IslamDiaries

Month
Filter by post type
All posts

Text
Photo
Quote
Link
Chat
Audio
Video
Ask

March 2011

Maha Luar Biasanya Allah

Jika kita tela'ah secara sedehana arti dari Maha adalah sesuatu yang paling tinggi, paling hebat.  Maka nama nama Allah SWT atau yg biasa kita bilang dgn ‘Asmaa-ul Husnaa’ adalah nama nama yang paling agung.

Sekarang kita coba konsentrasikan kepada Yang Maha Pengasih dan Yang Maha Penyayang. Karena saya merasa Bismillahirrahmanirahim adalah awal dari segala sesuatu. Sepertinya Allah SWT selalu ingin mengingatkan kita kalau Dzat yang Maha Agung, pemilik semua Pujian dan Mulia ini Cinta dan sayang kepada makhluk nya. Seperti semua terbuka lebar untuk kembali Fitrah. Seperti tidak ada kata tertutup bagi manusia yang ingin bertaubat atau Hijrah di jalan Nya.

Rasa Sayang dan Cinta dari sang Maha ini lah yang mendasari segala macam  kejadian pada kehidupan di semesta alam ini. Allah meng inginkan semua makhluknya masuk ke dalam Surga nya Allah S.W.T. Kita tidak akan mampu menghitung nikmat Sayang dan Cinta nya Allah ke kita. Tapi mari kita coba telaah sebagian kecil saja.

Lihatlah jika kita ambil rata rata umur manusia adalah sampai 65 th. Maka tidak kah kita berfikir Allah SWT memberikan waktu untuk kita agar Taubat sampai dengan 65th. Dan 65 th adalah waktu yang amat sangat lama. Tetapi Allah SWT sangat sabar karena bagian dari sifat Rahman dan Rahiim nya kepada hamba nya. Maka Allah memberikan waktu sedemikian lama untuk kita berTaubat.

Dan bila kita lebih berfikir jernih lagi, maka semua yang ada di dunia ini jika kita sesuai dengan ajaran Allah SWT dan Rasulnya maka semuanya dihitung sebagai Ibadah. Bagaimana tidak, semua sudah terhampar di depan mata kita. Maka Allah SWT pun berfirman :

“Jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah (12:87)“

Apa sih maksud nya Kita tidak boleh berputus asa? Kita buat simple. Dalam kehidupan sehari hari Senyum pun dikatakan Sedekah. Sedekah juga ibadah kan. Bekerja ibadah.Bahkan berhubungan Suami Istri dgn pasangan yang sah pun dikatakan ibadah. Hal hal itu kan juga menambah pahala. Bahkan kita sakit pun bisa dikategorikan pengikisan dosa. Seperti diriwayatkan pada suatu hadist

 “Setiap musibah yang menimpa mukmin, baik berupa wabah, rasa lelah, penyakit, rasa sedih, sampai kekalutan hati, pasti Allah menjadikannya pengampun dosa-dosanya.”

(HR al-Bukhari dan Muslim)

Subhanallah… Lalu manusia masih tetap saja mengeluh?

Bahkan Rasulullah bersabda :"Bila hr Jum'at tlah tiba.. para Malaikat berdiri di pintu masjid mencatat org yg pertama dtg dan seterusnya.Bila imam tlh dtg (naik mimbar).. mrk tutup buku,kemudian mendengarkan khutbahPerumpamaan org yg pertama dtg spt bersedekah unta.. sesudah itu spt bersedekah lembu…kemudian spt bersedekah kambing, kemudian spt bersedekah ayam, kemudian spt bersedekah telur.”(HR. Muslim).

Dan Rasulullah pun pernah bersabda “Jika seseorang dalam keadaan suci( Wudhu) dan berjalan menuju Masjid pada waktu Sholat tiba. Maka setiap langkahnya adalah pengampunan dosa baginya.”

Sebenarnya kita sudah sangat di mudahkan oleh Allah SWT untuk beribadah dan mencari pahala. Semua ada jalannya kalau kita benar benar berfikir. Hal itu tidak dapat terjadi jika Allah SWT tidak sayang sama kita, tidak mau hambanya masuk Surga. Tidak mungkin. Allah sangat menyayangi hambanya, dan sangat ingin hambanya masuk Sorga.

Berfikirkah kita? Karena agama Islam mengajak kita untuk berfikir, berbasis ilmu yang saling berkaitan satu sama lainnya. Dahsyat sekali Islam ini.

