PERASAAN takut gagal hampir selalu terlintas . dalam hati kita. Perasaan seperti ini bukanlah sesuatu yang fitrah atau mempakan bawaan sejak lahir. Didikan sosiallah yang berperan besar dalam memberikan pengaruh akan perasaan seperti ini.
Keluarga kita kerap sekali menanamkan rasa takut gagal sewaktu kita masih anak-anak. Dengan begitu, bayang-bayang kegagalan selalu hadir di hadapan kita hingga kita dewasa. Berawal dari hal itulah kita menjadi takut akan suatu hal yang tidak kita ketahui.
Akibat lebih lanjutnya, kita menjadi tidak berani mengerjakan suatu pekerjaan yang belum kita ketahui. Kita baru berani mengerjakannya bila kita sebelumnya telah mencobanya atau kita baru akan membuat suatu proyek niaga bila telah mencontoh keberhasilan orang lain.
Hal ini tidak bisa dibenarkan. Sekalipun mereka mе-miliki prasarana yang lengkap dan persiapan yang sempurna untuk mengerjakan suatu pekerjaan, mereka tetap saja takut untuk melangkah karena takut gagal. Dr. Wyne W. Dyer dalam bukunya, 10 Secrets fοr Success аnԁ Inner Peace mengatakan bahwa rasa takut gagal sangat menjangkiti masyarakat kita karena rasa takut itu sudah terekam dalam pikiran sejak masa anak-anak dan terus melekat sepanjang hidup. Terkadang Anda merasa terkejut ketika baru pertama kali mendengar mengenai suatu hal. Hal ini karena fenomena kegagalan tidak memiliki wujud yang konkret.
Arti gagal secara sederhana adalah pandangan sese-orang berdasarkan cara pandang orang lain dalam menyelesaikan suatu pekerjaan. Kegagalan akan menjadi mustahil apabila Anda yakin bahwa tidak ada suatu pekerjaan yang harus dikerjakan hanya dengan cara-cara tertentu dan terarah sesuai dengan arahan orang lain. Memang, dalam suatu kondisi, terkadang Anda bisa pula gagal dalam menjalankan suatu tugas hanya karena mengikuti cara pandang Anda pribadi. Yang terpenting di sini bukanlah meni1ai suatu pekerjaan dengan penilaian Anda pribadi. Tiadanya keberhasilan dalam usaha tertentu bukan berarti bahwa Anda telah gagal secara pribadi, melainkan secara sederhana Anda hanya gagal dalam usaha itu saja pada saat ini.
Bayangkan kegagalan ibarat menggambarkan perilaku seekor binatang. Coba pikirkan, ketika seekor anjing bisa menggonggong selama lima belas menit. Anda akan memberikan penilaian seratus pada anjing itu. Bayangkan pula ketika orang lain yang mengatakan, ” Anjing ini tidak bisa menggonggong dengan baik. Karena itu aku beri nilai yang rendah pada anjing ini.” Sungguh sangat naif! Mustahil seekor binatang dinilai gagal dalam hal menggonggong hanya karena tiadanya rujukan dasar untuk memberikan penilaian atas perilaku seekor binatang secara alami.
Contoh lain, seekor kucing sedang memburu tikus.
Apabila kucing ini tidak berhasil dalam satu kali langkah, maka sudah pasti kucing ini akan mencobanya lain kali. Kucing ini juga tidak akan tinggal diam dan beranjak menjauh begitu saja hanya karena mengeluhkan tikus buruannya yang lari. Bisa pula sang kucing tidak akan merasa putus asa karena gagal karena hal ini telah menjadi perilaku alami. Berdasarkan analogi ini, janganlah Anda menerapkan sifat mudah menyerah dalam perilaku Anda. Bisakah Anda membebaskan diri Anda dari perasaan takut gagal?
Perasaan takut gagal akan mencegah kita untuk mengarungi pengalaman yang sangat banyak, menarik, dan berguna bagi kita. Orang-orang yang telah membebaskan dirinya dari perasaan takut gagal, mereka adalah orangorang yang paling berhasil yang pemah kita lihat.
Jangan khawatir dengan pandangan orang lain mengenai Anda, juga cacian orang lain kepada Anda. Ketika Anda gagal untuk pertama kali, atau bahkan lebih dari sekali. Anda tidak perlu memikirkan hal ini sama sekali. Akan tetapi bila Anda telah mengalami satu kali kegagalan, jadikanlah kegagalan ini sebagai pintu menuju kesuksesan karena kegagalan memang benar-benar pintu gerbang kesuksesan. Orang yang tidak pernah mengalami kegagalan satu kali saja dalam hidupnya, secara umum tidak akan memperoleh keberuntungan dan kesuksesan. Kalaupun ada kesuksesan itu pun sangat jarang terjadi.
Semua orang besar pernah mengalami kegagalan, paling tidak satu kali dalam hidup mereka karena bila tidak pemah gagal, mereka tidak akan bersungguh-sungguh untuk mendapatkan kesuksesan dalam hidup. Sebagai-mana adanya kegagalan dalam hal tertentu, hal itu akan menjadikan Anda mengenali titik-titik kelemahan dan kekuatan pada pribadiAnda sehingga Anda dapat mengembangkan titik kekuatan Anda dan menghilangkan titik lemahAnda.
Sudah menjadi kewajiban kita untuk dapat memisah-kan dua hal ini, yaitu kegagalan dan kekuatan pribadi serta penghormatan pada diri pribadi. Maksudnya, ke-gagalan hendaknya sarna sekali tidak menghilangkan penghormatan Anda kepada kepribadian Anda sendiri karena kegagalan itu bukan berarti lemahnya kepribadian Anda.
Bila seseorang berdasarkan penilaian pribadinya tidak membedakan antara kegagalan dan kesuksesan, semuanya itu akan menjadikannya tidak memiliki nilai kepribadian. Marilah kita merenung mengenai Thomas Alfa Edison. Seandainya ia menafsirkan bahwa semua pekerjaan yang ia lakukan sebagai bukti kepakaran dirinya dan ia anggap sebagai kegagalan, niscaya ia akan berhenti untuk terus berkarya setelah kegagalannya pertama kali. Niscaya ia akan menjuluki dirinya sendiri sebagai orang yang gagal dan tentu ia akan menghentikan usahanya untuk menyinari alam ini
Memang benar bahwa perasaan takut gagal adalah batu sandungan yang akan menghalangi langkah kita menuju kemajuan sehingga kita menjadi terbelenggu dalam keadaan cemas dan menderita karena banyaknya urusan. Hal itu, intinya adalah karena kita takut gagal. Bukankah waktu belum terlambat untuk menghilangkan perasaan bersalah ini?
Selalu libatkan Allah Swt dlm kehidupan kita, maka kita akan mendapatkan Yang Terbaik.
sumber : Membangun Positive Thinking Secara Islam – Adil Fathi Abdullah
Ada beberapa hadist lain yang saya ambil dari berbagai sumber.Mari kita sedikit merenung tentang keistimewaan perempuan yang kadang-kadang kita lupakan. Ini saya lampirkan beberapa keistimewaan wanita menurut Hadist:
1. Doa wanita itu lebih makbul daripada lelaki kerana sifat penyayang yang lebih kuat daripada lelaki. Ketika ditanya kepada Rasulullah SAW akan hal tersebut, jawab baginda , ” Ibu lebih penyayang daripada bapa dan doa orang yang penyayang tidak akan sia-sia.”
2. Wanita yang solehah (baik) itu lebih baik daripada 1000 lelaki yang soleh.
3. Barangsiapa yang menggembirakan anak perempuannya, darjatnya seumpama orang yang sentiasa menangis kerana takutkan Allah .Dan orang yang takutkan Allah SWT akan diharamkan api neraka ke atas tubuhnya.
4. Wanita yang tinggal bersama anak-anaknya akan tinggal bersama aku (Rasulullah SAW) di dalam syurga.
5. Barangsiapa membawa hadiah (barang makanan dari pasar ke rumah lalu diberikan kepada keluarganya) maka pahalanya seperti melakukan amalan bersedekah.Hendaklah mendahulukan anak perempuan daripada anak lelaki. Maka barangsiapa yang menyukakan anak perempuan seolah-olah dia memerdekakan anak Nabi Ismail.
6. Syurga itu di bawah telapak kaki ibu.
7. Barangsiapa mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan atau dua anak perempuan atau dua saudara perempuan lalu dia bersikap ihsan dalam pergaulan dengan mereka dan mendidik mereka dengan penuh rasa takwa serta sikap bertanggungjawab, maka baginya adalah syurga.
8. Apabila memanggil akan dirimu dua orang ibu bapamu, maka jawablah panggilan ibumu terlebih dahulu.
9. Daripada Aisyah r.a.” Barangsiapa yang diuji dengan sesuatu daripada anak-anak perempuannya lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang baginya daripada api neraka.
10. Wanita yang taat berkhidmat kepada suaminya akan tertutuplah pintu-pintu neraka dan terbuka pintu-pintu syurga. Masuklah dari mana-mana pun pintu yang dia kehendaki dengan tidak dihisab.
11. Wanita yang taat pada suaminya, maka semua ikan-ikan di laut, burung di udara, malaikat di langit, matahari dan bulan semua beristighfar baginya selama mana dia taat kepada suaminya serta menjaga solat dan puasanya.
12. Aisyah r.a berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah, siapakah yang lebih besar haknya terhadap wanita?” Jawab Rasulullah SAW “Suaminya.” ” Siapa pula berhak terhadap lelaki?” Jawab Rasulullah SAW, “Ibunya.”
13. Perempuan apabila sembahyang lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, memelihara kehormatannya serta kepada suaminya, masuklah dia dari pintu syurga mana sahaja yang dikehendaki.
14. Tiap perempuan yang menolong suaminya dalam urusan agama, maka Allah SWT memasukkan dia ke dalam syurga terlebih dahulu daripada suaminya (10,000 tahun).
15. Apabila seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya,maka beristighfarlah para malaikat untuknya. Allah SWT mencatatkan baginya setiap hari dengan 1,000 kebajikan dan menghapuskan darinya 1,000 kejahatan.
16. Apabila seseorang perempuan mulai sakit hendak bersalin, maka Allah SWT mencatatkan baginya pahala orang yang berjihad pada jalan Allah.
17. Apabila seseorang perempuan melahirkan anak, keluarlah dia dari dosa-dosa seperti keadaan ibunya melahirkannya.
18. Apabila telah lahir anak lalu disusui, maka bagi ibu itu setiap satu tegukan daripada susunya diberi satu kebajikan.
19. Apabila semalaman seorang ibu tidak tidur dan memelihara anaknya yang sakit, maka Allah SWT memberinya pahala seperti memerdekakan 70 orang hamba dengan ikhlas untuk membela agama Allah SWT.
Semoga bisa menjadikan pelajaran bagi kita, entah itu seorang perempuan ataupun laki-laki. Ambil maknanya. Maka daripada itu, hargailah seorang wanita..Jagalah istri anda, anak2 anda, apalagi Ibu anda!!!
