan berhaji.”

Pengertian Iman

            Iman: Engkau beriman atau mempercayai tanpa ada keraguan kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari kiamat, dan engkau beriman kepada qadar (ketentuan) baik dan buruknya.

            Iman adalah ucapan dan perbuatan. Iman adalah komitmen. Ucapan hati serta lisan, atau kombinasi antara amal hati, lisan dan anggota tubuh, iman itu bertambah dengan taat kepada Sang Maha Pencipta.

Tingkatan-tingkatan Iman:

              Iman itu memiliki rasa, manis dan hakekat.

Adapun rasanya iman, maka Nabi menjelaskan dengan sabda-Nya: “Yang merasakan nikmatnya iman adalah orang yang ridha kepada Allah sebagai Rabb (Tuhan), Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai rasul.” (HR. Muslim)

Adapun manisnya iman, maka Nabi menjelaskan dengan sabdanya: “Ada tiga perkara, jika terdapat dalam diri seseorang, niscaya dia merasakan nikmatnya iman: bahwa Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya dari apapun selain keduanya, dia tidak mencintai seseorang kecuali karena Allah dan dia benci kembali kepada kekafiran sebagaimana dia benci dilemparkan dalam api neraka.” (Muttafaqun 'alaih)

Adapun hakekat iman, maka bisa didapatkan oleh orang yang memiliki hakekat agama. Berdiri tegak memperjuangkan agama, dalam ibadah dan dakwah, berhijrah dan menolong, berjihad dan berinfak.

Cinta yang sempurna kepada Allah & Rasul-Nya memberikan suatu konsekuensi adanya sesuatu hal yang dicintainya. Apabila cinta dan bencinya hanya karena Allah, yang keduanya adalah amal ibadah hati, dan pemberian dan tidak memberinya hanya karena Allah, yang keduanya adalah amal ibadah badan, niscaya hal itu menunjukkan kesempurnaan iman dan kesempurnaan cinta kepada Allah.

Dari Abu Umamah, dari Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa cinta karena Allah, memberi karena Allah, dan melarang karena Allah SWT niscaya dia telah menyempurnakan Iman”

Pengertian Ihsan

Dalam beribadah kepada Allah. Kita beribadah seolah-olah kita melihat Allah. Jika tidak bisa, kita harus yakin bahwa Allah SWT yang Maha Melihat selalu melihat kita. Ihsan ini harus kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga jika kita berbuat baik, maka perbuatan itu selalu kita niatkan untuk Allah. Sebaliknya jika terbersit niat kita untuk berbuat keburukan, kita tidak mengerjakannya karena Ihsan tadi.  Ini sangat tidak mudah. Ini merupakan sebuah tingkat kepercayaan yang sangat tinggi. Sebuah kecintaan yang sangat tinggi. Sebuah ke khusyukan akan kehidupan. Kalo dilihat khusyuk itu artinya apa : state of kekhusukan adalah dalam artian keadaan dimana kita benar-benar sadar kita adalah makhluk Allah, totally. Ingat kan arti Hablumminallah dan hablumminannas. Makhluk Allah dulu baru Makhluk Sosial, Bukan kebalikan. Nah, yang harus diusahakan adalah bagaimana caranya untuk khusuk di dunia ini selagi kita masih belum mati. Dalam arti kata, cobalah untuk sering menggoyahkan konsep "kita adalah makhluk sosial” dengan mengingat bahwa kita ini adalah makhluk Allah terlebih dahulu, dan baru menjadi makhluk sosial. Bukan berarti kita tidak boleh kejar dunia, Allah dan Rasulnya malah menyuruh kita untuk mencari dunia sebanyak banyaknya dan seluas luasnya kok, tapi janganlah sampai kebablasan. Janganlah jadi lebih cinta dunia dari akhirat. Balance. Kalau kita sudah sadar sepenuhnya bahwa kita adalah Makhluk Allah, maka akan timbul kepercayaan yang amat sangat kepada Allah. Kepasrahan menyeluruh. Kepasrahan untuk diatur oleh Allah SWT. Karena pasrah yang benar akan membawa ketiadaan diri atas pengakuan kemampuan ego manusia dan menyerahkan seutuhnya kepada Allah SWT. Jangan takut untuk menyerahkan diri kepada Allah karena semua akan digantikan oleh Nya. Itulah yang dimaksud dengan Ihsan. Luar biasa bukan?

Oleh karena itu patut kita berbangga hati kalau Islam, itu agama ku.

Ilmu dalam Agama Islam ini sangat lah luas dan saling berkaitan. Jadi jika kita mau mempelajari Islam haruslah menyeluruh jangan sepotong sepotong. Karena nanti kita pasti akan mengerti satu demi satu. Jika kita sudah mengerti satu demi satu, maka akan sulit bagi kita utk bisa “nyambung” dalam pola pikir orang orang yg belum mengerti Islam, atau yang belajar dengan sepotong sepotong. Karena patokan utama kita adalah Al Qur’an dan hadis. Maka perlu diingat “Manusia adalah makhluk individu dalam beramal shaleh untuk mendapatkan ridha Allah”.

Oleh karena itu selanjutnya, dalam Agama Islam juga mengatur kehidupan pemeluknya secara individu dan kelompok, dengan konsep yang menjamin kebahagiaan hidup mereka dunia dan akhirat. Tetapi di masa sekarang semua seperti menjadi rancu. Oleh karena itu kita ambil yang pasti pasti saja deh, yaitu hubungan antara manusia dgn Tuhan nya. Malah mungkin dengan bersikap seperti ini kita malah makin belajar akan segala sesuatu. Besihkan hati kita saja dulu, pahami betul semuanya. Karena Hati yang bersih dan selamat akan selalu melihat kebenaran sebagaimana mata melihat matahari.

