“Sesungguhnya yg paling mulia di sisi Allah adalah yg paling bertakwa diantara kalian” #QS.49:13

1. Ikhwani fillah ‘azzani Allah wa iyyakum. Sepantasnya & wajib bagi kita untuk senantiasa bersyukur kpd Allah Subhanahu wa Ta’ala. | #Hati

2. Atas segala kenikmatan yg telah Allah karuniakan. Nikmat Islam, terlebih nikmat sunnah, di atas manhaj ahlus sunnah wal jama’ah. | #Hati

3. Sesungguhnya, sebagian salaf mengatakan, “Saya tdk tahu mana nikmat yg lebih besar. Apakah nikmat Islam? Ataukah nikmat sunnah?” | #Hati

4. Kalaulah kita melihat di dunia luar, betapa banyak orang yg jauh dr sunnah, tenggelam di atas syirik, tenggelam di atas bid’ah. | #Hati

5. Maka kita sadar bahwasanya nikmat sunnah, merupakan nikmat yg harus dan pantas untuk kita syukuri kpd Allah Subhanahu wa Ta’ala. | #Hati

6. Ketahuilah, sesungguhnya banyak ayat dalam al-Qur’an mengingatkan kita agar tidak terpedaya dengan dunia. | #Hati

7. “Sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau.” #QS.47:36 | #Hati

8. Hanyalah permainan, yg tidak disadari pelakunya, tiba-tiba sirna permainan tersebut. Dan ayat-2 seperti ini sangatlah banyak. | #Hati

9. Allah Ta’ala berfirman, “Akan tetapi kalian wahai manusia, kalian mendahulukan kehidupan dunia drpd kehidupan akhirat.” #QS.87:16 | #Hati

 10. “Padahal akhirat lebih baik dan lebih kekal.” #QS.87:17. Dalam hadits shahih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, | #Hati

11. “Sesungguhny dunia itu terlaknat, & terlaknat pula apa yg trdapat dlm dunia trsbt, kecuali mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala,” | #Hati

12. Hadits tersebut diriwayatkan imam at-Tirmidzi, Ibnu Majah. Dalam Shohihul Jami’, Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini hasan. | #Hati

13. Maka, dunia yg kita rasakan sekarang ini, jika tdk kita jadikan sebagai sarana untuk bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, | #Hati

14. Dan untuk menambah rasa takut kita kpd Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka sesungguhnya kita akan tercela dan terlaknat di sisi-Nya. | #Hati

15. Karena itu, banyak ulama menulis tentang makna zuhud, mereka bicara tentang zuhud, bahkan mereka menulis kitab dgn nama zuhud. | #Hati

16. Diantaranya Imam Ahmad Rahimahullah, memiliki sebuah kitab dgn nama az-Zuhud, demikian juga Imam Ibnu al-Mubarak Rahimahullah. | #Hati

17. Yang demikian adalah usaha mereka utk mengingatkan kaum muslimin agar tdk terperdaya dgn kenikmatan dunia yg sangat melalaikan. | #Hati

18. Dan kebanyakan ulama, mereka membawa kita kpd makna bahwa zuhud adalah mendahulukan kehidupan akhirat daripada kehidupan dunia. | #Hati

19. Ada sebuah isyarat dari al-Imam al-Hasan al-Bashri Rahimahullah sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad dlm kitabnya az-Zuhud. | #Hati

20. Beliau Rahimahullah menjelaskan ttg makna orang yg tawadhu’, “Yaitu orang yg keluar dari rumah nya, | #Hati

21. dan ia tdk bertemu dgn seorang muslim pun, kecuali ia menyangka bahwasanya orang yg ditemui tadi, lebih baik daripada dirinya.” | #Hati

22. Inilah makna zuhud yg hakiki, seseorang tdk hanya zuhud pada penampilannya, tdk hanya zuhud pada rumahnya, dan pada pakaiannya.. | #Hati

23. Percuma orang yg zuhud terhadap pakaian, kendaraa, dan rumahnya tapi dia berhati angkuh lagi tinggi dan merendahkan orang lain. | #Hati

24. Seharusnya hati seorang muslim tatkala bertemu muslim lainnya, dia tdk merasa lebih baik daripada muslim yg dihadapannya itu. | #Hati

25. Bukankah Allah telah berfirman, “Sesungguhnya yg paling mulia di sisi Allah adalah yg paling bertakwa diantara kalian” #QS.49:13 | #Hati

26. Lalu, apakah anda yakin, bahwasanya anda lebih bertakwa dari seorang yang berada dihadapan anda? | #Hati

27. Atas dasar apa, anda merasa lebih takwa & lebih tinggi dihadapan Allah drpd orang yg ada dihadapan anda? Apa krn amalan zhahir? | #Hati

28. Bisa jadi amalan zhahir kita, shalat kita, puasa kita lebih baik drpd orang lain dan amalan zhahir dia, lebih sedikit dari kita. | #Hati