Lalu di bulan puasa Ramadhan Tidur saja bisa dikatakan sebagai ibadah.Tetapi tidur di bulan Ramadhan itu juga ada “kode etik”-nya. Tidur ialah suatu pilihan untuk menghindari dari perbuatan-perbuatan yang tidak bisa dijamin baik. Bahkan karena sangat detail nya maka memberikan makan pada orang yang berpuasa pun akan mendapat pahala. Dan Rasululllah SAW bersabda “Barangsiapa yang memberi makanan berbuka bagi orang yang berpuasa, maka baginya pahala yang semisal orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut sedikit pun.” (HR. At Tirmidzi)

Sekarang coba lihat dari sisi pahalanya. Pahala puasa itu tak terhingga, terserah kepada Allah. Dalam sebuah hadits dikatakan,

 “Setiap amalan kebaikan anak Adam akan dilipatgandakan menjadi 10 hingga 700 kali dari kebaikan yang semisal. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (yang artinya), ‘Kecuali puasa, amalan tersebut untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya karena dia telah meninggalkan syahwat dan makanannya demi Aku.’” (HR Muslim)

Dan kita pun belum membahas hal hal lainnya seperti Puasa Senin Kamis, Sholat Sunnah lain, dzikir, malam Lailatul qadr, sedekah, sabar, ikhlas dan lain lain. Betapa terbukanya Rahmat Allah dan pahala Allah. Dan hitungan Allah gak pernah salah.

Lalu pertanyaannya sekarang, begitu dahsyatnya Allah mencintai hambanya. Apakah hal itu berlaku terbalik. Insya Allah, kita termasuk orang orang yang mencintai Allah SWT dan Rasulnya, yang bergetar jika di lafalkan nama nama Allah, atau pujian pujian yang hanya untuk Allah. Karena di dalam Qur’an Allah berfirman :

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu” (3:31)“

Maka mari kita ber doa dengan sebaik baiknya doa kepada Sang Maha Esa. Karena “Doa adalah otaknya ibadah, senjata seorang mukmin, cahaya langit dan bumi. Barangsiapa enggan berdoa, Allah akan murka kepadanya.”

Allah mencintai kita makhlukNya, Allah mencintai hambaNya, Allah pun memberikan dunia ini sebagai tanda untuk kita agar kembali Fitrah. Semua itu didasari oleh Rasa Cinta, Rasa sayang dan pemurah. Jika tidak, maka tidak akan mungkin semua ini akan terhampar secara luas.

Mari kita akhiri dengan :

“Memohonlah kepada Nya dengan menyebut Asmaa-ul Husnaa”

(Al-Raaf:180)

Mar 15, 2011 7 notes
#Notes
Syahadatain: Kisah Sebuah Pengakuan

 Pemuda itu kikuk memasuki masjid.  Ini pengalaman pertama baginya.  Di Indonesia, masjid memang bukan benda asing.  Islam adalah agama yang dipeluk oleh 80% warga Indonesia.  Tentu saja semua orang tahu masjid.  Tapi ketika kakinya pertama kali bertemu dengan karpet masjid, bergetar merinding urat syarafnya.

Bagaikan seorang bintang di atas panggung, seluruh mata tertuju padanya.  Memang dialah pusat perhatian pada saat itu.  Entah berapa puluh pasang mata mengamatinya; meneliti sekujur tubuhnya, mengantisipasi setiap gerakan bibirnya.

Saatnya pun tiba.  Seorang ustadz membimbingnya, mengajarinya dengan mengulang-ulang sebuah kalimat, hingga akhirnya ia bisa mengucapkannya dengan sempurna.

Asyhadu an laa ilaaha illallaah,

wa asyhadu anna muhammadan rasuulullaah.

Resmilah sudah.  Di rumah Allah itu, ia bukan lagi orang asing, melainkan hamba yang datang mengadu.  Pada saat itu juga, puluhan pasang mata yang tadi mengintai langsung mengendurkan pandangannya.  Hamdalah dan takbir terdengar dari seluruh sudut masjid, meski tak ada yang meninggikan suaranya.  Ketika ia berdiri, berdiri pula orang-orang itu, berebut menyalami dan memeluknya.  Ada sedikit keheranan dalam benak menyaksikan mereka yang begitu larut dalam haru, padahal dirinyalah begitu beruntung karena baru saja merengkuh kebenaran dan mendapat banyak saudara.  Ia pun sadar, masih banyak yang perlu dipelajarinya lagi, mulai dari awal.

*******

Sebagian besar di antara kita mungkin tidak pernah mengalami episode kehidupan yang begitu mengharukan seperti di atas.  Kebanyakan Muslim telah lahir dan dibesarkan sebagai Muslim oleh kedua orangtuanya.  Akibatnya, syahadatain seringkali dianggap hanya sebagai bagian dari adzan, atau bacaan yang wajib kita baca dalam shalat.  Padahal, ia adalah pernyataan komitmen kita kepada Allah Ta'ala.

Syaikh Musthafa Masyhur telah mengingatkan bahwa syahadatain adalah garis batas yang memisahkan keislaman dengan kekafiran.  Tidak ada wilayah abu-abu di antara keduanya.  Pilihannya hanya dua: beriman atau kafir.  Memang ada golongan munafiq, namun ia bukanlah kelompok ‘setengah beriman’ atau ‘setengah kafir’, melainkan pura-pura beriman.  Pada hakikatnya mereka tidak beriman, namun mereka hendak menipu umat.  Dengan kata lain, penggolongan ini diberikan karena manusia hanya bisa menilai hal-hal yang kasat mata.  Adapun isi hati, Allah Maha Mengetahui.