Ada sebuah cerita luar biasa yang saya dengar dan baca dari Gus Imam puji Hartono yang patut kita teladani sebagai seorang suami/calon suami. Ceritanya seperti ini
Sekilas apabila kita lihat dari usianya boleh jadi beliau sudah tidak muda lagi, usia yang sudah senja bahkan sudah mendekati malam, Pak Suyatno 58 tahun, dalam kesehariannya diisi dengan kesetiaannya merawat istrinya yang menderita sakit. Mereka menikah sudah lebih dari 32 tahun.
Dalam perkawinannya semula berjalan normal dan mereka dikarunia 4 orang anak disinilah awal cobaan menerpa, setelah istrinya melahirkan anak ke empat tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.Istrinya hanya bisa menggunakan bahasa isyarat.
Setiap hari sebelum berangkat kerja ke tempat usahanya, Pak Suyatno dengan setia memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur dan mengajaknya bercengkerama. Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian. Walaupun secara ekonomi Pak Suyatno mampu untuk membayar suster atau pengasuh khusus untuk istrinya, namun itu tidak ia lakukan. Ia hanya mau merawat istri yang sangat ia cintai itu dengan tangannya sendiri. Pembantu di rumah tersebut hanya untuk keperluan rumah tangga, seperti memasak dan mencuci. Disamping merawat istrinya, Pak Suyatno otomatis juga merangkap berperan sebagai “ibu” bagi ke 4 anak-anaknya. Sejak mereka kecil, setelah istrinya lumpuh, Pak Suyatno merawat anak-anaknya seperti halnya yang dilakukan istrinya di kala sehat, antara lain menyiapkan sarapan dan baju seragamnya, juga menemani mereka bermain dekat dengan ibunya.
Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum, untunglah tempat usaha pak Suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. Sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa-apa saja yang dia alami seharian.
Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, Pak Suyatno dengan setia mengajak istrinya duduk di belakang dia saat Pak Suyatno shalat, seperti sedang berjamaah. Ia-pun sering mengajak istrinya mengaji atau mendengarkan Pak Suyatno mengaji dan juga mengajak sang istri berzikir, meski hanya dalam hati. Semuanya itu dijalani Pak Suyatno dengan ikhlas dan ia sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap hari, agar istrinya tersenyum.
Rutinitas ini dilakukan pak Suyatno selama 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke empat buah hati mereka, sekarang anak-anak mereka sudah dewasa dan sudah menjadi Sarjana, tinggal si bungsu yang masih duduk di bangku kuliah.
Pada suatu hari ke empat anak suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah sudah tinggal dengan keluarga masing-masing dan pak Suyatno memutuskan ibu mereka dia yang merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil.
Dengan kalimat yang cukup hati-hati anak yang sulung berkata ” Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak………bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu”.
Dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata-katanya “sudah yang keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak dengan berkorban seperti in? Terus terangi kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji kami akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian kalau bapak menikah lagi”.
Pak Suyatno menjawab hal yang sama sekali tidak diduga anak-anak mereka. “Anak-anakku ………, terima kasih atas saran kalian. Hanya saja bapak punya prinsip yang tidak dapat ditawar lagi. Bagi bapak, jikalau perkawinan dan kehidupan di dunia ini hanya untuk memenuhi nafsu kita, terutama nafsu ‘birahi’ mungkin bapak akan menikah lagi sudah sedari dulu……tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disamping bapak, bagi bapak itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian.. sejenak kerongkongannya tersekat,… Anakku, kalian yang selalu bapak dan ibu rindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yang tidak satupun dapat menggantinyai dengan apapun. Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti ini?. Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah batin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang?, kalian menginginkan bapak yang masih diberi Allah swt kesehatan dirawat oleh orang lain?, bagaimana dengan ibumu yang masih sakit. Jujur saja nak, bapak tidak sampai hati, meninggalkan ibumu” kali ini ada tetesan air mata di sudut mata Pak Suyatno. Seketika meledaklah tangis anak-anak pak Suyatno, kemudian merekapun melihat juga butiran-butiran kecil jatuh dipelupuk mata ibu Suyatno, yang dengan pilu ditatapnya mata sang suami yang sangat setia dan sangat dicintainya itu..
Akibat kesetiannya selama puluhan tahun tersebut, sampailah akhirnya pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada pak suyatno, Kenapa beliau mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yang sudah tidak bisa apa-apa selama puluhan tahun?
Pada saat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yang hadir di studio kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru, lalu disitulah Pak Suyatno bercerita.
“Bagi saya, jika manusia di dunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau berkorban dengan memberi ( memberi waktu, memberi tenaga, pikiran dan perhatian ) adalah hanya kesia-siaan belaka. Sejak dulu saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dengan tekad kita akan bersama dalam suka maupun duka, hingga Allah swt memanggil kita. Saya tidak akan dapat melupakan jasa-jasa besar istri saya sewaktu dia sehat, diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan batinnya. Ia juga telah memberi saya 4 orang anak yang lucu-lucu, saleh dan pinter. Di mata saya, ia sehat dan masih cantik seperti 30 tahun yang lalu. Saya tidak pernah menganggapnya lumpuh. Saat saya menyuapinya, saya rasakan sama seperti saat saya menyuapinya kala kita berbulan madu. Saat saya menggendongnya untuk naik dan turun dari tempat tidur, saya merasakan seperti saat kita masih berbulan madu. Setiap kali saya melihat wajahnya, sama seperti kala saya melihatnya di kala kami pacaran atau seperti saat saya memandangnya waktu kami berbulan madu"
Pak Suyatno kemudian melanjutkan,“Sekarang dia dalam kondisi sakit setelah melahirkan anak kami. Ia telah berkorban untuk cinta kami bersama. Bagi saya kondisi itu merupakan 'ujian’ dari Allah bagi saya. Apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. Dalam kondisi ia sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sedang dalam keadaan sakit. Tidak, tidak, bahkan berpikir untuk itupun saya tidak mau. Biarlah saya ikhlas menjalani takdir Allah ini, saya yakin "Gusti Allah ora sare”, Tuhan tidak pernah tidur. Sekecil apapun yang saya berikan kepada istri saya dan anak-anak, saya niatkan hanya untuk 'ibadah saya kepada Allah swt. Dan saya yakin Allah pasti akan memperhitungkan apapun yang kita perbuat, sekecil apapun. Saya berusaha mengikuti Rasulullah, tauladan saya yang mencintai dan melayani istrinya, bukan hanya dilayani. Sekarang ini harapan saya hanya satu, ijinkan saya merawat istri saya yang sanat saya cintai hingga Allah memanggil salah satu diantara kita. Kalapun ia dipanggil lebih dulu, saya bertekad untuk tetap mencintainya dan tidak akan menikah lagi. Istri saya adalah cinta dunia dan akhirat saya. Kalau Allah mengizinkan kami masuk surga, Insya Allah, saya menginginkan ia jadi Bidadari saya di Surga”
Kali ini Pak Suyatno sama sekali tidak menangis, justru penontonlah yang menangis.
Saya-pun tak terasa ikutan menangis. Pak Suyatno, sungguh luar biasa kesetiannmu, pelajaran berharga bagiku dan para suami yang lain. Semoga Allah swt memberikan kebaikan yang banyak buatmu. Amiin
Wallahualam bissawab
Salam,
Kembali ini adalah sebuah tulisan dari seorang Ustadz dalam salah satu Buku kecilnya di awal-awal beliau menulis, yang kembali diceritakan secara tertulis oleh Imam Puji Hartono. Ceritanya sebagai berikut :
Bocah kecil itu menjadi pembicaraan di kampung Ketapang. Sudah tiga hari ini ia mondar-mandir keliling kampung.
Ia suka menggoda anak-anak sebayanya, menggoda anak-anak remaja di atasnya, dan bahkan orang-orang tua. Hal ini bagi orang kampung Ketapang sungguh menyebalkan.
Yah, bagaimana tidak menyebalkan, anak itu menggoda dengan berjalan kesana kemari sambil tangan kanannya memegang roti isi daging yang tampak coklat menyala.
Sementara tangan kirinya memegang es kelapa, lengkap dengan tetesan air dan butiran-butiran es yang melekat di plastik es tersebut.
Pemandangan tersebut menjadi hal biasa bila orang-orang kampung melihatnya bukan pada bulan puasa!
Tapi ini justru terjadi di tengah hari pada bulan puasa! Bulan ketika banyak orang sedang menahan lapar dan haus. Es kelapa dan roti isi daging tentu saja menggoda orang yang melihatnya.
Pemandangan itu semakin bertambah tidak biasa, karena kebetulan selama tiga hari semenjak bocah itu ada, matahari di kampung itu lebih terik dari biasanya.
Luqman mendapat laporan dari orang-orang kampong mengenai bocah itu. Mereka tidak berani melarang bocah kecil itu menyodor-nyodorkan dan memperagakan bagaimana dengan nikmatnya ia mencicipi es kelapa dan roti isi daging
tersebut.
Pernah ada yang melarangnya, tapi orang itu kemudian dibuat mundur ketakutan sekaligus keheranan.
Setiap dilarang, bocah itu akan mendengus dan matanya akan memberikan kilatan yang menyeramkan. Membuat mundur semua orang yang akan melarangnya.
Akhirnya Luqman memutuskan akan menunggu kehadiran bocah itu. Kata orang kampung, belakangan ini, setiap bakda zuhur, anak itu akan muncul secara misterius.
Bocah itu akan muncul dengan pakaian lusuh yang sama dengan hari-hari kemarin dan akan muncul pula dengan es kelapa dan roti isi daging yang sama juga!
Tidak lama Luqman menunggu, bocah itu datang lagi.. Benar, ia menari-nari dengan menyeruput es kelapa itu. Tingkah bocah itu jelas membuat orang lain menelan ludah, tanda ingin meminum es itu juga.
Luqman pun lalu menegurnya.. Cuma,ya itu tadi,bukannya takut, bocah itu malah mendelik hebat dan melotot, seakan-akan matanya akan keluar.
“Bismillah.. .” ucap Luqman dengan kembali mencengkeram lengan bocah itu.Ia kuatkan mentalnya. Ia berpikir,kalau memang bocah itu bocah jadi-jadian, ia akan korek keterangan apa maksud semua ini.
Kalau memang bocah itu “bocah beneran” pun, ia juga akan cari keterangan, siapa dan dari mana sesungguhnya bocah itu.
Mendengar ucapan bismillah itu, bocah tadi mendadak menuruti tarikan tangan Luqman. Luqman pun menyentak tanggannya, menyeret dengan halus bocah itu, dan membawanya ke rumah. Gerakan Luqman diikuti dengan tatapan penuh tanda tanya dari orang-orang yang melihatnya.
“ Ada apa Tuan melarang saya meminum es kelapa dan menyantap roti isi daging ini? Bukankah ini kepunyaan saya?” tanya bocah itu sesampainya di rumah Luqman, seakan-akan tahu bahwa Luqman akan bertanya tentang kelakuannya. Matanya masih lekat menatap tajam pada Luqman.
“Maaf ya, itu karena kamu melakukannya di bulan puasa,” jawab Luqman dengan halus,“apalagi kamu tahu, bukankah seharusnya kamu juga berpuasa? Kamu bukannya ikut menahan lapar dan haus, tapi malah menggoda orang dengan tingkahmu itu..”
