Assalamualaikum, Sebentar lagi 10 hari terakhir Ramadhan. Yuk kita pelajari mengenai I’tikaaf.

I'tikaaf berasal dari kata ‘akafa - ya'kufu - 'ukuufan yg kemudian disebut dengan i'tikaaf.

Para ulama sepakat bahwa i'tikaaf disyari'atkan dalam agama Islam pada bulan Ramadhan dan bulan-bulan lainnya dan i'tikaaf yang paling utama adalah pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan. Hal tersebut karena Nabi Shallallahu alaiahi wa sallam selalu mengerjakannya, sebagaimana disebutkan dalam beberapa hadits:

Hadits Pertama:
“Artinya : Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, istri Nabi Shallallahu alaiahi wa sallam, ia berkata: Adalah Nabi Shallallahu alaiahi wa sallam biasa beri'tikaaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, sampai beliau wafat, kemudian istri-istri beliau melaksanakan i'tikaaf sepeninggalnya”

[HR. Ahmad VI/92, al-Bukhari no. 2026, Fat-hul Baari IV/271, Muslim no. 1172 (5), Abu Dawud no. 2462, dan al-Baihaqi IV/ 315, 320.]

Hadits Kedua:.
“Artinya : Dari Ibnu 'Umar Radhiyallahu anhuma, ia berkata: Adalah Rasulullah Shallallahu alaiahi wa sallam biasa i'tikaaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan”.

[HSR. Al-Bukhari no. 2025 dan Muslim no. 1171 (2).]

Hadits Ketiga:
“Artinya : Dari 'Aisyah Radhiyallahu 'anha, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaiahi wa sallam apabila sudah masuk sepuluh hari terakhir (dari bulan Ramadhan, maka beliau) mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan malam itu, membangunkan istrinya”.

[HSR. Ahmad VI/41, al-Bukhari no. 2024, Muslim no. 1174, Abu Dawud no. 1376, an-Nasa-i III/218, lafazh ini milik al-Bukhari.]

Berikut ini kami akan menggabungkan artikel2 seputar I’tikaaf yyg kami ambil dari http://almanhaj.or.id.

Silahkan dipelajari ya…  

WAKTU I'TIKAAF

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas


I'tikaaf yang wajib, dilakukan sesuai dengan apa yang telah dinadzarkan dan diiqrarkan seseorang, maka jika ia bernadzar akan beri'tikaaf satu hari atau lebih, hendaklah ia penuhi seperti yang dinadzarkan itu.

Adapun i'tikaaf yang sunnat, tidaklah terbatas waktunya.

Imam asy-Syafi'i, Imam Abu Hanifah dan kebanyakan ahli fiqh berpendapat bahwa i'tikaaf yang sunnat tidak ada batasnya.

[Lihat Bidayatul Mujtahid I/229.]

Imam Ibnu Hazm rahimahullah berkata, “Boleh seseorang beri'tikaaf siang saja atau malam saja. Ini merupakan pendapat Imam asy-Syafi'i dan Abu Sulaiman”.

[Baca al-Muhalla V/179-180, masalah no. 624.]


SYARAT-SYARAT I'TIKAAF


Syarat-syarat bagi orang yang i'tikaaf ialah:

[a]. Seorang Muslim.
[b]. Mumayyiz.
[c]. Suci dari janabat, suci dari haidh dan suci dari nifas.

Apabila i'tikaaf dilakukan di luar bulan Ramadhan, maka:

[1]. Menurut Ibnul Qayyim: “Puasa sebagai syarat sah nya i'tikaaf dan ini merupakan pendapat jumhur (mayoritas) ulama Salaf”. Dan pendapat ini dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah

[Lihat Zaadul Ma'ad, II/88]

[2]. Menurut Imam asy-Syafi'i dan Ibnu Hazm, bahwa puasa bukan syarat sahnya i'tikaaf. Jika seorang yang beri'tikaaf mau puasa, maka ia puasa. Jika ia tidak mau, tidak apa-apa.

[Baca: Al-Muhalla V/181, masalah no. 625]

[3]. Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Yang afdhal (utama) i'tikaaf dengan berpuasa dan bila ia i'tikaaf dengan tidak berpuasa juga boleh”.

[Lihat al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab VI/484]

Seandainya ada orang sakit i'tikaaf di masjid, maka i'tikaafnya sah.