Orang yang masih memegang teguh syahadatain tidak boleh kita kafirkan, demikian pula orang kafir yang tidak pernah mengucap dan memahami syahadatain tak bisa kita sebut sebagai seorang Muslim.  Inilah garis batas yang tegas, tidak ambigu dan tidak membuat ragu.

Kalimat pertama dalam syahadatain adalah pernyataan yang menegaskan bahwa pengucapnya tidak lagi memiliki Ilah selain Allah Ta'ala.  Kata “Ilah” biasa diterjemahkan sebagai “Tuhan”, namun sebenarnya ia bermakna “sesuatu yang paling dicintai, paling ditakuti dan paling diharapkan”.  Bisa jadi, seseorang memiliki ilah selain Allah Ta'ala.  Orang yang hidup karena uang, misalnya, pastilah mencintai uang di atas segala-galanya.  Ia merasa takut kalau sampai kehilangan hartanya.  Selama ia masih punya uang, ia senantiasa merasa ada harapan.  Maka ia telah menjadikan uang sebagai ilah-nya, atau bisa juga dikatakan bahwa ia telah mempertuhankan uang.

Di dunia ini banyak hal yang dijadikan ilah selain Allah.  Itulah sebabnya sastrawan Taufik Ismail menyebut rokok sebagai “tuhan sembilan senti”, lantaran begitu tunduk patuhnya para perokok pada godaan kenikmatannya.  Begitu banyak orang yang lebih siap disuruh menggadai nyawa di medan perang daripada menghentikan kebiasaan merokok.  Begitu banyak orang miskin yang susah membeli nasi, tapi rutin membeli rokok.

Kalimat kedua dalam syahadatain adalah pengakuan terhadap Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam. sebagai utusan-Nya.  Sudah barang tentu, pengakuan ini memiliki konsekuensi yang tegas.  Jika kita memang meyakini beliau sebagai utusan Allah, maka kita pun tidak akan menentang ajarannya dan meyakini bahwa keteladanan yang dicontohkannya adalah sikap yang terbaik sebagai seorang Muslim.

Kalimat hanyalah basa-basi belaka jika tidak diiringi oleh makna.  Mereka yang mengucapkan syahadatain tapi masih memiliki ilah selain Allah, atau mengakui kenabian Muhammad saw. namun menentang ajarannya, tidak akan diterima keimanannya.  Mereka inilah yang diidentifikasi sebagai orang-orang munafiq.

Setiap Muslim, apalagi muallaf, akan berada dalam proses belajar seumur hidupnya.  Tidak ada Muslim yang benar-benar sempurna menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.  Begitu banyak yang belum kita tahu, dan yang sudah kita tahu pun masih banyak yang terlupa dan terlalaikan.

Syahadatain adalah sebuah pernyataan komitmen.  Yang diminta dari seorang manusia adalah komitmennya, bukan hasil usahanya.  Seorang muallaf yang sudah mengucap syahadatain sudah sempurna menjadi seorang Muslim, meski ibadahnya masih belum sempurna.  Pertama-tama, ia shalat mengikuti gerakan yang lainnya.  Kemudian ia belajar menghapalkan Surah Al-Fatihah.  Perlahan-lahan, ia kuasai semua bacaan shalat.  Ia lengkapi lagi dengan kemampuan membaca Al-Qur’an, sesuai tajwid-nya.  Ketika Ramadhan tiba, ia pun belajar shaum.  Adakalanya ia terpaksa berbuka karena tak biasa mengosongkan perut seharian.  Demikian seterusnya.  Ibadah boleh saja tidak sempurna, dan kita akan terus menyempurnakannya, namun komitmen haruslah bulat sejak awal.

Allah tidak menuntut kita untuk menjadi hamba yang sempurna ibadahnya, karena memang di dunia ini tak ada hal yang instan.  Allah Ta'ala hanya menuntut janji kita; sekedar sebaris-dua baris kalimat yang akan meneguhkan komitmen kita selanjutnya.  Dengan mengakui-Nya sebagai satu-satunya ilah, maka resmilah kita menjadi hamba-Nya.  Atas segala kasih sayang Allah yang melimpah, kita hanya dituntut untuk mengucapkan sebuah pengakuan.  Allah memang Maha Pemurah!


Mar 15, 2011 4 notes
#Moslem Pillars: Rukun Islam
Manfaat Sholat Secara Medisalhakim.wordpress.com
Mar 15, 2011
Mar 15, 2011
Next page →
20132014
  • January
  • February
  • March
  • April
  • May
  • June
  • July
  • August
  • September
  • October
  • November
  • December
201220132014
  • January
  • February
  • March
  • April
  • May
  • June
  • July
  • August
  • September
  • October
  • November
  • December
201120122013
  • January
  • February
  • March
  • April
  • May
  • June
  • July
  • August
  • September
  • October
  • November
  • December
20112012
  • January
  • February
  • March
  • April
  • May
  • June
  • July
  • August
  • September
  • October
  • November
  • December