Sebenarnya Luqman masih akan mengeluarkan uneg-unegnya, mengomeli anak itu. Tapi mendadak bocah itu berdiri sebelum Luqman selesai. Ia menatap Luqman lebih tajam lagi.
“Itu kan yang kalian lakukan juga kepada kami semua! Bukankah kalian yang lebih sering melakukan hal ini ketimbang saya..?! Kalian selalu mempertontonkan kemewahan ketika kami hidup di bawah garis kemiskinan pada sebelas bulan di luar bulan puasa?
Bukankah kalian yang lebih sering melupakan kami yang kelaparan, dengan menimbun harta sebanyak-banyaknya dan melupakan kami?
Bukankah kalian juga yang selalu tertawa dan melupakan kami yang sedang menangis?
Bukankah kalian yang selalu berobat mahal bila sedikit saja sakit menyerang, sementara kalian mendiamkan kami yang mengeluh kesakitan hingga kematian menjemput ajal..?!
Bukankah juga di bulan puasa ini hanya pergeseran waktu saja bagi kalian untuk menahan lapar dan haus?
Ketika bedug maghrib bertalu, ketika azan maghrib terdengar, kalian kembali pada kerakusan kalian…!?”
Bocah itu terus saja berbicara tanpa memberi kesempatan pada Luqman untuk menyela. Tiba-tiba suara bocah itu berubah. Kalau tadinya ia berkata begitu tegas dan terdengar “sangat” menusuk, kini ia bersuara lirih, mengiba.
“Ketahuilah Tuan.., kami ini berpuasa tanpa ujung, kami senantiasa berpuasa meski bukan waktunya bulan puasa, lantaran memang tak ada makanan yang bisa kami makan. Sementara Tuan hanya berpuasa sepanjang siang saja.
Dan ketahuilah juga, justru Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuan lah yang menyakiti perasaan kami dengan berpakaian yang luar biasa mewahnya, lalu kalian sebut itu menyambut Ramadhan dan ‘Idul Fithri?
Bukankah kalian juga yang selalu berlebihan dalam mempersiapkan makanan yang luar biasa bervariasi banyaknya, segala rupa ada, lantas kalian menyebutnya dengan istilah menyambut Ramadhan dan 'Idul Fithri?
Tuan.., sebelas bulan kalian semua tertawa di saat kami menangis, bahkan pada bulan Ramadhan pun hanya ada kepedulian yang seadanya pula.
Tuan.., kalianlah yang melupakan kami, kalianlah yang menggoda kami, dua belas bulan tanpa terkecuali termasuk di bulan ramadhan ini. Apa yang telah saya lakukan adalah yang kalian lakukan juga terhadap orang-orang kecil seperti kami…!
Tuan.., sadarkah Tuan akan ketidak abadian harta?
Lalu kenapakah kalian masih saja mendekap harta secara berlebih?
Tuan.., sadarkah apa yang terjadi bila Tuan dan orang-orang sekeliling Tuan tertawa sepanjang masa dan melupakan kami yang semestinya diingat?
Bahkan, berlebihannya Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuan bukan hanya pada penggunaan harta, tapi juga pada dosa dan maksiat.. Tahukah Tuan akan adanya azab Tuhan yang akan menimpa?
Tuan.., jangan merasa aman lantaran kaki masih menginjak bumi. Tuan…, jangan merasa perut kan tetap kenyang lantaran masih tersimpan pangan 'tuk setahun, jangan pernah merasa matahari tidak akan pernah menyatu dengan bumi kelak….”
Wuahh…, entahlah apa yang ada di kepala dan hati Luqman. Kalimat demi kalimat meluncur deras dari mulut bocah kecil itu tanpa bisa dihentikan.
Dan hebatnya, semua yang disampaikan bocah tersebut adalah benar adanya!
Hal ini menambah keyakinan Luqman, bahwa bocah ini bukanlah bocah sembarangan. Setelah berkata pedas dan tajam seperti itu, bocah itu pergi begitu saja meninggalkan Luqman yang dibuatnya terbengong-bengong.
Di kejauhan, Luqman melihat bocah itu menghilang bak ditelan bumi.
Begitu sadar, Luqman berlari mengejar ke luar rumah hingga ke tepian jalan raya kampung Ketapang. Ia edarkan pandangan ke seluruh sudut yang bisa dilihatnya, tapi ia tidak menemukan bocah itu.
Di tengah deru nafasnya yang memburu, ia tanya semua orang di ujung jalan, tapi semuanya menggeleng bingung. Bahkan, orang-orang yang menunggu penasaran di depan rumahnya pun mengaku tidak melihat bocah itu keluar dari rumah Luqman!
Bocah itu benar-benar misterius! Dan sekarang ia malah menghilang!
Luqman tidak mau main-main. Segera ia putar langkah, balik ke rumah. Ia ambil sajadah, sujud dan bersyukur. Meski peristiwa tadi irrasional, tidak masuk akal, tapi ia mau meyakini bagian yang masuk akal saja. Bahwa memang betul adanya apa yang dikatakan bocah misterius tadi. Bocah tadi memberikan pelajaran yang berharga, betapa kita sering melupakan orang yang seharusnya kita ingat.. Yaitu mereka yang tidak berpakaian, mereka yang kelaparan, dan mereka yang tidak memiliki penghidupan yang layak.
Bocah tadi juga memberikan Luqman pelajaran bahwa seharusnya mereka yang sedang berada di atas, yang sedang mendapatkan karunia Allah, jangan sekali-kali menggoda orang kecil, orang bawah, dengan berjalan membusungkan dada dan mempertontonkan kemewahan yang berlebihan.
Marilah berpikir tentang dampak sosial yang akan terjadi bila kita terus menjejali tontonan kemewahan, sementara yang melihatnya sedang membungkuk menahan lapar.
Luqman berterima kasih kepada Allah yang telah memberikannya hikmah yang luar biasa. Luqman tidak mau menjadi bagian yang Allah sebut mati mata hatinya.
Sekarang yang ada dipikirannya sekarang , entah mau dipercaya orang atau tidak, ia akan mengabarkan kejadian yang dialaminya bersama bocah itu sekaligus menjelaskan hikmah kehadiran bocah tadi kepada semua orang yang dikenalnya, kepada sebanyak-banyaknya orang.
Kejadian bersama bocah tadi begitu berharga bagi siapa saja yang menghendaki bercahayanya hati.
Pertemuan itu menjadi pertemuan yang terakhir. Sejak itu Luqman tidak pernah lagi melihatnya, selama-lamanya.. Luqman rindu kalimat-kalimat pedas dan tudingan-tudingan yang memang betul adanya.
Luqman rindu akan kehadiran anak itu, agar ada seseorang yang berani menunjuk hidungnya ketika ia salah.
Wallahualam bissawab
Kita disyariatkan untuk mengumandangkan adzan di masjid sebagai pertanda masuknya waktu sholat dan untuk memanggil umat Islam agar datang ke masjid menunaikan sholat fardhu secara berjamaah. Karena itu, waktu adzan adalah indikator atau patokan umat muslim yang paling utama dalam masuknya saat waktu sholat.
Adzan hendaknya diucapkan dengan lantang dan jelas. Tetapi, kalimat adzan tidak boleh diucapkan dengan cara yang berlebihan yang sehingga dapat mengubah lafal dan maknanya. Sang muadzin hendaknya berwudhu terlebih dahulu, suci dari najis, dan menutup aurat (sebagaimana kalau dia melakukan sholat) serta menghadap ke kiblat. Hendaknya dia berhenti sejenak diantara kalimat-kalimat adzan.
Bagi yang mendengar, hendaknya ia menjawab adzan persis seperti ucapan muadzin, kecuali saat muadzin mengucapkan “hayya ‘alash sholat” dan “hayya ‘alal falaah” maka jawabannya adalah “laa haula wa laa quwwata illa billah”.
Rasulullah bersabda “Jika kalian mendengarkan adzan, maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkan oleh muadzin” (HR Bukhari no 611, diriwayatkan dari Abu Said ra), terkecuali saat muadzin mengucapkan Hayya ala as-Shalah dan Hayya alal-falah, maka jawabannya ialah dengan mengucapkan “ La haula wala quwwata illa billah “.
Di Hadis berikutnya Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW saat mendengar muadzin mengumandangkan adzan dia mengucapkan seperti apa yang diucapkannya, sehingga ketika muadzin mengucapkan ‘’Hayya ala as-Shalah’ dan ‘Hayya alal-falah’ beliau membaca ‘La haula wala quwatta illa billah’ (HR Bukhari no 613, diriwayatkan dari Muawiyah ra).
Khusus untuk adzan shubuh, disunnahkan untuk menambahkan kalimat tatswib “Ashsholatu khairun minan naum” dua kali sesudah “hayya ‘alal falaah. Lalu Jawaban kita apa? Sesuai yg diajarkan kepada kita maka jawaban kita adalah: “Shadaqta wa bararta wa anaa’alaa Dzalika Minasy-Syahidin”
Artinya : “Engkau benar, engkau betul ! dan saya termasuk diantara orang - orang yang menyaksikan hal itu”
Setelah adzan usai, hendaknya berdoa dan ber shalawat. Ada sebuah Hadis mengatakan Rasulullah bersabda : “Jika kalian mendengar muadzin mengumandangkan adzan, maka ucapkanlah seperti apa yang dia ucapkan kemudian bacalah shalawat untukku” (HR Muslim no 384 dari Abdullah bin Amr ra).
Diriwayatkan bahwa Rasul saw jika mendengar muadzin mengucapkan Asyhadu alla ilaha illallah dan Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah dia mengucapkan “wa ana, wa ana” (Sunan Abu Dawud, Hakim dan lainnya dari Aisyah ra), yang artinya ” saya juga”
Lalu kita berdoa dengan doa yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW, serperti yang disebutkan dalam hadits, “Barang siapa yang setelah adzan membaca : (‘Allahumma rabba hadzihid-da’watit-tammah, was-shalatil-qa-imah, ‘ati Muhammadanil-wasilata wal-fadhilah, wab’atshu maqamam-mahmudanil ladzi wa’adtah) : Ya Allah, pemilik seruan yang sempurna ini dan shalat yang wajib didirikan, berilah Nabi Muhammad al-washilah (derajat di surga) dan keutamaan, dan bangkitkan dia sehingga bisa menempati tempat yang terpuji yang telah Engkau janjikan’),maka dia berhak untuk mendapatkan syafaatku pada Hari Kiamat” (HR Bukhari no 614, dari Saad bin Abi Waqash ra).
Setelah itu membaca doa yang disebutkan dalam hadits ” Barang siapa yang ketika mendengarkan adzan dia membaca : (‘Wa ‘ana asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarikalah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu warasuluhu, radhitu billahi rabba, wabi Muhammadin rasula, wa bil-Islami dina ) : Aku bersaksi bahwa Tiada Tuhan selain Allah yang maha Tunggal yang tidak mempunyai sekutu, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad saw hamba dan utusanNya, aku rela Allah swt sebagai Tuhanku, Nabi Muhammad sebagai rasulku dan Islam sebagai agamaku’, maka dosanya diampuni” (HR Muslim no 386, dari Saad bin Abi Waqash ra).
