by Arif Hakim
APAKAH KESOMBONGAN ITU?
Kesombongan (takabbur) atau dikenal dalam bahasa syariat dengan sebutan al-kibr yaitu melihat diri sendiri lebih besar dari yang lain. Orang sombong itu memandang dirinya lebih sempurna dibandingkan siapapun. Dia memandang orang lain hina, rendah dan lain sebagainya.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan hakikat kesombongan dalam hadits beliau Shallallahu ‘alaihi wa salllam :
“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia”. [HR. Muslim, no. 2749, dari ‘Abdullah bin Mas'ûd]
Inilah yang membedakan takabbur dari sifat ‘ujub (membanggakan diri, silau dengan diri sendiri). Sifat ‘ujub, hanya membanggakan diri tanpa meremehkan orang. Sedangkan takabbur, disamping membanggakan diri juga meremehkan orang.
SEBAB-SEBAB KESOMBONGAN
Sebab-sebab kesombongan, antara lain:
1- ‘Ujub (Membanggakan Diri)
Ketahuilah wahai hamba yang bertawadhu’ –semoga Allah lebih meninggikan derajat bagimu-, bahwa manusia tidak akan takabbur kepada orang lain sampai dia terlebih dahulu merasa ‘ujub (membanggakan diri) terhadap dirinya, dan dia memandang dirinya memiliki kelebihan dari orang lain. Maka dari ‘ujub ini muncul kesombongan. Dan ‘ujub merupakan perkara yang membinasakan, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
“Tiga perkara yang membinasakan: sifat sukh (rakus dan bakhil) yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan ‘ujub seseorang terhadap dirinya”. [Silsilah Shahihah, no. 1802]
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
“Ketika seorang laki-laki sedang bergaya dengan kesombongan berjalan dengan mengenakan dua burdahnya (jenis pakaian bergaris-garis; atau pakaian yang terbuat dari wol hitam), dia mengagumi dirinya, lalu Allah membenamkannya di dalam bumi, maka dia selalu terbenam ke bawah di dalam bumi sampai hari kiamat”. [HR. Bukhari, no. 5789; Muslim, no. 2088; dan ini lafazh Muslim]
2- Merendahkan Orang Lain.
Ketahuilah wahai hamba (Allah), bahwa orang yang tidak meremehkan manusia, tidak akan takabbur terhadap mereka. Sedangkan meremehkan seseorang yang dimuliakan Allah dengan keimanan sudah cukup untuk menjadikan sebuah dosa.
3- Suka Menonjolkan Diri (Taraffu).
Ketahuilah wahai hamba yang tunduk kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, bahwa jiwa manusia itu menyukai ketinggian di atas sesamanya, dan dari sini muncul kesombongan.
Oleh karena itu, barangsiapa memperhatikan Al-Qur’an niscaya akan mendapati bahwa orang-orang yang bersombong pada tiap-tiap kaum adalah para pemukanya, yaitu orang-orang yang memegang kendali berbagai urusan. Allah Ta’ala berfirman tentang suku Tsamud, kaum Nabi Shalih Alaihissalam yang artinya: “Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri di antara kaumnya berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah yang telah beriman di antara mereka: “Tahukah kamu bahwa Shalih di utus (menjadi Rasul) oleh Tuhannya?”. Mereka (yang dianggap lemah-red) menjawab: “Sesungguhnya kami beriman kepada wahyu, yang Shaleh diutus untuk menyampaikannya”.
Orang-orang yang menyombongkan diri berkata: “Sesungguhnya kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang kamu imani itu”.
Kemudian mereka sembelih unta betina itu, dan mereka berlaku angkuh terhadap perintah Tuhan. dan mereka berkata: “Hai Shalih, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus (Allah)”. [al-A’râf/7:75-77]
Dan Allah Ta’ala memberitakan tentang kaum Nabi Syu’aib Alaihissalam :
“Pemuka-pemuka dari kaum Syu’aib yang menyombongkan dan berkata: “Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syu’aib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, atau kamu kembali kepada agama kami”. Syu’aib berkata: “Dan apakah (kamu akan mengusir kami), kendatipun kami tidak menyukainya?” [Al-A’raaf/7: 88]
Namun orang yang berakal akan berlomba pada ketinggian yang tetap lagi kekal, yang di dalamnya terdapat keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kedekatan kepadaNya. Dan dia meninggalkan ketinggian sementara yang akan binasa, yang akan diikuti oleh kemurkaan Allah dan kemarahanNya, kerendahan hamba, kesibukannya, jauhnya dari Allah dan terusirnya (dari rahmat) Allah. Inilah ketinggian yang tercela, yaitu sikap melewati batas dan takabbur di muka bumi dengan tanpa kebenaran. Allah Ta’ala berfirman:
“Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin ketinggian (menyombongkan diri ) dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa”. [Al-Qashash/28: 83]
Adapun ketinggian yang pertama (yakni ketinggian yang tetap lagi kekal di akhirat) dan bersemanagat untuk meraihnya, maka itu terpuji. Allah Ta’ala berfirman:
“Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba”.[Al-Muthaffifin/83: 26]
Maka disyari’atkan berlomba-lomba untuk (meraih) derajat-derajat tinggi di akhirat yang kekal, dan berusaha meraih ketinggian pada tingkatan-tingkatannya, serta bersemangat untuk itu dengan berusaha melakukan sebab-sebabnya. Dan hendaklah seseorang tidak merasa puas dengan kerendahan, padahal dia mampu meraih ketinggian.
4- Mengikuti Hawa Nafsu.
Ketahuilah wahai hamba Allah, bahwa kesombongan itu muncul dari sebab mengikuti hawa nafsu, karena memang hawa nafsu itu mengajak menuju ketinggian dan kemuliaan di muka bumi. Allah Ta’ala berfirman:
$
“Apakah setiap datang kepadamu seorang Rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombong; Maka beberapa orang (diantara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh?” [Al-Baqarah/2: 87]
BAHAYA KESOMBONGAN
Ketahuilah wahai hamba Allah yang hatinya dihiasi dengan tawadhu’ (rendah hati) bahwa bencana kesombongan itu sangat besar, orang-orang istimewa binasa di dalamnya, dan jarang orang yang bebas darinya, baik para ulama’, ahli ibadah, atau ahli zuhud. Bagaimana bencana kesombongan itu tidak besar, sedangkan kesombongan itu:
1- Dosa Pertama Yang Dengannya Allah Azza Wa Jalla Dimaksiati.
Kesombongan adalah dosa pertama yang dilakukan Iblis laknatullah dalam bermaksiat kepada Allah Azza wa jalla. Kesombongan itu menyeret Iblis untuk menjadikan takdir sebagai alasan terus-menerus sombong. Allah Azza wa Jalla berfirman:
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam!,” Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir”. [Al-Baqarah/2: 34]
2- Kesombongan Merupakan Kawan Syirik Dan Penyebabnya.
Oleh karena itulah Allah Azza wa Jalla menggabungkan antara kekafiran dengan kesombongan di dalam kitabNya yang mulia, Dia Azza wa Jalla berfirman:
“Lalu seluruh malaikat-malaikat itu bersujud semuanya, kecuali Iblis; dia menyombongkan diri dan adalah dia termasuk orang-orang yang kafir”. [Shaad/38: 73-74]
Allah Azza wa Jalla juga berfirman:
” (Bukan demikian) sebenarya telah datang keterangan-keterangan-Ku kepadamu lalu kamu mendustakannya dan kamu menyombongkan diri dan adalah kamu termasuk orang-orang yang kafir”. [Az-Zumar/39: 59]
Karena barangsiapa takabbur dari patuh kepada al-haq (kebenaran) –walaupun kebenaran itu datang kepadanya lewat tangan seorang anak kecil atau orang yang dia benci dan musuhi- , maka sesungguhnya takabburnya itu adalah kepada Allah, karena Allah adalah Al-Haq, perkataanNya adalah haq, agamaNya adalah haq, al-haq merupakan sifatNya, dan al-haq adalah dariNya dan untukNya. Maka jika seorang hamba menolak al-haq, takabbur dari menerimanya, maka sesungguhnya dia menolak Allah dan takabbur terhadapNya. Dan barangsiapa takabbur terhadap Allah, niscaya Allah akan menghinakannya, merendahkannya, mengecilkannya, dan meremehkannya.
3- Orang-Orang Yang Sombong Tempat Kembalinya Adalah Neraka.
Oleh karena itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan neraka sebagai rumah bagi orang-orang yang sombong, sebagaimana di dalam surat Al-Ghafir ayat 76 dan surat Az-Zumar ayat 72. Allah Azza wa Jalla berfirman:
“Masukilah pintu-pintu neraka Jahannam itu, sedang kamu kekal di dalamnya”. Maka neraka Jahannam Itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri”. [Az-Zumar/39: 72]
Dan orang-orang yang sombong adalah para penduduk neraka Jahannam, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
“Sesungguhnya penduduk neraka adalah semua orang yang kasar lagi keras, orang yang bergaya sombong di dalam jalannya, orang yang bersombong, orang yang banyak mengumpulkan harta, orang yang sangat bakhil. Adapun penduduk sorga adalah orang-orang yang lemah dan terkalahkan”. [Hadits Shahih. Riwayat Ahmad, 2/114; Al-Hakim, 2/499]
Mereka akan merasakan berbagai macam siksaan di dalam Jahannam, akan diliputi kehinaan dari berbagai tempat, dan akan diminumi nanah penduduk neraka. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Pada hari kiamat orang-orang yang sombong akan digiring dan dikumpulkan seperti semut kecil, di dalam bentuk manusia, kehinaan akan meliputi mereka dari berbagai sisi. Mereka akan digiring menuju sebuah penjara di dalam Jahannam yang namanya Bulas. Api neraka yang sangat panas akan membakar mereka. Mereka akan diminumi nanah penduduk neraka, yaitu thinatul khabal (lumpur kebinasaan)”. [Hadits Hasan. Riwayat Bukhari di dalam al-Adabul Mufrad, no. 557; Tirmidzi, no. 2492; Ahmad, 2/179; dan Nu’aim bin Hammad di dalam Zawaid Az-Zuhd, no. 151]
4- Kesombongan Merupakan Tirai Penghalang Masuk Surga.
Oleh karena itu Allah mengusir Iblis dari surga, Dia Azza wa Jalla berfirman:
“Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya!”. [Al-A’râf/7: 13]
Kesombongan itu menjadi tirai penghalang masuk surga karena menghalangi seorang hamba dari akhlaq orang-orang beriman. Orang sombong tidak menyukai untuk kaum mukminin kebaikan yang dia sukai untuk dirinya. Dia tidak mampu bersikap rendah hati dan meninggalkan hasad, dendam, dan marah. Dia juga tidak mampu manahan murka, dia tidak menerima nasehat, dan tidak selamat dari sifat merendahkan dan menggibah manusia. Tidak ada sifat yang tercela kecuali dia memilikinya.
5- Allah Tidak Mencintai Orang-Orang Yang Sombong.
Barangsiapa yang memiliki sifat-sifatnya seperti ini, maka dia berhak mendapatkan laknat Allah, jauh dari rahmatNya, Allah memurkainya dan tidak mencintainya. Allah Azza wa Jalla berfirman:
“Maka orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, hati mereka mengingkari (keesaaan Allah), sedangkan mereka sendiri adalah orang-orang yang sombong. Tidak diragukan lagi bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong”. [An-Nahl/16: 22-23]
6- Kesombongan Merupakan Sebab Su-ul Khatimah (Keburukan Akhir Kehidupan).
Oleh karena itu Allah memberitakan bahwa orang yang sombong dan sewenang-wenang adalah orang-orang yang Allah menutup hati mereka, sehingga mereka tidak beriman. Sehingga akhir kehidupannya buruk. Allah Azza wa Jalla berfirman:
“Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang”. [Al-Mukmin/40: 35]
7- Kesombongan Merupakan Sebab Berpaling Dari Ayat-Ayat Allah.
Yang demikian itu karena orang yang sombong tidak bisa melihat ayat-ayat Allah yang menjelaskan dan berbicara dengan dalil-dalil yang pasti. Juga karena kesombongan itu menutupi kedua matanya, sehingga dia tidak melihat kecuali dirinya. Allah Azza wa Jalla berfirman:
“Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi”. [Al-A’raaf/7: 146]
8- Kesombongan Merupakan Dosa Terbesar.
Kesombongan memiliki berbagai bahaya seperti ini; maka tidak heran jika ia merupakan dosa terbesar. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
“Jika kamu tidak berbuat dosa, sungguh aku mengkhawatirkan kamu pada perkara yang lebih besar dari itu, yaitu ‘ujub, ‘ujub (kagum terhadap diri sendiri)” [Hadist Hasan Lighairihi, sebagaimana di dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 658, karya syaikh Al-Albani]
Diambil dari : http://annasihah.wordpress.com/2010/04/17/tidak-sepantasnya-manusia-menyombongkan-diri/
[Diadaptasi dan disadur oleh Ustadz Muslim Atsari secara bebas dari tulisan Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali At-Tawaadhu’ fii Dhauil Qur’anil Kariim was Sunnah ash-Shahiihah, hlm. 35-44; Penerbit. Daar Ibnul Qayyim; Cet. 1; Th. 1410 H / 1990 M]
Oleh
Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali
by Arif Hakim
1. Sepertiga malam terakhir.
Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Rabb kita turun pada setiap malam ke langit dunia saat tersisa sepertiga malam yang terakhir. Lalu Ia berfirman : ‘Siapa saja yang berdoa kepada-Ku niscaya akan Aku kabulkan, siapa saja yang meminta kepada-Ku niscaya akan Aku berikan. Siapa saja yang meminta ampun kepada-Ku niscaya akan Aku ampuni”.[1]
2. Saat sujud.
Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Aku dilarang untuk membaca Al-Qur’an ketika rukuk atau sujud. Adapun ketika rukuk, agungkanlah Allah oleh kalian di dalamnya; dan ketika sujud, bersungguh-sungguhlah kalian di dalamnya untuk berdoa karena (pada waktu itu) layak bagi (doa) kalian untuk dikabulkan”.[2]
Allah ta’ala berfirman :
“Dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan)”.[3]
Dan telah bersabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Waktu yang paling dekat antara seorang hamba dengan Rabbnya adalah saat ia sujud. Oleh karena itu, perbanyaklah doa”.[4]
3. Satu saat di hari Jum’at.
Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Sebaik-baik hari yang terbit padanya matahari adalah hari Jum’at. Pada waktu itulah diciptakan Adam, dimasukkannya ia ke dalam surga, diterima taubatnya (oleh Allah), diturunkannya ia ke bumi, dan ditegakkannya hari kiamat”.[5]
Telah bersabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Pada hari Jum’at terdapat satu saat yang tidak ada seorang muslim pun yang bertepatan berdiri melakukan shalat dan memohon kepada Allah kebaikan, kecuali Allah akan memberikannya”. Beliau berisyarat dengan tangannya. Kami (perawi) mengartikan bahwa beliau mengisyaratkan sebentarnya waktu itu.[6]
Para ulama berbeda pendapat mengenai waktu yang dimaksud oleh beliau ini. Ada yang mengatakan : “Saat terbitnya matahari”. Sebagian lain mengatakan : “Saat zawal (tergelincirnya matahari di waktu siang)”. Sebagian lagi berkata : “Saat adzan (dikumandangkan)”. Dikatakan : “Jika Khathib telah naik mimbar lalu (mulai) berkhutbah”. Dikatakan pula : “Jika orang-orang berdiri untuk melaksanakan shalat”.
Dan jumhur ulama berpendapat bahwa waktu yang dimaksud adalah setelah ‘Ashar.
Kemudian mereka (jumhur ulama) pun berbeda pendapat dalam perinciannya tepatnya. Ada yang mengatakan di awal waktu sore, adapula yang mengatakan di akhir waktu sore. Perkataan terakhir inilah pendapat yang raajih dari sekian pendapat yang ada. Dalil yang mendasarinya adalah perkataan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam :
“Hari Jum’at itu ada 12 – maksudnya adalah 12 jam – yang tidaklah seorang seorang muslim didapati sedang meminta (berdoa) sesuatu kepada Allah ta’ala kecuali Allah ‘azza wa jalla akan mengabulkannya. Maka, carilah ia di akhir waktu setelah ‘Ashar”.[7]
4. Di akhir shalat-shalat yang diwajibkan.
Dari Abu Umaamah radliyallaahu ‘anhu : Dikatakan : “Wahai Rasulullah, kapankah waktu yang paling baik saat doa dikabulkan ?”. Beliau bersabda : “Akhir waktu malam dan akhir shalat-shalat yang diwajibkan”.[8]
Catatan : Para ulama berselisih pendapat tentang makna duburush-shalah. Sebagian ulama mengatakan maknanya adalah seusai shalat setelah salam. Sebagian lain mengatakan maknanya adalah di akhir shalat sebelum salam.
