Ketika menjelaskan tentang bukti-bukti keberadaan Tuhan, Buya Hamka tidak merasa perlu berpanjang-panjang dalam penjelasannya, padahal beliau dikenal sebagai ulama-sastrawan yang piawai merangkai kata. Menurutnya, keberadaan Tuhan itu terlalu mudah untuk dipahami oleh manusia, siapa pun dia, sehingga tak perlu dibuktikan kembali. Apa yang sudah terang tak perlu diterang-terangkan lagi. Pengakuan akan keberadaan Tuhan adalah suatu hal yang sudah terintegrasi dalam jiwa manusia. Yang jadi masalah justru jika manusia ngotot hendak meng-uninstall program yang sudah dipasang sejak dahulu kala dalam dirinya (QS Al A’raf: 172).
Dari sekian banyak manusia keras kepala yang mengingkari dirinya sendiri ini, tidak ada satu pun yang berhasil sepenuhnya. Ustadz Rahmat Abdullah rahimahullaah pernah menceritakan tentang seorang mahasiswa yang sepenuh hatinya merasa bangga dengan ateisme yang dijadikannya sebagai prinsip hidup. Tuhan itu tak berwujud, katanya. Tuhan itu hanya ada dalam khayal manusia, katanya. Tapi dalam sebuah demonstrasi menuntut reformasi, ketika peluru berdesingan di atas kepalanya, ia tiarap juga sambil berteriak, “Ya Tuhan!” Ternyata pengakuan terhadap Tuhan belum berhasil ia buang dalam recycle bin hatinya.
Pada akhirnya, kematian adalah pembuktian yang paling nyata. Biarpun sudah menolak Tuhan dengan berapi-api dan mengklaim bahwa hidupnya adalah miliknya sendiri, toh akhirnya semua manusia menemui ajal juga. Suka tidak suka, semua akan mengalaminya. Boleh seenaknya di dunia, tapi akhirnya diseret juga ke akhirat.
Pasti ada juga yang menolak argumen ini. Kematian hanya membuktikan bahwa masa hidup manusia telah habis. Tak ada bukti jiwa manusia pergi ke suatu alam yang lain dengan alam dunia ini. Tak ada bukti bahwa Tuhan itu ada. Setelah hidup hanya ada kematian, dan di seberang kematian hanya ada ketiadaan.
Penyangkalan (denial) semacam ini tidaklah melukai siapa pun selain dirinya sendiri. Berusaha meng-uninstall program yang menjadi pondasi dari jiwa kita ibarat tanaman yang mencabut akarnya sendiri. Tak bisa membuang programnya, maka jiwanya sendirilah yang dicampakkan.
Tidak seorang pun manusia yang sungguh-sungguh percaya bahwa Tuhan itu tidak ada. Tidak Nietzsche (“God is dead”), tidak Karl Marx (“Religion is opium for the people”), tidak juga Fir’aun (“Aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku.”). Ketika ombak hampir menelan tubuhnya, Fir’aun pada akhirnya dipaksa mengaku juga bahwa ia hanyalah tulang, darah, daging, kulit, dan rambut. Sayangnya, penyesalan selalu datang terlambat. Meski sudah ke mana-mana mendakwakan bahwa Tuhan telah mati, pada akhirnya Nietzsche juga yang mati. Marx, yang punya ‘misi suci’ membebaskan umat manusia dari ‘opium’ yang membelenggu hidup mereka, pada akhirnya mati juga, sementara mereka yang beriman tetap saja beriman. Merekalah contoh manusia yang gagal menulis ulang program dirinya, karena sejak awal mereka memang tidak mengenal kode program yang sesuai.