Setiap muslim yang mendengar adzan hendaknya segera bergegas menuju ke masjid dan meninggalkan aktivitasnya untuk melaksanakan sholat secara berjamaah. Segera memenuhi panggilan adzan adalah sebuah keutamaan. Meskipun demikian, sewaktu berangkat ke masjid hendaknya seseorang berjalan dengan tenang dan tidak tergesa-gesa. Oleh karenanya maka akan sangat jauh lebih baik untuk sudah bersiap diri di mesjid sebelum adzan berkumandang.
Nah, diantara Adzan dan iqamat janganlah kita menyia nyiakan waktu. Berdoalah kepada Allah. Ingat, Rasulullah saw bersabda “Doa diantara adzan dan iqamah tidak akan ditolak (Musnad Imam Ahmad, Sunan Abu Dawud, Sunan Tirmidzi). Hendaklah setiap muslim selalu memanfaatkan kesempatan-kesempatan yang berharga saat doa tidak akan ditolak.
Adapun iqamat, kita disyariatkan mengucapkannya setiap kali sebelum melakukan sholat fardhu secara berjamaah. Iqamat hendaknya dipercepat, tetapi tidak boleh tergesa-gesa dan harus menjaga pelafalan kalimat-kalimatnya. Seperti halnya adzan, bagi yang mendengar iqamat disunnahkan untuk menjawabnya persis seperti ihwal adzan, kecuali setelah kalimat “qad qaamatish sholat” maka jawabannya adalah “aqaamahallahu wa adaamahaa”.
Supaya lebih jelas maka ada baiknya kita mengurutkan bacaan adzan mulai dari awal :
Sesungguhnya NabiAllah Shallallahu alaihi wassalam mengajarkannya adzan : (HR Abu Mahdzurah Radhiyallahu’anhu):
اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ
Arti : Allah Maha Besar, Allah Maha Besar
Dijawab : اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ
Arti : Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah
Dijawab : أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ
أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ. أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ
Arti : Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Utusan Allah, Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Utusan Allah
Dijawab : أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ. أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ
حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ
Arti : Marilah sholat, Marilah sholat
Dijawab : حول ولاقوة إلا بالله
حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ
Arti : Marilah menuju kemenangan, Marilah menuju kemenangan
Dijawab : حول ولاقوة إلا بالله
زَادَ إِسْحَاقُ “اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ
Dalam riwayat Ishak ditambahkan: Allah Maha Besar, Allah Maha Besar Tiada Tuhan selain Allah
Dijawab : اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ
Lihat dan mengerti betul. Begitu detailnya Allah. Sampai sesuatu dalam menjawab Adzan pun diatur oleh Nya dan menjadi amat sangat Luar Biasa seperti ini. Perhatikan ketika dikumandangkan “Marilah sholat, Marilah sholat “ lalu “Marilah menuju kemenangan, Marilah menuju kemenangan”. Apa Jawaban kita?La haula wala quwwata illa billah. “ Tidak ada daya upaya” Ini menandakan, Allah adalah Penguasa Mutlak dari segalanya. Hanya Allah yang menentukan semuanya. Hanya Allah yang bisa, manusia tidak bisa.
Luar Biasa sekali Adzan ini, dan begitu terdengar suara Adzan di wilayah kita, Noticed kah kita kalau di belahan bumi ini wilayah lain juga Adzan. Berkumandang Adzan bersahut sahutan secara non – stop di dunia ini. Misal dimulai dr Indonesia yang terletak dibagian timur. Saat tiba waktu Subuh, Adzan mulai berkumandang dari kawasan ini mengajak manusia untuk meraih kemenangan dengan shalat. Belum selesai Adzan dilantunkan secara merata di Indonesia,maka akan mulai terdengar di Malaysia. Berikutnya di Burma dan dalam jenjang satu jam selepas Adzan dilantunkan di Jakarta, tiba giliran Dakka di Bangladesh. Berikutnya lantunan akan kedengaran di Calcutta dan terus ke Srinagar di Barat India.
Proses ini terus berlangsung setiap detik sehingga ke pantai timur Atlantik. Jarak antara Adzan mulai dilantunkan di Indonesia sehingga ke pantai timur Atlantik adalah 9-½ jam. Nah, belum Adzan Subuh berkumandang di pantai Timur Atlantik, Adzan Zuhur kini sudah mulai dilantunkan di Indonesia. Ini berlangsung terus menerus bagi setiap waktu sholat, tidak putus-putus.
Maka resapi benar, sesuai dgn Sabda Rasulullah:“Para Muadzin adalah orang-orang yang terpanjang lehernya pada Hari Kiamat ” (HR Muslim no 387, diriwayatkan dari Muawiyah ra).
Jika kita mengerti benar dengan hal hal yang seperti ini. Yang kita sering anggap angin lalu. Ternyata kita “Salah Besar”. Justru panggilan ini adalah tanda dari Allah Sang Maha Luar Biasa yang kita dengar setiap hari. Kita sebagai manusia sudah diberikan anugerah dan nik’mat yang paling indah, anugrah dan nik’mat yang diberikan itu, kitapun tdk akan bisa untuk menghitung apalagi menjabarkannya.Oleh karena itu mari bersadar diri sebentar buat ngejawab panggilan Allah SWT dan memenuhi kewajiban kita, kalo dihitung totalnya maksimal sampai 10 menit saja kok, tapi itulah bentuk rasa syukur kita kepada Allah SWT untuk kehidupan kita. Dari 24 Jam yang kita dapatkan sehari, hanya butuh 10 menit di suatu waktu. Sulit kah? Keseluruhan berarti 50 menit dari 24 Jam. Harus nya sih tidak ya. Lalu apa yang menjadi kendala?
Kami pun bukan manusia yang baik atau bagus ibadahnya. Bahkan masih jauh bila dikatakan seperti itu, karena kami juga membutuhkan proses pembelajaran juga. Tapi paling tidak kami mencoba untuk memaksimalkannya. Insya Allah. Sekali lagi kami ingin mengulang, supaya kita ingat terus makna Adzan bahwa: Panggilan Ini adalah tanda dari Allah Sang Maha Luar Biasa yang kita dengar setiap hari
Allah menganugerahi kepada para hamba Nya dengan nikmat yang sangat banyak sampai tidak terhitung, mungkin nikmat yang terpenting bagi kita sebagai manusia adalah nikmat telah diciptakannya kita sbg manusia, kita juga diberikan nikmat umur panjang agar dapat bertaubat juga nikmat hidayah, atau juga nikmat akan terbatasnya diri kita dan nikmat yang teragung dan tertinggi dari nikmat-nikmat tadi adalah nikmat Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW sebagai utusanNya. Tidak ada keberuntungan bagi umat manusia di dunia dan akhirat kecuali dengan Islam. Allah menciptakan alam ini sebagai bukti akan kesempurnaan ilmu dan kekuasaannya. Islam adalah penerang nya yang menjelaskan perkara yang bermanfaat dan berbahaya. Karena setiap manusia membutuhkan syari'at. Maka, dia berada di antara dua gerakan: gerakan yang menarik kepada perkara yang berguna dan gerakan yang menolak mara bahaya.
Nah, untuk masalah Agama Islam itu ada tiga tingkatan: Islam, Iman danIhsan.
Perbedaan di antara Islam, Iman dan Ihsan:
Jika disebutkan secara bersamaan, maka yang dimaksud dengan Islam adalah amal perbuatan yang Nampak atau terlihat secara jelas, yaitu rukun Islam yang lima, sdgkan pengertian iman adalah amal perbuatan yang tidak Nampak, yaitu rukun iman yang enam.
Keimanan ini mencakup keyakinan dan kepercayaan dalam hati.
Dan bila hanya salah satunya (yang disebutkan) maka maksudnya adalah makna dan hukum keduanya.
Ruang lingkup ihsan lebih umum daripada iman, dan iman lebih umum daripada Islam. Dari segi makna maka Ihsan lebih umum dari sisi maknanya; karena ia mengandung makna iman/keimanan. Seorang manusia tidak akan bisa menuju martabat ihsan kecuali apabila ia telah merealisasikan iman.
Kemudian makna Iman lebih umum daripada Islam dari sisi maknanya; karena ia mengandung Islam. Maka, seorang hamba tidak akan sampai kepada tingkatan iman kecuali apabila telah merealisasikan atau dgn kata lain menjalankan Islam. Karena ahli iman adalah segolongan dari ahli Islam (muslim), bukan semuanya.
Maka, jelas sekali kalau setiap mukmin adalah muslim dan tidak setiap muslim adalah mukmin.
Mari kita telusuri lebih dalam.
Pengertian Islam:
Islam itu adalah Ikhlas/berserah diri kepada Allah dengan tauhidNya dan tunduk kepadaNya, dengan taatNya dan berlepas diri dari perbuatan syirik. Allah ingin komitmen kita. Komitmen yang mana? Komitmen akan SyahadatAin, bahwa SyahadatAin adalah garis batas yang memisahkan keislaman dengan kekafiran. Tidak ada wilayah abu-abu di antara keduanya. Pilihannya hanya dua: beriman atau kafir. Lalu kita punya komitmen lagi, sebelum kita diturunkan ke dunia :
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengata-kan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)” (QS Al Araaf:172)
Nah ke 2 contoh tsb diatas adalah bentuk penyerahan diri kita kepada Allah SWT. Bentuk kepasrahan diri kita. Mari kita kembalikan ke konteks ke Islaman. Barangsiapa yang berserah diri kepada Allah, maka dia adalah seorang muslim. Dan barangsiapa yang berserah diri kepada Allah dan yang lainnya, maka dia adalah seorang musyrik. Dan barangsiapa yang tidak berserah diri kepada Allah, maka dia seorang kafir yang sombong. Islam adalah agama yang lurus, yang sangat bijaksana dan sempurna dalam segala berita dan hukum-hukumnya. Ia tidak memberitakan kecuali dengan jujur dan benar, dan tidak menghukum kecuali dengan yang baik dan adil. Tentu kita tidak bisa melupakan Syari’ah Islam. Nah, Syari’ah Islam itu bertujuan untuk:
1. Memperkenalkan manusia dengan Tuhan dan Pencipta mereka, melalui nama-nama-Nya yang mulia dan sifat-sifat-Nya yang agung, serta perbuatan-perbuatan-Nya yang sempurna.
2. Menyeru manusia untuk beribadah hanya kepada Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya; dengan menjalankan semua perintah dan menjauhi semua larangan-Nya, yang merupakan kemaslahatan bagi mereka di dunia dan akhirat.
3. Mengingatkan mereka akan keadaan dan tempat kembali mereka setelah mati, dan apa yang akan mereka hadapi di dalam kubur, serta ketika dibangkitkan dan dihisab. Kemudian tempat kembali mereka surga atau neraka.
Rukun-Islam
Rukun Islam ada lima:
“Rasulullah bersabda, ‘Islam dibangun atas lima perkara: Bersaksi bahwa tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan dan berhaji.”
Pengertian Iman
Iman: Engkau beriman atau mempercayai tanpa ada keraguan kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari kiamat, dan engkau beriman kepada qadar (ketentuan) baik dan buruknya.