5. Antara adzan dan iqamat.
Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Tidaklah ditolak doa yang diucapkan antara adzan dan iqamat”.[9]
6 Saat bertemu musuh (di medan perang/jihad fii sabiilillah).
Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Ada dua hal yang tidak akan ditolak atau jarang ditolak : “…..dan ketika perang saat dua pihak saling menyerang”.[11]
7. Lailatul-Qadr.
Malam tersebut merupakan waktu untuk meraih aneka macam kebaikan, dikabulkannya doa, dilipatgandakannya (pahala) amal, digugurkannya beban (doa) yang berat. Amal yang dilakukan pada waktu itu lebih baik daripada seribu bulan amal semisal yang dilakukan di waktu selainnya. Allah ta’ala berfirman :
“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan”.[12]
yaitu : (lebih baik daripada malam) yang tidak ada padanya Lailatul-Qadr. Dikatakan, Lailatul-Qadr jatuh pada malam ke-27 Ramadlan. Ibnu ‘Abbas, habrul-ummah dan turjumanul-Qur’an, memilih pendapat ini. Pendapat ini berdalil karena surat ini terdiri dari 30 kata, dan kata yang ke-27 adalah ayat :
“Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar”.
Namun yang lebih nampak dan lebih kuat, malam Lailatul-Qadr tidak tertentu waktunya. Wallaahu a’lam.
8. Saat safar.
Telah bersabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Ada tiga doa yang tidak diragukan lagi padanya (untuk dikabulkan) : doa seorang musafir, doa orang yang teraniaya/terdhalimi, dan doa orang tua kepada anaknya”.[13]
9. Saat berpuasa.
Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Ada tiga macam doa yang tidak akan ditolak : doa orang tua (kepada anaknya), doa orang yang berpuasa, dan doa seorang musafir”.[14]
10. Saat bulan Ramadhan.
Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Sesungguhnya setiap hari Allah membebaskan (beberapa hamba-Nya yang muslim dari api neraka) dari api neraka. Setiap muslim yang berdoa (di waktu tersebut) pasti akan dikabulkan”.[15]
11. Doa yang dipanjatkan untuk seseorang ketika orang tersebut tidak ada di hadapannya.
Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Doa seorang muslim untuk saudaranya yang tidak ada di hadapannya adalah mustajab. Di kepalanya terdapat malaikat yang ditugaskan menjaganya. Setiap kali ia berdoa kebaikan untuk saudaranya, maka malaikat yang menjaganya tersebut berkata : ‘amiin, dan bagimu hal yang semisal”.[16]
12. Saat minum air zamzam.
Air zamzam merupakan air yang sangat diberkahi. Jika ia diminum sambil berdoa, maka insya Allah akan dikabulkan sesuai dengan keinginannya. Diriwayatkan oleh Jaabir bin ‘Abdillah radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Air zamzam itu menurut apa yang diinginkan peminumnya”.[17]
13. Saat wuquf di ‘Arafah.
Telah bersabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Sebaik-baik doa adalah doa (yang dipanjatkan) pada hari ‘Arafah”.[18]
14. Saat diguyur hujan
Telah bersabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Ada dua hal yang tidak akan ditolak : doa saat adzan berkumandang dan saat diguyur hujan”.[19]
15. Terbangun dari tidur yang sebelumnya dalam keadaan suci (berwudlu).
Telah bersabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Tidaklah seorang muslim yang tidur dalam keadaan berdzikir lagi suci, lalu ia terbangun di malam hari dan memohon (berdoa) kepada Allah kebaikan dunia dan akhirat, niscaya Allah akan memberikannya”.[20]
16. Saat mendengar ayam jantan berkokok
Telah bersabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Apabila kalian mendengar ayam jantan berkokok di waktu malam, maka mintalah anugrah kepada Allah, karena sesungguhnya ia melihat malaikat. Namun apabila engkau mendengar keledai meringkik di waktu malam, maka mintalah perlindungan kepada Allah dari gangguan syaithan, karena sesungguhnya ia telah melihat syaithan”.[21]
17. Saat memejamkan mata orang yang meninggal.
Dari Ummu Salamah ia berkata : Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam masuk menemui Abu Salamah (yang telah meninggal) dimana matanya masih dalam keadaan terbuka. Lalu beliau memejamkannya, dan bersabda : “Sesungguhnya ruh itu jika dicabut akan diikuti oleh mata”. Kemudian sejumlah orang dari anggota keluarganya ribut. Beliau pun lantas bersabda : “Janganlah kalian mendoakan diri kalian kecuali kebaikan. Karena sesungguhnya malaikat mengamini apa yang kalian ucapkan…”.[22]
Semoga tulisan singkat ini ada manfaatnya……..
[Abul-Jauzaa’, hari pertama tahun 2010 – http://abul-jauzaa.blogspot.com].
http://annasihah.wordpress.com/2010/01/04/waktu-waktu-mustajab-untuk-berdoa/
[1] Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy no. 1145 dan Muslim no. 758.
[2] Diriwayatkan oleh Muslim no. 479.
[3] QS. Al-‘Alaq : 19.
[4] Diriwayatkan oleh Muslim no. 482.
[5] Diriwayatkan oleh Muslim no. 854.
[6] Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy no. 935 dan Muslim no. 852.
[7] Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 1048 dan An-Nasaa’iy 3/99-100. Dishahihkan oleh Al-Albaniy, dalam Shahih Sunan Abi Dawud 1/290.
[8] Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 3499 dan dihasankan oleh Al-Albaniy dalam Shahih Sunan At-Tirmidziy 3/441-442.
[9] Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 521 dan At-Tirmidziy no. 212; dishahihkan oleh Al-Albaniy dalam Shahih Sunan Abi Dawud 1/156.
[11] Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 2540 dan dishahihkan oleh Al-Albaniy dalam Shahih Sunan Abi Dawud 2/108.
[12] QS. Al-Qadr : 3.
[13] Diriwayatkan oleh Ahmad 2/258 & 434, Ath-Thayalisiy no. 2517, Ibnu Abi Syaibah 1/429, Ibnu Majah no. 3862, dan yang lainnya; dihasankan oleh Al-Arna’uth dalam Takhrij Musnad Ahmad 12/479-480.
[14] Diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy 3/345, dan dishahihkan oleh Al-Albaniy dalam Silsilah Ash-Shahiihah 4/406 no. 1797.
[15] Diriwayatkan oleh Ahmad 2/254 dan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 8/257; dishahihkan oleh Al-Arnauth dalam ta’liq-nya atas Musnad Ahmad.
Al-Arna’uth menukil perkataan Ibnu Hajar dalam Athraaful-Musnad (7/203) bahwasannya kandungan hadits ini terkait bulan Ramadlan. Diriwayatkan pula oleh Al-Bazzar (962 – Kasyful-Astaar) dengan lafadh :
إن الله تبارك وتعالى عتقاء في كل يوم وليلة – يعنى في رمضان – وإن لكل مسلم في كل يوم وليلة دعوة مستجاب له
“Sesungguhnya setiap hari Allah ta’ala membebaskan (beberapa orang dari api neraka) yaitu pada bulan Ramadlan, dan sesungguhnya bagi setiap orang muslim apabila memanjatkan doa, maka pasti dikabulkan”.
Namun sanad hadits Al-Bazzar di atas adalah dla’if dengan sebab rawi yang bernama Abaan bin Abi ’Ayyaasy —- (namun hadits tersebut adalah shahih dengan keseluruhan jalannya sebagaimana penshahihan Syaikh ’Ali Al-Halaby dan Syaikh Salim Al-Hilaly dalam kitab Shifat Shaumin-Nabiy, wallaahu a’lam).
Makna ’Utaqaa’ (عتقاء) dalam hadits ini adalah pembebasan dari siksa api neraka dengan sebab maghfirah Allah (di bulan Ramadlan). [lihat ta’liq dan takhrij selengkapnya dalam Musnad Ahmad (12/421 no. 7450) dengan tahqiq, ta’liq, dan takhrij Syau’aib Al-Arna’uth dan ’Adil Mursyid; dan syarah Ahmad Syakir atas kitab yang sama (7/250-251 no. 7443)].
[16] Diriwayatkan oleh Muslim no. 2733.
[17] Diriwayatkan oleh Ibnu Majah no. 3062 dan Ahmad 3/357. Ad-Dimyaathiy berkata : “Diriwayatkan oleh oleh Ahmad dan Ibnu Majah dengan sanad hasan” [Al-Muttajar Ar-Raabih fii Tsawaabil-‘Amalish-Shaalih oleh Ad-Dimyaathiy, hal. 318, Baab Tsawaabu Syurbi Maai Zamzam]. Dishahihkan oleh Al-Albaniy dalam Irwaaul-Ghaliil, 4/320 no. 1123].
[18] Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 3585 dan Ahmad 2/210; dihasankan oleh Al-Albaniy dalam Shahih Sunan At-Tirmidziy 3/471-472.
[19] Diriwayatkan oleh Al-Haakim 2/124, Al-Baihaqiy 3/360, Abu Dawud no. 2540, dan Ar-Ruwiyaaniy no. 1047; dihasankan oleh Al-Albaniy dalam Shahiihul-Jaami’ no. 3078.
[20] Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 5042, An-Nasa’iy dalam ‘Amalul-Yaum wal-Lailah no. 805-806, Ibnu Majah no. 3881; dishahihkan oleh Al-Albaniy dalam Shahih Abi Dawud 3/239.
[21] Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy dalam Shahih-nya no. 3303 dan Al-Adabul-Mufrad no. 1236 serta Muslim no. 2729.
[22] Diriwayatkan oleh Muslim no. 1920, Ahmad 6/297, dan Al-Baihaqiy 2/334.
Assalamualaikum, berikut ini adalah kumpulan Twit kami mengenai #Ibu dan #Ayah, Semoga manfaat.
1. Imam Adz-Dzahabi rahimahullaah, beliau berkata dalam kitabnya Al-Kabaair, mengatakan #Ibu
2. #Ibu mu telah mengandungmu di dalam perutnya selama sembilan bulan, seolah-olah sembilan tahun.
3. Dia, #Ibu mu bersusah payah ketika melahirkanmu yang hampir saja menghilangkan nyawanya.
4. Dia telah menyusuimu, dan ia hilangkan rasa kantuknya karena menjagamu. #Ibu
5. Dia cuci kotoranmu dengan tangan kirinya, dia lebih utamakan dirimu dari pada dirinya serta makanannya. #Ibu
6. Dia jadikan pangkuannya sebagai ayunan bagimu. #Ibu
7. Dia, #Ibu mu telah memberikanmu semua kebaikan dan apabila kamu sakit atau mengeluh
8. Tampak darinya kesusahan yang luar biasa dan panjang sekali kesedihannya #Ibu
9. dan #Ibu mu keluarkan harta untuk membayar dokter yang mengobatimu.
10. Seandainya dipilih antara hidupmu dan kematiannya, maka dia akan meminta supaya kamu hidup dengan suaranya yang paling keras. #Ibu
11. Betapa banyak kebaikan #Ibu, sedangkan engkau balas dengan akhlak yang tidak baik
12. Dia, #Ibu mu selalu mendo’akanmu dengan taufik, baik secara sembunyi maupun terang-terangan
13. Tatkala #Ibu mu membutuhkanmu di saat dia sudah tua renta, engkau jadikan dia sebagai barang yang tidak berharga di sisimu.
14. Engkau kenyang dalam keadaan dia lapar. Engkau puas minum dalam keadaan dia kehausan. #Ibu
15. Engkau lupakan semua kebaikan yang pernah dia perbuat. #Ibu
16. Berat rasanya atasmu memelihara/mengurus nya padahal itu adalah urusan yang mudah. #Ibu
17. Engkau kira #Ibu mu ada di sisimu umurnya panjang padahal umurnya pendek.
18. Engkau tinggalkan padahal dia tidak punya penolong selain kamu. #Ibu
19. Padahal Allah telah melarangmu berkata kasar seperti ‘ah’ atau yang lain nya #Ibu
20. Demikianlah dijelaskan oleh Imam Adz-Dzahabi tentang besarnya jasa seorang #Ibu, dan menjelaskan jasa ortu kpd anak tidak bisa dihitung.
21. Berbuat baik kepada #Ibu adalah amal sholeh yang sangat bermanfa’at untuk menghapuskan dosa-dosa.
22. #Ibu sy sering berucap “Secinta cintanya anak kpd OrTu, gak akan sebanding dengan Cinta OrTu ke anak”, dan akhirnya sy mengerti
23. Anak memiliki banyak cinta ke lain2nya selain OrTu, tapi fokus OrTu hanya kpd anak. #Ibu
24. Jangan sakiti #Ibu mu… Lalu bagaimana dgn #Ayah
25. Tahukah kamu, bisa jadi #Ayah rela tdk berbicara dgn mu, agar kamu dan #Ibu mu jd lbh sering ngobrol via telfon
26. Bs jadi sepulang #Ayah kerja dan dengan wajah lelah dia selalu menanyakan pada #Ibu tentang apa yang kau lakukan seharian?
27. Dan bisa jadi #Ayah amat sangat ingin membacakan dongeng untuk mu spt yg #Ibu mu lakukan
28. Saat kamu sakit Flu, #Ayah yg terlalu khawatir sampai kadang sedikit bentak dgn berkata: “Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!”
29. Ketahuilah dan mengertilah, saat itu #Ayah kita benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.
30. Ketika Kamu mulai menuntut pada #Ayah untuk dapat izin keluar malam, dan dia bersikap tegas dan mengatakan: “Tidak boleh!”
31. Bagi #Ayah mu, kamu adalah sesuatu yang sangat - sangat luar biasa berharga..
32. Setelah itu kamu marah pada #Ayah, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu..
33. Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah #Ibu mu….
34. Tahukah kamu, bisa jadi bahwa saat itu #AYah memejamkan matanya dan menangis menahan gejolak dalam batinnya, Tapi dia HARUS menjagamu?
35. Saat #Ayah melihatmu duduk di Panggung Pelaminan bersama seseorang Lelaki yang di anggapnya pantas, dia pun tersenyum bahagia….
36. Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu #Ayah pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis? Menangis bahagia…
37. Bisa jadi #Ayah berdoa: “Ya Allah,Putri/putra kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi besar.Bahagiakanlah ia bersama suami/istrinya…”
38. Setelah itu #Ayah dan #Ibu hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk..
39. #Ibu adalah sosok yg luar biasa, kelembutan nya, tutur kata nya.
40. #Ayah Adalah sosok yang juga hebat..
41. Dan #Ayah serta #Ibu adalah orang pertama yang selalu yakin bahwa “KAMU BISA” dalam segala hal..
42. Tulislah satu kebiasaan #Ibu mu dan #Ayah mu yg paling kita sebel banget…
43. Pikirkanlah, Kesebel an kita akan kebiasaan #Ibu dan #Ayah kita itu. Justru akan membuat kita rindu se rindu rindunya jk mereka tiada
44. Mari kita mendoa'kan #Ibu dan #Ayah kita yuk… Semoga manfaat. Selamat menjalani hari. Assalamualaikum..
Twit mengenai #Ibu ini bersumber dari : http://muslimah.or.id/akhlak-dan-nasehat/ibumu-kemudian-ibumu-kemudian-ibumu.html
Twit mengenai #Ayah bersumber dari : http://www.yogiegreen.info/2009/11/kasih-sayang-seorang-ayah.html
Oleh
Al Maghriby bin As Sayyid Mahmud Al Maghriby
Allah Azza wa Jalla berfirman.
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka(jawablah) bahwasannya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku. [Al Baqarah : 186]
Allah Azza wa Jalla berfirman.
Atau siapakah yang memperkenankan (Do’a) orang yang dalam kesulitan apa bila ia berdo’a kepadaNya dan yang menghilangkan kesusahan. [An Naml : 62]
Dari Nu’man bin Basyir Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
Berdoa itu adalah Ibadah.
Wahai para pendidik, doa sangat memberi manfaat kepada anak dan menambah keteguhan dan kesolehan mereka serta orang akan selalu mendapat hidayah dan petunjuk kepada jalan yang lurus.
Oleh sebab Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mendorong kita agar selalu berdoa untuk kebaikan anak, sebab doa akan menambah keberkahan dan kebaikan pada anak. Maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melarang kepada kita mendoakan buruk atas anak sebagaimana Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
Janganlah kalian berdoa buruk atas dirimu, jangan berdoa buruk atas anakmu, dan jangan berdoa buruk atas hartamu sebab bila kalian tepat pada saat yang dikabulkan Allah ketika kamu meminta suatu permintaan maka Allah akan mengabulkannya.