29. Akan tetapi, Ikhwani fillah… Siapa yang mampu menjamin bahwasanya seluruh amalan kita diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala? | #Hati

30. Bisa jadi amalan orang yg dihadapan kita, meskipun sedikit akan tetapi diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. | #Hati

31. Belum lagi ketika kita tidak melihat orang-orang shaleh yang beramal amalan shaleh namun tidak nampak di mata kita. | #Hati

32. Bisa jadi seseorang beramal amalan shaleh dengan amalan yg banyak tatkala di rumah nya. Dan kita tidak tahu amalan tersebut. | #Hati

33. Sehingga luput bagi kita amalan-amalan shaleh yang sangat besar yang dilakukan oleh orang-orang yg ada dihadapan kita. | #Hati

34. Lantas kenapa kita merasa lebih bertakwa dari orang-orang yg ada dihadapan kita? | #Hati

35. Bisa jadi amalan kita lebih banyak secara hakikat dari orang lain akan tetapi amalan bathin orang lain lebih baik daripada kita. | #Hati

36. Bukankah para ulama telah sepakat bahwasanya amalan bathin lebih utama dari amalan zhahir? | #Hati

37. Karena al-Iman, asalnya di hati. Amalan bathin seperti takwa, sabar, ikhlas, dan keimanan itu di sisi Allah sangat luar biasa. | #Hati

38. Oleh karenanya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada sahabatnya, tentang sahabat beliau radhiallahu ‘anhu, | #Hati

39. ”Janganlah kalian mencela para sahabatku. Kalau seandainya salah seorang dari kalian berinfaq emas sebesar Gunung Uhud, | #Hati

40. maka tidak akan sama dengan infaq salah seorang dari mereka yang hanya segenggam khurma atau setengahnya.” | #Hati

41. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya, no. 10657, 11092 dan 11180. Dan lain-lain. | #Hati

42. Bagaimana mungkin emas sebesar gunung uhud tdk lebih baik drpd emas sebesar khurma yaa Ikhwani fillah ‘azzani Allah wa iyyakum?? | #Hati

43. Karena, mereka para sahabat radhiallahu ‘anhu, memiliki amalan hati yg sangat luar biasa. | #Hati

44. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala, meninggikan derajat seseorang berdasarkan keimanannya, berdasarkan amalan hatinya. | #Hati

45. Kita tidak bisa mengukur amalan hati seseorang yg terkadang kita menyepelekannya, maka jgn kita ujub dan merasa lebih hebat. | #Hati

46. Maka, tumbuhkan lah dalam diri kita masing-masing ketakwaan, dan rasa takut kepada Allah Rabbul ‘alamin, | #Hati

47. Jangan sekali-kali kita sombong dengan amalan kita… Sebagaimana riya’ bisa membatalkan amal, demikian pula dengan kesombongan. | #Hati

48. Sesungguhnya Allah Jalla Jallalu adalah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang… | #Hati

49. Segala puji bagi Allah al-Mutakabbir al-Muhiithu, yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna… Wabillahitaufiq’ | #Hati

twitter : @mamoadi

Sumber : http://kumpulankultwit.wordpress.com/2011/10/17/atas-dasar-apa-anda-merasa-lebih-takwa-hati/

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam dan satu-satunya layak untuk disembah. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.

Menunda-nunda menikah bisa merugi. Berikut penjelasan yang bagus dari ulama besar Saudi Arabia, Syaikh Dr. Sholih bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan -hafizhohullah-  yang kami kutip dari Web Sahab.net (arabic).

[Faedah pertama: Hati semakin tenang dan sejuk dengan adanya istri dan anak]

Di antara faedah segera menikah adalah lebih mudah menghasilkan anak yang dapat menyejukkan jiwa. Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ

Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. ” (QS. Al Furqon: 74)

Istri dan anak adalah penyejuk hati. Oleh karena itu, Allah -subhanahu wa ta’ala- menjanjikan dan mengabarkan bahwa menikah dapat membuat jiwa semakin tentram. Dengan menikah seorang pemuda akan merasakan ketenangan, oleh karenanya ia pun bersegera untuk menikah.

هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ

Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. ” (QS. Al Furqon: 74)

Demikian pula dengan anak. Allah pun mengabarkan bahwa anak adalah separuh dari perhiasan dunia sebagaimana firman-Nya,

الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. ” (QS. Al Kahfi: 46)

Anak adalah perhiasan kehidupan dunia. Setiap manusia pasti  menginginkan perhiasan yang menyejukkan pandangan. Sebagaimana manusia pun begitu suka mencari harta, ia pun senang jika mendapatkan anak. Karena anak sama halnya dengan harta dunia, yaitu sebagai perhiasan kehidupan dunia. Inilah faedah memiliki anak dalam kehidupan dunia.