Tidak ada seorang manusia pun yang sungguh-sungguh beriman akan ketiadaan. Pada hakikatnya semua manusia diciptakan dengan ego yang pasti akan menolak klaim bahwa dirinya tidak lebih daripada seekor hewan yang hidup tanpa tujuan pasti selain makan, berkembang biak dan bertahan hidup. Tak ada juga manusia yang mau menyamakan dirinya dengan benda mati yang tercipta dan hancur tanpa konsekuensi bagi dirinya sendiri. Kematianlah yang memberi makna pada kehidupan, dan kehidupan sesudah matilah yang memberi makna pada kematian.
Mereka yang percaya bahwa kematian itu ada, tapi kehidupan sesudah mati itu tidak ada, akan menjalani kehidupan dengan cara yang berbeda dengan kaum yang beriman. Jika kehidupan di dunia ini adalah satu-satunya yang mereka miliki, amboi betapa kacaunya dunia ini. Tak ada kebaikan, tak ada kemurahan hati, tak ada yang saling menolong, tak ada yang saling mendahulukan, dan tak ada yang saling mencintai. Semua orang hidup untuk dirinya sendiri-sendiri, memenuhi syahwat perut dan kelaminnya. Mereka memandang orang lain sebagai alat untuk memenuhi kebutuhannya sendiri; jika tak lagi berguna, maka siapa pun bisa disingkirkan. Demikianlah peradaban manusia yang ‘tanpa tuhan’.
Dalam peradaban paling biadab sekalipun, iman kepada Tuhan dan kehidupan akhirat masih tetap ada. Itulah yang menjaga manusia dari perilaku keji dan haus darah. Jika Allah subhanahu wa ta’ala tidak meng-install program yang terkoneksi langsung dengan-Nya dalam diri kita (dan juga menciptakan program lain yang mencegah siapa pun untuk meng-uninstall-nya), maka manusia sudah sejak dulu punah karena saling bunuh. Sementara binatang yang hanya punya syahwat tanpa akal saja jika terjepit bisa menjadi kanibal, apalagi manusia yang bukan hanya punya syahwat, tapi juga punya akal. Hewan buas yang kanibal hanya akan memangsa sesuai kapasitas lambungnya, sementara manusia yang ‘kanibal’ akan menciptakan kulkas untuk menyimpan korban-korbannya dalam jumlah banyak dan museum untuk memamerkan tulang-belulangnya.
Benarlah apa yang dikatakan oleh Buya Hamka. Beriman kepada Allah itu adalah hal yang terlalu terang untuk diterang-terangkan. Justru penolakan terhadap-Nya itulah yang begitu rumit untuk dijelaskan. Itulah sebabnya mereka yang keras kepala menolak Allah disebut “kafir” yang artinya “ingkar”. Mereka tak dapat mengubah kenyataan, melainkan hanya mengingkarinya saja.
Penulis : Akmal Sjafril
Sumber diambil dari : http://www.fimadani.com/tuhan/
Assalamualikum. Mau ngebahas ‘Pernikahan Beda Agama’ ya. Sesuai dgn Tafsir :QS.2:221 & QS:60:10
1. Segala puji hanya bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya,
2. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami.
3. Barangsiapa yg Allah beri petunjuk, mk tdk ada yg dpt menyesatkannya, dan siapa yg Allah sesatkan, mk tdk ada yg dpt memberinya petunjuk.
4. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adlh Kitabullaah dan sebaik-baik petunjuk adlh petunjuk Nabi Muhammad Shallallaahu a’alaihi wa sallam,
5. Sejelek-jelek perkara adalah yg diada-adakan, setiap yg diada-adakan adalah bid’ah
6. Dan setiap bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan itu tempatnya di Neraka.
7. #QS.2:221 berisi pengharaman dari الله سبحانه وتعالى bagi kaum muslimin u/ menikahi wanita-2 musyrik dr kalangan para penyembah berhala.