 

 

Mar 21, 2011 5 notes
Mengerti arti Bacaan Sholat

Sebenarnya jika kita tanya hati kita paling dalam. Apakah kita mengerti dengan semua bacaan Sholat yang kita baca? Memang jika kita ingin mengetahui dan mengerti apa yg kita lafadzkan saat kita Sholat, maka hal itu akan sangat jauh lebih baik, malah mungkin jika kita resapi kita akan mendapatkan apa  itu ke Khusyuk an dlm melaksanakan Sholat Fardhu kita. Rasulullah SAW bersabda “sholatlah seakan-akan engkau sedang melihat Tuhan atau Tuhan sedang melihatmu” ( Rukun Ihsan ).

Mari kita mulai belajar meresapi arti dari bacaan Sholat kita. Karena Sholat merupakan Dzikir yang sempurna.


Takbir
Takbiratul Ihram —> ALLAAHU AKBAR

                              (Allah Maha Besar)

Iftitah

Allaahu akbar kabiira, walhamdulillaahi katsiira, wa subhanallaahi bukrataw, waashiila.

(Allah Maha Besar, dan Segala Puji yang sangat banyak bagi Allah, dan Maha Suci Allah sepanjang pagi, dan petang).

Innii wajjahtu wajhiya, lillazii fatharassamaawaati walardha, haniifam, muslimaa, wamaa ana minal musrykiin.
(Sungguh aku hadapkan wajahku kepada wajahMu, yang telah menciptakan langit dan bumi, dengan penuh kelurusan, dan penyerahan diri, dan aku tidak termasuk orang-orang yang mempersekutuan Engkau/Musryik)

Innasshalaatii, wa nusukii, wa mahyaaya, wa mamaati, lillaahi rabbil ‘aalamiin.
(Sesungguhnya shalatku, dan ibadah qurbanku, dan hidupku, dan matiku, hanya untuk Allaah Rabb Semesta Alam).

Laa syariikalahu, wabidzaalika umirtu, wa ana minal muslimiin.

(Tidak akan aku menduakan Engkau, dan memang aku diperintahkan seperti itu, dan aku termasuk golongan hamba yang berserah diri kepadaMu)

Al Fatihah

Adapun Rasulullah SAW pada waktu membaca surah Al-Faatihah senantiasa satu napas per satu ayatnya, tidak terburu-buru, dan benar-benar memaknainya. Surah ini memiliki khasiat yang sangat tinggi sekali.
Mari kita hafal terlebih dahulu arti per ayatnya sebelum kita memaknainya.

Bismillaah, arrahmaan, arrahiim (Bismillaahirrahmaanirrahiim)

(Dengan nama Allaah, Maha Pengasih, Maha Penyayang)

Alhamdulillaah, Rabbil 'aalamiin
(Segala puji hanya milik Allaah, Rabb semesta 'alam)

Arrahmaan, Arrahiim
(Maha Pengasih, Maha Penyayang)

Maaliki, yaumiddiin
(Penguasa, Hari Pembalasan/Hari Tempat Kembali)

Iyyaaka, na'budu, wa iyyaaka, nasta'iin
(Hanya KepadaMulah, kami menyembah, dan hanya kepadaMulah, kami mohon pertolongan)

Ihdina, asshiraathal, mustaqiim
(Tunjuki kami, jalan, golongan orang-orang yang lurus)

Shiraath, alladziina, an'am, ta 'alayhim

(Jalan, yang, telah Engkau beri ni'mat, kepada mereka)

Ghayril maghduubi 'alaihim, wa laddhaaaalliiin.

(Bukan/Selain, (jalan) orang-orang yang telah Engkau murkai, dan bukan (jalan) orang-orang yang sesat)

Melanjutkan tulisan yang ketiga, maka setelah membaca Surah Al-Faatihah, maka hendaknya kita membaca ayat-ayat Al-Qur'an.

Rasulullah bersabda “Apabila engkau berdiri utk shalat bertakbirlah lalu bacalah yg mudah dari al-Qur’an “.

Ruku’

Lalu ruku’, dimana ketika ruku’ ini beliau mengucapkan :


 Subhaana, rabbiyal, 'adzhiimi, Wabihamdihi
(Maha Suci, Tuhanku, Yang Maha Agung)


—> dzikir ini diucapkan beliau sebanyak tiga kali.
(Hadits Ahmad, Abu Daud, Ibn Majah, Ad-Daaruquthni, Al-Bazaar, dan Ath-Thabarani)

Rasulullah sering sekali memperpanjang Ruku’, Diriwayatkan bahwa :

"Rasulullaah SAW, menjadikan ruku'nya, dan bangkitnya dari ruku’, sujudnya, dan duduknya di antara dua sujud hampir sama lamanya.”
(Hadits  Riwayat Imam Bukhari dan Muslim)


I'tidal

Pada saat ketika kita i'tidal atau bangkit dari ruku, dengan mengangkat kedua tangan sejajar bahu ataupun sejajar telinga, seiring Rasululullah SAW menegakkan punggungnya dari ruku’ beliau mengucapkan:

Sami'allaahu, li, man, hamida, hu
“Mudah-mudahan Allah mendengarkan (memperhatikan) orang yang memujiNya”.

(Hadits diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim)

“Apabila imam mengucapkan “sami'allaahu liman hamidah”, maka ucapkanlah “rabbanaa lakal hamdu”, niscaya Allah memperhatikan kamu. Karena Allah yang bertambah-tambahlah berkahNya, dan bertambah-tambahlah keluhuranNya telah berfirman melalui lisan NabiNya SAW (Hadits diriwayatkan oleh Imam Muslim, Imam Ahmad, dan Abu Daud)

Hal ini diperkuat pula dengan : Disaat Rasulullah sedang Sholat berjamaah, lalu ketika I’tidal beliau mengucapkan “Sami'allaahu, li, man, hamidah” lalu ada diantara makmun mengucapkan “Rabbanaa lakal hamdu”, Lalu pada selesai Sholat, Rasul bertanya “Siapakah gerangan yang mengucap “Rabbanaa lakal hamdu”, ketika aku ber I’tidal? Aku melihat para malaikat berlomba lomba untuk menulis kebaikan akan dirimu dari jawaban itu”.