Iman adalah ucapan dan perbuatan. Iman adalah komitmen. Ucapan hati serta lisan, atau kombinasi antara amal hati, lisan dan anggota tubuh, iman itu bertambah dengan taat kepada Sang Maha Pencipta.
Tingkatan-tingkatan Iman:
Iman itu memiliki rasa, manis dan hakekat.
Adapun rasanya iman, maka Nabi menjelaskan dengan sabda-Nya: “Yang merasakan nikmatnya iman adalah orang yang ridha kepada Allah sebagai Rabb (Tuhan), Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai rasul.” (HR. Muslim)
Adapun manisnya iman, maka Nabi menjelaskan dengan sabdanya: “Ada tiga perkara, jika terdapat dalam diri seseorang, niscaya dia merasakan nikmatnya iman: bahwa Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya dari apapun selain keduanya, dia tidak mencintai seseorang kecuali karena Allah dan dia benci kembali kepada kekafiran sebagaimana dia benci dilemparkan dalam api neraka.” (Muttafaqun 'alaih)
Adapun hakekat iman, maka bisa didapatkan oleh orang yang memiliki hakekat agama. Berdiri tegak memperjuangkan agama, dalam ibadah dan dakwah, berhijrah dan menolong, berjihad dan berinfak.
Cinta yang sempurna kepada Allah & Rasul-Nya memberikan suatu konsekuensi adanya sesuatu hal yang dicintainya. Apabila cinta dan bencinya hanya karena Allah, yang keduanya adalah amal ibadah hati, dan pemberian dan tidak memberinya hanya karena Allah, yang keduanya adalah amal ibadah badan, niscaya hal itu menunjukkan kesempurnaan iman dan kesempurnaan cinta kepada Allah.
Dari Abu Umamah, dari Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa cinta karena Allah, memberi karena Allah, dan melarang karena Allah SWT niscaya dia telah menyempurnakan Iman”
Pengertian Ihsan
Dalam beribadah kepada Allah. Kita beribadah seolah-olah kita melihat Allah. Jika tidak bisa, kita harus yakin bahwa Allah SWT yang Maha Melihat selalu melihat kita. Ihsan ini harus kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga jika kita berbuat baik, maka perbuatan itu selalu kita niatkan untuk Allah. Sebaliknya jika terbersit niat kita untuk berbuat keburukan, kita tidak mengerjakannya karena Ihsan tadi. Ini sangat tidak mudah. Ini merupakan sebuah tingkat kepercayaan yang sangat tinggi. Sebuah kecintaan yang sangat tinggi. Sebuah ke khusyukan akan kehidupan. Kalo dilihat khusyuk itu artinya apa : state of kekhusukan adalah dalam artian keadaan dimana kita benar-benar sadar kita adalah makhluk Allah, totally. Ingat kan arti Hablumminallah dan hablumminannas. Makhluk Allah dulu baru Makhluk Sosial, Bukan kebalikan. Nah, yang harus diusahakan adalah bagaimana caranya untuk khusuk di dunia ini selagi kita masih belum mati. Dalam arti kata, cobalah untuk sering menggoyahkan konsep "kita adalah makhluk sosial” dengan mengingat bahwa kita ini adalah makhluk Allah terlebih dahulu, dan baru menjadi makhluk sosial. Bukan berarti kita tidak boleh kejar dunia, Allah dan Rasulnya malah menyuruh kita untuk mencari dunia sebanyak banyaknya dan seluas luasnya kok, tapi janganlah sampai kebablasan. Janganlah jadi lebih cinta dunia dari akhirat. Balance. Kalau kita sudah sadar sepenuhnya bahwa kita adalah Makhluk Allah, maka akan timbul kepercayaan yang amat sangat kepada Allah. Kepasrahan menyeluruh. Kepasrahan untuk diatur oleh Allah SWT. Karena pasrah yang benar akan membawa ketiadaan diri atas pengakuan kemampuan ego manusia dan menyerahkan seutuhnya kepada Allah SWT. Jangan takut untuk menyerahkan diri kepada Allah karena semua akan digantikan oleh Nya. Itulah yang dimaksud dengan Ihsan. Luar biasa bukan?
Oleh karena itu patut kita berbangga hati kalau Islam, itu agama ku.
Ilmu dalam Agama Islam ini sangat lah luas dan saling berkaitan. Jadi jika kita mau mempelajari Islam haruslah menyeluruh jangan sepotong sepotong. Karena nanti kita pasti akan mengerti satu demi satu. Jika kita sudah mengerti satu demi satu, maka akan sulit bagi kita utk bisa “nyambung” dalam pola pikir orang orang yg belum mengerti Islam, atau yang belajar dengan sepotong sepotong. Karena patokan utama kita adalah Al Qur’an dan hadis. Maka perlu diingat “Manusia adalah makhluk individu dalam beramal shaleh untuk mendapatkan ridha Allah”.
Oleh karena itu selanjutnya, dalam Agama Islam juga mengatur kehidupan pemeluknya secara individu dan kelompok, dengan konsep yang menjamin kebahagiaan hidup mereka dunia dan akhirat. Tetapi di masa sekarang semua seperti menjadi rancu. Oleh karena itu kita ambil yang pasti pasti saja deh, yaitu hubungan antara manusia dgn Tuhan nya. Malah mungkin dengan bersikap seperti ini kita malah makin belajar akan segala sesuatu. Besihkan hati kita saja dulu, pahami betul semuanya. Karena Hati yang bersih dan selamat akan selalu melihat kebenaran sebagaimana mata melihat matahari.
Sebenarnya jika kita tanya hati kita paling dalam. Apakah kita mengerti dengan semua bacaan Sholat yang kita baca? Memang jika kita ingin mengetahui dan mengerti apa yg kita lafadzkan saat kita Sholat, maka hal itu akan sangat jauh lebih baik, malah mungkin jika kita resapi kita akan mendapatkan apa itu ke Khusyuk an dlm melaksanakan Sholat Fardhu kita. Rasulullah SAW bersabda “sholatlah seakan-akan engkau sedang melihat Tuhan atau Tuhan sedang melihatmu” ( Rukun Ihsan ).
Mari kita mulai belajar meresapi arti dari bacaan Sholat kita. Karena Sholat merupakan Dzikir yang sempurna.
Takbir
Takbiratul Ihram —> ALLAAHU AKBAR
(Allah Maha Besar)
Iftitah
Allaahu akbar kabiira, walhamdulillaahi katsiira, wa subhanallaahi bukrataw, waashiila.
(Allah Maha Besar, dan Segala Puji yang sangat banyak bagi Allah, dan Maha Suci Allah sepanjang pagi, dan petang).
Innii wajjahtu wajhiya, lillazii fatharassamaawaati walardha, haniifam, muslimaa, wamaa ana minal musrykiin.
(Sungguh aku hadapkan wajahku kepada wajahMu, yang telah menciptakan langit dan bumi, dengan penuh kelurusan, dan penyerahan diri, dan aku tidak termasuk orang-orang yang mempersekutuan Engkau/Musryik)
Innasshalaatii, wa nusukii, wa mahyaaya, wa mamaati, lillaahi rabbil ‘aalamiin.
(Sesungguhnya shalatku, dan ibadah qurbanku, dan hidupku, dan matiku, hanya untuk Allaah Rabb Semesta Alam).
Laa syariikalahu, wabidzaalika umirtu, wa ana minal muslimiin.
(Tidak akan aku menduakan Engkau, dan memang aku diperintahkan seperti itu, dan aku termasuk golongan hamba yang berserah diri kepadaMu)
Al Fatihah
Adapun Rasulullah SAW pada waktu membaca surah Al-Faatihah senantiasa satu napas per satu ayatnya, tidak terburu-buru, dan benar-benar memaknainya. Surah ini memiliki khasiat yang sangat tinggi sekali.
Mari kita hafal terlebih dahulu arti per ayatnya sebelum kita memaknainya.
Bismillaah, arrahmaan, arrahiim (Bismillaahirrahmaanirrahiim)
(Dengan nama Allaah, Maha Pengasih, Maha Penyayang)
Alhamdulillaah, Rabbil 'aalamiin
(Segala puji hanya milik Allaah, Rabb semesta 'alam)
Arrahmaan, Arrahiim
(Maha Pengasih, Maha Penyayang)
Maaliki, yaumiddiin
(Penguasa, Hari Pembalasan/Hari Tempat Kembali)
Iyyaaka, na'budu, wa iyyaaka, nasta'iin
(Hanya KepadaMulah, kami menyembah, dan hanya kepadaMulah, kami mohon pertolongan)
Ihdina, asshiraathal, mustaqiim
(Tunjuki kami, jalan, golongan orang-orang yang lurus)
Shiraath, alladziina, an'am, ta 'alayhim
(Jalan, yang, telah Engkau beri ni'mat, kepada mereka)
Ghayril maghduubi 'alaihim, wa laddhaaaalliiin.
(Bukan/Selain, (jalan) orang-orang yang telah Engkau murkai, dan bukan (jalan) orang-orang yang sesat)
Melanjutkan tulisan yang ketiga, maka setelah membaca Surah Al-Faatihah, maka hendaknya kita membaca ayat-ayat Al-Qur'an.
Rasulullah bersabda “Apabila engkau berdiri utk shalat bertakbirlah lalu bacalah yg mudah dari al-Qur’an “.
Ruku’
Lalu ruku’, dimana ketika ruku’ ini beliau mengucapkan :
Subhaana, rabbiyal, 'adzhiimi, Wabihamdihi
(Maha Suci, Tuhanku, Yang Maha Agung)
—> dzikir ini diucapkan beliau sebanyak tiga kali.
(Hadits Ahmad, Abu Daud, Ibn Majah, Ad-Daaruquthni, Al-Bazaar, dan Ath-Thabarani)
Rasulullah sering sekali memperpanjang Ruku’, Diriwayatkan bahwa :
"Rasulullaah SAW, menjadikan ruku'nya, dan bangkitnya dari ruku’, sujudnya, dan duduknya di antara dua sujud hampir sama lamanya.”
(Hadits Riwayat Imam Bukhari dan Muslim)
I'tidal
Pada saat ketika kita i'tidal atau bangkit dari ruku, dengan mengangkat kedua tangan sejajar bahu ataupun sejajar telinga, seiring Rasululullah SAW menegakkan punggungnya dari ruku’ beliau mengucapkan:
Sami'allaahu, li, man, hamida, hu
“Mudah-mudahan Allah mendengarkan (memperhatikan) orang yang memujiNya”.
(Hadits diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim)
“Apabila imam mengucapkan “sami'allaahu liman hamidah”, maka ucapkanlah “rabbanaa lakal hamdu”, niscaya Allah memperhatikan kamu. Karena Allah yang bertambah-tambahlah berkahNya, dan bertambah-tambahlah keluhuranNya telah berfirman melalui lisan NabiNya SAW (Hadits diriwayatkan oleh Imam Muslim, Imam Ahmad, dan Abu Daud)
Hal ini diperkuat pula dengan : Disaat Rasulullah sedang Sholat berjamaah, lalu ketika I’tidal beliau mengucapkan “Sami'allaahu, li, man, hamidah” lalu ada diantara makmun mengucapkan “Rabbanaa lakal hamdu”, Lalu pada selesai Sholat, Rasul bertanya “Siapakah gerangan yang mengucap “Rabbanaa lakal hamdu”, ketika aku ber I’tidal? Aku melihat para malaikat berlomba lomba untuk menulis kebaikan akan dirimu dari jawaban itu”.
