Kisah ini mungkin pernah Anda dengar sebelumnya, kisah yang memberikan pemahaman akan keikhlasan menjalani hidup ……………………………..
Sahabatku yang dimuliakan Allah, kisah dimulai di negri yang jauh di Kerajaan A dan Kerajaan B. Alkisah, Raja di kerajaan A (sebut saja Raja A), selama memerintah selalu bersikap kejam dan lalim, sementara sebaliknya dengan Raja B di kerajaan B adalah Raja yang memiliki sikap yang bijak, adil dan menentramkan rakyatnya.
Pada suatu ketika, Raja di kedua kerajaan ini mengalami sakit keras dalam waktu yang hampir bersamaan. Seluruh tabib di kedua kerajaan telah dikerahkan untuk mengobati raja-raja ini, namun apa daya, tidak ada satupun tabib yang mampu mengobati. Hingga datang suatu tabib dari negri antah-berantah yang secara bergiliran mendatangi kerjaaan A dan B.
Lalu, Tabib mengatakan bahwa obatnya adalah seekor ikan, sebut saja bernama ikan kunang-kunang, yang berdasarkan pengalaman selama ini, ikan tersebut hanya akan ada sepuluh tahun sekali alias sangat sulit didapatkan di perairan negri yang bertentangga itu. Kedua kerajaan memerintahkan para punggawanya untuk berlayar mencari obat mujarab itu. Singkat cerita, Ketika kapal kerajaan A baru berlayar seharian, tiba-tiba tanpa dinyana seorang awak kapal berteriak girang karena berhasil menemukan ikan yang dimaksud. Tentulah girang, karena pengawal-pengawal kerjaan A jadi terbebas dari hukuman mati jika tidak mendapatkan ikan tersebut. Bergegas kapal merapat kembali ke pelabuhan untuk menyerahkannya pada Tabib. Setelah Tabib mengobati Raja A dengan ikan tersebut, seperti dapat diduga, Raja A segera sembuh dari sakit keras seperti sedia kala.
Sementara para pengawal kerajaan B dilandasi cinta kasih pada sang Raja B, dan demi kesembuhan sang Raja B, berlayar tidak tentu arah selama berhari-hari, berminggu-minggu hingga akhirnya berbulan-bulan kemudian mereka pulang dengan tangan hampa. Dan sesuai perkiraan rakyat mereka, Raja B tidak dapat bertahan, sakit makin parah hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhir, Sang Khalik mengambil nyawanya.
Maka…………., berkumpullah para malaikat untuk bertanya kepada Allah, tentang arti KEADILAN. Dan Allah pun menjawab “Sesungguhnya Aku mengetahui yang engkau tidak ketahui wahai makhlukKu. Sebenarnya, dimasa hidupnya Raja A pernah satu kali berbuat kebaikan, dan karena AKU tidak ingin memberikan balasannya di alam surga, maka aku balaskan kebaikan itu di bumi. Sementara, Raja B pernah satu kali berbuat kesalahan semasa hidupnya. Padahal kita mengenalnya sebagai raja yang sangat adil, kasih sayang, dan penuh kebaikan kepada rakyatnya. Bukankah malaikatKu tahu bahwa adil itu dekat kepada Taqwa? Dan karena kasih sayangKu pada hambaKu yang bertaqwa itu, AKU tidak ingin dia mendapat siksa di Neraka, sehingga AKU percepat siksaan itu di dunia dengan jalan menyulitkan kematiannya agar dia kembali kepada Ku dengan jiwa yang suci”.
Demikianlah Sahabatku yang dimuliakan Allah, Sering kali kita merasa, mengapa saya yang sudah begitu ikhlas beribadah kepada Allah, sering bersedekah, selalu taqwa pada Allah, masih menerima cobaan berat? Mengapa temanku yang bahkan mengenal Tuhan pun tidak, kok hidupnya enak, mengapa Allah seperti tidak berhenti memberikan rejeki dan nikmat buatnya? Sementara aku?
Sahabatku yang dimuliakan Allah, Padahal kita pasti mengenal hadits ini: “Apabila Allah menghendaki hamba-Nya mendapatkan kebaikan maka Allah segerakan baginya hukuman di dunia. Dan apabila Allah menghendaki keburukan maka Allah akan menahan hukumannya sampai disempurnakan balasannya kelak di hari kiamat” (HR. Muslim).
