1. Assalamualaikum, mau twit “Maka Nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan” pada surat #ArRahman ya?
2. Noticed gak kalo Kalimat ini diulang hingga 31 kali di dalam Al-Quran surat #ArRahman
3. “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”| #ArRahman
4. Kalo diulang terus berarti amat sangat penting. Mengapa kalimat ini begitu penting?
5. Begini, manusia diciptakan dengan kelemahan: Salah satunya Pelupa dan Malas Berfikir| #ArRahman
6. Kita lihat ya. Dalam QS. Yunus: 12, Allah berfirman: | #ArRahman
7. (¼) “Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, .| #ArRahman
8. (2/4)tetapi setelah kami hilangkan bahaya itu darinya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), .| #ArRahman
9. (¾)seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya.| #ArRahman
10. (4/4)Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan” (QS. Yunus: 12) | #ArRahman
11. Seringkali kita (manusia) ditengah musibah, kita ingat dan sujud kepada Allah, .| #ArRahman
12. meminta untuk dimudahkan jalan dalam menghadapi musibah. tetapi ketika ditengah kesenangan, nikmat (dunia), kita menjadi lalai. .| #ArRahman
13. Lupa bahwa kesenangan dan kenikmatan itu semua adalah pemberian Allah Ta’ala sehingga kita menjadi kufur nikmat. .| #ArRahman
14. Maka ayat ini menjadi penting sebagai peringatan bagi manusia, tempatnya salah dan lupa. Subhanallah.. .| #ArRahman
15. Ingat lah kita sebagai manusia kepada Dia di setiap waktu. | #ArRahman
16. Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar,(QS #ArRahman:14)
17. dan Dia menciptakan jin dari nyala api.( QS #ArRahman:15)
18. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? ( QS #ArRahman:16)
19. Pernahkah kita benar2 ingat bahwa kita ada yang menciptakan? dan yang menciptakan kita adalah Allah Ta’ala. .| #ArRahman
20. Dan seringkali manusia malas berfikir. Cobalah ingat ini di setiap detik hembusan nafas kita| #ArRahman
21. Semua yang ada di bumi itu akan binasa.( QS #ArRahman:26)
22. Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. (QS #ArRahman:27)
23. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? ( QS #ArRahman:28)
24. Pernahkah kita benar2 ingat akan kiamat? bahwa kehidupan di dunia ini hanya sementara? .| #ArRahman
25. Pernahkah kita berfikir kiamat akan datang ditengah berlimpahan nikmat dunia yang kalian dapat? .| #ArRahman
26. Dan seringkali manusia malas berfikir. .| #ArRahman
27. Maukah kita luangkan waktu sejenak untuk menyadari .| #ArRahman
28. bahwa semua yang ada di dunia ini tanpa kecuali, semata-mata pemberian dari Allah Ta’ala? .| #ArRahman
29. Sebagian dari kita mungkin hanya menelan bulat-bulat “warisan” agama Islam dari orang tua, .| #ArRahman
30. malah menjadi “Islam KTP” saja, tanpa mau berfikir dan mempelajari betapa indahnya Islam .| #ArRahman
31. serta demi pengertian kita secara keseluruhan mengenai Islam maka PASTI jadi meningkatkan keimanan kita. .| #ArRahman
32. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? .| #ArRahman
33. Tanpa sedikitpun mengesampingkan pentingnya surat-surat lain di dalam Al-Quran, .| #ArRahman
34. surat #ArRahman ini sangat indah dan mencakup seluruh pembuktian bahwa dunia ini adalah milik Allah Ta’ala,
35. bahkan manusia sekalipun, akan berpulang ke rahmatullah. .| #ArRahman
36. Dijelaskan juga dalam surat ini mengenai adanya neraka dan syurga, .| #ArRahman
37. dan siapa saja yang pantas memasuki kedua tempat tersebut di akhirat. .| #ArRahman
38. Al-Quran sudah menjelaskan semuanya secara lengkap: .| #ArRahman
39. (1/3)“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu, penuh dengan berkah .| #ArRahman
40. (2/3)supaya mereka memperhatikan (merenungkan) ayat-ayatnya.| #ArRahman
41. (3/3) dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran (QS. Shaad 38:29) .| #ArRahman
42. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? .| #ArRahman