Seorang laki-laki datang kepada Abdullah Ibnu Mubarak yang mengeluhkan tentang kenakalan anaknya, maka Beliau bertanya kepadanya,” Apakah kamu pernah berdoa buruk atasnya? ia menjawab,”Ya”. Ibnu Mubarak berkata,” Kamulah yang merusaknya”.
Wahai para pendidik, daripada anda merusak anak maka lebih baik anda menjadi sebab baiknya anak dan datangnya keberkahan dalam hidup mereka lewat cara berdoa baik untuk mereka seperti yang dilakukan oleh pendidik utama, Muhammad dan para rasul serta para nabi.
Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah merangkulku ke dadanya lalu bersabda.
Ya Allah ajarkanlah kepadanya Al hikmah” dalam riwayat lain “Ajarkanlah kepadanya Al Kitab.
Dengan karunia Allah Azza wa Jalla berkat doa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhu menjadi pemuka ulama dan ahli tafsir Al-Qur’an.
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam selalu berdoa untuk kebaikan anak-anak ketika dalam keadaan bepergian, sebab dia pada saat itu sangat dikabulkan. Beliau berdoa.
Ya Allah Engkau adalah teman dalam perjalanan, pengganti di keluarga. Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari gangguan perjalanan, kegelisahan penungguan dan buruknya kembali pada harta, keluarga dan anak.
Kaum Ibu pernah datang kepada Rasulullah agar Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam berdoa untuk anak-anak mereka.
Dari Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu berkata bahwa Ummu Sulaim berkata,” Wahai Rasulullah, Anas menjadi pembantumu maka berdoalah kepada Allah untuk kebaikannya”. Maka Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam berdoa.
Ya Allah berikanlah kepada Anas harta dan anak yang banyak dan berkahilah apa-apa yang engkau berikan kepadanya.
Dalam riwayat Bukhari bahwa Anas Radhiyallahu 'anhu berkata,” Ummu Sulaim membawaku kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, dan menutupi badanku dengan setengah tudungnya dan setengah selendangnya. Maka ia berkata,” Wahai Rasulullah, anak ini bernama Unais aku membawanya kepadamu untuk menjadi pembantumu, maka berdoalah kepada Allah untuk kebaikannya”. Maka Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam berdoa.
Ya Allah berikanlah kepada Anas harta dan anak yang banyak.
Anas Radhiyallahu 'anhu berkata,” Demi Allah hartaku banyak dan sungguh anak dan cucuku sampai seratus orang sejak hari ini”.
Imam Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Khildah berkata bahwa Abu Aliyah pernah mendengar Anas Radhiyallahu 'anhu berkata, “Aku membantu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam selama sepuluh tahun dan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berdoa kepadaku untuk kebaikan maka aku punya kebun buah-buahan yang bisa panen setahun dua kali sementara dalam kebun juga ada pohon raihan untuk bahan minyak kasturi”.
Berdoa merupakan perihal yang menjadi ciri utama pendidik yang berhasil yang pasti bisa dipetik buah dan hasilnya sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla.
Dan Tuhanmu berfirman: Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. [Ghafir : 60]
Dalam memenuhi panggilan Allah tersebut, para nabi dan rasul selalu berdoa untuk kebaikan anak cucu mereka.
Bukanlah kemiskinan yang menjdikan mereka cemas dan risau. Sebab tidak ada kerisauan dan kemalangan yang lebih besar daripada orang yang melepas keimanan demi mengejar dunia yang fana. Melepas iman apapun sebabnya merupakan sebab kecelakaan dunia dan akhirat. Oleh sebab itu para nabi selalu mewanti-wanti kepada keturunan mereka agar senantiasa menjaga benteng iman yang merupakan sebab keberhasilan dan kebahagiaan mereka di dunia dan akhirat.
Allah Azza wa Jalla berfirman ketika menceritakan doa Nabi Ibrahim untuk keturunannya.
Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau. [Al Baqarah : 128]
Lalu firmanNya dalam surat lain, mengisahkan doa Nabi Ibrahim yang lain.
Ya tuhanku,jadikanlah negeri ini (Mekah) negeri yang aman dan jauhkanlahaku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala. [Ibrahim : 35]
Juga firman Allah.
Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah do’aku. [Ibrahim : 40]
Begitu juga Zakaria berdoa sebagaimana firman Allah.
Berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar do’a. [Ali Imran : 38]
Allah Ta'ala juga berfirman mengisahkan sifat-sifat ‘Ibadurrahman adalah berdoa untuk kebaikan istri dan keturunannya.
Firman Allah,
Ya tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapaku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shaleh yang engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan(memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri. [Al Ahqaf : 15]
Firman Allah
Dan orang-orang yang berkata: Ya Tuhan kami , anugerhakanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati(kami) dan jadikanlah kami Imam bagi orang-orang yang bertakwa. [Al Furqan : 74]
Wahai para pendidik, berdoalah kepada Allah untuk anak-anakmu terus menerus dan tumbuhkan perasaan bahwa tiada daya dan kekuatan kecuali datang dari Allah karena seluruh taufik hanya datang dari Allah sementara manusia hanya sekedar usaha dan ikhtiar. Marilah kita berdoa dengan penuh khusyu’ dan perasaan tunduk semoga Allah menutup kekurangan, memberi belas kasih kepada yang lemah di antara kita, dan memelihara anak cucu kita. Hendaklah kita membiasakan pola makan, pola minum dan dalam berpakaian yang bersih dan halal. Begitu juga hendaklah berdoa dalam keadaan suci, menghadap kiblat dan mengembalikan kedzaliman kepada pemiliknya serta memilih waktu yang mustajab terutama pada saat sujud berdasarkan hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
Saat yang paling dekat antara hamba dengan Tuhannya adalah ketika sedang sujud maka perbanyaklah berdoa.
Dari Abu Umamah berkata, ” Pernah Rasulullah ditanya: Kapan doa sangat dikabulkan? Beliau bersabda, ”Pada waktu pertengahan malam dan setiap selesai shalat wajib”.
Wahai saudaraku, jangan lupa perdoa terutama ketika dalam keadaan bepergian berdasarkan hadits dari Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah bersabda:
Ada tiga doa yang mustajab dan tidak diragukan, doa orang yang teraniaya, doa orang yang sedang bepergian dan doa orang tua atas anaknya.
Begitu juga berdoa pada siang hari dan malam hari dari bulan ramadhan serta berdoa pada saat haji dan umrah. Maka berdoalah kepada Allah pada saat itu sementara dalam keadaan sangat yakin bahwa doa anda dikabulkan sehingga Umar bin Khaththab Radhiyallahu 'anhu berkata,”Yang menjadi perhatianku bukan terkabulnya doa akan tetapi perhatian utamaku adalah ilham untuk bisa berdoa sebab orang kalau sudah bisa berdoa maka pengkabulan doa akan bisa diraih”.
Demikian semoga bermanfaat.
Sumber : http://almanhaj.or.id/content/2986/slash/0
(Diangkat dari kitab bertajuk “Kaifa Turabbi Waladan Salihan” karya Al Akh Al Maghriby bin As Sayyid Mahmud Al Maghriby semoga Allah menjaganya) Ummu Rasyidah)
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun VIII/1425H/2004M Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]
_______
Footnote
[1]. Riwayat Abu Dawud
[2]. HR Muslim no.482
Assalamualaykum, apa kabar teman2 hari ini? Semoga yang terbaik bagi teman2 semua. Kita mulai bahasan nya ya. Begini..
Anak adalah amanah bagi kedua orang tuanya. Maka, kita sebagai orang tua bertanggung jawab terhadap amanah ini. Tak sedikit kesalahan dan kelalaian dalam mendidik anak telah menjadi fenomena yang nyata. Sungguh merupakan malapetaka besar, dan termasuk mengkhianati amanah Allah.
Adapun rumah, adalah sekolah pertama bagi anak. Kumpulan dari beberapa rumah itu akan membentuk sebuah bangunan masyarakat.
Bagi seorang anak, sebelum mendapatkan pendidikan di sekolah dan masyarakat, ia akan mendapatkan pedidikan di rumah dan keluarganya. Ia merupakan prototipe kedua orang tuanya dalam berinteraksi sosial. Oleh karena itu, disinilah peran dan tanggung jawab orang tua, dituntut untuk tidak lalai dalam mendidik anak-anak.
Berikut ini sepuluh bentuk kesalahan yang sering dilakukan oleh orang tua dalam mendidik anak-anaknya.
1. Menumbuhkan Rasa Takut Dan Minder Pada Anak.
Kadang, ketika anak menangis, kita menakut-nakuti mereka agar berhenti menangis. Kita takuti mereka dengan gambaran hantu, jin, suara angin, dan lain-lain. Dampaknya, anak akan tumbuh menjadi seorang penakut; takut pada bayangannya sendiri, takut pada sesuatu yang sebenarnya tidak perlu ditakutinya. Misalnya: takut ke kamar mandi sendiri, takut tidur sendiri karena seringnya mendengar cerita tentang hantu, jin dan lain-lain. Dan yang paling parah, tanpa disadari, kita telah menanamkan rasa takut kepada dirinya sendiri. Atau misalnya, kita khawatir ketika mereka jatuh dan ada darah di wajahnya, tangan atau lututnya. Padahal semestinya, kita bersikap tenang dan menampakkan senyuman menghadapi ketakutan anak tersebut. Bukannya justru menakuti-nakutinya, menampar wajahnya, atau memarahinya serta membesar-besarkan masalah. Akibatnya, anak akan semakin keras tangisnya, dan akan terbiasa menjadi takut apabila melihat darah atau merasa sakit.
2. Mendidiknya Menjadi Sombong, Panjang Lidah, Congkak Terhadap Orang Lain. Dan Itu Dianggap Sebagai Sikap Pemberani.
Kesalahan ini merupakan kebalikan point pertama. Yang benar ialah bersikap tengah-tengah, tidak berlebihan dan tidak dikurang-kurangi. Berani tidak harus dengan bersikap sombong atau congkak kepada orang lain. Tetapi, sikap berani yang selaras tempatnya dan rasa takut apabila memang sesuatu itu harus ditakuti. Misalnya: takut berbohong, karena ia tahu, jika Allah tidak suka kepada anak yang suka bohong, atau rasa takut kepada binatang buas yang membahayakan. Kita didik anak kita untuk berani dan tidak takut dalam mengamalkan kebenaran.
3. Membiasakan Anak-Anak Hidup Berfoya-Foya, Bermewah-Mewah Dan Sombong.
Dengan kebiasaan ini, sang anak bisa tumbuh menjadi anak yang suka kemewahan, suka bersenang-senang. Hanya mementingkan dirinya sendiri, tidak peduli terhadap keadaan orang lain. Mendidik anak seperti ini dapat merusak fitrah, membunuh sikap istiqamah dalam bersikap zuhud di dunia, membinasakan muru’ah (harga diri) dan kebenaran.
4. Selalu Memenuhi Permintaan Anak.
Sebagian orang tua ada yang selalu memberi setiap yang diinginkan anaknya, tanpa memikirkan baik buruknya bagi anak. Padahal, tidak setiap yang diinginkan anaknya itu bermanfaat atau sesuai dengan usia dan kebutuhannya. Misalnya: si anak minta tas baru yang sedang trend, padahal baru sebulan yang lalu orang tua membelikannya tas baru. Hal ini hanya akan menghambur-hamburkan uang. Kalau anak terbiasa terpenuhi segala permintaannya, maka mereka akan tumbuh menjadi anak yang tidak peduli pada nilai uang dan beratnya mencari nafkah. Serta mereka akan menjadi orang yang tidak bisa membelanjakan uangnya dengan baik.
5. Selalu Memenuhi Permintaan Anak, Ketika Menangis, Terutama Anak Yang Masih Kecil.
Sering terjadi, anak kita yang masih kecil minta sesuatu. Jika kita menolaknya karena suatu alasan, ia akan memaksa atau mengeluarkan senjatanya, yaitu menangis. Akhirnya, orang tua akan segera memenuhi permintaannya karena kasihan atau agar anak segera berhenti menangis. Hal ini dapat menyebabkan sang anak menjadi lemah, cengeng dan tidak punya jati diri.
6. Terlalu Keras Dan Kaku Dalam Menghadapi Mereka, Melebihi Batas Kewajaran.
Misalnya, dengan memukul mereka hingga memar, memarahinya dengan bentakan dan cacian, ataupun dengan cara-cara keras lain. Ini kadang terjadi, ketika sang anak sengaja berbuat salah. Padahal ia (mungkin) baru sekali melakukannya.
7. Terlalu Pelit Pada Anak-Anak, Melebihi Batas Kewajaran.
Ada juga orang tua yang terlalu pelit kepada anak-anaknya, hingga anak-anaknya merasa kurang terpenuhi kebutuhannya. Pada akhirnya, mendorong anak-anak itu untuk mencari uang sendiri dengan berbagai cara. Misalnya: dengan mencuri, meminta-minta pada orang lain, atau dengan cara lain. Yang lebih parah lagi, ada orang tua yang tega menitipkan anak-anaknya ke panti asuhan untuk mengurangi beban orang tuanya. Bahkan, ada pula yang tega menjual anaknya, karena merasa tidak mampu membiayai hidup. Na’udzubillah min dzalik.
8. Tidak Mengasihi Dan Menyayangi Mereka, Sehingga Membuat Mereka Mencari Kasih-Sayang Di Luar Rumah Hingga Menemukan Yang Dicarinya.
Fenomena demikian ini banyak terjadi. Telah menyebabkan anak-anak terjerumus ke dalam pergaulan bebas, wa’iyadzubillah. Seorang anak perempuan misalnya, karena tidak mendapat perhatian dari keluarganya, ia mencari perhatian dari laki-laki di luar lingkungan keluarganya. Dia merasa senang mendapatkan perhatian dari laki-laki itu, karena sering memujinya, merayu dan sebagainya. Hingga ia rela menyerahkan kehormatannya demi cinta semu.
9. Hanya Memperhatikan Kebutuhan Jasmaninya Saja.
Banyak orang tua yang mengira, bahwa mereka telah memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Banyak orang tua merasa telah memberikan pendidikan yang baik, makanan dan minuman yang bergizi, pakaian yang bagus dan sekolah yang berkualitas. Sementara itu, tidak ada upaya untuk mendidik anak-anaknya agar beragama secara benar serta berakhlak mulia. Orang tua lupa, bahwa anak tidak cukup hanya diberi materi saja. Anak-anak juga membutuhkan perhatian dan kasih-sayang. Bila kasih-sayang tidak didapatkan di rumahnya, maka ia akan mencarinya dari orang lain.
10. Terlalu Berprasangka Baik Kepada Anak-Anaknya.
Ada sebagian orang tua yang selalu berprasangka baik kepada anak-anaknya. Menyangka, bila anak-anaknya baik-baik saja dan merasa tidak perlu ada yang dikhawatirkan, tidak pernah mengecek keadaan anak-anaknya, tidak mengenal teman-teman dekat anaknya, atau apa saja aktifitasnya. Sangat percaya kepada anak-anaknya. Ketika tiba-tiba, mendapati anaknya terkena musibah atau gejala menyimpang, misalnya terkena narkoba, barulah orang tua tersentak kaget. Berusaha menutup-nutupinya serta segera memaafkannya. Akhirnya yang tersisa adalah penyesalan tak berguna.
Demikianlah sepuluh kesalahan yang sering dilakukan orang tua. Yang mungkin, kita juga tidak menyadari bila telah melakukannya. Untuk itu, marilah berusaha untuk terus mencair ilmu, terutama berkaitan dengan pendidikan anak. Agar kita terhindar dari kesalahan-kesalahan dalam mendidik anak, yang bisa menjadi fatal akibatnya bagi masa depan mereka. Kita selalu berdo’a, semoga anak-anak kita tumbuh menjadi generasi shalih dan shalihah, serta berakhlak mulia. Wallahu a’lamu bishshawaab. (Ummu Shofia)
Sumber: http://almanhaj.or.id/content/3007/slash/0
Maraji:
At Taqshir Fi Tarbiyatil Aulad, Al Mazhahir Subulul Wiqayati Wal ‘Ilaj, Muhammad bin Ibrahim Al Hamd.
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun VII/1424H/2003M Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]
Penulis:
Syaikh Ali bin Hasan bin Abdul Hamid Al-Halaby*)
Pada bulan Ramadhan, seorang Mukmin mempunyai beberapa tugas syar’i. Tugas-tugas ini sudah dijelaskan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui sunnah qauliyah (perkataan) beliau, juga praktek-praktek beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam. Karena bulan Ramadhan merupakan musim kebaikan. Nikmat-nikmat Allâh Azza wa Jalla yang dianugerahkan kepada para hamba pada bulan ini lebih banyak dibandingkan dengan bulan-bulan yang lain.
Tugas-tugas ini mencakup banyak persoalan hukum syar’i, yang meliputi seluruh amalan selama satu bulan yang penuh dengan amal kebaikan dan ketaqwaan.