Imam Ibnul Qayyim dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berpendapat bahwa orang yang i'tikaaf harus berpuasa. Hal ini berdasarkan perkataan 'Aisyah Radhiyallahu anha:

“Artinya : Barangsiapa yang i'tikaaf hendaklah ia berpuasa”.

[Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq no. 8037.]

Aisyah Radhiyallahu anha juga berkata, “Sunnah bagi orang yang i'tikaaf adalah tidak menjenguk orang sakit, tidak melayat jenazah, tidak bercampur dengan istrinya dan tidak bercumbu rayu, tidak keluar dari masjid kecuali ada sesuatu yang mesti dia keluar, tidak ada i'tikaaf kecuali di masjid jami”.

[HR. Abu Dawud no. 2473 dan al-Baihaqi IV/315-316, lihat Shahih Sunan Abi Dawud VII/235-236 no. 2135]

[Disalin dari buku Itikaaf oleh Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Abdullah, Cetakan Ramadhan 1425H/Oktober 2004M]

WAKTU MEMULAI DAN MENGAKHIRI I'TIKAAF

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas


Pada pembahasan yang lalu telah disebutkan bahwa waktu i'tikaaf sunnat adalah tidak terbatas. Maka, apabila seseorang telah masuk masjid dan berniat taqarrub kepada Allah dengan tinggal di dalam masjid beribadah beberapa saat, berarti ia beri'tikaaf sampai ia keluar.

Dan jika seseorang berniat hendak i'tikaaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, maka hendaklah ia mulai memasuki masjid sebelum matahari terbenam.

Pendapat yang menerangkan bahwa waktu dimulainya i'tikaaf adalah sebelum matahari terbenam pada tanggal 20 Ramadhan, yaitu pada malam ke 21, merupakan pendapat dari Imam Malik, Imam Hanafi, Imam asy-Syafi'i, dan Imam Ahmad dalam salah satu pendapatnya.

[Lihat Syarah Muslim VIII/68, Majmu’ Syarhul Muhadzdzab VI/492, Fathul Baary IV/277, al-Mughni IV/489-490 dan Bidayatul Mujtahid I/230.]

Dalil mereka ialah riwayat tentang i'tikaafnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam di awal Ramadhan, pertengahan dan akhir Ramadhan:

“Artinya : Dari Abu Sa'id al-Khudri Radhiyallahu 'anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa yang hendak beri'tikaaf bersamaku, hendaklah ia melakukannya pada sepuluh malam terakhir (dari bulan Ramadhan)”.

[HSR. Al-Bukhari no. 2027.]

Maksud “sepuluh terakhir”, adalah nama bilangan malam, dan bermula pada malam kedua puluh satu atau malam kedua puluh.

[Lihat Fiqhus Sunnah I/403.]

Tentang hadits 'Aisyah:

“Artinya : Dari 'Aisyah Radhiyallahu anha, ia berkata: "Adalah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam apabila hendak i'tikaaf, beliau shalat Shubuh dulu, kemudian masuk ke tempat i'tikaaf”

[HSR. Al-Bukhari no. 2033 dan Muslim no. 1173]

Hadits ini dijadikan dalil oleh orang yang berpendapat bahwa permulaan dari waktu i'tikaaf itu adalah di permulaan siang. Ini menurut pendapat al-Auza'i, al Laits dan ats-Tsauri.

[Lihat Nailul Authar IV/296.]

Maksud dari hadits Aisyah di atas ialah, bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam masuk ke tempat yang sudah disediakan untuk i'tikaaf di masjid setelah beliau selesai mengerjakan shalat Shubuh. Jadi, bukan masuk masjidnya ba'da Shubuh.

Adapun masuk ke masjid untuk i'tikaaf tetap di awal malam sebelum terbenamnya matahari. Wallaahu a'lam bish shawaab

[Lihat Fiqhus Sunnah I/403.]

Mengenai waktu keluar dari masjid setelah selesai menjalankan i'tikaaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, menurut Imam Abu Hanifah dan Imam asy-Syafi'i waktunya adalah sesudah matahari terbenam (di akhir Ramadhan). Sedangkan menurut Imam Ahmad rahimahullah, ia disunnahkan untuk tinggal di masjid sampai waktu shalat 'Idul Fitri. Jadi, keluar dari masjid ketika ia keluar menuju lapangan untuk mengerjakan shalat 'Ied. Akan tetapi menurut mereka boleh pula keluar dari masjid setelah matahari terbenam.

[Lihat Bidaayatul Mujtahid (I/230) dan al-Mughni (IV/490).]