43. Bahkan makhluk dari golongan Jin pun juga menanggapi akan Surat #ArRahman ini
44. Abu Ja'far Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu ‘Umar, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam membaca surat #ArRahman,
45. atau surat itu dibaca di sisi beliau, maka beliau bersabda: .| #ArRahman
46. (1/5)"Mengapa aku mendengar jin menanggapi untuk Rabb mereka lebih baik dari kalian?” .| #ArRahman
47. (2/5) Para Sahabat bertanya, “Apa itu wahai Rasulullah?” Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam menjawab: .| #ArRahman
48. (3/5)“Tidaklah aku membaca firman Allah Subhanahu wa ta’ala .| #ArRahman
49. (4/5)'Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan,’ melainkan para jin menjawab, .| #ArRahman
50. ’(5/5)Tidak ada satu pun nikmat Rabb kami yang kami dustakan.’”.| #ArRahman
51. [Ath-Thabari (XXII/23)]. Diriwayatkan juga oleh Hafizh al-Bazzar. [Kasyful Astaar (III/74)] .| #ArRahman
52. Abu 'Isa at-Tirmidzi meriwayatkan dari Jabir, ia berkata, .| #ArRahman
53. “Suatu ketika Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam mengunjungi para Sahabat dan membacakan surat #ArRahman
54. tapi para Sahabat hanya terdiam. Maka Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: .| #ArRahman
55. (1/3) "Aku membacanya untuk para jin pada malam jin. Mereka menanggapi lebih baik daripada kalian. .| #ArRahman
56. (2/3)Setiap kali aku membaca ayat, 'Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?’.| #ArRahman
57. (3/3)Mereka berkata, 'Tidak ada satu pun nikmat-nikmat-Mu, wahai Rabb kami, yang kami dustakan. Bagi-Mu-lah segala puji.’”.| #ArRahman
58. At-Tirmidzi berkata, “Hadits gharib” [Tuhfatul Ahwadzi (IX/177). [at-Tirmidzi (no. 3291). .| #ArRahman
59. Hasan, dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahiihul Jaami’ (no. 5138)]]. .| #ArRahman
60. Diriwayatkan juga oleh Hafizh Abu Bakar al-Bazzar. [Al-Hakim (II/473)] .| #ArRahman
61. Sekarang mari kita tanya pada diri kita masing2. Tanyakan pada hati kita .| #ArRahman
62. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? .| #ArRahman
63. Bisa kah kita menjawab nya? Dgn segala tindak tanduk manusia utk menutupi dosanya dgn berbagai pembenaran?| #ArRahman
64. Kita itu melakukan maksiat dgn segala nikmat yg Dia berikan dan Dia melihat kita melakukannya .| #ArRahman
65. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? .| #ArRahman
66. Semoga bermanfaat twit mengenai ayat yg diulang 31 kali pada surat #ArRahman ini
67. Semoga menjadi nasehat untuk kita semua. Selamat menjalani hari ya teman2. | #ArRahman
68. Terima kasih utk @PrincessDika (http://www.princessdika.wordpress.com) yg telah mengirimkan Tulisan ini kpd kami| #ArRahman
69. Semoga Allah senantiasa membimbing kita semua tetap pada tuntunan jalanNya | #ArRahman
70. Semoga Allah senantiasa menolong kita semua. Amin.. Assalamualaikum| #ArRahman
Kaum muslimin –semoga Allah menjaga aqidah kita dari kesalahpahaman- sesungguhnya menunaikan jihad dalam pengertian dan penerapan yang benar termasuk ibadah yang mulia. Sebab Allah telah memerintahkan kaum muslimin untuk berjihad melawan musuh-musuh-Nya. Allah berfirman (yang artinya), “Hai Nabi, berjihadlah melawan orang-orang kafir dan orang-orang munafiq, dan bersikaplah keras kepada mereka…” (QS. At-Taubah: 9). Karena jihad adalah ibadah, maka untuk melaksanakannya pun harus terpenuhi 2 syarat utama: (1) ikhlas dan (2) sesuai tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah fenomena pengeboman yang dilakukan oleh sebagian pemuda Islam di tempat maksiat yang dikunjungi oleh turis asing yang notabene orang-orang kafir. Benarkah tindakan bom bunuh diri di tempat semacam itu termasuk dalam kategori jihad dan orang yang mati karena aksi tersebut -baik pada saat hari-H maupun karena tertangkap aparat dan dijatuhi hukuman mati- boleh disebut orang yang mati syahid?