Maka sudah cukup jelas bahwa mari kita mulai melafalkan :
Rabbanaa, lakal, hamdu
(Ya Tuhan kami, bagiMulah, segala puji)

Kesmpurnaan lafadzh diatas :


mil ussamaawaati, wa mil ul ardhi, wa mil u maa shyi’ta, min shai in, ba'du
(Sepenuh langit, dan sepenuh bumi, dan sepenuh apa yang Engkau kehendaki, dari sesuatu, sesudahnya)
(Kalimat diatas didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Abu 'Uwanah)


Sujud

Ketika kita sujud, maka dengan tenang hendaknya kita mengucapkan do'a  sujud seperti yang telah dicontohkan Rasulullaah SAW.
Dzikir ini beliau ucapkan sebanyak tiga kali, dan kadangkala beliau mengulang-ulanginya lebih daripada itu.

Subhaana, rabbiyal, a'laa, wa, bihamdi, hi
(Maha Suci, Tuhanku, Yang Maha Luhur, dan, aku memuji, Nya)

Duduk antara dua Sujud


Ketika kita bangun dari sujud, maka hendaklah kita melafadzkan seperti yang dilakukan Rasulullaah, dan bacalah do'a tersebuh dengan sungguh-sungguh, perlahan-lahan, dan penuh pengharapan kepada Allah SWT. Di dalam duduk ini, Rasulullah SAW  mengucapkan :


Robbighfirlii, warhamnii, wajburnii, warfa'nii, warzuqnii
wahdinii, wa 'aafinii, Wa’Fuanni

(Ya Allah ampunilah aku, kasihanilah aku, cukupilah kekuranganku, sehatkanlah aku, dan berilah rizqi kepadaku)

Dari Hadits yang diriwayatkan Muslim, bahwa Rasulullaah saw, kadangkala duduk tegak di atas kedua tumit dan dada kedua kakinya. Beliau juga memanjangkan posisi ini sehingga hampir mendekati lama sujudnya (Al-Bukhari dan Muslim).

Duduk At-Tasyaahud Awal

  1. Sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, Abu 'Uwanah, Asy-Syafi'i, dan An-Nasa'i.
    Dari Ibnu 'Abbas berkata, Rasulullaah telah mengajarkan At-Tasyahhud kepada kami sebagaimana mengajarkan surat dari Al-Qur'an kepada kami. Beliau mengucapkan :

    Attahiyyaatul mubaarakaatusshalawaatutthayyibaatulillaah.
    Assalaamu 'alayka ayyuhannabiyyu warahmatullaahi wa barakaatuh.
    Assalaamu 'alayna wa 'alaa 'ibaadillaahisshaalihiin.
    Asyhadu allaa ilaaha illallaah.

      Wa asyhadu annaa muhammadarrasuulullaah.
      (dalam riwayat lain : Wa asyhadu annaa, muhammadan, 'abduhu, warasuuluh)


2. Menurut hadist yang diriwayatkan Imam Al-Bukhari, Muslim, dan Ibnu Abi Syaibah.
Dari Ibn Mas'ud berkata, Rasulullaah saw telah mengajarkan at-tasyaahud kepadaku, dan  kedua telapak tanganku (berada) di antara kedua telapak tangan beliau - sebagaimana beliau mengajarkan surat dari Al-Qur'an kepadaku : —> (Mari diresapi setiap katanya sehingga shalat kita lebih mudah untuk khusyuk)

Attahiyyaatulillaah, wasshalawatu, watthayyibaat.

(Segala ucapan selamat adalah bagi Allaah, dan kebahagiaan, dan kebaikan).

Assalaamu 'alayka
*, ayyuhannabiyyu, warahmatullaah, wa barakaatuh.
(Semoga kesejahteraan dilimpahkan kepadamu , wahai Nabi, dan beserta rahmat Allah, dan berkatNya).

Assalaamu 'alaynaa, wa 'alaa, 'ibaadillaahisshaalihiiin.

(Semoga kesejahteraan dilimpahkan kepada kami pula, dan kepada sekalian hamba-hambanya yang shaleh).

Asyhadu, allaa, ilaaha, illallaah.
(Aku bersaksi, bahwa tiada, Tuhan, kecuali Allah).

Wa asyhadu, anna muhammadan, 'abduhu, wa rasuluhu.

(Dan aku bersaksi, bahwa muhammad, hambaNya, dan RasulNya).


Notes : * Hal ini ketika beliah masih hidup, kemudian tatkala beliau wafat, maka para shahabat mengucapkan :
Assalaamu 'alannabiy
(Semoga kesejahteraan dilimpahkan kepada Nabi).


Bacaan shalawat Nabi SAW di akhir sholat


Rasulullah SAW. mengucapkan shalawat atas dirinya sendiri di dalam tasyahhud pertama dan lainnya. Yang demikian itu beliau syari'atkan kepada umatnya, yakni beliau memerintahkan kepada mereka untuk mengucapkan shalawat atasnya setelah mengucapkan salam kepadanya dan beliau mengajar mereka macam-macam bacaan salawat kepadanya.

Berikut kita ambil sebuah hadits yang sudah umum/biasa kita lafadzkan, diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim, dan Al-Humaidi, dan Ibnu Mandah.

Allaahumma, shalli 'alaa  muhammad, wa 'alaa, aali  muhammad.
(Ya Allah, berikanlah kebahagiaan kepada Muhammad dan kepada, keluarga Muhammad)

Kamaa, shallayta, 'alaa  ibrahiim, wa 'alaa, aali  ibraahiim.
(Sebagaimana, Engkau telah memberikan kebahagiaan, kepada Ibrahim, dan kepada, keluarga Ibrahim).

Wa 'barikh alaa  muhammad, wa 'alaa aali  muhammad.