Jadi kesimpulannya, empat Imam telah sepakat bahwa waktu i'tikaaf berakhir dengan terbenamnya matahari di akhir Ramadhan.

Ibrahim an-Nakha'i berkata, “Mereka menganggap sunnah bermalam di masjid pada malam 'Idul Fitri bagi orang yang beri'tikaaf pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan, kemudian pagi harinya langsung pergi ke lapangan (untuk shalat Idul Fitri)”.

[Baca al-Mughni, IV/490-491.]

Dan orang yang bernadzar akan beri'tikaaf satu hari atau beberapa hari tertentu, atau bermaksud melaksanakan i'tikaaf sunnat, maka hendaklah ia memulai i'tikaafnya itu sebelum terbit fajar, dan keluar dari masjid bila matahari sudah terbenam, baik i'tikaaf itu di bulan Ramadhan maupun di bulan lainnya.

[Lihat Bidaayatul Mujtahid, I/230, al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab VI/494, Fiqhus Suunah I/403-404.]

Ibnu Hazm berkata, “Orang yang bernadzar hendak i'tikaaf satu malam atau beberapa malam tertentu, atau ia hendak melaksanakan i'tikaaf sunnat, maka hendaklah ia masuk ke masjid sebelum terbenam matahari, dan keluar dari masjid bila sudah terlihat terbitnya fajar. Sebabnya karena permulaan malam ialah saat yang mengiringi terbenamnya matahari, dan ia berakhir dengan terbitnya fajar. Sedangkan permulaan siang adalah waktu terbitnya fajar dan berakhir dengan terbenamnya matahari. Dan seseorang tidak dibebani kewajiban melainkan menurut apa yang telah diikrarkan dan diniatkannya”.

[Lihat al-Muhalla V/198, masalah no. 636.]

[Disalin dari buku Itikaaf oleh Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Abdullah, Cetakan Ramadhan 1425H/Oktober 2004M]

RUKUN-RUKUN I'TIKAAF

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas


Rukun-rukun niat adalah

[1]. Niat, karena tidak sah satu amalan me-lainkan dengan niat.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.

“Artinya: Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus”. [Al-Bayyinah: 5]

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Sesungguhnya segala perbuatan tergantung pada niat, dan manusia akan mendapatkan balasan menurut niat, dan manusia akan mendapatkan balasan menurut apa yang diniatkannya”.

[HSR. Al-Bukhari no. 1, Fat-hul Baari VI/48, Muslim no. 1907]

Niat tempatnya di hati, tidak dilafazhkan.

[2]. Tempatnya harus di masjid.

Hakikat i'tikaaf, ialah tinggal di masjid dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala.

Mengenai tempat i'ikaaf harus di masjid berdasarkan firman Allah Ta'ala.

“Artinya: Tetapi janganlah kamu campuri mereka itu, sedangkan kamu beri'tikaaf di masjid”. [Al-Baqarah: 187]

Jadi, i'tikaaf itu hanya sah bila dilaksanakan di masjid.

HAL-HAL YANG MEMBATALKAN I'TIKAAF

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas


Pertama:
Sengaja keluar dari masjid tanpa suatu keperluan walaupun hanya sebentar. Keluar dari masjid akan menjadikan batal i'tikaafnya, karena tinggal di masjid sebagai rukun i'tikaaf.

Kedua:
Murtad karena bertentangan dengan makna ibadah, dan juga berdasarkan firman Allah:

“Artinya : Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepada-mu dan kepada (Nabi-Nabi) yang sebelummu. Jika kamu mempersekutukan (Rabb), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu ter-masuk orang-orang yang merugi”. [Az- Zumar : 65]

Ketiga:
Hilang akal disebabkan gila atau mabuk.

Keempat:
Haidh.

Kelima:
Nifas.

Keenam:
Bersetubuh/bersenggama, berdasarkan firman Allah Subahanhu wa Ta'ala

“Artinya: Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka, sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaaf dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertaqwa”. [ Al-Baqarah: 187]

[Lihat Fiqhus Sunnah I/406.]

Menurut pendapat Ibnu 'Abbas Radhiyallahu 'anhu: “Apabila seorang mu'takif (yang i'tikaaf) bersetubuh, maka batal i'tikaafnya dan ia mulai dari awal lagi.

[Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan Abdurrazzaq, dengan sanad yang shahih. Lihat Qiyamur Ramadhan hal. 41 oleh Imam al-Albani]

[Disalin dari buku Itikaaf oleh Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Abdullah, Cetakan Ramadhan 1425H/Oktober 2004M]

Semoga Manfaat ya teman2.