Maka sudah cukup jelas bahwa mari kita mulai melafalkan :
Rabbanaa, lakal, hamdu
(Ya Tuhan kami, bagiMulah, segala puji)
Kesmpurnaan lafadzh diatas :
mil ussamaawaati, wa mil ul ardhi, wa mil u maa shyi’ta, min shai in, ba'du
(Sepenuh langit, dan sepenuh bumi, dan sepenuh apa yang Engkau kehendaki, dari sesuatu, sesudahnya)
(Kalimat diatas didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Abu 'Uwanah)
Sujud
Ketika kita sujud, maka dengan tenang hendaknya kita mengucapkan do'a sujud seperti yang telah dicontohkan Rasulullaah SAW.
Dzikir ini beliau ucapkan sebanyak tiga kali, dan kadangkala beliau mengulang-ulanginya lebih daripada itu.
Subhaana, rabbiyal, a'laa, wa, bihamdi, hi
(Maha Suci, Tuhanku, Yang Maha Luhur, dan, aku memuji, Nya)
Duduk antara dua Sujud
Ketika kita bangun dari sujud, maka hendaklah kita melafadzkan seperti yang dilakukan Rasulullaah, dan bacalah do'a tersebuh dengan sungguh-sungguh, perlahan-lahan, dan penuh pengharapan kepada Allah SWT. Di dalam duduk ini, Rasulullah SAW mengucapkan :
Robbighfirlii, warhamnii, wajburnii, warfa'nii, warzuqnii
wahdinii, wa 'aafinii, Wa’Fuanni
(Ya Allah ampunilah aku, kasihanilah aku, cukupilah kekuranganku, sehatkanlah aku, dan berilah rizqi kepadaku)
Dari Hadits yang diriwayatkan Muslim, bahwa Rasulullaah saw, kadangkala duduk tegak di atas kedua tumit dan dada kedua kakinya. Beliau juga memanjangkan posisi ini sehingga hampir mendekati lama sujudnya (Al-Bukhari dan Muslim).
Duduk At-Tasyaahud Awal
Wa asyhadu annaa muhammadarrasuulullaah.
(dalam riwayat lain : Wa asyhadu annaa, muhammadan, 'abduhu, warasuuluh)
2. Menurut hadist yang diriwayatkan Imam Al-Bukhari, Muslim, dan Ibnu Abi Syaibah.
Dari Ibn Mas'ud berkata, Rasulullaah saw telah mengajarkan at-tasyaahud kepadaku, dan kedua telapak tanganku (berada) di antara kedua telapak tangan beliau - sebagaimana beliau mengajarkan surat dari Al-Qur'an kepadaku : —> (Mari diresapi setiap katanya sehingga shalat kita lebih mudah untuk khusyuk)
Attahiyyaatulillaah, wasshalawatu, watthayyibaat.
(Segala ucapan selamat adalah bagi Allaah, dan kebahagiaan, dan kebaikan).
Assalaamu 'alayka *, ayyuhannabiyyu, warahmatullaah, wa barakaatuh.
(Semoga kesejahteraan dilimpahkan kepadamu , wahai Nabi, dan beserta rahmat Allah, dan berkatNya).
Assalaamu 'alaynaa, wa 'alaa, 'ibaadillaahisshaalihiiin.
(Semoga kesejahteraan dilimpahkan kepada kami pula, dan kepada sekalian hamba-hambanya yang shaleh).
Asyhadu, allaa, ilaaha, illallaah.
(Aku bersaksi, bahwa tiada, Tuhan, kecuali Allah).
Wa asyhadu, anna muhammadan, 'abduhu, wa rasuluhu.
(Dan aku bersaksi, bahwa muhammad, hambaNya, dan RasulNya).
Notes : * Hal ini ketika beliah masih hidup, kemudian tatkala beliau wafat, maka para shahabat mengucapkan :
Assalaamu 'alannabiy
(Semoga kesejahteraan dilimpahkan kepada Nabi).
Bacaan shalawat Nabi SAW di akhir sholat
Rasulullah SAW. mengucapkan shalawat atas dirinya sendiri di dalam tasyahhud pertama dan lainnya. Yang demikian itu beliau syari'atkan kepada umatnya, yakni beliau memerintahkan kepada mereka untuk mengucapkan shalawat atasnya setelah mengucapkan salam kepadanya dan beliau mengajar mereka macam-macam bacaan salawat kepadanya.
Berikut kita ambil sebuah hadits yang sudah umum/biasa kita lafadzkan, diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim, dan Al-Humaidi, dan Ibnu Mandah.
Allaahumma, shalli 'alaa muhammad, wa 'alaa, aali muhammad.
(Ya Allah, berikanlah kebahagiaan kepada Muhammad dan kepada, keluarga Muhammad)
Kamaa, shallayta, 'alaa ibrahiim, wa 'alaa, aali ibraahiim.
(Sebagaimana, Engkau telah memberikan kebahagiaan, kepada Ibrahim, dan kepada, keluarga Ibrahim).
Wa 'barikh alaa muhammad, wa 'alaa aali muhammad.
(Ya Allah, berikanlah berkah, kepada Muhammad, dan kepada, keluarga Muhammad)
Kamaa, baarakta, 'ala ibraahiim, wa 'alaa, aali ibraahiiim.
(Sebagaimana, Engkau telah memberikan berkah, kepada ibrahim, dan kepada, keluarga Ibrahim).
Fil Allamina Innaka, hamiidummajiid.
(Sesungguhnya Engkau, Maha Terpuji lagi Maha Mulia).
Salam
“Rasulullah SAW. mengucapkan salam ke sebelah kanannya :
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wa barakaatuh
(Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan kepada kamu sekalian serta rahmat Allah, serta berkatNya),
sehingga tampaklah putih pipinya sebelah kanan. Dan ke sebelah kiri beliau mengucapkan : Assalaamu 'alaikum warahmatullaah
(Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan kepada kamu sekalian serta rahmat Allah), sehingga tampaklah putih pipinya yang sebelah kiri.”
( Hadist Riwayat : Abu Daud, An-Nasa'i, dan Tirmidzi )
Mari di perhatikan, bahwa ternyata ucapan kita ketika menoleh ke kanan (salam yang pertama) lebih lengkap daripada ucapan kita ketika menoleh ke kiri (salam yang kedua )
———————————————————————————
Subhanallah dan Alhamdulillah, Maha Benar Allah atas segala FirmanNya. Luar biasa sekali ya arti dari bacaan Sholat ini. Makin merunduk kita, makin terlihat kecil kita, makin menangis kita.
Saya berharap agar ini menjadi bagian dari jalan kemudahan untuk kita di dalam menggapai khusyuk dan memahami setiap gerakan yang kita lakukan. Maka jika kita tahu dan mengerti akan nikmatnya shalat itu, mari kita share ke keluarga kita.
Selamat meresapi dan jangan lupa untuk share ke orang orang yang kita cintai.
Sebagai salah satu syarat dari iman adalah adanya keyakinan. Dan keyakinan tersebut dapat muncul dari pengetahuan atau ilmu tentang hal tersebut. Dan masalah tersebut telah dijelaskan oleh para ulama dengan penjelasan yang tuntas dan sangat jelas bagi umat.
Iman kepada Allah Subhanallohu wa Ta’ala
Kita mengimani Rububiyah Allah Subhanahu Wa Ta’ala, artinya bahwa Allah adalah Rabb: Pencipta, Penguasa dan Pengatur segala yang ada di alam semesta ini. Kita juga harus mengimani uluhiyah Allah Subhanahu Wa Ta’ala artinya Allah adalah Ilaah (sembahan) Yang hak, sedang segala sembahan selain-Nya adalah batil. Keimanan kita kepada Allah belumlah lengkap kalau tidak mengimani Asma’ dan Sifat-Nya, artinya bahwa Allah memiliki Nama-nama yang maha Indah serta sifat-sifat yang maha sempurna dan maha luhur.
Dan kita mengimani keesaan Allah Subhanallohu wa Ta’aladalam hal itu semua, artinya bahwa Allah Subhanallohu wa Ta’ala tiada sesuatupun yang menjadi sekutu bagi-Nya dalam rububiyah, uluhiyah, maupun dalam Asma’ dan sifat-Nya.
Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang artinya: “(Dia adalah) Tuhan seluruh langit dan bumi serta semua yang ada di antara keduanya. Maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beridat kepada-Nya. Adakah kamu
mengetahui ada sesuatu yang sama dengan-Nya (yang patut disembah)?”. (QS. Maryam: 65)
Dan firman Allah, yang artinya: “Tiada sesuatupun yang serupa dengan-Nya. Dan Dia-lah yang maha mendengar lagi Maha melihat”. (QS. Asy-Syura:11)
Iman Kepada Malaikat
Bagaimana kita mengimani para malaikat ? mengimani para malaikat Allah yakni dengan meyakini kebenaran adanya para malaikat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dan para malaikat itu, sebagaimana firman-Nya, yang artinya: ”Sebenarnya (malaikat-malaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimuliakan, tidak pernah mereka itu mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya.” (QS. Al-anbiya: 26-27)
Mereka diciptakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka mereka beribadah kepada-Nya dan mematuhi segala perintah-Nya. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’, yang artinya: ” …Dan malaikat-malaikat yang disisi-Nya mereka tidak bersikap angkuh untuk beribadah kepada-Nyadan tiada (pula) merasa letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya. “ (QS. Al-Anbiya: 19-20).
Iman Kepada Kitab Allah
Kita mengimani bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menurunkan kepada rasul-rasul-Nya kitab-kitab sebagai hujjah buat umat manusia dan sebagai pedoman hidup bagi orang-orang yang mengamalkannya, dengan kitab-kitab itulah para rasul mengajarkan kepada umatnya kebenaran dan kebersihan jiwa mereka dari kemuysrikan. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’, yang artinya: ”Sungguh, kami telah mengutus rasul-rasul kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah kami turunkan bersama mereka Al-kitab dan neraca (keadilan) agar manusia melaksanakan keadilan… “ (QS. Al-Hadid: 25)
Dari kitab-kitab itu, yang kita kenal ialah :
· Taurat, yang Allah turunkan kepada nabi Musa alaihi sallam, sebagaimana firman Allah dalam QS Al-Maidah: 44.
· Zabur, ialah kitab yang diberikan Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada Daud alaihi sallam.
· Injil, diturunkan Allah kepada nabi Isa, sebagai pembenar dan pelengkap Taurat. Firman Allah : ”…Dan Kami telah memberikan kepadanya (Isa) injil yang berisi petunjuk dan nur, dan sebagai pembenar kitab yang sebelumnya yaitu Taurat, serta sebagai petunjuk dan pengajaran bagi orang-orang yang bertaqwa.” (QS : Al-Maidah : 46)
· Shuhuf, (lembaran-lembaran) yang diturunkan kepada nabi Ibrahim dan Musa, ‘Alaihimas-shalatu Wassalam.