Sedangkan untuk kehidupan akhirat, anak yang sholih akan terus memberikan manfaat kepada kedua orang tuanya, sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث : علم ينتفع به ، أو صدقة جارية ، أو ولد صالح يدعو له

Jika manusia itu mati, maka amalannya akan terputus kecuali tiga perkara: [1] ilmu yang bermanfaat, [2] sedekah jariyah, dan [3] anak sholih yang selalu mendoakannya.”[1]

Hal ini menunjukkan bahwa anak  memberikan faedah yang besar dalam kehidupan dunia dan nanti setelah kematian.

[Faedah kedua: Bersegera nikah akan mudah memperbanyak umat ini]

Faedah lainnya, bersegera menikah juga lebih mudah memperbanyak anak, sehingga umat Islam pun akan bertambah banyak. Oleh karena itu, setiap manusia dituntut untuk bekerjasama dalam nikah membentuk masyarakat Islami. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تزوجوا فإني مكاثر بكم يوم القيامة

Menikahlah kalian. Karena aku begitu bangga dengan banyaknya umatku pada hari kiamat.[2] Atau sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Intinya, bersegera menikah memiliki manfaat dan dampak yang luar biasa. Namun ketika saya memaparkan hal ini kepada para pemuda, ada beberapa rintangan yang muncul di tengah-tengah mereka.

Rintangan pertama:

Ada yang mengutarakan bahwa nikah di usia muda akan membuat lalai dari mendapatkan ilmu dan menyulitkan dalam belajar. Ketahuilah, rintangan semacam ini tidak senyatanya benar. Yang ada pada  bahkan sebaliknya. Karena bersegera menikah memiliki keistimewaan sebagaimana yang kami utarakan yaitu orang yang segera menikah akan lebih mudah merasa ketenangan jiwa. Adanya ketenangan semacam ini dan mendapatkan penyejuk jiwa dari anak maupun istri dapat lebih menolong seseorang untuk mendapatkan ilmu. Jika jiwa dan pikirannya telah tenang karena istri dan anaknya di sampingnya, maka ia akan semakin mudah untuk mendapatkan ilmu.

Adapun seseorang yang belum menikah, maka pada hakikatnya dirinya terus terhalangi untuk mendapatkan ilmu. Jika pikiran dan jiwa masih terus merasakan was-was, maka ia pun sulit mendapatkan ilmu. Namun jika ia bersegera menikah, lalu jiwanya tenang,  maka ini akan lebih akan menolongnya. Inilah yang memudahkan seseorang dalam belajar dan tidak seperti yang dinyatakan oleh segelintir orang.

Rintangan kedua:

Ada yang mengatakan bahwa nikah di usia muda dapat membebani seorang pemuda dalam mencari nafkah untuk anak dan istrinya. Rintangan ini pun tidak selamanya bisa diterima. Karena yang namanya pernikahan akan senantiasa membawa keberkahan (bertambahnya kebaikan) dan akan membawa pada  kebaikan. Menjalani nikah berarti melakukan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Ketaatan seperti ini adalah suatu kebaikan. Seorang pemuda yang menikah berarti telah menjalankan perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia pun mencari janji kebaikan dan membenarkan niatnya, maka inilah yang sebab datangnya kebaikan untuknya. Ingatlah, semua rizki itu di tangan Allah sebagaimana firman-Nya,

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلاَّ عَلَى اللهِ رِزْقُهَا

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya.” (QS. Hud: 6)

Jika engkau menjalani nikah, maka Allah akan memudahkan rizki untuk dirimu dan anak-anakmu. Allah Ta’ala berfirman,

نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ

Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka.” (QS. Al An’am: 151)

Oleh karenanya ,yang namanya menikah tidaklah membebani seorang pemuda sebagaimana anggapan bahwa menikah dapat membebani seorang pemuda di luar kemampuannya. Ini tidaklah benar. Karena dengan menikah akan semakin mudah mendapatkan kebaikan dan keberkahan. Menikah adalah ketetapan Allah untuk manusia yang seharusnya mereka jalani. Ia bukan semata-mata khayalan. Menikah termasuk salah pintu mendatangkan kebaikan bagi siapa yang benar niatnya.

Sumber: http://www.sahab.net/home/index.php?Site=News&Show=698

Semoga Allah memudahkan para pemuda untuk mewujudkan hal ini dengan tetap mempertimbangkan maslahat dan mudhorot (bahaya). Jika ingin segera menikah dan sudah merasa mampu dalam menafkahi istri, maka lobilah orang tua dengan cara yang baik. Semoga Allah mudahkan.

Diselesaikan di pagi hari, 22 Muharram 1431 H, Panggang-Gunung Kidul.

Penyusun: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel www.muslim.or.id


[1] HR. Muslim no. 1631, dari Abu Hurairah.

[2] Shahih: HR. Abu Daud, At Tirmidzi, Ibnu Majah, dan An Nasai.