Asalamualaikum

Sumber: http://almanhaj.or.id

 

1. Segala puji hanya bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya,

2. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami.

3. Barangsiapa yg Allah beri petunjuk, mk tdk ada yg dpt menyesatkannya, dan siapa yg Allah sesatkan, mk tdk ada yg dpt memberinya petunjuk.

4. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adlh Kitabullaah dan sebaik-baik petunjuk adlh petunjuk Nabi Muhammad Shallallaahu a'alaihi wa sallam,

5. Sejelek-jelek perkara adalah yg diada-adakan, setiap yg diada-adakan adalah bid'ah

6. Dan setiap bid'ah itu sesat dan setiap kesesatan itu tempatnya di Neraka.

7. Menjelang lebaran pasti ada yg mudik. Ana akan share mengenai etika #Safar sesuai tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

8. Disunnahkan berpergian pada hari kamis dan pada permulaan siang, sekitar waktu dhu'ha. #Safar

9. ”Sesungguhny Nabi Shallallahu 'alaihi wa salam pergi mnuju perang Tabuk pd hari Kamis, & Beliau menyukai bepergian pd hari Kamis.” #Safar

10. Muttafaqqun ‘alaih, dan Syaikh Salim bin Id Al Hilali berkata,”Dikeluarkan oleh Bukhari (6/113-Fathul Bari).“ #Safar

11. Disunnahkan membaca do'a ketika menaiki kendaraan. Do'anya lihat Hadits Riwayat Imam Muslim pd kitab Bahjatun Nazhirin (2/211). #Safar

12. Jika kembali, disunnahkan membaca do’a itu lagi dgn tambahan: Kami kembali kepada Allah dgn bertaubat, menyembah dan memujiNya. #Safar

13. Do'a tersebut berdasarkan Hadits Riwayat Imam Muslim nomer 1342. Lihat Bahjatun Nazhirin (2/211). #Safar

14. Disunnahkan tidak sendirian, tetapi bersama teman atau rombongan dan menunjuk salah seorang sebagai pemimpin. Dalilnya: | #Safar

15. ”Seandainya saja manusia mengetahui apa yang aku ketahui tentang bahaya kesendirian, …. #Safar

16. …. niscaya tak ada seorang pun yang mau bepergian pada malam hari seorang diri.” [HR Bukhari (6/137, 138-Fathul Bari)] #Safar

17. Dalam hadits ini, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan peringatan akan bahaya perjalanan jika bepergian sendirian. #Safar

18. Syaikh Salim menjelaskan, bepergian seorang diri akan mengundang syethan karena ini merupakan kebiasaan yg dilakukan syethan. #Safar

19. Syethan menjauh dari kelompok musafir yang banyak -minimal 3 orang-, karena kelompok tersebut saling menolong sesama mereka. #Safar

20. Penjelasan Syaikh Salim tersebut dapat dilihat pada Kitab Bahjatun Nazhirin (2/201). #Safar

21. ”Jika ada 3 org yg keluar hendak bepergian, hendaklah mereka menunjuk seorang dari mereka sbg pemimpin.” HR. Abu Dawud no. 2.608 #Safar

22. Seseorang yg ditunjuk sbg pemimpin rombongan, hendaklah orang yg shalih dan mampu mengemban tugas kepemimpinan dalam perjalanan. #Safar

23. Memperhatikan adab-2 ketika singgah & bermalam di suatu tempat. Ini merupakan faedah adab #Safar dari Hadits Riwayat Imam Muslim (1927).

24. Adab lain yg harus diperhatikan saat #Safar adalah tetap berkumpul dgn rombongan dan tdk memisahkan diri ketika singgah di suatu tempat.

25. Memisahkan diri berarti perpecahan. Perpecahan sangat dicintai syethan. Pada perpecahan terdapat madharat yg harus dihindari. #Safar

26. Ketika singgah, dianjurkan berdo’a, bertakbir ketika berada di tempat tinggi, dan bertasbih ketika melewati tempat rendah. #Safar

27. ”Kami bertakbir, jika menaiki (tempat yang tinggi), dan bertasbih manakala kami menuruni lembah.” (6/135-Fathul Bari) #Safar

28. Selama perjalanan, disunnahkan memperbanyak do'a, karena pd saat itu do'a dikabulkan. #Safar

29. ”… do’a orang yg dizhalimi, do’a orang yg bepergian & orang tua (ayah) yg mendo’akan (kejelekan) atas anaknya.” [HR Abu Dawud] #Safar