PERTAMA : SHIYAM (PUASA).
Secara umum, shiyâm (puasa) memiliki keutamaan yang besar. Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda dalam hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim rahimahullah.
“Semua amal perbuatan bani Adam adalah kepunyaan bani Adam sendiri, kecuali puasa. Puasa itu kepunyaanKu, dan Aku yang akan memberikan balasan. Maka, demi Dzat yang nyawa Muhammad ada ditanganNya, sungguh di sisi Allâh, aroma mulut orang yang sedang berpuasa itu lebih harum daripada minyak kasturi”.
Imam Mazari rahimahullah dalam kitab al Mu’lim Bifawâ-idi Muslim (2/41), mengatakan, “Dalam hadits qudsi ini, Allâh Azza wa Jalla secara khusus menyebut puasa sebagai “milikKu”, padahal semua perbuatan baik yang dilakukan secara ikhlas juga milikNya; karena dalam puasa tidak mungkin (kecil kemungkinan-red) ada riyâ’, sebagaimana pada perbuatan-perbuatan selainnya. Karena puasa itu perbuatan menahan diri dan menahan lapar, sementara orang yang menahan diri -baik karena sudah kenyang atau pun karena miskin- zhahirnya sama saja dengan orang yang menahan diri dalam rangka beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla. Niat serta motivasi yang tersimpan dalam hatilah yang memiliki peranan penting dalam masalah ini. Sedangkan shalat, haji dan zakat merupakan perbuatan-perbuatan lahiriyah yang berpotensi menimbulkan riya’ [2] dan sum’ah [3]. Oleh karena itu, puasa dikhususkan sebagai milik Allâh sementara yang lainnya tidak.“
Disamping keutamaan yang bersifat umum ini ada keutamaan khusus yang melekat dengan bulan Ramadhân, berdasarkan sabda Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam,
"Barangsiapa yang puasa Ramadhân karena iman dan karena ingin mendapatkan pahala, maka dia diampuni dosanya yang telah lewat”.
Dan sabda beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam.
“Satu bulan sabar (berpuasa Ramadhân) ditambah tiga hari puasa pada setiap bulan, sama dengan puasa satu tahun”.
Yang dimaksud dengan bulan sabar yaitu bulan Ramadhan. Ibnu Abdil Barr rahimahullah menjelaskan,“Dalam kamus Lisânul Arab, shaum juga bermakna sabar. Allâh Azza wa Jalla berfirman.
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”. [az-Zumar/39:10]
Abu Bakar Ibnul Anbari mengatakan,“Shaum (puasa) itu dinamakan sabar, karena puasa adalah menahan diri dari makan, minum, berkumpul suami-istri serta menahan diri dari syahwat.”
KEDUA : QIYAMULLAIL (TARAWIH)
Shalat tarawih ini sunnahnya dikerjakan secara berjama’ah selama bulan Ramadhân. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
“Sesungguhnya barangsiapa yang shalat bersama imam sampai imam itu selesai, maka ditetapkan pahala baginya, seperti shalat sepanjang malam”.
Dalam menerangkan keutamaan shalat tarawih ini Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
“Barangsiapa yang shalat tarawih karena iman dan mengharap pahala, maka dia diampuni dosanya yang telah lewat”
Petunjuk terbaik tentang jumlah raka’at shalat malam pada bulan Ramadhân atau bulan lainnya, ialah petunjuk yang shahih dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan dari perbuatan beliau, yaitu shalat 11 raka’at. Karena beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam panutan yang sempurna.
KETIGA : SHADAQAH.
Kedermawanan Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam paling menonjol pada bulan Ramadhân bila dibandingkan dengan kedermawanan beliau Shallallahu 'alaihi wa salalm pada bulan-bulan yang lain
Kedermawanan ini mencakup semua arti shadaqah dan semua jenis perbuatan baik. Karena kedermawanan itu banyak memberi dan sering memberi . Dan ini mencakup berbagai macam amal kebajikan dan perbuatan baik.
KEEMPAT : MEMBERIKAN BUKA PUASA KEPADA ORANG YANG BERPUASA
Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menganjurkan umatnya untuk melakukannya dan memberitahukan pahala yang sangat besar sebagai hasil yang bisa mereka raih. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
“Barangsiapa yang memberikan makanan buka puasa kepada orang yang berpuasa, maka dia akan mendapatkan pahala, sebagaimana pahala orang yangberpuasa tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang yang berpuasa”
KELIMA : MEMBACA AL-QUR'AN.
Bulan Ramadhan, merupakan bulan al-Qur’an, sebagaimana difirmankan oleh Allâh Azza wa Jalla.
”(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhân, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur'ân sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu, dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)“. [al-Baqarah/2:185].
Dalam sunnah ‘amaliyah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, terdapat keterangan tentang praktik nyatanya. Jibril Alaihissallam mengajak Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bertadarus al-Qur’ânpada setiap malam bulan Ramadhân [13].
KEENAM : UMRAH
Imam Bukhâri rahimahullah dan Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan sebuah hadits yang menjelaskan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
"Umrah pada bulan Ramadhân sama dengan haji bersamaku”.
Perhatikanlah keutamaan ini -semoga Allâh merahmati anda sekalian-. Alangkah besar dan alangkah afdhalnya.
KETUJUH : MENCARI LAILATUL QADAR
Allâh Azza wa Jalla berfirman.
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Qur’ân pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu, apakah malam kemuliaan itu ? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan”. [al-Qadr/97:1-3].
Dalam kitab shahih Bukhâri dan Muslim ada riwayat yang menjelaskan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
“Barangsiapa shalat pada malam qadar karena iman dan karena ingin mencari pahala, maka dia diampuni dosanya yang telah lewat”.
Lailatul qadar itu berada pada malam-malam ganjil sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhân. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi rahimahulllah dan Ibnu Mâjah rahimahullah dengan sanad yang shahih dari Aisyah Radhiyallahu 'anha, beliau Radhiyallahu 'anha bercerita :
“Wahai Rasûlullâh, apakah yang aku katakan, jika aku mendapati lailatul qadar? Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab,”Katakanlah :
"Ya Allâh, sesungguhnya engkau Maha Pemberi Maaf, maka maafkanlah aku.”
Demikianlah ringkasan beberapa tugas pokok yang semestinya dilaksanakan oleh seorang muslim pada bulan yang penuh barakah ini. Adapun tugas selengkapnya yang wajib dijaga oleh seorang muslim pada bulan ini yaitu menahan diri dari segala perbuatan jelek, sabar terhadap penderitaan, menjaga hati dan melaksanakan kewajiban lahir, dengan cara konsisten menjalankan hukum-hukum Islam dan mengikuti sunnah-sunnah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Sumber : http://almanhaj.or.id/content/2787/slash/0
[Diterjemahkan Redaksi dari Al Ashalah edisi 3/15 Sya’ban 1413 H halaman 70-72.]
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi, 04-05/Tahun XIV/1431/2010M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
_______
Footnote
[1]. Fathul Bâri 1/31.
[2]. Ingin amalannya dilihat orang
[3]. Ingin amalannya didengar orang
[4]. Muttafaqun alaihi dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu.
[5]. Diriwayatkan Imam Nasâ’i (4/218), Ahmad (2/263 dan 284) dan Thayâlisi (315) dan al Baihaqi dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu dengan sanad shahih.
[6]. At-Tamhîd 19/61
[7]. At-Tamhîd
[8]. Hadits Riwayat Abu Dâwud, Tirmidzi, Nasâ’i, Ibnu Nashr dari Abu Dzar Radhiyallahu 'anhu dengan sanad yang shahih
[9]. Muttafaq ‘alaihi
[10]. Muttafaq ‘alaihi
[11]. Lathâiful Ma’ârif, hlm. 173, karya Ibnu Rajab rahimahullah
[12]. Hadits diriwayatkan oleh Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Mâjah, dari Zaid bin Khalid Radhiyallahu 'anhu, dengan sanad yang shahih
[13]. HR Imam Bukhâri
Ketika menjelaskan tentang bukti-bukti keberadaan Tuhan, Buya Hamka tidak merasa perlu berpanjang-panjang dalam penjelasannya, padahal beliau dikenal sebagai ulama-sastrawan yang piawai merangkai kata. Menurutnya, keberadaan Tuhan itu terlalu mudah untuk dipahami oleh manusia, siapa pun dia, sehingga tak perlu dibuktikan kembali. Apa yang sudah terang tak perlu diterang-terangkan lagi. Pengakuan akan keberadaan Tuhan adalah suatu hal yang sudah terintegrasi dalam jiwa manusia. Yang jadi masalah justru jika manusia ngotot hendak meng-uninstall program yang sudah dipasang sejak dahulu kala dalam dirinya (QS Al A’raf: 172).
Dari sekian banyak manusia keras kepala yang mengingkari dirinya sendiri ini, tidak ada satu pun yang berhasil sepenuhnya. Ustadz Rahmat Abdullah rahimahullaah pernah menceritakan tentang seorang mahasiswa yang sepenuh hatinya merasa bangga dengan ateisme yang dijadikannya sebagai prinsip hidup. Tuhan itu tak berwujud, katanya. Tuhan itu hanya ada dalam khayal manusia, katanya. Tapi dalam sebuah demonstrasi menuntut reformasi, ketika peluru berdesingan di atas kepalanya, ia tiarap juga sambil berteriak, “Ya Tuhan!” Ternyata pengakuan terhadap Tuhan belum berhasil ia buang dalam recycle bin hatinya.
Pada akhirnya, kematian adalah pembuktian yang paling nyata. Biarpun sudah menolak Tuhan dengan berapi-api dan mengklaim bahwa hidupnya adalah miliknya sendiri, toh akhirnya semua manusia menemui ajal juga. Suka tidak suka, semua akan mengalaminya. Boleh seenaknya di dunia, tapi akhirnya diseret juga ke akhirat.
Pasti ada juga yang menolak argumen ini. Kematian hanya membuktikan bahwa masa hidup manusia telah habis. Tak ada bukti jiwa manusia pergi ke suatu alam yang lain dengan alam dunia ini. Tak ada bukti bahwa Tuhan itu ada. Setelah hidup hanya ada kematian, dan di seberang kematian hanya ada ketiadaan.
Penyangkalan (denial) semacam ini tidaklah melukai siapa pun selain dirinya sendiri. Berusaha meng-uninstall program yang menjadi pondasi dari jiwa kita ibarat tanaman yang mencabut akarnya sendiri. Tak bisa membuang programnya, maka jiwanya sendirilah yang dicampakkan.
Tidak seorang pun manusia yang sungguh-sungguh percaya bahwa Tuhan itu tidak ada. Tidak Nietzsche (“God is dead”), tidak Karl Marx (“Religion is opium for the people”), tidak juga Fir’aun (“Aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku.”). Ketika ombak hampir menelan tubuhnya, Fir’aun pada akhirnya dipaksa mengaku juga bahwa ia hanyalah tulang, darah, daging, kulit, dan rambut. Sayangnya, penyesalan selalu datang terlambat. Meski sudah ke mana-mana mendakwakan bahwa Tuhan telah mati, pada akhirnya Nietzsche juga yang mati. Marx, yang punya ‘misi suci’ membebaskan umat manusia dari ‘opium’ yang membelenggu hidup mereka, pada akhirnya mati juga, sementara mereka yang beriman tetap saja beriman. Merekalah contoh manusia yang gagal menulis ulang program dirinya, karena sejak awal mereka memang tidak mengenal kode program yang sesuai.
Tidak ada seorang manusia pun yang sungguh-sungguh beriman akan ketiadaan. Pada hakikatnya semua manusia diciptakan dengan ego yang pasti akan menolak klaim bahwa dirinya tidak lebih daripada seekor hewan yang hidup tanpa tujuan pasti selain makan, berkembang biak dan bertahan hidup. Tak ada juga manusia yang mau menyamakan dirinya dengan benda mati yang tercipta dan hancur tanpa konsekuensi bagi dirinya sendiri. Kematianlah yang memberi makna pada kehidupan, dan kehidupan sesudah matilah yang memberi makna pada kematian.
Mereka yang percaya bahwa kematian itu ada, tapi kehidupan sesudah mati itu tidak ada, akan menjalani kehidupan dengan cara yang berbeda dengan kaum yang beriman. Jika kehidupan di dunia ini adalah satu-satunya yang mereka miliki, amboi betapa kacaunya dunia ini. Tak ada kebaikan, tak ada kemurahan hati, tak ada yang saling menolong, tak ada yang saling mendahulukan, dan tak ada yang saling mencintai. Semua orang hidup untuk dirinya sendiri-sendiri, memenuhi syahwat perut dan kelaminnya. Mereka memandang orang lain sebagai alat untuk memenuhi kebutuhannya sendiri; jika tak lagi berguna, maka siapa pun bisa disingkirkan. Demikianlah peradaban manusia yang ‘tanpa tuhan’.
Dalam peradaban paling biadab sekalipun, iman kepada Tuhan dan kehidupan akhirat masih tetap ada. Itulah yang menjaga manusia dari perilaku keji dan haus darah. Jika Allah subhanahu wa ta’ala tidak meng-install program yang terkoneksi langsung dengan-Nya dalam diri kita (dan juga menciptakan program lain yang mencegah siapa pun untuk meng-uninstall-nya), maka manusia sudah sejak dulu punah karena saling bunuh. Sementara binatang yang hanya punya syahwat tanpa akal saja jika terjepit bisa menjadi kanibal, apalagi manusia yang bukan hanya punya syahwat, tapi juga punya akal. Hewan buas yang kanibal hanya akan memangsa sesuai kapasitas lambungnya, sementara manusia yang ‘kanibal’ akan menciptakan kulkas untuk menyimpan korban-korbannya dalam jumlah banyak dan museum untuk memamerkan tulang-belulangnya.
Benarlah apa yang dikatakan oleh Buya Hamka. Beriman kepada Allah itu adalah hal yang terlalu terang untuk diterang-terangkan. Justru penolakan terhadap-Nya itulah yang begitu rumit untuk dijelaskan. Itulah sebabnya mereka yang keras kepala menolak Allah disebut “kafir” yang artinya “ingkar”. Mereka tak dapat mengubah kenyataan, melainkan hanya mengingkarinya saja.
Penulis : Akmal Sjafril
Sumber diambil dari : http://www.fimadani.com/tuhan/
Assalamualikum. Mau ngebahas ‘Pernikahan Beda Agama’ ya. Sesuai dgn Tafsir :QS.2:221 & QS:60:10
1. Segala puji hanya bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya,
2. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami.
3. Barangsiapa yg Allah beri petunjuk, mk tdk ada yg dpt menyesatkannya, dan siapa yg Allah sesatkan, mk tdk ada yg dpt memberinya petunjuk.
4. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adlh Kitabullaah dan sebaik-baik petunjuk adlh petunjuk Nabi Muhammad Shallallaahu a’alaihi wa sallam,
5. Sejelek-jelek perkara adalah yg diada-adakan, setiap yg diada-adakan adalah bid’ah
6. Dan setiap bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan itu tempatnya di Neraka.
7. #QS.2:221 berisi pengharaman dari الله سبحانه وتعالى bagi kaum muslimin u/ menikahi wanita-2 musyrik dr kalangan para penyembah berhala.
8. Pada #QS.2:221 yg dimaksudkan bukanlah kaum wanita musyrik secara umum yang mencakup semua wanita, #Tafsir #Nikah #BedaAgama
9. Allah Ta’ala telah mengkhususkan wanita Ahlul Kitab (boleh dinikahi) melalui firman-Nya: #Tafsir #Nikah #BedaAgama
10. “(Dan dihalalkan menikahi) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelummu, …” #QS.5:5
11. “… jika kamu telah membayar mas kawin mereka dgn maksud menikahinya, tdk dgn maksud berzina & tdk (pula) menjadikanny gundik.” #QS.5:5
12. “Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman.” #QS.2:221
13. Ibnu ‘Abbas berkata: “Dalam hal ini, Allah telah mengecualikan wanita-2 Ahlul Kitab.” (Ath-Thabari IV/362) #Tafsir #QS.2:221 #BedaAgama
14. Hal serupa juga dikatakan o/ ‘Ikrimah, Sa’id bin Jubair, al-Hasan, adh-Dhahhak, ar-Rabi’, dan ulama lainnya. (tahqiqi: DR. Al-Ghamidi).