· Al-Quran, kitab yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala turunkan kepada Nabi Muhammad shalallohu ‘alahi wa sallam, penutup para nabi. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang artinya: ” Bulan Ramadhan yang diturunkan padanya (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi umat manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang haq dan yang batil…” (QS. Al Baqarah: 185).
Iman Kepada Rasul-Rasul
Kita mengimani bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah mengutus rasul-rasul kepada umat manusia, Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang artinya: ” (Kami telah mengutus mereka) sebagai rasul-rasul pembawa berita genbira dan pemberi peringatan, supaya tiada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah (diutusnya) rasul-rasul itu. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. AN-Nisa: 165).
Kita mengimani bahwa rasul pertama adalah nabi Nuh dan rasul terakhir adalah Nabi Muhammad shalallohu ‘alahi wa sallam, semoga shalawat dan salam sejahtera untuk mereka semua. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang artinya: ”Sesungguhnya Kami telahmewahyukan kepadamu sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi yang (datang) sesudahnya…” (QS. An-Nisa: 163).
Iman Kepada Hari Kiamat
Kita mengimani kebenaran hari akhirat, yaitu hari kiamat, yang tiada kehidupan lain sesudah hari tersebut.
Untuk itu kita mengimani kebangkitan, yaitu dihidupannya semua mahkluk yang sesudah mati oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang artinya:”Dan ditiuuplah sangkakala, maka matilah siapa yang ada dilangit dan siapa yang ada di bumi kecuali yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka bangkitmenunggu (putusannya masing-masing).” (QS. Az-Zumar: 68)
Kita mengimani adanya catatan-catatan amal yang diberikan kepada setiap manusia. Ada yang mengambilnya dengan tangan kanan dan ada yang mengambilnya dari belakang punggungnya dengan tangan kiri. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang artinya: ” Adapun orang yang diberikan kitabnya dengan tangan kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang punggungnya, maka dia akan berteriak celakalah aku dan dia akan masuk neraka yang menyala.” (QS. Al-Insyiqaq: 13-14).
Iman Kepada Qadar Baik dan Buruk
Kita juga mengimani qadar (takdir) , yang baik dan yang buruk; yaitu ketentuan yang telah ditetapkan Allah untuk seluruh mahkluk-Nya sesuai dengan ilmu-Nya dan menurut hikmah kebijakan-Nya.
Iman kepada qadar ada empat tingkatan:
1. ‘Ilmu
ialah mengimani bahwa Allah Maha tahu atas segala sesuatu,mengetahui apa yang terjadi, dengan ilmu-Nya yang Azali dan abadi. Allah sama sekali tidak menjadi tahu setelah sebelumnya tidakmenjadi tahu dan sama sekali tidak lupa dengan apa yang dikehendaki.
2. Kitabah
ialah mengimani bahwa Allah telah mencatat di Lauh Mahfuzh apa yang terjadi sampai hari kiamat. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang artinya: ”Apakah kamu tidak mengetahui bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi. sesungguhnya tu (semua) tertulis dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya Allah yang demikian itu amat mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hajj: 70)
3. Masyi’ah
ialah mengimani bawa Allah Subhanahu Wa Ta’ala. telah menghendaki segala apa yang ada di langit dan di bumi, tiada sesuatupun yang terjadi tanpa dengan kehendak-Nya. Apa yang dikehendaki Allah itulah yang terjadi dan apa yang tidak dikehendaki Allah tidak akan terjadi.
4. Khal
Ialah mengimani Allah Subhanahu Wa Ta’ala. adalah pencipta segala sesuatu. Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang artinya: ” Alah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu. Hanya kepunyaan-Nyalah kunci-kunci (perbendaharaan) langit dan bumi.” (QS. Az-Zumar: 62-63).
Keempat tingkatan ini meliputi apa yang terjadi dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala sendiri dan apa yang terjadi dari mahkluk. Maka segala apa yang dilakukan oleh mahkluk berupa ucapan, perbuatan atau tindakan meninggalkan, adalah diketahui, dicatat dan dikehendaki serta diciptakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
(Sumber Rujukan: www.mediamuslim.info, Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah, Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin)
Di suatu subuh, awal 2011, saya tiba-tiba teringat pada Ibu Salim, beliau adalah guru ngaji saya sewaktu masih kecil. Ketika melihat kebiasaan saya yang melakukan wudhu sekedar kecipak kecipuk asal basah. Beliau nyeletuk “Lho, kok kurang disiplin sih mas? Yang urut, tiga kali untuk masing-masing bagian, yang bersih dan menyeluruh. Jangan ngedumel, wudhu itu niatnya harus ikhlas”.
Sesudah saya mengulang wudhu dengan benar (sambil sedikit menggerutu dalam hati), Beliau menambahkan satu pesan: “Mas, wudhu itu bukan hanya sekedar niat dan ritual membersihkan atau menyucikan. Wudhu itu komitmen!”. Waktu kecil, saya mana ngerti tentang arti komitmen?
Commited to what? Exactly?
Beranjak dewasa, saya mungkin jadi bisa sedikit mengerti apa yang beliau maksud dibalik wejangannya dulu (sedikit mengerti, as after all, we are still learner mind you?). You see, every body parts that being washed; are actually the part that we represent to the world and Allah.
Mari telusuri lebih lanjut.
Umumnya dalam interaksi sosial, wajah adalah bagian yang kita nilai terlebih dahulu. Wajah sebagai representasi kepribadian dan jati diri seseorang. Demikian juga ketika kita sholat. Wajah kita hadapkan pada Allah. Mengacu pada do’a iftitah yang kita baca :
“inni wajahtu wajhiya lilladzii fatharassamaawati wal ardhi..”
Artinya : aku menghadapkan wajahku kepada Dzat Yang Menciptakan langit dan bumi
Kita menghadap pada-Nya dengan wajah yang bersih.
Sering kita bicara tanpa kontrol, tanpa sadar berkomentar pada hal yang sebenarnya sungguh tidak penting. Kita bergunjing, membicarakan kejelekan orang lain. Pun ketika hal tersebut tidak kita ucapkan, tapi otak kita mencetuskan pikiran tersebut. Lalu mata kita yang melihat hal-hal yang tidak pantas, hidung kita mencium berbagai macam bentuk polusi, dan telinga kita mendengar suara gunjingan yang tidak pantas. Lalu tangan kita yang kadang malas melakukan pekerjaan. Kaki yang terasa berat untuk kita langkahkan ke tempat kerja atau tempat ibadah kita.
Dalam satu hari saja, sudah berapa kali kita tercemar atau mencemari diri kita sendiri?
Filosofi wudhu’ adalah penyucian. Tak hanya raga, tapi juga hati. Lewat niat yang kita ucapkan, lalu berproses ke air yang kita kucurkan, lalu tangan kita yang membasuh untuk membersihkan. Kita mendisiplikan diri untuk melakukan urutan wudhu secara tertib. Memastikan bahwa setiap bagian tersapu air dan benar-benar bersih. Coba kita perhatikan Niat Wudhu dan Do’a sesudah Wudhu.
Niat Ber Wudhu :
“Nawaitul wudu’a liraf’il hadasil asgari farda lillahi ta’ala”
Artinya: “Aku niat berwudu untuk menghilangkan hadas kecil fardu karena Allah Taala.”
Lalu perhatikan doa setelah wudhu:
“Asyhadu allaa ilaaha illallah wahdahu laa syarikalahu wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluhu, Allahummaj ‘alni minat tawwabiin waj’alni minal mutathahhiriin.”
Artinya: “Saya bersaksi bahwa tiada ilaah yang berhak disembah dengan benar selain Allah semata tiada sekutu bagi-Nya. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Yaa Allah jadikanlah hamba termasuk orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang mensucikan diri.“
Subhanallah. Luar Biasa sekali. Makin merunduk kita dihadapan Allah SWT. Makin kecil kita, jika kita mengetahui hal hal yg sederhana tetapi mempunyai makna yang luar biasa. Justru hal hal itu sering dilewatkan dan dianggap remeh oleh kita manusia.
Mungkin ini yang dimaksud dengan Ibu Salim dulu. Komitmen kita sebelum menghadap Allah lewat sholat. Bahwa lewat wudhu; kita sudah ikhlas dalam menyiapkan batin, kita sudah menyucikan diri dari polusi yang lengket di tubuh, sebelum berbicara pada-Nya. Bahwa wudhu, hanyalah satu langkah awal, satu bentuk persiapan sebelum menghadapi berbagai macam ujian dari-Nya. Bahwa kita, Insya Allah, siap.
Jika kita tela'ah secara sedehana arti dari Maha adalah sesuatu yang paling tinggi, paling hebat. Maka nama nama Allah SWT atau yg biasa kita bilang dgn ‘Asmaa-ul Husnaa’ adalah nama nama yang paling agung.
Sekarang kita coba konsentrasikan kepada Yang Maha Pengasih dan Yang Maha Penyayang. Karena saya merasa Bismillahirrahmanirahim adalah awal dari segala sesuatu. Sepertinya Allah SWT selalu ingin mengingatkan kita kalau Dzat yang Maha Agung, pemilik semua Pujian dan Mulia ini Cinta dan sayang kepada makhluk nya. Seperti semua terbuka lebar untuk kembali Fitrah. Seperti tidak ada kata tertutup bagi manusia yang ingin bertaubat atau Hijrah di jalan Nya.
Rasa Sayang dan Cinta dari sang Maha ini lah yang mendasari segala macam kejadian pada kehidupan di semesta alam ini. Allah meng inginkan semua makhluknya masuk ke dalam Surga nya Allah S.W.T. Kita tidak akan mampu menghitung nikmat Sayang dan Cinta nya Allah ke kita. Tapi mari kita coba telaah sebagian kecil saja.
Lihatlah jika kita ambil rata rata umur manusia adalah sampai 65 th. Maka tidak kah kita berfikir Allah SWT memberikan waktu untuk kita agar Taubat sampai dengan 65th. Dan 65 th adalah waktu yang amat sangat lama. Tetapi Allah SWT sangat sabar karena bagian dari sifat Rahman dan Rahiim nya kepada hamba nya. Maka Allah memberikan waktu sedemikian lama untuk kita berTaubat.
Dan bila kita lebih berfikir jernih lagi, maka semua yang ada di dunia ini jika kita sesuai dengan ajaran Allah SWT dan Rasulnya maka semuanya dihitung sebagai Ibadah. Bagaimana tidak, semua sudah terhampar di depan mata kita. Maka Allah SWT pun berfirman :
“Jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah (12:87)“
Apa sih maksud nya Kita tidak boleh berputus asa? Kita buat simple. Dalam kehidupan sehari hari Senyum pun dikatakan Sedekah. Sedekah juga ibadah kan. Bekerja ibadah.Bahkan berhubungan Suami Istri dgn pasangan yang sah pun dikatakan ibadah. Hal hal itu kan juga menambah pahala. Bahkan kita sakit pun bisa dikategorikan pengikisan dosa. Seperti diriwayatkan pada suatu hadist
“Setiap musibah yang menimpa mukmin, baik berupa wabah, rasa lelah, penyakit, rasa sedih, sampai kekalutan hati, pasti Allah menjadikannya pengampun dosa-dosanya.”