(Ya Allah, berikanlah berkah, kepada Muhammad, dan kepada, keluarga Muhammad)

Kamaa, baarakta, 'ala  ibraahiim, wa 'alaa, aali  ibraahiiim.
(Sebagaimana, Engkau telah memberikan berkah, kepada ibrahim, dan kepada, keluarga Ibrahim).

Fil Allamina Innaka, hamiidummajiid.

(Sesungguhnya Engkau, Maha Terpuji lagi Maha Mulia).

Salam


“Rasulullah SAW. mengucapkan salam ke sebelah kanannya :

Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wa barakaatuh

(Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan kepada kamu sekalian serta rahmat Allah, serta berkatNya),

 sehingga tampaklah putih pipinya sebelah kanan. Dan ke sebelah kiri beliau mengucapkan : Assalaamu 'alaikum warahmatullaah

(Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan kepada kamu sekalian serta rahmat Allah), sehingga tampaklah putih pipinya yang sebelah kiri.”

( Hadist Riwayat : Abu Daud, An-Nasa'i, dan Tirmidzi )

Mari di perhatikan, bahwa ternyata ucapan kita ketika menoleh ke kanan (salam yang pertama) lebih lengkap daripada ucapan kita ketika menoleh ke kiri (salam yang kedua )

———————————————————————————

Subhanallah dan Alhamdulillah, Maha Benar Allah atas segala FirmanNya. Luar biasa sekali ya arti dari bacaan Sholat ini. Makin merunduk kita, makin terlihat kecil kita, makin menangis kita.

Saya berharap agar ini menjadi bagian dari jalan kemudahan untuk kita di dalam menggapai khusyuk dan memahami setiap gerakan yang kita lakukan. Maka jika kita tahu dan mengerti akan nikmatnya shalat itu, mari kita share ke keluarga kita.

Selamat meresapi dan jangan lupa untuk share ke orang orang yang kita cintai.

Mar 17, 2011 3,366 notes
Rukun Iman


Sebagai salah satu syarat dari iman adalah adanya keyakinan. Dan keyakinan tersebut dapat muncul dari pengetahuan atau ilmu tentang hal tersebut. Dan masalah tersebut telah dijelaskan oleh para ulama dengan penjelasan yang tuntas dan sangat jelas bagi umat.

Iman kepada Allah Subhanallohu wa Ta’ala

Kita mengimani Rububiyah Allah Subhanahu Wa Ta’ala, artinya bahwa Allah adalah Rabb: Pencipta, Penguasa dan Pengatur segala yang ada di alam semesta ini. Kita juga harus mengimani uluhiyah Allah Subhanahu Wa Ta’ala artinya Allah adalah Ilaah (sembahan) Yang hak, sedang segala sembahan selain-Nya adalah batil. Keimanan kita kepada Allah belumlah lengkap kalau tidak mengimani Asma’ dan Sifat-Nya, artinya bahwa Allah memiliki Nama-nama yang maha Indah serta sifat-sifat yang maha sempurna dan maha luhur.

Dan kita mengimani keesaan Allah Subhanallohu wa Ta’aladalam hal itu semua, artinya bahwa Allah Subhanallohu wa Ta’ala tiada sesuatupun yang menjadi sekutu bagi-Nya dalam rububiyah, uluhiyah, maupun dalam Asma’ dan sifat-Nya.

Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang artinya: “(Dia adalah) Tuhan seluruh langit dan bumi serta semua yang ada di antara keduanya. Maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beridat kepada-Nya. Adakah kamu

mengetahui ada sesuatu yang sama dengan-Nya (yang patut disembah)?”. (QS. Maryam: 65)
Dan firman Allah, yang artinya: “Tiada sesuatupun yang serupa dengan-Nya. Dan Dia-lah yang maha mendengar lagi Maha melihat”. (QS. Asy-Syura:11)

Iman Kepada Malaikat

Bagaimana kita mengimani para malaikat ? mengimani para malaikat Allah yakni dengan meyakini kebenaran adanya para malaikat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dan para malaikat itu, sebagaimana firman-Nya, yang artinya: ”Sebenarnya (malaikat-malaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimuliakan, tidak pernah mereka itu mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya.” (QS. Al-anbiya: 26-27)

Mereka diciptakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka mereka beribadah kepada-Nya dan mematuhi segala perintah-Nya. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’, yang artinya: ” …Dan malaikat-malaikat yang disisi-Nya mereka tidak bersikap angkuh untuk beribadah kepada-Nyadan tiada (pula) merasa letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya. “ (QS. Al-Anbiya: 19-20).

Iman Kepada Kitab Allah

Kita mengimani bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menurunkan kepada rasul-rasul-Nya kitab-kitab sebagai hujjah buat umat manusia dan sebagai pedoman hidup bagi orang-orang yang mengamalkannya, dengan kitab-kitab itulah para rasul mengajarkan kepada umatnya kebenaran dan kebersihan jiwa mereka dari kemuysrikan. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’, yang artinya: ”Sungguh, kami telah mengutus rasul-rasul kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah kami turunkan bersama mereka Al-kitab dan neraca (keadilan) agar manusia melaksanakan keadilan… “ (QS. Al-Hadid: 25)

Dari kitab-kitab itu, yang kita kenal ialah :

·         Taurat, yang Allah turunkan kepada nabi Musa alaihi sallam, sebagaimana firman Allah dalam QS Al-Maidah: 44.

·         Zabur, ialah kitab yang diberikan Allah Subhanahu Wa Ta’ala  kepada Daud alaihi sallam.

·         Injil, diturunkan Allah kepada nabi Isa, sebagai pembenar dan pelengkap Taurat. Firman Allah : ”…Dan Kami telah memberikan kepadanya (Isa) injil yang berisi petunjuk dan nur, dan sebagai pembenar kitab yang sebelumnya yaitu Taurat, serta sebagai petunjuk dan pengajaran bagi orang-orang yang bertaqwa.” (QS : Al-Maidah : 46)

·         Shuhuf, (lembaran-lembaran) yang diturunkan kepada nabi Ibrahim dan Musa, ‘Alaihimas-shalatu Wassalam.