15. Setelah menceritakan ijma’ ttg dibolehkannya menikahi wanita Ahlul Kitab, Abu Ja’far bin Jarir rohimaaullaah berkata: #Tafsir #QS.2:221
16. “Umar رضي الله عنه melarang menikahi wanita Ahlul Kitab, dengan alasan … #Tafsir #QS.2:221
17. agar orang-orang tidak meninggalkan wanita-wanita muslimah, atau karena sebab lain yang semakna.” (Ath-Thabari II/366) #Tafsir #QS.2:221
18. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dr Ibnu ‘Umar bhw ia membenci pernikahan dgn Ahli Kitab, dan menakwilkannya dengan ayat: #Tafsir #QS.2:221
19. “Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman.” #QS.2:221 (tahqiqi: DR. Al-Ghamidi). #Tafsir
20. Pd kitab Shahiih al-Bukhari telah ditegaskan dari Abu Hurairah رضي الله عنه , dari Nabi صلى الله عليه وسلم , beliau bersabda:
21. “(Alasan) wanita itu dinikahi adalah empat hal: karena harta, keturunan, kecantikan, dan agamanya. …
22. … Maka pilihlah wanita yang beragama, niscaya engkau beruntung.” (Fat-hul Baari IX/35) #Tafsir #QS.2:221 #Nikah #BedaAgama
23. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: “Dunia ini a/ harta benda, & sebaik-baik harta benda dunia a/ wanita shalihah.” (Muslim II/1090)
24. “Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik dengan wanita-wanita mukmin sebelum mereka beriman.” #QS.2:221 #Tafsir #BedaAgama
25. Nah yang ngaku beriman gimana nih kalo jatuh cinta sama yang #BedaAgama ?
26. Artinya, janganlah kamu menikahkan laki-laki musyrik dengan wanita-wanita beriman, sebagaimana firman Allah Ta’ala: #Tafsir #QS.2:221
27. “Mereka (wanita-wanita yg beriman) tdk halal bagi orang-orang kafir itu, dan orang-orang kafir itu tdk halal jg bagi mereka.” #QS.60:10
28. “Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun ia menarik hatimu.” #QS.2:221 #Nikah #BedaAgama
29. Maksudnya, seorang budak laki-laki yang beriman, meskipun seorang budak keturunan Ethiopia, #Nikah #BedaAgama
31. Maka ia adalah lebih baik daripada seorang laki-laki musyrik meskipun ia seorang pemimpin yang terpandang. #Nikah #BedaAgama
32. “Mereka mengajak ke Neraka.” #QS.2:221 Artinya, bergaul & berhubungan dgn mereka hanya akan membangkitkan kecintaan kepada dunia saja.
33. Berusaha memperolehnya serta lebih mengutamakan kenikmatan dunia daripada akhirat akan berakibat buruk. #Tafsir #Nikah #BedaAgama
34. “Sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya.” #QS.2:221 melalui perintah dan larangan-Nya. #Tafsir
35. “Dan Allah menerangkan ayat-ayat (perintah-perintah)-Nya kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.” #QS.2:221 #Tafsir #BedaAgama
36. Itu tadi penjelasan #QS.2:221 dimana wanita Ahli Kitab masih boleh menikah dengan kaum Muslimin. #Tafsir #BedaAgama
37. Lalu diturunkan #QS.60:10 sbg pengharaman Allah Ta’ala bagi wanita muslimat atas laki-2 musyrik & wanita musyrik atas laki-2 beriman.
38. Jika pd ayat #QS.2:221 para Ahli Kitab masih الله سبحانه وتعالى halalkan, mk mari kita simak ayat yg diturunkan selanjutnya #QS.60:10
39. “Mereka tidak halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tidak halal bagi mereka.” QS.60:10 #Tafsir #Nikah #BedaAgama
40. Pada awal kedatangan Islam, seorang laki-laki musyrik boleh menikahi seorang perempuan muslim, #Tafsir #QS.60:10 #Nikah #BedaAgama
41. Oleh karena itu Abul ‘Ash bin ar-Rabi’ telah menikahi puteri Nabi yang bernama Zainab. #QS.60:10 #Tafsir
42. Pada saat itu Zainab adalah seorang muslimah sedangkan Abul ‘Ash dalam agama kaumnya. #QS.60:10 #Tafsir
43. Ketika Abul ‘Ash menjadi tawanan perang Badar, isterinya (Zainab) mengutus u/ menebusnya dgn kalung pemberian ibunya, Khadijah. #Tafsir
44. Ketika Rasulullah صلى الله عليه وسلم melihatnya, hati beliau sangat terenyuh dan pilu. Beliau bersabda: #QS.60:10 #Tafsir #Nikah
45. “Apabila kalian berpendapat untuk melepaskan tawanannya maka lepaskanlah.” #QS.60:10 #Tafsir #Nikah #BedaAgama
46. Rasulullah صلى الله عليه وسلم pun melepaskan Abul ‘Ash dengan syarat agar dia mengirimkan Zainab kepada Rasulullah. #QS.60:10 #Tafsir
47. Abul ‘Ash pun setuju, ia mengutus Zainab kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersama Zaid bin Haritsah رضي الله عنه #QS.60:10 #Tafsir
48. Zainab tinggal di Madinah setelah perang Badar, hingga suaminya masuk Islam sebelum perjanjian Hudaibiyah dan sebelum turunnya ayat ini.
49. Abu ‘Ash pun kembali menikahi Zainab dengan mas kawin yang lama. (Shahiih Abi Dawud 2341). #Tafsir #QS.60:10
50. “Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir.” #Tafsir #QS.60:10
51. Jelas bahwa #QS.60:10 merupakan pengharaman Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman untuk menikahi wanita-wanita musyrik.
52. Dalam hadits shahih, ketika Rasulullah صلى الله عليه وسلم membuat perjanjian bersama orang-orang kafir Quraisy pada hari Hudaibiyah,
53. Para perempuan mukmin mendatangi beliau. Maka turunlah ayat #QS.60:10 ini. #Tafsir
54. Saat itu juga ‘Umar bin al-Khaththab ceraikan 2 perempuan, salah satunya yg dinikahi o/ Mu’awiyah bin Abi Sufyan. (Fat-hul Baari V/391).
55. “Demikianlah hukum Allah yang ditetapkan-Nya diantara kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” #QS.60:10 #Tafsir #BedaAgama
56. Demikian #QS.2:221 dan disempurnakan kembali oleh الله سبحانه وتعالى dengan diturunkannya #QS.60:10 #Tafsir #Nikah #BedaAgama
57. Maka jelas bhw الله سبحانه وتعالى haramkan wanita muslimat atas laki-2 musyrik, begitu juga dengan wanita musyrik atas laki-2 beriman.
58. Mau selamat? Jangan ikuti orang2 atau sekelompok orang yg sengaja atau ingin membelokkan ya, dan orang fasiq tapi ikuti Allah Ta’ala dan Rasul-Nya.
59.
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْـتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
Sekian. Semoga manfaat
Kisah ini mungkin pernah Anda dengar sebelumnya, kisah yang memberikan pemahaman akan keikhlasan menjalani hidup ……………………………..
Sahabatku yang dimuliakan Allah, kisah dimulai di negri yang jauh di Kerajaan A dan Kerajaan B. Alkisah, Raja di kerajaan A (sebut saja Raja A), selama memerintah selalu bersikap kejam dan lalim, sementara sebaliknya dengan Raja B di kerajaan B adalah Raja yang memiliki sikap yang bijak, adil dan menentramkan rakyatnya.
Pada suatu ketika, Raja di kedua kerajaan ini mengalami sakit keras dalam waktu yang hampir bersamaan. Seluruh tabib di kedua kerajaan telah dikerahkan untuk mengobati raja-raja ini, namun apa daya, tidak ada satupun tabib yang mampu mengobati. Hingga datang suatu tabib dari negri antah-berantah yang secara bergiliran mendatangi kerjaaan A dan B.
Lalu, Tabib mengatakan bahwa obatnya adalah seekor ikan, sebut saja bernama ikan kunang-kunang, yang berdasarkan pengalaman selama ini, ikan tersebut hanya akan ada sepuluh tahun sekali alias sangat sulit didapatkan di perairan negri yang bertentangga itu. Kedua kerajaan memerintahkan para punggawanya untuk berlayar mencari obat mujarab itu. Singkat cerita, Ketika kapal kerajaan A baru berlayar seharian, tiba-tiba tanpa dinyana seorang awak kapal berteriak girang karena berhasil menemukan ikan yang dimaksud. Tentulah girang, karena pengawal-pengawal kerjaan A jadi terbebas dari hukuman mati jika tidak mendapatkan ikan tersebut. Bergegas kapal merapat kembali ke pelabuhan untuk menyerahkannya pada Tabib. Setelah Tabib mengobati Raja A dengan ikan tersebut, seperti dapat diduga, Raja A segera sembuh dari sakit keras seperti sedia kala.
Sementara para pengawal kerajaan B dilandasi cinta kasih pada sang Raja B, dan demi kesembuhan sang Raja B, berlayar tidak tentu arah selama berhari-hari, berminggu-minggu hingga akhirnya berbulan-bulan kemudian mereka pulang dengan tangan hampa. Dan sesuai perkiraan rakyat mereka, Raja B tidak dapat bertahan, sakit makin parah hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhir, Sang Khalik mengambil nyawanya.
Maka…………., berkumpullah para malaikat untuk bertanya kepada Allah, tentang arti KEADILAN. Dan Allah pun menjawab “Sesungguhnya Aku mengetahui yang engkau tidak ketahui wahai makhlukKu. Sebenarnya, dimasa hidupnya Raja A pernah satu kali berbuat kebaikan, dan karena AKU tidak ingin memberikan balasannya di alam surga, maka aku balaskan kebaikan itu di bumi. Sementara, Raja B pernah satu kali berbuat kesalahan semasa hidupnya. Padahal kita mengenalnya sebagai raja yang sangat adil, kasih sayang, dan penuh kebaikan kepada rakyatnya. Bukankah malaikatKu tahu bahwa adil itu dekat kepada Taqwa? Dan karena kasih sayangKu pada hambaKu yang bertaqwa itu, AKU tidak ingin dia mendapat siksa di Neraka, sehingga AKU percepat siksaan itu di dunia dengan jalan menyulitkan kematiannya agar dia kembali kepada Ku dengan jiwa yang suci”.
Demikianlah Sahabatku yang dimuliakan Allah, Sering kali kita merasa, mengapa saya yang sudah begitu ikhlas beribadah kepada Allah, sering bersedekah, selalu taqwa pada Allah, masih menerima cobaan berat? Mengapa temanku yang bahkan mengenal Tuhan pun tidak, kok hidupnya enak, mengapa Allah seperti tidak berhenti memberikan rejeki dan nikmat buatnya? Sementara aku?
Sahabatku yang dimuliakan Allah, Padahal kita pasti mengenal hadits ini: “Apabila Allah menghendaki hamba-Nya mendapatkan kebaikan maka Allah segerakan baginya hukuman di dunia. Dan apabila Allah menghendaki keburukan maka Allah akan menahan hukumannya sampai disempurnakan balasannya kelak di hari kiamat” (HR. Muslim).
JIka sudah demikian, mengapa kita harus iri terhadap nikmat orang lain, mengapa kita curiga atas ketentuan Allah, mengapa kita masih merasa “tidak layak” menerima cobaan ini karena ibadah kita? Karena Allah memiliki caraNya untuk mengasihi HambaNya, Tetaplah selalu berhusnudzon pada Allah, karena ALLAH TAHU YANG TERBAIK UNTUK KITA. Apakah musibah yang diberikan, ataukah Adzab, bahkan Istidraj.. bersabar terhadap semua ketentuan Allah agar hidup menjadi lebih ikhlas, lebih tenang…*satu lagi, kalo kata ustadz Yusuf Mansyur: *“Emang klo kite udah taqwa, Allah ga boleh lagi ngasih kite cobaan?* Dari mana rumusannye?
Wassalamualaikumwrwb..
Enny.K
*re-written 27 Juni 2011*
Assalamualikum, kembali kami mendapat kultwit bermutu dari mas @mamoadi. Silahkan dicermati…
1. Segala puji hanya bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya,
2. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami.
3. Barangsiapa yg Allah beri petunjuk, mk tdk ada yg dpt menyesatkannya, dan siapa yg Allah sesatkan, mk tdk ada yg dpt memberinya petunjuk.
4. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adlh Kitabullaah dan sebaik-baik petunjuk adlh petunjuk Nabi Muhammad Shallallaahu a'alaihi wa sallam,
5. Sejelek-jelek perkara adalah yg diada-adakan, setiap yg diada-adakan adalah bid'ah
6. Dan setiap bid'ah itu sesat dan setiap kesesatan itu tempatnya di Neraka.
7. #Tawadhu’ adalah #Akhlak mulia seorang muslim. Akhlak yg membedakan dirinya dgn orang kafir dan zhalim.
8. Dengan #Tawadhu’ , seorang muslim menanam banyak kebaikan yang akan ia petik dalam kehidupan akhir.
9. Ibnu Utsaimin rahimahullah, “#Tawadhu’ adalah lawan kata dr ta'aali (merasa tinggi, tinggi hati).
10. #Tawadhu’ ialah seseorang tdk merasa dirinya mulia serta tdk memandang rendah orang lain, baik sisi ilmu, nasab, harta, kedudukan, dll.
11. #Tawadhu’ kpd agama Allah Ta'ala ialah tdk merasa tinggi & lebih benar dr agama Allah. Tidak takabbur terhadap syariat dan hukum-2-Nya.
12. #Tawadhu’ kpd hamba-2 Allah adlh dlm rangka #Tawadhu’ kpd Allah. Bukan karena takut kepada mereka atau mengharapkan sesuatu dari mereka.
13. Maka wajib seorang muslim merendahkan diri di hadapan kaum muslimin dan #Tawadhu’ seperti Rasulullah #Tawadhu’ kpd org2 yg beriman.
14. "Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.” #QS.26:215 #Tawadhu’
15. Rendahkanlah dirimu, bicara dgn kelembutan nan penuh cinta kasih, berakhlak mulia & berbuat baik kpd mereka, org2 yg beriman. #Tawadhu’
16. “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka.” #QS.3:159 #Tawadhu’
17. “Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” #QS.3:159 #Tawadhu’
18. “Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” #QS.3:159 #Tawadhu’
19. Itulah #Akhlak para Nabi yg sgt mulia. Bersikap lemah lembut dan #Tawadhu’ kpd orang-2 yg beriman dan bersikap keras kpd orang-2 kafir.
20. Bagaimana dengan kita kaum muslimin? Kepada siapakah kita berlemah lembut dan ber-#Tawadhu’?
21. Apakah kita ber-#Tawadhu’ kpd sesama muslim? Atau kita malah ber-#Tawadhu’ kpd golongan saja? Atau kpd orang kafir nan zhalim?
22. Kemuliaan tdk diukur dgn ukuruan dunia. Tdk dengan harta, tdk dgn ilmu, tdk dengan kedudukan begitu juga tidak dengan pangkat. #Tawadhu’
23. Kemuliaan seseorang diukur dengan ukuran ketakwaan kpd Allah, sebagaimana firman-Nya : #Tawadhu’
24. “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu.” #QS.49:13 #Tawadhu’
25. Janganlah kita anggap diri kita lebih baik dr org2 yg bertakwa. Tdk ada yg mengetahui jati dirinya lebih bertakwa dr org lain. #Tawadhu’
26. “Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” #QS.53:32 #Tawadhu’
27. Janganlah kalian memberitahukan kpd manusia lain bahwa kalian itu suci dalam rangka memuji dan menyombongkan diri sendiri. #Tawadhu’
28. Sejatinya, ketakwaan itu tempatnya di hati. Dan hanya Allah Azza wa Jalla yang mengetahuinya serta hanya Dia yg membalasnya. #Tawadhu’
29. Sepatutnya kita tdk memandang diri lebih baik dr muslim lain, krn kita tdk mengetahui kebaikan yg tersembunyi yg dilakukannya. #Tawadhu’
30. Selayaknya seorang muslim adalah #Tawadhu’ dan belajar melaksanakannya.
31. Aisyah radhiallahu anhu dalam kitab min akhbaaris salaf, “Sesungguhnya kalian benar2 lalai dr ibadah yg palng afdhal, yaitu #Tawadhu’ !”
32. Semoga Allah Azza wa Jalla mengkaruniakan kepada kita sikap #Tawadhu’ , amin
Wallahu Ta'ala A'lam.
twitter : @mamoadi
Assalamualaikum, ini ada tulisan menarik dari ms @mamoadi, silahkan dicermati ya…
Telah sampai kepada saya, sesorang entah siapa dia dengan jumlah follower yang banyak mengatakan bahwa cium pipi antara non mahram adalah sedekah. Sungguh yang demikian adalah perkataan yang bathil. Maka jika Islamdiaries berkenan, twitkan hal dibawah ini.
Sungguh kepedulian terhadap ummat dan dorongan dari kawan-kawan, maka ana memberanikan diri untuk menulis e-mail ini.