(HR al-Bukhari dan Muslim)
Subhanallah… Lalu manusia masih tetap saja mengeluh?
Bahkan Rasulullah bersabda :"Bila hr Jum'at tlah tiba.. para Malaikat berdiri di pintu masjid mencatat org yg pertama dtg dan seterusnya.Bila imam tlh dtg (naik mimbar).. mrk tutup buku,kemudian mendengarkan khutbahPerumpamaan org yg pertama dtg spt bersedekah unta.. sesudah itu spt bersedekah lembu…kemudian spt bersedekah kambing, kemudian spt bersedekah ayam, kemudian spt bersedekah telur.”(HR. Muslim).
Dan Rasulullah pun pernah bersabda “Jika seseorang dalam keadaan suci( Wudhu) dan berjalan menuju Masjid pada waktu Sholat tiba. Maka setiap langkahnya adalah pengampunan dosa baginya.”
Sebenarnya kita sudah sangat di mudahkan oleh Allah SWT untuk beribadah dan mencari pahala. Semua ada jalannya kalau kita benar benar berfikir. Hal itu tidak dapat terjadi jika Allah SWT tidak sayang sama kita, tidak mau hambanya masuk Surga. Tidak mungkin. Allah sangat menyayangi hambanya, dan sangat ingin hambanya masuk Sorga.
Berfikirkah kita? Karena agama Islam mengajak kita untuk berfikir, berbasis ilmu yang saling berkaitan satu sama lainnya. Dahsyat sekali Islam ini.
Lalu di bulan puasa Ramadhan Tidur saja bisa dikatakan sebagai ibadah.Tetapi tidur di bulan Ramadhan itu juga ada “kode etik”-nya. Tidur ialah suatu pilihan untuk menghindari dari perbuatan-perbuatan yang tidak bisa dijamin baik. Bahkan karena sangat detail nya maka memberikan makan pada orang yang berpuasa pun akan mendapat pahala. Dan Rasululllah SAW bersabda “Barangsiapa yang memberi makanan berbuka bagi orang yang berpuasa, maka baginya pahala yang semisal orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut sedikit pun.” (HR. At Tirmidzi)
Sekarang coba lihat dari sisi pahalanya. Pahala puasa itu tak terhingga, terserah kepada Allah. Dalam sebuah hadits dikatakan,
“Setiap amalan kebaikan anak Adam akan dilipatgandakan menjadi 10 hingga 700 kali dari kebaikan yang semisal. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (yang artinya), ‘Kecuali puasa, amalan tersebut untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya karena dia telah meninggalkan syahwat dan makanannya demi Aku.’” (HR Muslim)
Dan kita pun belum membahas hal hal lainnya seperti Puasa Senin Kamis, Sholat Sunnah lain, dzikir, malam Lailatul qadr, sedekah, sabar, ikhlas dan lain lain. Betapa terbukanya Rahmat Allah dan pahala Allah. Dan hitungan Allah gak pernah salah.
Lalu pertanyaannya sekarang, begitu dahsyatnya Allah mencintai hambanya. Apakah hal itu berlaku terbalik. Insya Allah, kita termasuk orang orang yang mencintai Allah SWT dan Rasulnya, yang bergetar jika di lafalkan nama nama Allah, atau pujian pujian yang hanya untuk Allah. Karena di dalam Qur’an Allah berfirman :
Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu” (3:31)“
Maka mari kita ber doa dengan sebaik baiknya doa kepada Sang Maha Esa. Karena “Doa adalah otaknya ibadah, senjata seorang mukmin, cahaya langit dan bumi. Barangsiapa enggan berdoa, Allah akan murka kepadanya.”
Allah mencintai kita makhlukNya, Allah mencintai hambaNya, Allah pun memberikan dunia ini sebagai tanda untuk kita agar kembali Fitrah. Semua itu didasari oleh Rasa Cinta, Rasa sayang dan pemurah. Jika tidak, maka tidak akan mungkin semua ini akan terhampar secara luas.
Mari kita akhiri dengan :
“Memohonlah kepada Nya dengan menyebut Asmaa-ul Husnaa”
(Al-Raaf:180)
Pemuda itu kikuk memasuki masjid. Ini pengalaman pertama baginya. Di Indonesia, masjid memang bukan benda asing. Islam adalah agama yang dipeluk oleh 80% warga Indonesia. Tentu saja semua orang tahu masjid. Tapi ketika kakinya pertama kali bertemu dengan karpet masjid, bergetar merinding urat syarafnya.
Bagaikan seorang bintang di atas panggung, seluruh mata tertuju padanya. Memang dialah pusat perhatian pada saat itu. Entah berapa puluh pasang mata mengamatinya; meneliti sekujur tubuhnya, mengantisipasi setiap gerakan bibirnya.
Saatnya pun tiba. Seorang ustadz membimbingnya, mengajarinya dengan mengulang-ulang sebuah kalimat, hingga akhirnya ia bisa mengucapkannya dengan sempurna.
Asyhadu an laa ilaaha illallaah,
wa asyhadu anna muhammadan rasuulullaah.
Resmilah sudah. Di rumah Allah itu, ia bukan lagi orang asing, melainkan hamba yang datang mengadu. Pada saat itu juga, puluhan pasang mata yang tadi mengintai langsung mengendurkan pandangannya. Hamdalah dan takbir terdengar dari seluruh sudut masjid, meski tak ada yang meninggikan suaranya. Ketika ia berdiri, berdiri pula orang-orang itu, berebut menyalami dan memeluknya. Ada sedikit keheranan dalam benak menyaksikan mereka yang begitu larut dalam haru, padahal dirinyalah begitu beruntung karena baru saja merengkuh kebenaran dan mendapat banyak saudara. Ia pun sadar, masih banyak yang perlu dipelajarinya lagi, mulai dari awal.
*******
Sebagian besar di antara kita mungkin tidak pernah mengalami episode kehidupan yang begitu mengharukan seperti di atas. Kebanyakan Muslim telah lahir dan dibesarkan sebagai Muslim oleh kedua orangtuanya. Akibatnya, syahadatain seringkali dianggap hanya sebagai bagian dari adzan, atau bacaan yang wajib kita baca dalam shalat. Padahal, ia adalah pernyataan komitmen kita kepada Allah Ta'ala.
Syaikh Musthafa Masyhur telah mengingatkan bahwa syahadatain adalah garis batas yang memisahkan keislaman dengan kekafiran. Tidak ada wilayah abu-abu di antara keduanya. Pilihannya hanya dua: beriman atau kafir. Memang ada golongan munafiq, namun ia bukanlah kelompok ‘setengah beriman’ atau ‘setengah kafir’, melainkan pura-pura beriman. Pada hakikatnya mereka tidak beriman, namun mereka hendak menipu umat. Dengan kata lain, penggolongan ini diberikan karena manusia hanya bisa menilai hal-hal yang kasat mata. Adapun isi hati, Allah Maha Mengetahui.
Orang yang masih memegang teguh syahadatain tidak boleh kita kafirkan, demikian pula orang kafir yang tidak pernah mengucap dan memahami syahadatain tak bisa kita sebut sebagai seorang Muslim. Inilah garis batas yang tegas, tidak ambigu dan tidak membuat ragu.
Kalimat pertama dalam syahadatain adalah pernyataan yang menegaskan bahwa pengucapnya tidak lagi memiliki Ilah selain Allah Ta'ala. Kata “Ilah” biasa diterjemahkan sebagai “Tuhan”, namun sebenarnya ia bermakna “sesuatu yang paling dicintai, paling ditakuti dan paling diharapkan”. Bisa jadi, seseorang memiliki ilah selain Allah Ta'ala. Orang yang hidup karena uang, misalnya, pastilah mencintai uang di atas segala-galanya. Ia merasa takut kalau sampai kehilangan hartanya. Selama ia masih punya uang, ia senantiasa merasa ada harapan. Maka ia telah menjadikan uang sebagai ilah-nya, atau bisa juga dikatakan bahwa ia telah mempertuhankan uang.
Di dunia ini banyak hal yang dijadikan ilah selain Allah. Itulah sebabnya sastrawan Taufik Ismail menyebut rokok sebagai “tuhan sembilan senti”, lantaran begitu tunduk patuhnya para perokok pada godaan kenikmatannya. Begitu banyak orang yang lebih siap disuruh menggadai nyawa di medan perang daripada menghentikan kebiasaan merokok. Begitu banyak orang miskin yang susah membeli nasi, tapi rutin membeli rokok.
Kalimat kedua dalam syahadatain adalah pengakuan terhadap Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam. sebagai utusan-Nya. Sudah barang tentu, pengakuan ini memiliki konsekuensi yang tegas. Jika kita memang meyakini beliau sebagai utusan Allah, maka kita pun tidak akan menentang ajarannya dan meyakini bahwa keteladanan yang dicontohkannya adalah sikap yang terbaik sebagai seorang Muslim.
Kalimat hanyalah basa-basi belaka jika tidak diiringi oleh makna. Mereka yang mengucapkan syahadatain tapi masih memiliki ilah selain Allah, atau mengakui kenabian Muhammad saw. namun menentang ajarannya, tidak akan diterima keimanannya. Mereka inilah yang diidentifikasi sebagai orang-orang munafiq.
Setiap Muslim, apalagi muallaf, akan berada dalam proses belajar seumur hidupnya. Tidak ada Muslim yang benar-benar sempurna menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Begitu banyak yang belum kita tahu, dan yang sudah kita tahu pun masih banyak yang terlupa dan terlalaikan.
Syahadatain adalah sebuah pernyataan komitmen. Yang diminta dari seorang manusia adalah komitmennya, bukan hasil usahanya. Seorang muallaf yang sudah mengucap syahadatain sudah sempurna menjadi seorang Muslim, meski ibadahnya masih belum sempurna. Pertama-tama, ia shalat mengikuti gerakan yang lainnya. Kemudian ia belajar menghapalkan Surah Al-Fatihah. Perlahan-lahan, ia kuasai semua bacaan shalat. Ia lengkapi lagi dengan kemampuan membaca Al-Qur’an, sesuai tajwid-nya. Ketika Ramadhan tiba, ia pun belajar shaum. Adakalanya ia terpaksa berbuka karena tak biasa mengosongkan perut seharian. Demikian seterusnya. Ibadah boleh saja tidak sempurna, dan kita akan terus menyempurnakannya, namun komitmen haruslah bulat sejak awal.
Allah tidak menuntut kita untuk menjadi hamba yang sempurna ibadahnya, karena memang di dunia ini tak ada hal yang instan. Allah Ta'ala hanya menuntut janji kita; sekedar sebaris-dua baris kalimat yang akan meneguhkan komitmen kita selanjutnya. Dengan mengakui-Nya sebagai satu-satunya ilah, maka resmilah kita menjadi hamba-Nya. Atas segala kasih sayang Allah yang melimpah, kita hanya dituntut untuk mengucapkan sebuah pengakuan. Allah memang Maha Pemurah!