·         Al-Quran, kitab yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala  turunkan kepada Nabi Muhammad shalallohu ‘alahi wa sallam, penutup para nabi. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang artinya: ” Bulan Ramadhan yang diturunkan padanya (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi umat manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang haq dan yang batil…” (QS. Al Baqarah: 185).

Iman Kepada Rasul-Rasul

Kita mengimani bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah mengutus rasul-rasul kepada umat manusia, Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang artinya: ” (Kami telah mengutus mereka) sebagai rasul-rasul pembawa berita genbira dan pemberi peringatan, supaya tiada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah (diutusnya) rasul-rasul itu. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. AN-Nisa: 165).

Kita mengimani bahwa rasul pertama adalah nabi Nuh dan rasul terakhir adalah Nabi Muhammad  shalallohu ‘alahi wa sallam, semoga shalawat dan salam sejahtera untuk mereka semua. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang artinya: ”Sesungguhnya Kami telahmewahyukan kepadamu sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi yang (datang) sesudahnya…” (QS. An-Nisa: 163).

Iman Kepada Hari Kiamat

Kita mengimani kebenaran hari akhirat, yaitu hari kiamat, yang tiada kehidupan lain sesudah hari tersebut.

Untuk itu kita mengimani kebangkitan, yaitu dihidupannya semua mahkluk yang sesudah mati oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang artinya:”Dan ditiuuplah sangkakala, maka matilah siapa yang ada dilangit dan siapa yang ada di bumi kecuali yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka bangkitmenunggu (putusannya masing-masing).” (QS. Az-Zumar: 68)

Kita mengimani adanya catatan-catatan amal yang diberikan kepada setiap manusia. Ada yang mengambilnya dengan tangan kanan dan ada yang mengambilnya dari belakang punggungnya dengan tangan kiri. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang artinya: ” Adapun orang yang diberikan kitabnya dengan tangan kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang punggungnya, maka dia akan berteriak celakalah aku dan dia akan masuk neraka yang menyala.” (QS. Al-Insyiqaq: 13-14).

Iman Kepada Qadar Baik dan Buruk

Kita juga mengimani qadar (takdir) , yang baik dan yang buruk; yaitu ketentuan yang telah ditetapkan Allah untuk seluruh mahkluk-Nya sesuai dengan ilmu-Nya dan menurut hikmah kebijakan-Nya.

Iman kepada qadar ada empat tingkatan:

1.      ‘Ilmu
ialah mengimani bahwa Allah Maha tahu atas segala sesuatu,mengetahui apa yang terjadi, dengan ilmu-Nya yang Azali dan abadi. Allah sama sekali tidak menjadi tahu setelah sebelumnya tidakmenjadi tahu dan sama sekali tidak lupa dengan apa yang dikehendaki.

2.      Kitabah
ialah mengimani bahwa Allah telah mencatat di Lauh Mahfuzh apa yang terjadi sampai hari kiamat. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang artinya: ”Apakah kamu tidak mengetahui bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi. sesungguhnya tu (semua) tertulis dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya Allah yang demikian itu amat mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hajj: 70)

3.      Masyi’ah
ialah mengimani bawa Allah Subhanahu Wa Ta’ala. telah menghendaki segala apa yang ada di langit dan di bumi, tiada sesuatupun yang terjadi tanpa dengan kehendak-Nya. Apa yang dikehendaki Allah itulah yang terjadi dan apa yang tidak dikehendaki Allah tidak akan terjadi.

4.      Khal
Ialah mengimani Allah Subhanahu Wa Ta’ala. adalah pencipta segala sesuatu. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang artinya:  ” Alah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu. Hanya kepunyaan-Nyalah kunci-kunci (perbendaharaan) langit dan bumi.” (QS. Az-Zumar: 62-63).

Keempat tingkatan ini meliputi apa yang terjadi dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala sendiri dan apa yang terjadi dari mahkluk. Maka segala apa yang dilakukan oleh mahkluk berupa ucapan, perbuatan atau tindakan meninggalkan, adalah diketahui, dicatat dan dikehendaki serta diciptakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

(Sumber Rujukan: www.mediamuslim.info, Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah, Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin)

Mar 16, 2011 11 notes
#the muslim pillars : Rukun Iman
Wudhu

Di suatu subuh, awal 2011, saya tiba-tiba teringat pada Ibu Salim, beliau adalah guru ngaji saya sewaktu masih kecil. Ketika melihat kebiasaan saya yang melakukan wudhu sekedar kecipak kecipuk asal basah. Beliau nyeletuk “Lho, kok kurang disiplin sih mas? Yang urut, tiga kali untuk masing-masing bagian, yang bersih dan menyeluruh. Jangan ngedumel, wudhu itu niatnya harus ikhlas”.

Sesudah saya mengulang wudhu dengan benar (sambil sedikit menggerutu dalam hati), Beliau menambahkan satu pesan: “Mas, wudhu itu bukan hanya sekedar niat dan ritual membersihkan atau menyucikan. Wudhu itu komitmen!”. Waktu kecil, saya mana ngerti tentang arti komitmen?

Commited to what? Exactly?

Beranjak dewasa, saya mungkin jadi bisa sedikit mengerti apa yang beliau maksud dibalik wejangannya dulu (sedikit mengerti, as after all, we are still learner mind you?). You see, every body parts that being washed; are actually the part that we represent to the world and Allah.

 Mari telusuri lebih lanjut.

Umumnya dalam interaksi sosial, wajah adalah bagian yang kita nilai terlebih dahulu. Wajah sebagai representasi kepribadian dan jati diri seseorang. Demikian juga ketika kita sholat. Wajah kita hadapkan pada Allah. Mengacu pada do’a iftitah yang kita baca :

“inni wajahtu wajhiya lilladzii fatharassamaawati wal ardhi..”