Bom Bunuh Diri Bukan Jihad
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan janganlah kalian membunuh diri kalian, sesungguhnya Allah Maha menyayangi kalian.” (QS. An-Nisaa’: 29)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang bunuh diri dengan menggunakan suatu alat/cara di dunia, maka dia akan disiksa dengan cara itu pada hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim). Adapun bunuh diri tanpa sengaja maka hal itu diberikan udzur dan pelakunya tidak berdosa berdasarkan firman Allah ‘azza wa jalla (yang artinya), “Dan tidak ada dosa bagi kalian karena melakukan kesalahan yang tidak kalian sengaja akan tetapi (yang berdosa adalah) yang kalian sengaja dari hati kalian.” (QS. Al-Ahzab: 5). Dengan demikian aksi bom bunuh diri yang dilakukan oleh sebagian orang dengan mengatasnamakan jihad adalah sebuah penyimpangan (baca: pelanggaran syari’at). Apalagi dengan aksi itu menyebabkan terbunuhnya kaum muslimin atau orang kafir yang dilindungi oleh pemerintah muslimin tanpa alasan yang dibenarkan syari’at.
Allah berfirman (yang artinya), “Dan janganlah kalian membunuh jiwa yang Allah haramkan kecuali dengan alasan yang benar.” (QS. Al-Israa’: 33)
Membunuh Muslim Dengan Sengaja dan Tidak
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak halal menumpahkan darah seorang muslim yang bersaksi tidak ada sesembahan (yang benar) selain Allah dan bersaksi bahwa aku (Muhammad) adalah Rasulullah kecuali dengan salah satu dari tiga alasan: [1] nyawa dibalas nyawa (qishash), [2] seorang lelaki
beristri yang berzina, [3] dan orang yang memisahkan agama dan meninggalkan jama’ah (murtad).” (HR. Bukhari Muslim)
Beliau juga bersabda, “Sungguh, lenyapnya dunia lebih ringan bagi Allah daripada terbunuhnya seorang mukmin tanpa alasan yang benar.” (HR. Al-Mundziri, lihat Sahih At-Targhib wa At-Tarhib). Hal ini menunjukkan bahwa membunuh muslim dengan sengaja adalah dosa besar.
Dalam hal membunuh seorang mukmin tanpa kesengajaan, Allah mewajibkan pelakunya untuk membayar diyat/denda dan kaffarah/tebusan. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidak sepantasnya bagi orang mukmin membunuh mukmin yang lain kecuali karena tidak sengaja. Maka barangsiapa yang membunuh mukmin karena tidak sengaja maka wajib baginya memerdekakan seorang budak yang beriman dan membayar diyat yang diserahkannya kepada keluarganya, kecuali apabila keluarganya itu berkenan untuk bersedekah (dengan memaafkannya).” (QS. An-Nisaa’: 92). Adapun terbunuhnya sebagian kaum muslimin akibat tindakan bom bunuh diri, maka ini jelas tidak termasuk pembunuhan tanpa sengaja, sehingga hal itu tidak bisa dibenarkan dengan alasan jihad.
Membunuh Orang Kafir Tanpa Hak
Membunuh orang kafir dzimmi, mu’ahad, dan musta’man (orang-orang kafir yang dilindungi oleh pemerintah muslim), adalah perbuatan yang haram. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang membunuh jiwa seorang mu’ahad (orang kafir yang memiliki ikatan perjanjian dengan pemerintah
kaum muslimin) maka dia tidak akan mencium bau surga, padahal sesungguhnya baunya surga bisa tercium dari jarak perjalanan 40 tahun.” (HR. Bukhari).
Adapun membunuh orang kafir mu’ahad karena tidak sengaja maka Allah mewajibkan pelakunya untuk membayar diyat dan kaffarah sebagaimana disebutkan dalam ayat (yang artinya), “Apabila yang terbunuh itu berasal dari kaum yang menjadi musuh kalian (kafir harbi) dan dia adalah orang yang beriman maka kaffarahnya adalah memerdekakan budak yang beriman, adapun apabila yang terbunuh itu berasal dari kaum yang memiliki ikatan perjanjian antara kamu dengan mereka (kafir mu’ahad) maka dia harus membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya dan memerdekakan budak yang beriman. Barangsiapa yang tidak mendapatkannya maka hendaklah berpuasa dua bulan berturut-turut supaya taubatnya diterima oleh Allah. Allah Maha mengetahui lagi Maha bijaksana.” (QS. An-Nisaa’: 92)
Bolehkah Mengatakan Si Fulan Syahid?