Karena pembukaan orang tersebut -semoga Allah Azza wa Jalla memberikan Hidayah dan Ampunan kepadanya- mengatakan wudhu tidak batal ketika bersentuhan dengan non mahrom, maka ada baiknya, bantahan ini dimulai dengan masalah tersebut.
Jika berkenan silahkan di edit sendiri :)
Saya mengambil dari berbagai sumber, انشـــــاء الله ahlus sunnah wal jama'ah berpemahaman sama seperti ini dan tidak ada perselisihan diantaranya.
———-
Menurut pendapat yang rojih, jumhur ulama menguatkan bahwa menyentuh wanita baik ajnabiyah (bukan mahram) itu tidak membatalkan wudhu.
Saat thawaf yg wajib berwudhu, orang berdesakan dengan non mahram. Namun thawafnya tidak batal karena wudhunya tidak batal.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mencium sebagian istrinya kemudian beliau shalat dan tidak wudhu lagi.
Dan karena yang asal adalah tidak membatalkan wudhu, maka tidak boleh mengatakan bahwa wudhu batal sebab sesuatu kecuali dengan dalil yang menunjukkan batalnya wudhu sebab menyentuh kulit wanita secara mutlak.
Namun lain perkara jika antuma menyentuh non mahram tanpa ada udzur bahkan sengaja. Karena yang demikian adalah haram.
Menyentuh wanita ajnabiyah adalah perkara haram, diriwayatkan oleh Imam at-Thabrani, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Sungguh salah seorang dr kalian ditusuk jarum dr besi di kepalanya lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.”
Hadits diatas memiliki beberapa penguat, diantaranya diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur dalam Sunannya 2/117 No Hadits 2168.
Dan diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam kitabnya at-Thibb 2/33-34 sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Albani rahimallahu.
Hadits ini mengharamkan seorang laki-laki menyentuh wanita non mahram. Yang dimaksud dengan menyentuh di dalam hadits ini adalah menyentuh hakiki, dan bukan bermakna jimak.
Menyentuh wanita yanag bukan mahram termasuk dosa besar, hal ini bisa disimpulkan dari ancaman keras yang dikandung hadits di atas.
al-Munawi rahimahullah mengatakan: dikhususkan pasak dari besi, karena lebih kuat dari yang lainnya, dan lebih keras dalam menusuk, serta lebih parah sakitnya.
Lalu berdasarkan dalil kedua, dimana kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menjabat tangan wanita ketika membai’at mereka.
Padahal sebenarnya momentum bai’at sangat layak untuk menjabat tangan orang yang membai’at demi mengukuhkan bai’at tersebut.
Namun Rasulullah meninggalkannya (jabat tangan dengan wanita), hal ini menunjukan keharaman perbuatan tersebut.
“Sesungguhnya saya tidak menjabat tangan wanita, sesungguhnya perkataanku untuk seratus wanita sama dengan perkataanku untuk satu orang atau serupa dengan perkataanku untuk satu orang wanita.” -Sanad hadits ini shahih-
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Malik (Muwattha’ 1/346 No 897), an-Nasa’i (Sunan Kubra 10/298 No 11525), Imam Ahmad No 27548, Ibnu Hibban dalam Shohihnya 7/8 No 4536, at-Thabrani (Mu’jam al-Kabir 24/186 No 471).
Berkata Ibnu ‘Abdilbarr rahimahullah: Dalam sabda Rasulullah “sesungguhnya saya tidak menjabat tangan wanita”, merupakan dalil yang melarang laki-laki untuk berdekatan dengan wanita yang tidak halal baginya, dan larangan untuk menyentuhnya dengan tangannya, serta larangan untuk berjabat tangan. (at-Tamhid 5/44)
Ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari secara Mu’allaq dalam Shahihnya, dengan lafadz hadits:
“Sesungguhnya seorang wanita dari penduduk Madinah menggapai tangan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam-, dan kemudian dia pergi bersama beliau [Rasulullah] kemana yang dia kehendaki.”
Jika ada redaksi yang terdapat penambahan kalimat: “dan beliau tidak menarik tangannya dari tangan wanita tersebut” maka itu adalah riwayat dari jalur Ali bin Zaid bin Jud’aan.
Dan Ali bin Zaid bin Jud’aan oleh sebagian besar para ulama melemahkan beliau, diantaranya: Sufyan bin Uyainah, Imam Ahmad, Yahya bin Ma’in, dan an-Nasa-iy.
Maka kita meninggalkan riwayat dari Ali bin Zaid bin Jud’aan dan hanya mengambil hadits dari Imam Bukhari secara Mu’allaq dalam Shahihnya tersebut di atas.
Makna yang benar dari hadits di atas, sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Hajar al-’Asqalaniy, beliau mengatakan:” yang dimaksud dengan menggapai tangan adalah [Rasulullah] melaziminya yaitu bersikap lembut dan tunduk. (Fathul Bari 10/506)
Yang dimaksud oleh Ibnu Hajar dengan penjelasan di atas, bahwa makna haditsnya bukan menggapai (memegang) hakiki, namun maksudnya adalah bahwa Nabi memenuhi panggilan dan kebutuhan wanita tersebut dengan penuh ketawadhuan dan kelembutan.
Kami juga tidak menemukan dari kalangan ulama yang menyimpulkan –dengan hadits di atas- tentang bolehnya menyentuh dan berjabat tangan dengan wanita non mahram.
Semoga tulisan ini mampu menjawab syubhat dari orang-orang yang mencoba menafsirkan hadits sesuai hawa nafsunya saja.
Wallahu Ta'ala A'lam.
twitter : @mamoadi
Kitab Suci Al-Qur’an membukakan tiga pintu bagi pemahaman kebenaran.
Yang pertama adalah pintu nalar atau logika. Daya nalar manusia secara sempurna telah dikembangkan untuk mengenali eksistensi Tuhan dan sifat-sifat-Nya dalam Penciptaan, Ke-Esaan, Kekuasaan, Rahmat dan sifat tegak dengan Dzat-Nya sendiri.
Dalam penggunaan daya nalar tersebut ikut berperan logika, fisika, medikal, astronomi, matematika, filosofi dan metoda argumentasi sehingga masalah-masalah yang sulit telah bisa dipecahkan.
Metoda ini luar biasa dan merupakan mukjizat penalaran.Para filosof terkenal yang menemukan logika dan meletakkan dasar-dasar dari filosofi serta menyibukkan diri mereka dengan fisika dan astronomi, nyatanya tidak sanggup memanfaatkan pengetahuan tersebut untuk mendukung keimanan mereka. Tidak juga mereka mampu memperbaiki kesalahan mereka atau memasukkan kemaslahatan keagamaan kepada yang lainnya.
Bahkan sebagian besar dari mereka malah menjadi atheis atau lemah keimanannya, sedangkan mereka yang mempercayai adanya Tuhan lalu mencampur-adukkan kesalahan dengan kebenaran, yang tidak suci dengan yang najis, sehingga akhirnya mereka juga tersesat. Dengan demikian merupakan suatu mukjizat bahwa logika Ilahi ini tidak ada mengandung kesalahan serta memanfaatkannya untuk tujuan-tujuan mulia yang belum pernah dicapai manusia sebelumnya.
Merupakan bukti yang cukup bahwa pernyataan-pernyataan Al-Qur’an tentang eksistensi Tuhan dan sifat-sifat-Nya dalam Penciptaan, Ke-Esaan dan sifat-sifat sempurna lainnya bersifat demikian komprehensif sehingga tidak mungkin diungguli dan tidak juga manusia akan mampu memberikan argumentasi baru lainnya. Jika ada yang meragukan hal ini, dipersilahkan yang bersangkutan mengajukan penalaran intelektual yang mendukung eksistensi atau Ketauhidan Ilahi, dimana kami nanti akan menunjukkan bahwa argumentasinya sudah ada di dalam Al-Qur’an atau bahkan lebih baik lagi.
Pernyataan dan pujian atas Kitab Suci Al-Qur’an ini tidak semata-mata hanya omongan saja, tetapi sesungguhnya merupakan kenyataan dimana tidak akan ada seorang pun yang akan mampu mengajukan argumentasi baru yang belum diungkapkan di dalam Al-Qur’an. Di banyak tempat, Al-Qur’an sendiri menyatakan sifat komprehensifitas dirinya sendiri.
Pintu kedua pemahaman Ilahi yang dibuka lebar oleh Al-Qur’an adalah mutiara hikmah intelektual yang karena sifatnya yang luar biasa bisa dianggap sebagai mukjizat intelektual. Bentuknya ada berbagai macam.
Pertama, pengetahuan mengenai wawasan keimanan, dengan pengertian bahwa semua wawasan luhur yang berkaitan dengan keimanan dan semua kebenaran sucinya serta mutiara hikmah pengetahuan tentang Ilahi yang dibutuhkan di dunia guna penyempurnaan batin manusia, semuanya ada tersedia di dalam Al-Qur’an.
Begitu juga dengan semua keburukan batin yang merangsang munculnya keinginan melakukan dosa dan nafsu yang melambarinya serta cara-cara pensucian batin berikut semua tanda-tanda, karakteristik dan sifat-sifat daripada akhlak luhur. Tidak ada seorang pun yang akan mampu mengemuka¬kan kebenaran, hikmah Ke-Ilahian, cara-cara mencapai Tuhan, bentuk atau disiplin suci ibadah Ilahi lainnya yang belum termaktub di dalam Kitab Suci Al-Qur’an.
Kedua, di dalamnya juga terkandung pengetahuan mengenai tentang sifat-sifat batin dan tentang psikologi yang terdapat secara komprehensif dalam firman ajaib ini sehingga mereka yang mau berpikir akan sampai pada kesimpulan bahwa Kitab ini bukanlah hasil kerja siapa pun kecuali Allah yang Maha Perkasa.
Ketiga, di dalamnya terkandung ilmu mengenai awal dunia, mengenai akhirat dan hal-hal tersembunyi lainnya yang merupakan bagian pokok dari firman Allah yang Maha Mengetahui tentang hal-hal yang tersembunyi sehingga hati manusia akan tenteram jadinya.
Semua pengetahuan demikian akan bisa ditemui banyak sekali dan secara rinci di dalam Kitab Suci Al-Qur’an sehingga tidak ada Kitab samawi lainnya yang akan mampu menyamainya. Disamping itu Al-Qur’an juga mengungkapkan pengetahuan keimanan dari subyek lainnya dengan cara yang indah.
Dalam hal ini, Kitab tersebut tetap memperhatikan logika, fisika, filosofi, astronomi, psikologi, medikal, matematika dan pengetahuan tentang komposisi yang digunakan untuk menguraikan dan menjelaskan pengetahuan tentang keimanan, guna memudahkan pemahamannya, menarik konklusi daripadanya atau untuk menyangkal keberatan dari orang-orang yang bodoh. Dengan kata lain, semua subyek ini dikemukakan Kitab Suci Al-Qur’an bagi kepentingan keimanan manusia dengan cara sedemikian rupa sehingga setiap bentuk intelektualitas manusia akan dapat menyerap kemaslahatannya.
Pintu ketiga mengenai pemahaman Ilahi yang telah dibukakan Al-Qur’an adalah pintu keberkatan ruhani yang dapat disebut sebagai mukjizat ikutan. Setiap orang yang berpikir mengetahui bahwa negeri kelahiran Hadzrat Rasulullah s.a.w. adalah sebuah semenanjung kecil bernama Arabia yang letaknya terisolasi dari negeri-negeri lainnya. Seorang lawan yang fanatik pun tidak akan bisa menyangkal bahwa sebelum kedatangan Hadzrat Rasulullah s.a.w. bangsa Arab di negeri ini hidup secara liar seperti hewan dan sama sekali tidak mengerti mengenai agama, keimanan, hak-hak Tuhan, hak-hak manusia dan bahwa selama berabad-abad mereka itu tenggelam dalam penyembahan berhala dan ajaran-ajaran kotor lainnya, serta telah mencapai puncak kerusakan dalam kelakuan mereka seperti perzinahan, mabuk minuman keras, perjudian dan segala bentuk kejahatan lainnya.
Mereka ini tidak menganggap sebagai perbuatan dosa pelanggaran atas hak-hak manusia lainnya seperti tindakan pencurian, perampokan, pembunuhan anak-anak atau memakan hak anak yatim. Dengan kata lain, segala bentuk kejahatan, kegelapan batin serta ketidak-acuhan telah menyelimuti hati bangsa Arab.
Kemudian setelah itu, mereka para lawan Islam, juga harus mengakui bahwa bangsa yang bodoh, liar dan tidak beriman tersebut lalu memeluk agama Islam dan beriman kepada Kitab Suci Al-Qur’an, dimana mereka selanjutnya mengalami perubahan secara drastis dan menyeluruh. Efektivitas daripada firman Ilahi dan kedekatan dengan sosok suci sang Nabi telah merubah total hati mereka dalam jangka waktu yang singkat, dimana setelah periode kebodohan itu mereka lalu mengalami pengkayaan batin dengan wawasan-wawasan keimanan dan meninggalkan kecintaan terhadap dunia.
Mereka itu demikian fananya dalam kecintaan kepada Allah s.w.t. sehingga mereka bersedia meninggalkan rumah dan keluarga yang dikasihi, kehormatan kedudukan sosial dan keselesaan mereka demi memperoleh ridho Allah yang Maha Agung. Kedua gambaran tentang keadaan awal dan setelah memperoleh kehidupan baru yang didapat dengan menganut agama Islam, semuanya jelas diungkapkan dalam Al-Qur’an sehingga seorang yang muttaqi dan saleh akan berlinang air mata membacanya.
Apakah sebenarnya yang telah menarik mereka dari suatu dunia untuk memasuki dunia lain dalam waktu demikian cepat? Untuk itu ada dua hal yaitu pertama, Hadzrat Rasulullah s.a.w. sangat efektif dalam menerapkan kekuatan suci beliau sedemikian rupa sehingga tidak mungkin bisa dipadani oleh yang lainnya. Kedua, adalah pengaruh ajaib dan luar biasa dari firman suci Allah yang Maha Hidup dan Maha Kuasa yang telah menarik ribuan manusia dari kegelapan kepada pencerahan.
Tidak bisa diragukan bahwa pengaruh Al-Qur’an ini merupakan mukjizat karena manusia tidak akan bisa menemukan contoh lain dari pengaruh sebuah Kitab samawi yang sama efektifnya. Siapakah yang dapat memberikan bukti bahwa ada Kitab samawi lain yang dapat membawa perubahan dan pembaharuan demikian besar seperti yang telah dibawa oleh Kitab Suci Al-Qur’an?
Ratusan ribu orang yang telah mengalami bahwa dengan mengikuti Kitab Suci Al-Qur’an maka rahmat Ilahi telah turun ke kalbu mereka dan kemudian tercipta hubungan yang indah dengan Tuhan mereka. Nur dan wahyu Ilahi turun ke dalam hati mereka, sedangkan wacana wawasan dan mutiara-mutiara hikmah meluncur dari bibir mereka. Mereka memperoleh kepercayaan, kepastian serta kenikmatan cinta kepada Tuhan yang dihidupi oleh kegembiraan pertemuan dengan Wujud tersebut.
Jika raga mereka misalnya lumat di giling dalam kancah bencana dan dikempa dalam tekanan yang amat kuat, inti pokok yang tersisa dari mereka adalah tetap kecintaan kepada Allah s.w.t. Dunia tidak mengenal mereka, sedangkan martabat mereka berada jauh di atas dunia. Perlakuan Tuhan terhadap mereka sungguh luar biasa. Mereka telah memperoleh bukti kalau Tuhan itu benar eksis dan bahwa Dia itu Maha Esa. Bila mereka berdoa kepada-Nya maka Dia mendengarkan, dan ketika mereka memohon pertolongan maka Dia menolong mereka.
Ketika mereka memohon perlindungan kepada-Nya maka Dia berlari menghampiri. Dia mencintai mereka lebih dari cinta seorang ayah kepada anaknya. Dia menurunkan hujan rahmat di atas rumah-rumah mereka. Mereka itu menjadi dikenal karena bantuan yang terbuka dan tersembunyi, duniawi atau pun ruhaniah yang diberikan oleh-Nya. Dia membantu mereka di semua bidang karena mereka itu adalah milik-Nya dan Dia itu milik mereka. Semua hal ini bisa dibuktikan.
(Surma Chasm Arya, Qadian, 1886; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 2, hal. 72-79, London, 1984).
Oleh
Ustadz Ibnu Abidin As-Soronji
Betapa banyak kaum muslimin yang mampu menjalankan perintah Allah Azza wa Jalla dengan baik, menjalankan sunnah-sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mampu menjauhkan dirinya dari zina, berkata dusta, minum khomer, bahkan mampu untuk sholat malam setiap hari, senantiasa puasa senin kamis. Namun…..mereka tidak mampu menghindarkan dirinya dari ghibah. Bahkan walaupun mereka telah tahu bahwasanya ghibah itu tercela dan merupakan dosa besar, namun tetap saja mereka tidak mampu menghindarkan diri mereka dari ghibah.