Artinya : aku menghadapkan wajahku kepada Dzat Yang Menciptakan langit dan bumi

 Kita menghadap pada-Nya dengan wajah yang bersih.

Sering kita bicara tanpa kontrol, tanpa sadar berkomentar pada hal yang sebenarnya sungguh tidak penting. Kita bergunjing, membicarakan kejelekan orang lain. Pun ketika hal tersebut tidak kita ucapkan, tapi otak kita mencetuskan pikiran tersebut. Lalu mata kita yang melihat hal-hal yang tidak pantas, hidung kita mencium berbagai macam bentuk polusi, dan telinga kita mendengar suara gunjingan yang tidak pantas. Lalu tangan kita yang kadang malas melakukan pekerjaan. Kaki yang terasa berat untuk kita langkahkan ke tempat kerja atau tempat ibadah kita.

Dalam satu hari saja, sudah berapa kali kita tercemar atau mencemari diri kita sendiri?

Filosofi wudhu’ adalah penyucian. Tak hanya raga, tapi juga hati. Lewat niat yang kita ucapkan, lalu berproses ke air yang kita kucurkan, lalu tangan kita yang membasuh untuk membersihkan. Kita mendisiplikan diri untuk melakukan urutan wudhu secara tertib. Memastikan bahwa setiap bagian tersapu air dan benar-benar bersih. Coba kita perhatikan Niat Wudhu dan Do’a sesudah Wudhu.

Niat Ber Wudhu :

 “Nawaitul wudu’a liraf’il hadasil asgari farda lillahi ta’ala”

Artinya: “Aku niat berwudu untuk menghilangkan hadas kecil fardu karena Allah Taala.”

Lalu perhatikan doa setelah wudhu:

“Asyhadu allaa ilaaha illallah wahdahu laa syarikalahu wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluhu, Allahummaj ‘alni minat tawwabiin waj’alni minal mutathahhiriin.”

Artinya: “Saya bersaksi bahwa tiada ilaah yang berhak disembah dengan benar selain Allah semata tiada sekutu bagi-Nya. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Yaa Allah jadikanlah hamba termasuk orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang mensucikan diri.“

Subhanallah. Luar Biasa sekali. Makin merunduk kita dihadapan Allah SWT. Makin kecil kita, jika kita mengetahui hal hal yg sederhana tetapi mempunyai makna yang luar biasa. Justru hal hal itu sering dilewatkan dan dianggap remeh oleh kita manusia.

Mungkin ini yang dimaksud dengan Ibu Salim dulu. Komitmen kita sebelum menghadap Allah lewat sholat. Bahwa lewat wudhu; kita sudah ikhlas dalam menyiapkan batin, kita sudah menyucikan diri dari polusi yang lengket di tubuh, sebelum berbicara pada-Nya. Bahwa wudhu, hanyalah satu langkah awal, satu bentuk persiapan sebelum menghadapi berbagai macam ujian dari-Nya. Bahwa kita, Insya Allah, siap.

 

 

Mar 15, 2011 9 notes
Maha Luar Biasanya Allah

Jika kita tela'ah secara sedehana arti dari Maha adalah sesuatu yang paling tinggi, paling hebat.  Maka nama nama Allah SWT atau yg biasa kita bilang dgn ‘Asmaa-ul Husnaa’ adalah nama nama yang paling agung.

Sekarang kita coba konsentrasikan kepada Yang Maha Pengasih dan Yang Maha Penyayang. Karena saya merasa Bismillahirrahmanirahim adalah awal dari segala sesuatu. Sepertinya Allah SWT selalu ingin mengingatkan kita kalau Dzat yang Maha Agung, pemilik semua Pujian dan Mulia ini Cinta dan sayang kepada makhluk nya. Seperti semua terbuka lebar untuk kembali Fitrah. Seperti tidak ada kata tertutup bagi manusia yang ingin bertaubat atau Hijrah di jalan Nya.

Rasa Sayang dan Cinta dari sang Maha ini lah yang mendasari segala macam  kejadian pada kehidupan di semesta alam ini. Allah meng inginkan semua makhluknya masuk ke dalam Surga nya Allah S.W.T. Kita tidak akan mampu menghitung nikmat Sayang dan Cinta nya Allah ke kita. Tapi mari kita coba telaah sebagian kecil saja.

Lihatlah jika kita ambil rata rata umur manusia adalah sampai 65 th. Maka tidak kah kita berfikir Allah SWT memberikan waktu untuk kita agar Taubat sampai dengan 65th. Dan 65 th adalah waktu yang amat sangat lama. Tetapi Allah SWT sangat sabar karena bagian dari sifat Rahman dan Rahiim nya kepada hamba nya. Maka Allah memberikan waktu sedemikian lama untuk kita berTaubat.

Dan bila kita lebih berfikir jernih lagi, maka semua yang ada di dunia ini jika kita sesuai dengan ajaran Allah SWT dan Rasulnya maka semuanya dihitung sebagai Ibadah. Bagaimana tidak, semua sudah terhampar di depan mata kita. Maka Allah SWT pun berfirman :

“Jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah (12:87)“

Apa sih maksud nya Kita tidak boleh berputus asa? Kita buat simple. Dalam kehidupan sehari hari Senyum pun dikatakan Sedekah. Sedekah juga ibadah kan. Bekerja ibadah.Bahkan berhubungan Suami Istri dgn pasangan yang sah pun dikatakan ibadah. Hal hal itu kan juga menambah pahala. Bahkan kita sakit pun bisa dikategorikan pengikisan dosa. Seperti diriwayatkan pada suatu hadist

 “Setiap musibah yang menimpa mukmin, baik berupa wabah, rasa lelah, penyakit, rasa sedih, sampai kekalutan hati, pasti Allah menjadikannya pengampun dosa-dosanya.”

(HR al-Bukhari dan Muslim)

Subhanallah… Lalu manusia masih tetap saja mengeluh?