Di dalam kitab Sahihnya yang merupakan kitab paling sahih sesudah Al-Qur’an, Bukhari rahimahullah menulis bab berjudul “Bab. Tidak boleh mengatakan si fulan Syahid” berdalil dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Allah yang lebih mengetahui siapakah orang yang benar-benar berjihad di jalan-Nya, dan Allah yang lebih mengetahui siapakah orang yang terluka di jalan-Nya.” (Sahih Bukhari, cet. Dar Ibnu Hazm, hal. 520)
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menerangkan (Fath Al-Bari, jilid 6 hal. 90. cet. Dar Al-Ma’rifah Beirut. Asy-Syamilah), “Perkataan beliau ‘Tidak boleh mengatakan si fulan syahid’, maksudnya tidak boleh memastikan perkara itu kecuali didasari dengan wahyu…”
Al-’Aini rahimahullah juga mengatakan, “Maksudnya tidak boleh memastikan hal itu (si fulan syahid, pent) kecuali ada dalil wahyu yang menegaskannya.” (Umdat Al-Qari, jilid 14 hal. 180. Asy-Syamilah)
Nah, sebenarnya perkara ini sudah jelas. Yaitu apabila ada seorang mujahid yang berjihad dengan jihad yang syar’i kemudian dia mati dalam peperangan maka tidak boleh dipastikan bahwa dia mati syahid, kecuali terhadap orang-orang tertentu yang secara tegas disebutkan oleh dalil!
Maka keterangan Bukhari, Ibnu Hajar, dan Al-’Aini -rahimahumullah- di atas dapat kita bandingkan dengan komentar Abu Bakar Ba’asyir -semoga Allah menunjukinya- terhadap para pelaku bom Bali, “… Amrozi dan kawan-kawan ini memperjuangkan keyakinan di jalan Allah karena itu saya yakin dia termasuk mati
sahid,” tegasnya dalam orasi di Pondok Pesantren Al Islam, Sabtu (8/11/2008).” (sebagaimana dikutip Okezone.com.news)
Kalau orang yang benar-benar berjihad dengan jihad yang syar’i saja tidak boleh dipastikan sebagai syahid -selama tidak ada dalil khusus yang menegaskannya- lalu bagaimanakah lagi terhadap orang yang melakukan tindak perusakan di muka bumi tanpa hak dengan mengatasnamakan jihad -semoga Allah mengampuni dosa mereka yang sudah meninggal dan menyadarkan pendukungnya yang masih hidup-… Ambillah pelajaran, wahai saudaraku…
Sebagai penutup, kami mengingatkan kepada para pemuda untuk bertakwa kepada Allah dan menjauhkan diri mereka dari tindakan-tindakan yang akan menjerumuskan mereka ke dalam neraka. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Maka takutlah kalian terhadap neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS. Al-Baqarah: 24). Sadarlah wahai saudara-saudaraku dari kelalaian kalian, janganlah kalian menjadi tunggangan syaitan untuk menebarkan kerusakan di atas muka bumi ini. Kami berdoa kepada Allah ‘azza wa jalla agar memahamkan kaum muslimin tentang agama mereka, dan menjaga mereka dari fitnah menyesatkan yang tampak ataupun yang tersembunyi. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada hamba dan utusan-Nya Muhammad, para pengikutnya, dan segenap para sahabatnya.
Diringkas oleh Ari Wahyudi dari penjelasan Syaikh Abdul Muhsin Al-’Abbad hafizhahullah dalam kitab beliau Bi ayyi ‘aqlin wa diinin yakuunu tafjir wa tadmir jihaadan?! Waihakum, … Afiiquu yaa syabaab!! (artinya: Menurut akal dan agama siapa; tindakan pengeboman dan penghancuran dinilai sebagai jihad?! Sungguh celaka kalian… Sadarlah hai para pemuda!!) di web Islamspirit.com. Dengan tambahan keterangan dari sumber lain.
***
Penyusun: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Artikel www.muslim.or.id