8. Pada #QS.2:221 yg dimaksudkan bukanlah kaum wanita musyrik secara umum yang mencakup semua wanita, #Tafsir #Nikah #BedaAgama
9. Allah Ta’ala telah mengkhususkan wanita Ahlul Kitab (boleh dinikahi) melalui firman-Nya: #Tafsir #Nikah #BedaAgama
10. “(Dan dihalalkan menikahi) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelummu, …” #QS.5:5
11. “… jika kamu telah membayar mas kawin mereka dgn maksud menikahinya, tdk dgn maksud berzina & tdk (pula) menjadikanny gundik.” #QS.5:5
12. “Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman.” #QS.2:221
13. Ibnu ‘Abbas berkata: “Dalam hal ini, Allah telah mengecualikan wanita-2 Ahlul Kitab.” (Ath-Thabari IV/362) #Tafsir #QS.2:221 #BedaAgama
14. Hal serupa juga dikatakan o/ ‘Ikrimah, Sa’id bin Jubair, al-Hasan, adh-Dhahhak, ar-Rabi’, dan ulama lainnya. (tahqiqi: DR. Al-Ghamidi).
15. Setelah menceritakan ijma’ ttg dibolehkannya menikahi wanita Ahlul Kitab, Abu Ja’far bin Jarir rohimaaullaah berkata: #Tafsir #QS.2:221
16. “Umar رضي الله عنه melarang menikahi wanita Ahlul Kitab, dengan alasan … #Tafsir #QS.2:221
17. agar orang-orang tidak meninggalkan wanita-wanita muslimah, atau karena sebab lain yang semakna.” (Ath-Thabari II/366) #Tafsir #QS.2:221
18. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dr Ibnu ‘Umar bhw ia membenci pernikahan dgn Ahli Kitab, dan menakwilkannya dengan ayat: #Tafsir #QS.2:221
19. “Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman.” #QS.2:221 (tahqiqi: DR. Al-Ghamidi). #Tafsir
20. Pd kitab Shahiih al-Bukhari telah ditegaskan dari Abu Hurairah رضي الله عنه , dari Nabi صلى الله عليه وسلم , beliau bersabda:
21. “(Alasan) wanita itu dinikahi adalah empat hal: karena harta, keturunan, kecantikan, dan agamanya. …
22. … Maka pilihlah wanita yang beragama, niscaya engkau beruntung.” (Fat-hul Baari IX/35) #Tafsir #QS.2:221 #Nikah #BedaAgama
23. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: “Dunia ini a/ harta benda, & sebaik-baik harta benda dunia a/ wanita shalihah.” (Muslim II/1090)
24. “Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik dengan wanita-wanita mukmin sebelum mereka beriman.” #QS.2:221 #Tafsir #BedaAgama
25. Nah yang ngaku beriman gimana nih kalo jatuh cinta sama yang #BedaAgama ?
26. Artinya, janganlah kamu menikahkan laki-laki musyrik dengan wanita-wanita beriman, sebagaimana firman Allah Ta’ala: #Tafsir #QS.2:221
27. “Mereka (wanita-wanita yg beriman) tdk halal bagi orang-orang kafir itu, dan orang-orang kafir itu tdk halal jg bagi mereka.” #QS.60:10
28. “Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun ia menarik hatimu.” #QS.2:221 #Nikah #BedaAgama
29. Maksudnya, seorang budak laki-laki yang beriman, meskipun seorang budak keturunan Ethiopia, #Nikah #BedaAgama
31. Maka ia adalah lebih baik daripada seorang laki-laki musyrik meskipun ia seorang pemimpin yang terpandang. #Nikah #BedaAgama
32. “Mereka mengajak ke Neraka.” #QS.2:221 Artinya, bergaul & berhubungan dgn mereka hanya akan membangkitkan kecintaan kepada dunia saja.
33. Berusaha memperolehnya serta lebih mengutamakan kenikmatan dunia daripada akhirat akan berakibat buruk. #Tafsir #Nikah #BedaAgama
34. “Sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya.” #QS.2:221 melalui perintah dan larangan-Nya. #Tafsir
35. “Dan Allah menerangkan ayat-ayat (perintah-perintah)-Nya kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.” #QS.2:221 #Tafsir #BedaAgama
36. Itu tadi penjelasan #QS.2:221 dimana wanita Ahli Kitab masih boleh menikah dengan kaum Muslimin. #Tafsir #BedaAgama
37. Lalu diturunkan #QS.60:10 sbg pengharaman Allah Ta’ala bagi wanita muslimat atas laki-2 musyrik & wanita musyrik atas laki-2 beriman.