Bahkan Rasulullah bersabda :"Bila hr Jum'at tlah tiba.. para Malaikat berdiri di pintu masjid mencatat org yg pertama dtg dan seterusnya.Bila imam tlh dtg (naik mimbar).. mrk tutup buku,kemudian mendengarkan khutbahPerumpamaan org yg pertama dtg spt bersedekah unta.. sesudah itu spt bersedekah lembu…kemudian spt bersedekah kambing, kemudian spt bersedekah ayam, kemudian spt bersedekah telur.”(HR. Muslim).

Dan Rasulullah pun pernah bersabda “Jika seseorang dalam keadaan suci( Wudhu) dan berjalan menuju Masjid pada waktu Sholat tiba. Maka setiap langkahnya adalah pengampunan dosa baginya.”

Sebenarnya kita sudah sangat di mudahkan oleh Allah SWT untuk beribadah dan mencari pahala. Semua ada jalannya kalau kita benar benar berfikir. Hal itu tidak dapat terjadi jika Allah SWT tidak sayang sama kita, tidak mau hambanya masuk Surga. Tidak mungkin. Allah sangat menyayangi hambanya, dan sangat ingin hambanya masuk Sorga.

Berfikirkah kita? Karena agama Islam mengajak kita untuk berfikir, berbasis ilmu yang saling berkaitan satu sama lainnya. Dahsyat sekali Islam ini.

Lalu di bulan puasa Ramadhan Tidur saja bisa dikatakan sebagai ibadah.Tetapi tidur di bulan Ramadhan itu juga ada “kode etik”-nya. Tidur ialah suatu pilihan untuk menghindari dari perbuatan-perbuatan yang tidak bisa dijamin baik. Bahkan karena sangat detail nya maka memberikan makan pada orang yang berpuasa pun akan mendapat pahala. Dan Rasululllah SAW bersabda “Barangsiapa yang memberi makanan berbuka bagi orang yang berpuasa, maka baginya pahala yang semisal orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut sedikit pun.” (HR. At Tirmidzi)

Sekarang coba lihat dari sisi pahalanya. Pahala puasa itu tak terhingga, terserah kepada Allah. Dalam sebuah hadits dikatakan,

 “Setiap amalan kebaikan anak Adam akan dilipatgandakan menjadi 10 hingga 700 kali dari kebaikan yang semisal. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (yang artinya), ‘Kecuali puasa, amalan tersebut untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya karena dia telah meninggalkan syahwat dan makanannya demi Aku.’” (HR Muslim)

Dan kita pun belum membahas hal hal lainnya seperti Puasa Senin Kamis, Sholat Sunnah lain, dzikir, malam Lailatul qadr, sedekah, sabar, ikhlas dan lain lain. Betapa terbukanya Rahmat Allah dan pahala Allah. Dan hitungan Allah gak pernah salah.

Lalu pertanyaannya sekarang, begitu dahsyatnya Allah mencintai hambanya. Apakah hal itu berlaku terbalik. Insya Allah, kita termasuk orang orang yang mencintai Allah SWT dan Rasulnya, yang bergetar jika di lafalkan nama nama Allah, atau pujian pujian yang hanya untuk Allah. Karena di dalam Qur’an Allah berfirman :

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu” (3:31)“

Maka mari kita ber doa dengan sebaik baiknya doa kepada Sang Maha Esa. Karena “Doa adalah otaknya ibadah, senjata seorang mukmin, cahaya langit dan bumi. Barangsiapa enggan berdoa, Allah akan murka kepadanya.”

Allah mencintai kita makhlukNya, Allah mencintai hambaNya, Allah pun memberikan dunia ini sebagai tanda untuk kita agar kembali Fitrah. Semua itu didasari oleh Rasa Cinta, Rasa sayang dan pemurah. Jika tidak, maka tidak akan mungkin semua ini akan terhampar secara luas.

Mari kita akhiri dengan :

“Memohonlah kepada Nya dengan menyebut Asmaa-ul Husnaa”

(Al-Raaf:180)

Mar 15, 2011 7 notes
#Notes
Syahadatain: Kisah Sebuah Pengakuan

 Pemuda itu kikuk memasuki masjid.  Ini pengalaman pertama baginya.  Di Indonesia, masjid memang bukan benda asing.  Islam adalah agama yang dipeluk oleh 80% warga Indonesia.  Tentu saja semua orang tahu masjid.  Tapi ketika kakinya pertama kali bertemu dengan karpet masjid, bergetar merinding urat syarafnya.

Bagaikan seorang bintang di atas panggung, seluruh mata tertuju padanya.  Memang dialah pusat perhatian pada saat itu.  Entah berapa puluh pasang mata mengamatinya; meneliti sekujur tubuhnya, mengantisipasi setiap gerakan bibirnya.

Saatnya pun tiba.  Seorang ustadz membimbingnya, mengajarinya dengan mengulang-ulang sebuah kalimat, hingga akhirnya ia bisa mengucapkannya dengan sempurna.

Asyhadu an laa ilaaha illallaah,

wa asyhadu anna muhammadan rasuulullaah.

Resmilah sudah.  Di rumah Allah itu, ia bukan lagi orang asing, melainkan hamba yang datang mengadu.  Pada saat itu juga, puluhan pasang mata yang tadi mengintai langsung mengendurkan pandangannya.  Hamdalah dan takbir terdengar dari seluruh sudut masjid, meski tak ada yang meninggikan suaranya.  Ketika ia berdiri, berdiri pula orang-orang itu, berebut menyalami dan memeluknya.  Ada sedikit keheranan dalam benak menyaksikan mereka yang begitu larut dalam haru, padahal dirinyalah begitu beruntung karena baru saja merengkuh kebenaran dan mendapat banyak saudara.  Ia pun sadar, masih banyak yang perlu dipelajarinya lagi, mulai dari awal.