Allah Subhanahu wa Ta'ala benar-benar telah mencela penyakit ghibah ini dan telah menggambarkan orang yang berbuat ghibah dengan gambaran yang sangat hina dan jijik. Syaikh Abdurrahman bin Nasir As-Sa’di berkata: “Kemudian Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebutkan suatu gambaran yang membuat (seseorang) lari dari ghibah. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :
وَلاَ يَغْتِبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُ وَاتَّقُوْا اللهَ إِنَّ اللهَ تَوَّابٌ رَحِيْمٌ
“Dan janganlah sebagian kalian mengghibahi sebagian yang lain. Sukakah salah seorang dari kalian memakan daging bangkai saudaranya yang telah mati, pasti kalian membencinya. Maka bertaqwalah kalian kepada Allah, sungguh Allah Maha Menerima taubat dan Maha Pengasih”. [Al Hujurat :12]
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menyamakan mengghibahi saudara kita dengan memakan daging saudara (yang dighibahi tadi) yang telah menjadi bangkai, yang (hal ini) amat sangat dibenci oleh jiwa manusia. Sebagaimana kalian membenci memakan dagingnya -apalagi dalam keadaan bangkai, tidak bernyawa- maka demikian pula hendaklah kalian membenci mengghibahinya dan memakan dagingnya dalam keadaan hidup" [1].
Memakan bangkai hewan yang sudah busuk saja menjijikkan, namun hal ini masih lebih baik daripada memakan daging saudara kita. Sebagaimana dikatakan oleh ‘Amru bin Al-‘Ash Radhiyallahu 'anhu.
عَنْ قَيْسٍ قَالَ : مَرَّ عَمْرُو بْنُ العَاصِ عَلَى ببَغْلٍ مَيِّتٍ, فَقَالَ : وَاللهِ لأََنْ يَأْكُلَ أَحَدُكُمْ مِنْ لَحْمِ هَذَا (حَتَّى يمْلأَ بَطْنَهُ) خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيْهِ (الْمُسْلِمِ)
“Dari Qais, dia berkata: ‘Amru bin Al-‘Ash Radhiyallahu 'anh melewati bangkai seekor bighol (hewan hasil persilangan kuda dengan keledai), lalu beliau berkata: "Demi Allah, salah seorang dari kalian memakan daging bangkai ini (hingga memenuhi perutnya) lebih baik baginya daripada ia memakan daging saudaranya (yang muslim)”. [2]
Syaikh Salim Al-Hilaly berkata : “..Sesungguhnya memakan daging manusia merupakan sesuatu yang paling menjijikkan secara tabi’at untuk bani Adam, walaupun (yang dimakan tersebut) orang kafir atau musuhnya yang melawan. Bagaimana pula jika (yang engkau makan adalah) saudaramu seagama?, sesungguhnya rasa benci dan jijik semakin bertambah. Dan bagaimanakah lagi jika dalam keadaan bangkai? karena sesungguhnya makanan yang baik dan halal dimakan, akan menjadi menjijikan jika telah menjadi bangkai…” [3]
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ zأَنَّ رَسُوْلَ اللهِ nقَالَ : كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ، دَمُهُ وَعِرْضُهُ وَمَالُهُ
“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Semua muslim terhadap muslim yang lain adalah harom, yaitu darahnya, kehormatannya, dan hartanya”. [HR. Muslim]
Orang yang mengghibah berati dia telah mengganggu kehormatan saudaranya, karena yang dimaksud dengan kehormatan adalah sesuatu yang ada pada manusia yang bisa dipuji dan dicela.
DEFINISI GHIBAH
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ قَالَ : أَتَدْرُوْنَ مَا الْغِيْبَةُ ؟ قَالُوْا : اللهُ وَ رَسُوْلُهُ أَعْلَمُ، قَالَ : ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ، فَقِيْلَ : أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِيْ أَخِيْ مَا أَقُوْلُ ؟ قَالَ : إِنْ كَانَ فِيْهِ مِا تَقُوْلُ فَقَدِ اْغْتَبْتَهُ, وَ إِنْ لَمْ يَكُنْ فِيْهِ مَا تَقُوْلُ فَقَدْ بَهَتَّهُ
“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu bahwsanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Tahukah kalian apakah ghibah itu?”. Sahabat menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata: “Yaitu engkau menyebutkan sesuatu yang tidak disukai oleh saudaramu”, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam ditanya: “Bagaimanakah pendapat anda, jika itu memang benar ada padanya ? Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: “Kalau memang sebenarnya begitu berarti engkau telah mengghibahinya, tetapi jika apa yang kau sebutkan tidak benar maka berarti engkau telah berdusta atasnya”. [4]
Hal ini juga telah dijelaskan oleh Ibnu Mas’ud Radhiyallahu 'anhu.
عَنْ حَمَّاد عَنْ إبْرَاهِيْمَ قَالَ : كَانَ اِبْنُ مَسْعُوْدٍ يَقُوْلُ : الْغِيْبَةُ أَنْ تَذْكُرَ مِنْ أَخِيْكَ مَا تَعْلَمُ فِيْهِ. وَإِذَا قُلْتَ مَا لَيْسَ فِيْهِ فَذَاكَ الْبُهْتَانُ
“Dari Hammad dari Ibrahim, dia berkata : Ibnu Mas’ud Radhiyallahu 'anhu berkata :”Ghibah adalah engkau menyebutkan apa yang kau ketahui pada saudaramu, dan jika engkau mengatakan apa yang tidak ada pada dirinya berarti itu adalah kedustaan”.[5]
Dari hadits ini para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan ghibah adalah “Engkau menyebutkan sesuatu yang ada pada saudaramu, yang seandainya dia tahu maka dia akan membencinya”. Sama saja, apakah yang engkau sebutkan adalah kekurangannya yang ada pada badannya atau nasabnya atau akhlaqnya atau perbuatannya atau pada agamanya atau pada masalah duniawinya. Dan engkau menyebutkan aibnya di hadapan manusia dalam keadaan dia ghoib (tidak hadir). Syaikh Salim Al-Hilali berkata: “Ghibah adalah menyebutkan aib (saudaramu) dan dia dalam keadaan ghaib (tidak hadir di hadapn-mu). Oleh karena itu (saudaramu) yang goib tersebut disamakan dengan mayat, karena orang yang ghoib tidak mampu untuk membela dirinya. Demikian pula mayat tidak mengetahui bahwa daging tubuhnya dimakan, sebagaimana orang yang ghoib juga tidak mengetahui ghibah yang telah dilakukan oleh orang yang mengghibahinya". [6]
Adapun menyebutkan kekurangannya yang ada pada badannya (yang termasuk ghibah itu), misalnya engkau berkata pada saudaramu itu: “Dia buta”, “Dia tuli”, “Dia sumbing”, “Perutnya besar”, “Pantatnya besar”, “Kaki meja (jika kakinya tidak berbulu)”, “Dia juling”, “Dia hitam”, “Dia itu orangnya bodoh”, “Dia itu agak miring sedikit”, “Dia kurus”, “Dia gendut”, “Dia pendek” dan lain sebagainya.
عَنْ أَبِيْ حُذَيْفَةَ عَنْ عَائِشَةَ, أَنَّهَا ذَكَرَتِ امْرَأَةً فَقَالَتْ :إِنَّهَا قَصِيْرَةٌ….فَقَالَ النَّبِيُّ : اِغْتَبْتِها
“Dari Abu Hudzaifah dari ‘Aisyah bahwasanya beliau (‘Aisyah) menyebutkan seorang wanita lalu beliau (‘Aisyah) berkata :”Sesungguhnya dia (wanita tersebut) pendek”….maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata :”Engkau telah mengghibahi wanita tersebut” [7].
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ : قُلْتُ لِلنَّبِيِّ حَسْبُكَ مِنْ صَفِيَّة كَذَا وَ كَذَا وَ قَالَ بَعْضُ الرُّوَاةُ : تَعْنِيْ قَصِيْرَةٌ, فَقَالَ : لَقَدْ قُلْتِ كَلِمَةً لَوْ مُزِجَتْ بِمَاءِ الْبَحْرِ لَمَزَجَتْهُ
“Dari ‘Aisyah beliau berkata: Aku pernah berkata kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam : “Cukup bagimu dari Shofiyah ini dan itu”. Sebagian rawi berkata :”’Aisyah mengatakan Shofiyah pendek”. Maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata: ”Sungguh engkau telah mengucapkan suatu kalimat, yang seandainya kalimat tersebut dicampur dengan air laut niscaya akan merubahnya” [8].
عَنْ جَرِيْرِ بْنِ حَازِمٍ قَالَ : ذَكَرَ ابْنُ سِيْرِيْنَ رَجُلاً فَقَالَ : ذَاكَ الرَّجُلُ الأَسْوَدُ. ثُمَّ قَالَ : أَسْتَغْفِرُ اللهَ, إِنِّيْ أَرَانِيْ قَدِ اغْتَبْتُهُ
“Dari Jarir bin Hazim berkata : Ibnu Sirin menyebutkan seorang laki-laki, kemudian dia berkata: “Dia lelaki yang hitam itu”. Kemudian dia berkata :”Aku mohon ampunan dari Allah”, sesungguhnya aku melihat bahwa diriku telah mengghibahi laki-laki itu” [9].
Adapun ghibah pada nasab, misalnya engkau berkata: ”Dia dari keturunan orang rendahan”, “Dia keturunan maling”, “Dia keturunan pezina”, “Bapaknya orang fasik”, dan lain-lain. Adapun ghibah pada akhlaknya, misalnya engkau berkata :”Dia akhlaqnya jelek…orang yang pelit”, “Dia sombong, tukang cari muka (cari perhatian)”, “Dia penakut”, “Dia itu orangnya lemah”, “Dia itu hatinya lemah”, “Dia itu suka marah”.
Adapun ghibah pada agamanya, misalnya engkau berkata :”Dia pencuri”, “Dia pendusta”, “Dia peminum khomer”, “Dia pengkhianat”, “Dia itu orang yang dzolim, tidak mengeluarkan zakat”, “Dia tidak membaguskan sujud dan ruku’ kalau sholat”, “Dia tidak berbakti kepada orang tua”, dan lain-lain.
Adapun ghibah pada perbuatannya yang menyangkut keduniaan, misalnya engkau berkata : “Tukang makan”, “Tidak punya adab”, “Tukang tidur”, “Tidak menghormati orang lain”, “Tidak memperhatikan orang lain”, “Jorok”, “Si fulan lebih baik dari pada dia” dan lain-lain.
Imam Baihaqi meriwayatkan dari jalan Hammad bin Zaid, dia berkata: Thouf bin Wahb telah menyampaikan kepada kami, dia berkata : “Aku menemui Muhammad bin Sirin dan aku dalam keadaan sakit. Maka dia (Ibnu Sirin) berkata: ”Aku melihatmu sedang sakit”, aku berkata :”Benar”. Maka dia berkata: “Pergilah ke tabib fulan, mitalah resep kepadanya”, (tetapi) kemudian dia berkata :”Pergilah ke fulan (tabib yang lain) karena dia lebih baik dari pada si fulan (tabib yang pertama)”. Kemudian dia berkata: “Aku mohon ampun kepada Allah, menurutku aku telah mengghibahi dia (tabib yang pertama)“.[10]
Termasuk ghibah adalah seseorang meniru-niru orang lain, misalnya berjalan dengan pura-pura pincang atau pura-pura bungkuk atau berbicara dengan pura-pura sumbing, atau yang selainnya dengan maksud meniru-niru keadaan seseorang, yang hal ini berarti merendahkan dia. Sebagaimana disebutkan dalam suatu hadits :
قَالَتْ : وَحَكَيْتُ لَهُ إِنْسَانًا فَقَالَ : مَا أُحِبُّ أَنِّيْ حَكَيْتُ إِنْسَانًا وَ إِنَّ لِيْ كَذَا
"‘Aisyah berkata : “Aku meniru-niru (kekurangan/cacat) seseorang seseorang pada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam ”. Maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pun berkata :”Saya tidak suka meniru-niru (kekurangan/cacat) seseorang (walaupun) saya mendapatkan sekian dan sekian”. [11]
Termasuk ghibah juga, jika seorang penulis menyebutkan seseorang tertentu dalam kitabnya seraya berkata: ”Si fulan telah berkata demikian dan demikian”, dengan tujuan untuk merendahkan dan mencelanya. Maka hal ini adalah haram. Tetapi jika si penulis menghendaki untuk menjelaskan kesalahan orang tersebut agar tidak diikuti, atau untuk menjelaskan lemahnya ilmu orang tersebut agar orang-orang tidak tertipu dengannya dan menerima pendapatnya (karena orang-orang menyangka bahwa dia adalah orang yang ‘alim –pent), maka hal ini bukanlah ghibah, bahkan merupakan nasihat yang wajib yang mendatangkan pahala jika dia berniat demikian.
Demikian pula jika seorang penulis berkata atau yang lainnya berkata: “Suatu kaum -atau suatu jama’ah- telah berkata demikian-demikian” atau “Pendapat ini merupakan kesalahan atau kekeliruan atau kebodohan atau keteledoran” dan semisalnya”, maka hal ini bukanlah ghibah. Yang disebut ghibah jika disebutkan orang tertentu atau kaum tertentu atau jama’ah tertentu. [12]
Ghibah itu bisa dengan perkataan yang jelas atau dengan yang lainnya, seperti isyarat dengan perkataan, atau isyarat dengan mata, atau bibir dan lainnya, yang bisa dipahami bahwasanya hal itu untuk merendahkan saudaranya yang lain. Di antara ghibah adalah jika nama seseorang disebutkan di sisi-mu lantas engkau berkata: “Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala yang telah menjaga kita dari sifat pelit”, atau “Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala melindungi kita dari memakan harta manusia dengan cara yang batil”, atau yang lainnya. Sebab orang yang mendengar perkataan-mu itu memahami bahwa berarti orang yang namanya disebutkan memiliki sifat-sifat yang jelek. [13] Bahkan lebih parah lagi, perkataanmu tidak hanya menunjukkan kepada ghibah, tetapi lebih dari itu dapat menjatuhkanmu ke dalam riya’. Sebab engkau telah menunjukan kepada manusia bahwa engkau tidak melakukan sifat jelek orang yang disebutkan namanya tadi.
BAGAIMANA JIKA YANG DIGHIBAHI ADALAH ORANG KAFIR?
Imam As-Shan’ani berkata: “Perkataan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam (dalam hadits Abu Hurairah di atas) أَخَاكَ (saudaramu) yaitu saudara seagama, merupakan dalil bahwasanya selain mukmin boleh dighibah”. Ibnul Mundzir berkata: ”Dalam hadits ini ada dalil bahwasanya barang siapa yang bukan saudara (se-Islam) seperti Yahudi, Nasrani, dan seluruh pemeluk agama-agama (yang lain), dan (juga) orang yang kebid’ahannya telah mengeluarkannya dari Islam, maka tidak ada (tidak mengapa) ghibah terhadapnya" [14]
Bagaimana jika kita memberi laqob (julukan) yang jelek kepada saudara kita, namun saudara kita tersebut tidak membenci laqob itu, apakah tetap termasuk ghibah?
Imam As-Shan’ani berkata: “Dan pada perkataan Rosulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam بِمَا يَكْرَهُ (dengan apa yang dia benci), menunjukan bahwa jika dia (saudara kita yang kita ghibahi tersebut) tidak membenci aib yang ditujukan kepadanya, seperti orang-orang yang mengumbar nafsunya dan orang gila, maka ini bukanlah ghibah”. [15]
Syaikh Salim Al-Hilali berkata: ”Jika kita telah mengetahui hal itu (yaitu orang yang dipanggil dengan julukan-julukan yang jelek namun dia tidak membenci julukan-julukan jelek tersebut –pent) bukanlah suatu ghibah yang harom, sebab ghibah adalah engkau menyebut saudaramu dengan apa yang dia benci, tetapi orang yang memanggil saudaranya dengan laqob (yang jelek) telah jatuh di dalam larangan Al-Qur’an (yaitu firman Allah:
ولاَ تَنَابَزُوْا بِالأَلْقَابِ
“Dan janganlah kalian saling- panggil-memanggil dengan julukan-julukan yang buruk”. [Al-Hujurat : 11]-pent)
Yang jelas melarang saling panggil-memanggil dengan julukan (yang jelek) sebagaimana tidak samar lagi (larangan itu). [16]
HUKUM GHIBAH
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَال : قَالَ رَسُوْلُ الله : مَرَرْتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِيْ عَلَى قَوْمٍ يَخْمِشُوْنَ وُجُوْهَهُمْ بِأَظَافِرِيْهِمْ, فَقُلْتُ : يَا جِبْرِيْلُِ مَنْ هَؤُلآءِ؟ قَالَ : الَّذِيْنَ يَغْتَابُوْنَ النَّاسَ, وَيَقَعُوْنَ فِيْ أَعْرَاضِهِمْ
“Dari Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu, dia berkata: “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: ”Pada malam isra’ aku melewati sekelompok orang yang melukai (mencakar) wajah-wajah mereka dengan kuku-kuku mereka”, lalu aku bertanya: ”Siapakah mereka ya Jibril?”. Jibril menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang mengghibahi manusia, dan mencela kehormatan-kehormatan mereka”.