38. Jika pd ayat #QS.2:221 para Ahli Kitab masih الله سبحانه وتعالى halalkan, mk mari kita simak ayat yg diturunkan selanjutnya #QS.60:10
39. “Mereka tidak halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tidak halal bagi mereka.” QS.60:10 #Tafsir #Nikah #BedaAgama
40. Pada awal kedatangan Islam, seorang laki-laki musyrik boleh menikahi seorang perempuan muslim, #Tafsir #QS.60:10 #Nikah #BedaAgama
41. Oleh karena itu Abul ‘Ash bin ar-Rabi’ telah menikahi puteri Nabi yang bernama Zainab. #QS.60:10 #Tafsir
42. Pada saat itu Zainab adalah seorang muslimah sedangkan Abul ‘Ash dalam agama kaumnya. #QS.60:10 #Tafsir
43. Ketika Abul ‘Ash menjadi tawanan perang Badar, isterinya (Zainab) mengutus u/ menebusnya dgn kalung pemberian ibunya, Khadijah. #Tafsir
44. Ketika Rasulullah صلى الله عليه وسلم melihatnya, hati beliau sangat terenyuh dan pilu. Beliau bersabda: #QS.60:10 #Tafsir #Nikah
45. “Apabila kalian berpendapat untuk melepaskan tawanannya maka lepaskanlah.” #QS.60:10 #Tafsir #Nikah #BedaAgama
46. Rasulullah صلى الله عليه وسلم pun melepaskan Abul ‘Ash dengan syarat agar dia mengirimkan Zainab kepada Rasulullah. #QS.60:10 #Tafsir
47. Abul ‘Ash pun setuju, ia mengutus Zainab kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersama Zaid bin Haritsah رضي الله عنه #QS.60:10 #Tafsir
48. Zainab tinggal di Madinah setelah perang Badar, hingga suaminya masuk Islam sebelum perjanjian Hudaibiyah dan sebelum turunnya ayat ini.
49. Abu ‘Ash pun kembali menikahi Zainab dengan mas kawin yang lama. (Shahiih Abi Dawud 2341). #Tafsir #QS.60:10
50. “Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir.” #Tafsir #QS.60:10
51. Jelas bahwa #QS.60:10 merupakan pengharaman Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman untuk menikahi wanita-wanita musyrik.
52. Dalam hadits shahih, ketika Rasulullah صلى الله عليه وسلم membuat perjanjian bersama orang-orang kafir Quraisy pada hari Hudaibiyah,
53. Para perempuan mukmin mendatangi beliau. Maka turunlah ayat #QS.60:10 ini. #Tafsir
54. Saat itu juga ‘Umar bin al-Khaththab ceraikan 2 perempuan, salah satunya yg dinikahi o/ Mu’awiyah bin Abi Sufyan. (Fat-hul Baari V/391).
55. “Demikianlah hukum Allah yang ditetapkan-Nya diantara kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” #QS.60:10 #Tafsir #BedaAgama
56. Demikian #QS.2:221 dan disempurnakan kembali oleh الله سبحانه وتعالى dengan diturunkannya #QS.60:10 #Tafsir #Nikah #BedaAgama
57. Maka jelas bhw الله سبحانه وتعالى haramkan wanita muslimat atas laki-2 musyrik, begitu juga dengan wanita musyrik atas laki-2 beriman.
58. Mau selamat? Jangan ikuti orang2 atau sekelompok orang yg sengaja atau ingin membelokkan ya, dan orang fasiq tapi ikuti Allah Ta’ala dan Rasul-Nya.
59.
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْـتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
Sekian. Semoga manfaat