30. Jika kepentingannya sudah selesai, maka disunnahkan segera pulang dari #Safar

31. "Bila salah seorang kalian telah mencapai maksud dr perjalanannya, hendaklah segera kembali kpd keluarganya.” [3/262-Fathul Bari] #Safar

32. Disunnahkan pulang pada siang hari, karena pulang pada malam hari hukumnya makruh. #Safar

33. ”Jika salah seorang kalian berpergian dalam jangka waktu lama, maka janganlah mengetuk pintu pd malam hari.” [3/620- Fathul Bari] #Safar

34. Disunnahkan sholat dua raka'at di masjid terdekat sebelum mendatangi rumahnya. #Safar

35. Jika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam datang dr perjalanan, Beliau mendatangi masjid & shalat dua raka’at. [Muslim 2.789] #Safar

36. Yang ini wajib diperhatikan –> DIHARAMKAN WANITA BEPERGIAN TANPA DISERTAI MAHRAMNYA. #Safar

37. ”Tidak halal wanita yg beriman kpd Allah dan hari akhir bepergian sehari semalam, kecuali disertai mahramnya” [Muttafaqun ‘alaih] #Safar

38. Tetapi bukan berarti wanita dibolehkan bepergian dengan tanpa mahram jika jaraknya kurang dari sehari semalam. #Safar

39. Karena ada beberapa hadits lain yg menjelaskan haramnya wanita bepergian tanpa mahram secara mutlak (tdk terikat jarak & waktu). #Safar

40. Semoga kita mampu mengambil manfaat dan meneladani Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam kehidupan kita. #Safar

41. Semoga kita berhak mendapat syafa’atnya dan termasuk yg memperoleh kesempatan minum dari telaga Beliau pada hari kiamat nanti. #Safar

42. Subhanakallahumma wabihamdika, Asyhadu alla ilaha illa anta, Astaghfiruka wa atubu ilaik. Sekian | #Safar



DO’A KETIKA MENAIKI KENDARAAN

عَنِ ا بِنِ عُمَر رضي الله عَنهما أنَّ رَسوُلَ الله صلى الله عليه و سلم كَانَ إذَا اسْتَوَى عَلَى بِبَعِيْرِهِ خَارِجًا إلى السَّفَرِ كَبَّرَ ثَلاَثًا ثُمَّ قَالَ

Do'a dimulai dari sini:
 (( سُبْحَانَ الََّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَ مَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِيْنَ وَ إنَّا إلى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ. اللهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ في سَفَرِنَا هَذَا البِرَّ وَ التَقْوَى وَ مِنَ العَمَلِ مَا تَرْضَى . اللهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا وَطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ اللهُمَّ أنْتَ الصَّاحِبُ في السَّفَرِ وَ الخَلِيْفَةُ في الأهْلِ اللهُمَّ إنّيِ أعُوْذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ وَ كَآبَةِ المَنْظَرِ وَ سُوْءِ المُنْقَلَبِ في المَالِ وَ الأهْلِ وَ الَوَلَدِ)).

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu 'anhu, sesungguhnya jika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menaiki kendaraan ketika hendak bepergian, Beliau bertakbir sebanyak tiga kali, kemudian berdoa: “Maha Suci Dzat yang telah menundukkan kendaraan ini untuk kami, padahal kami dahulu tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kepada Rabb kamilah, kami akan kembali. Ya, Allah! Kami mohon kepadaMu dalam perjalanan kami ini kebajikan dan takwa, serta amal yang Engkau ridhai. Ya, Allah! Mudahkanlah perjalanan kami ini, serta dekatkanlah jarak perjalanan kami. Ya, Allah! Engkaulah teman dalam perjalanan, dan penjaga keluarga yang kami tinggal. “Ya, Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari kesulitan dalam perjalanan, kesedihan serta tempat kembali yang buruk dalam keluarga, harta dan anak”.

Dan jika kembali dari perjalanan, disunnahkan membaca do’a di atas, kemudian ditambah dengan lafazh: آيِبُوْنَ تَائِبُوْنَ عَابِدُوْنَ لِرَبِّنَا حَامِدُوْنَ (Kami kembali kepada Allah dengan bertaubat, menyembah dan memujiNya)
HR Muslim. Syaikh Salim berkata,”Dikeluarkan oleh Muslim (1342).” Lihat Bahjatun Nazhirin (2/211)


Sumber : twitter : @mamoadi