*******

Sebagian besar di antara kita mungkin tidak pernah mengalami episode kehidupan yang begitu mengharukan seperti di atas.  Kebanyakan Muslim telah lahir dan dibesarkan sebagai Muslim oleh kedua orangtuanya.  Akibatnya, syahadatain seringkali dianggap hanya sebagai bagian dari adzan, atau bacaan yang wajib kita baca dalam shalat.  Padahal, ia adalah pernyataan komitmen kita kepada Allah Ta'ala.

Syaikh Musthafa Masyhur telah mengingatkan bahwa syahadatain adalah garis batas yang memisahkan keislaman dengan kekafiran.  Tidak ada wilayah abu-abu di antara keduanya.  Pilihannya hanya dua: beriman atau kafir.  Memang ada golongan munafiq, namun ia bukanlah kelompok ‘setengah beriman’ atau ‘setengah kafir’, melainkan pura-pura beriman.  Pada hakikatnya mereka tidak beriman, namun mereka hendak menipu umat.  Dengan kata lain, penggolongan ini diberikan karena manusia hanya bisa menilai hal-hal yang kasat mata.  Adapun isi hati, Allah Maha Mengetahui.

Orang yang masih memegang teguh syahadatain tidak boleh kita kafirkan, demikian pula orang kafir yang tidak pernah mengucap dan memahami syahadatain tak bisa kita sebut sebagai seorang Muslim.  Inilah garis batas yang tegas, tidak ambigu dan tidak membuat ragu.

Kalimat pertama dalam syahadatain adalah pernyataan yang menegaskan bahwa pengucapnya tidak lagi memiliki Ilah selain Allah Ta'ala.  Kata “Ilah” biasa diterjemahkan sebagai “Tuhan”, namun sebenarnya ia bermakna “sesuatu yang paling dicintai, paling ditakuti dan paling diharapkan”.  Bisa jadi, seseorang memiliki ilah selain Allah Ta'ala.  Orang yang hidup karena uang, misalnya, pastilah mencintai uang di atas segala-galanya.  Ia merasa takut kalau sampai kehilangan hartanya.  Selama ia masih punya uang, ia senantiasa merasa ada harapan.  Maka ia telah menjadikan uang sebagai ilah-nya, atau bisa juga dikatakan bahwa ia telah mempertuhankan uang.

Di dunia ini banyak hal yang dijadikan ilah selain Allah.  Itulah sebabnya sastrawan Taufik Ismail menyebut rokok sebagai “tuhan sembilan senti”, lantaran begitu tunduk patuhnya para perokok pada godaan kenikmatannya.  Begitu banyak orang yang lebih siap disuruh menggadai nyawa di medan perang daripada menghentikan kebiasaan merokok.  Begitu banyak orang miskin yang susah membeli nasi, tapi rutin membeli rokok.

Kalimat kedua dalam syahadatain adalah pengakuan terhadap Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam. sebagai utusan-Nya.  Sudah barang tentu, pengakuan ini memiliki konsekuensi yang tegas.  Jika kita memang meyakini beliau sebagai utusan Allah, maka kita pun tidak akan menentang ajarannya dan meyakini bahwa keteladanan yang dicontohkannya adalah sikap yang terbaik sebagai seorang Muslim.

Kalimat hanyalah basa-basi belaka jika tidak diiringi oleh makna.  Mereka yang mengucapkan syahadatain tapi masih memiliki ilah selain Allah, atau mengakui kenabian Muhammad saw. namun menentang ajarannya, tidak akan diterima keimanannya.  Mereka inilah yang diidentifikasi sebagai orang-orang munafiq.

Setiap Muslim, apalagi muallaf, akan berada dalam proses belajar seumur hidupnya.  Tidak ada Muslim yang benar-benar sempurna menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.  Begitu banyak yang belum kita tahu, dan yang sudah kita tahu pun masih banyak yang terlupa dan terlalaikan.

Syahadatain adalah sebuah pernyataan komitmen.  Yang diminta dari seorang manusia adalah komitmennya, bukan hasil usahanya.  Seorang muallaf yang sudah mengucap syahadatain sudah sempurna menjadi seorang Muslim, meski ibadahnya masih belum sempurna.  Pertama-tama, ia shalat mengikuti gerakan yang lainnya.  Kemudian ia belajar menghapalkan Surah Al-Fatihah.  Perlahan-lahan, ia kuasai semua bacaan shalat.  Ia lengkapi lagi dengan kemampuan membaca Al-Qur’an, sesuai tajwid-nya.  Ketika Ramadhan tiba, ia pun belajar shaum.  Adakalanya ia terpaksa berbuka karena tak biasa mengosongkan perut seharian.  Demikian seterusnya.  Ibadah boleh saja tidak sempurna, dan kita akan terus menyempurnakannya, namun komitmen haruslah bulat sejak awal.

Allah tidak menuntut kita untuk menjadi hamba yang sempurna ibadahnya, karena memang di dunia ini tak ada hal yang instan.  Allah Ta'ala hanya menuntut janji kita; sekedar sebaris-dua baris kalimat yang akan meneguhkan komitmen kita selanjutnya.  Dengan mengakui-Nya sebagai satu-satunya ilah, maka resmilah kita menjadi hamba-Nya.  Atas segala kasih sayang Allah yang melimpah, kita hanya dituntut untuk mengucapkan sebuah pengakuan.  Allah memang Maha Pemurah!


Mar 15, 2011 4 notes
#Moslem Pillars: Rukun Islam
Manfaat Sholat Secara Medisalhakim.wordpress.com
Mar 15, 2011
Mar 15, 2011
Next page →
20132014
  • January
  • February
  • March
  • April
  • May
  • June
  • July
  • August
  • September
  • October
  • November
  • December
201220132014
  • January
  • February
  • March
  • April
  • May
  • June
  • July
  • August
  • September
  • October
  • November
  • December
201120122013
  • January
  • February
  • March
  • April
  • May
  • June
  • July
  • August
  • September
  • October
  • November
  • December
20112012
  • January
  • February
  • March
  • April
  • May
  • June
  • July
  • August
  • September
  • October
  • November
  • December