Dalam riwayat yang lain :
قَالَ رَسُوْلُ الله : لَمَّا عُرِجَ بِيْ, مَرَرْتُ بِقَوْمٍ لَهُمْ أَظْفَارٌ مِنْ نُحَاسٍ يَخْمِشُوْنَ وُجُوْهَهُمْ وَ صُدُوْرَهُمْ فَقُلْتُ : مَنْ هَؤُلآء يَا جِبْرِيْلُِ؟ قَالَ : هَؤُلآء الَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ لُحُوْمَ النَّاسَ وَيَقَعُوْنَ فِيْ
“Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Ketika aku dinaikkan ke langit, aku melewati sekelompok orang yang memiliki kuku-kuku dari tembaga, mereka melukai (mencakari) wajah-wajah mereka dan dada-dada mereka. Maka aku bertanya: ”Siapakah mereka ya Jibril?”. Jibril menjawab: ”Mereka adalah orang-orang yang memakan daging manusia dan mencela kehormatan mereka”. [17]
Hukum ghibah adalah haram berdasarkan Al-Kitab, As-Sunnah dan ijma’ kaum muslimin. Namun terjadi khilaf (perbedaan pendapat) di antara para ulama, apakah ghibah termasuk dosa besar atau termasuk dosa kecil?.
Imam Al-Qurthubi menukilkan ijma’ bahwasanya ghibah termsuk dosa besar. Sedangkan Al-Gozhali dan penulis Al-‘Umdah dari madzhab Syafi’iyah berpendapat bahwasanya ghibah termasuk dosa kecil.
Al-Auza’i berkata: “Aku tidak mengetahui ada orang yang jelas menyatakan bahwa ghibah termasuk dosa kecil selain mereka berdua”.
Az-Zarkasyi berkata: “Dan sungguh aneh orang yang menganggap bahwasanya memakan bangkai daging (manusia) sebagai dosa besar, (tetapi) tidak menganggap bahwasanya ghibah juga sebagai dosa besar, padahal Allah menempatkan ghibah sebagaimana memakan bangkai daging manusia. Dan hadits-hadits yang memperingatkan ghibah sangat banyak sekali yang menunjukan kerasnya pengharaman ghibah. [18]
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata: “Dalam ayat ini (Al-Hujurat :12) ada peringatan keras terhadap ghibah dan bahwasanya ghibah termasuk dosa-dosa besar, karena diserupakan dengan memakan daging bangkai (manusia) dan hal itu (memakan daging bangkai) termasuk dosa besar”. [19]
Alasan orang yang menyatakan bahwa ghibah adalah dosa kecil, diantaranya perkataan mereka: ”Kalau seandainya ghibah itu bukan dosa kecil maka sebagian besar manusia tentu menjadi fasik, atau seluruh manusia menjadi fasik, kecuali hanya sedikit sekali yang bisa lolos dari penyakit ini. Dan hal ini adalah kesulitan yang sangat besar”. Namun alasan ini terbantahkan, karena bahwasanya tersebarnya suatu kemaksiatan dan banyak manusia yang melakukannya tidaklah menunjukan bahwa kemaksiatan tersebut adalah dosa kecil. Dan alasan ini juga tertolak sebab tersebarnya kemaksiatan ini hanya kalau ditinjau pada zaman sekarang. Adapun pada zaman dahulu (zaman para Salaf) kemaksiatan-kemaksiatan (termasuk ghibah) tidak tersebar sebagaimana sekarang. Di zaman mereka yang tersebar adalah kebaikan.
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 07/Tahun V/1422/2001M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183]
_______
Footnote
[1]. Taisir Karimir Rahman tafsir surat Al-Hujurat :12
[2]. Riwayat Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad no 736, lihat Kitab As-Shamt no 177, Syaikh Abu Ishaq Al-Huwaini berkata: “Isnadnya shahih”, sedangkan tambahan yang ada dalam dua tanda kurung terdapat dalam kitab Az-Zuhud hal 748
[3]. Bahjatun Nadzirin 3/6
[4]. Muslim no 2589, Abu Dawud no 4874, At-Tirmidzi no 1999 dan lain-lain
[5]. Lihat Kitab As-Somt no 211, berkata Syaikh Abu Ishaq Al-Huwaini : “Rijalnya (para perawinya) tsiqoh (terpercaya)”
[6]. Bahjatun Nadzirin 3/6
[7]. Riwayat Abu Dawud no 4875 dan Ahmad (6/189,206), berkata Syaikh Abu Ishaq : “Isnadnya shohih”
[8]. Yaitu merubah rasanya atau baunya karena saking busuk dan kotornya perkataan itu –pent, sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Salim Al-Hilali dalam Bahjatun Nadzirin 3/25, dan hadits ini shahih, riwayat Abu Dawud no 4875, At-Thirmidzi 2502 dan Ahmad 6/189
[9]. Kitab As-Shamt no 213,753, berkata Syaikh Abu Ishaq Al-Huwwaini: “Rijalnya tsiqoh”
[10]. Kitabuz Zuhud jilid 3 hal 748
[11]. Maksudnya walaupun saya mendapatkan kedunaiaan yang banyak
(Hadits Shohih, riwayat Abu Dawud no 4875, At-Tirmidzi 2502 dan Ahmad 6/189)
[12]. Bahjatun Nadzirin 3/26
[13]. Bahjatun Nadzirin 3/27
[14]. Subulus salam 4/299 dan Taudhilhul Ahkam 6/328
[15]. Subulus salam 4/299
[16]. Bahjatun Nadzirin 3/47
[17]. Riwayat Ahmad (3/223), Abu Dawud (4878,4879), berkata Syaikh Abu ishaq Al-Huwaini : Isnadnya shahih, lihat kitab As-Somt hadits no 165 dan 572
[18]. Subulus Salam 4/299
Assalamualaikum, ini adalah tulisan ke 2 mas @mamoadi yg diberikan kpd kami, sebenarnya ini adalah kumpulan kultwit mas @mamoadi yg di rangkumkan. Kultwit ini sangat menarik, dan mas @mamoadi pun setuju jika kultwit ini di post di tumblr @IslamDiaries
1. Berbicara Agama Tanpa Ilmu Lebih Bahaya dari Dosa Kesyirikan. Ibnul Qayyim mengatakan :
2. “Allah subhanahu wa ta’ala telah mengharamkan berbicara tentang-Nya tanpa dasar ilmu baik dalam fatwa dan memberi keputusan.
3. Allah menjadikan perbuatan ini sbg keharaman besar bahkan Dia menjadikannya sbg tingkatan dosa paling tinggi.” Allah Ta’ala berfirman :
4. “Katakanlah: “Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak atau pun yang tersembunyi,
5. dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar,
6. (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujah untuk itu
7. dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui”.” (QS. Al A’rof: 33)”
8. Ibnul Qayyim -rahimahullah- ketika menjelaskan ayat di atas mengatakan, “Allah mengurutkan keharaman menjadi empat tingkatan.
9. Allah memulai dengan menyebutkan tingkatan dosa yang lebih ringan yaitu al fawaahisy (perbuatan keji).
10. Kemudian Allah menyebutkan keharaman yang lebih dari itu, yaitu melanggar hak manusia tanpa jalan yang benar.
11. Kemudian Allah beralih lagi menyebutkan dosa yang lebih besar lagi yaitu berbuat syirik kepada Allah.
12. Lalu terakhir Allah menyebutkan dosa yang lebih besar dari itu semua yaitu berbicara tentang Allah tanpa ilmu.
13. Larangan berbicara tentang Allah tanpa ilmu ini mencakup berbicara tentang nama & shifat Allah, perbuatan-Nya, agama dan syari’at-Nya.”
14. Perhatikan poin 13 !!!
15. Mengapa bisa dikatakan demikian? Karena berbicara tentang Allah dan agama-Nya tanpa dasar ilmu akan membawa pada dosa-dosa yang lainnya.
16. Semoga hal ini sebagai nasehat bagi kita semua, termasuk juga penulis.
17. Begitu banyak kita lihat saudara-2 kita memberi komentar dalam mslh agama, pdhl tdk ada satu pun dasar dr Al Qur’an & Hadits yg di bawa,
18. Bahkan mereka jarang mempelajari agama tetapi sangat nekad dan berani untuk memberi komentar.
19. Semestinya setiap muslim selalu menjaga lisan dan perkataan.
20. Seharusnya setiap muslim yg tdk memiliki ilmu agama diam & tdk banyak bicara drpd banyak komentar sana-sini tanpa dasar ilmu sama sekali
21. Hanya kepada Allah kami meminta perlindungan dari dosa semacam ini. Hanya Allah yang memberi taufik.
Semoga bermanfaat rangkuman kultwit dari mas @mamoadi.
Assalamualaikum, berikut ini saya akan paparkan Kultwit mas @mamoadi mengenai #Akhlak. Yg Insya Allah akan saya kultwit kan di TL @IslamDiaries. Semoga bermanfaat ya….
1. 1. Segala puji hanya bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya,
2. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami.
3. Barangsiapa yg Allah beri petunjuk, mk tdk ada yg dpt menyesatkannya, dan siapa yg Allah sesatkan, mk tdk ada yg dpt memberinya petunjuk.
4. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adlh Kitabullaah dan sebaik-baik petunjuk adlh petunjuk Nabi Muhammad Shallallaahu a'alaihi wa sallam,
5. Sejelek-jelek perkara adalah yg diada-adakan, setiap yg diada-adakan adalah bid'ah
6. Dan setiap bid'ah itu sesat dan setiap kesesatan itu tempatnya di Neraka.
7. Karena #Akhlak Nabi Shallallahu alaihi wa sallam diutus. “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”
8. Hadits ini shahih menurut syarat Imam Muslim. Disepakati Adz-Dzahabi serta Al-Albani pada As-Silsilah Asd-Shahihah. #Akhlak
9. Apakah masuk akal kami katakan bahwa tujuan mendasar diutusnya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam berkaitan dengan #Akhlak ?
10. Bahkan jawaban pertanyaan itu telah Allah Ta'ala tegaskan pada firman-Nya, #Akhlak
11. “Dan Kami tidak mengutusmu kecuali sebagai rahmat seluruh semesta.” (Al-Anbiya: 107) #Akhlak
12. Ketahuilah, tidak ada rahmat bagi seluruh alam kecuali dengan akhlak! Seluruh aturan syariat terdapat #Akhlak di dalamnya.
13. Mulai dari #Akhlak thdp orang tua hingga akhlak berjihad & memerangi orang kafir. Apakah akhlak lebih utama dari ibadah?
14. Kami katakan, shalat, puasa, doa, dzikir, dll termasuk akhlak. Dalam arti luas tujuan ibadah adalah memperbaiki #Akhlak
15. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dr (perbuatan) keji&mungkar.” #Akhlak
16. Jika shalat belum mampu mencegah diri nya dari perbuatan keji & mungkar, maka shalatnya baru sebatas olah raga. #Akhlak
17. Jika kita belum memberikan nilai2 kasih sayang kpd sesama manusia, mk kita belum memetik buah shalat scr sempurna. #Akhlak
18. Begitupun sedekah, “Ambillah zakat dr sebagian harta mereka, dgn zakat itu kamu membersihkan & mensucikan mereka.” #Akhlak
19. Maha Besar Allah! Ternyata tujuan zakat adalah membersihkan diri dalam rangka proses #Akhlak !
20. Salah satu tujuan mempelajari #Akhlak adalah menghindari pemisahan antara akhlak dan ibadah.
21. Pernahkah anda temukan orang2 yg amanah lagi jujur namun tdk shalat? Atau orang2 yg rajin bidah tapi buruk #Akhlak -nya?
22. Sesungguhnya, itu adalah dua contoh yg tidak terpuji. (Semoga Allah Ta'ala menjauhkan kita dari sifat yg demikian) #Akhlak
23. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Demi Allah ia tidak beriman, demi Allah ia tidak beriman, … #Akhlak
24. Sahabat bertanya: Siapakah mereka wahai Rasulullah? #Akhlak
25. Rasulullah menjawab: orang yang tidak dapat menyimpan rahasia kejelekan tetangganya.” #Akhlak | HR Muslim 170 & Ahmad.
26. Renungkanlah, apakah kita masih terjerumus dalam ghibah? Membicarakan aib org lain? Gosip? Egois trhadap tetangga? #Akhlak
27. “… Orang paling jelek disisi Allah pd hari kiamat adlh org yg ditinggalkn org lain krn menghindari kjelekannya.” #Akhlak
28. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Bukhari (6054) dan Imam Muslim (6539) #Akhlak
29. Pernahkah menjumpai seseorang yg baik ibadahnya namun dijauhi karena perangainya yang buruk? #Akhlak
30. Jika baik #Akhlak nya maka ia akan dikenal baik akhlaknya, dan jika jelek akhlaknya, ia akan terlihat buruk perangainya.
31. Berapa banyak org ditinggalkan sahabatnya u/ menghindari kejelekannya? #Akhlak
32. “Dan bertaubatlah kamu sekalian kpd Allah, hai orang-orang yg veriman, supaya kamu beruntung.” An-Nur:31 #Akhlak
33. Perhatikan Hadits Riwayat Imam Bukhari, Imam Muslim dan Imam Ahmad ini. Ini adalah hal yg dpt mengurai iman anda. #Akhlak
34. “Iman itu sebanyak 73 tingkatan; tingkatan tertinggi mengucapkan 'Laa Illaaha illallaah’, #Akhlak
35. dan yg terendah adalah menyingkirkan rintangan dari jalan.” #Akhlak
36. Menyingkirkan rintangan di jalanan adalah sebagian dr iman! Lalu bagaimana dgn orang yg membuang sampah dijalanan? #Akhlak
37. Akhir kata, perhatikanlah hadits dr Imam Muslim (6522) dan Imam at-Tirmidzi (2418) -semoga Allah merahmati beliau- #Akhlak
38. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bertanya, “Tahukah kalian, siapakah yang dimaksud orang yang merugi itu?” #Akhlak
39. Sahabat menjawab, “Orang yg rugi menurut kami adalah orang yang tidak mempunyai dirham maupun harta.” #Akhlak
40. Maka Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Orang yg merugi dari umatku adalah … #Akhlak
41. Orang yg datang pd hari kiamat dgn membawa shalatnya, puasanya dan zakatnya, dan ia membawa seluruh amalnya, … #Akhlak
42. Sedangkan ia telah mencaci ini, menuduh ini, memakan harta ini, memukul ini, dan menunpahkan darah ini, … #Akhlak
43. Maka akan ditebus perbuatannya ini dari amal kebajikannya dan ini dari amal kebajikannya. … #Akhlak
44. Jika habis kebaikannya sebelum seluruh kebaikannya dihisab, mk diambilkan keburukan org yg pernah disakitinya, … #Akhlak
45. Sehingga seluruh keburukan mereka dilemparkan kepadanya, kemudian ia dilemparkan ke neraka. #Akhlak
46. Wahai orang yang buruk akhlaknya, Anda sungguh telah merugi ! Perbaikilah selagi masih tersisa waktu. Sekian. #Akhlak
Semoga manfaat.
Sumber: twitter : @mamoadi
@iDistro dan @IslamDiaries me release T-Shirt : Harga IDR : 85.000 belum termasuk OngKir.
Size : S, M, L, XL dan XXL. Khusus XXL harga IDR : 90.000 juga belum termasuk OngKir.
Kaos ini memakai Bahan Katun 24s. Sangat nyaman sekali.
Cara Pesan :
1. Kirim Email ke iddistro@gmail.com atau muriahmadi@ymail.com
2. Lalu setelah dapat konfirmasi, Silahkan Transfer ke BNI kcp Pungkur
Bandung
No Rek : 0190759853 a/n : Muri Ahmadi Mansoer
3. Lalu kami akan mengirim paket kaos yg telah dipesan
4. Atau kalau mau datang ke kantor nya iDistro. Silahkan:
iDistro : Jl. Trowulan VB No. 5 Bandung
Telp (iDistro) : 0818425766/(022) 92400475
Terima Kasih… Pesen ya… Ditunggu :)