JIka sudah demikian, mengapa kita harus iri terhadap nikmat orang lain, mengapa kita curiga atas ketentuan Allah, mengapa kita masih merasa “tidak layak” menerima cobaan ini karena ibadah kita? Karena Allah memiliki caraNya untuk mengasihi HambaNya, Tetaplah selalu berhusnudzon pada Allah, karena ALLAH TAHU YANG TERBAIK UNTUK KITA. Apakah musibah yang diberikan, ataukah Adzab, bahkan Istidraj.. bersabar terhadap semua ketentuan Allah agar hidup menjadi lebih ikhlas, lebih tenang…*satu lagi, kalo kata ustadz Yusuf Mansyur: *“Emang klo kite udah taqwa, Allah ga boleh lagi ngasih kite cobaan?* Dari mana rumusannye?
Wassalamualaikumwrwb..
Enny.K
*re-written 27 Juni 2011*
Assalamualikum, kembali kami mendapat kultwit bermutu dari mas @mamoadi. Silahkan dicermati…
1. Segala puji hanya bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya,
2. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami.
3. Barangsiapa yg Allah beri petunjuk, mk tdk ada yg dpt menyesatkannya, dan siapa yg Allah sesatkan, mk tdk ada yg dpt memberinya petunjuk.
4. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adlh Kitabullaah dan sebaik-baik petunjuk adlh petunjuk Nabi Muhammad Shallallaahu a'alaihi wa sallam,
5. Sejelek-jelek perkara adalah yg diada-adakan, setiap yg diada-adakan adalah bid'ah
6. Dan setiap bid'ah itu sesat dan setiap kesesatan itu tempatnya di Neraka.
7. #Tawadhu’ adalah #Akhlak mulia seorang muslim. Akhlak yg membedakan dirinya dgn orang kafir dan zhalim.
8. Dengan #Tawadhu’ , seorang muslim menanam banyak kebaikan yang akan ia petik dalam kehidupan akhir.
9. Ibnu Utsaimin rahimahullah, “#Tawadhu’ adalah lawan kata dr ta'aali (merasa tinggi, tinggi hati).
10. #Tawadhu’ ialah seseorang tdk merasa dirinya mulia serta tdk memandang rendah orang lain, baik sisi ilmu, nasab, harta, kedudukan, dll.
11. #Tawadhu’ kpd agama Allah Ta'ala ialah tdk merasa tinggi & lebih benar dr agama Allah. Tidak takabbur terhadap syariat dan hukum-2-Nya.
12. #Tawadhu’ kpd hamba-2 Allah adlh dlm rangka #Tawadhu’ kpd Allah. Bukan karena takut kepada mereka atau mengharapkan sesuatu dari mereka.
13. Maka wajib seorang muslim merendahkan diri di hadapan kaum muslimin dan #Tawadhu’ seperti Rasulullah #Tawadhu’ kpd org2 yg beriman.
14. "Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.” #QS.26:215 #Tawadhu’
15. Rendahkanlah dirimu, bicara dgn kelembutan nan penuh cinta kasih, berakhlak mulia & berbuat baik kpd mereka, org2 yg beriman. #Tawadhu’
16. “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka.” #QS.3:159 #Tawadhu’
17. “Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” #QS.3:159 #Tawadhu’
18. “Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” #QS.3:159 #Tawadhu’
19. Itulah #Akhlak para Nabi yg sgt mulia. Bersikap lemah lembut dan #Tawadhu’ kpd orang-2 yg beriman dan bersikap keras kpd orang-2 kafir.
20. Bagaimana dengan kita kaum muslimin? Kepada siapakah kita berlemah lembut dan ber-#Tawadhu’?
21. Apakah kita ber-#Tawadhu’ kpd sesama muslim? Atau kita malah ber-#Tawadhu’ kpd golongan saja? Atau kpd orang kafir nan zhalim?
22. Kemuliaan tdk diukur dgn ukuruan dunia. Tdk dengan harta, tdk dgn ilmu, tdk dengan kedudukan begitu juga tidak dengan pangkat. #Tawadhu’
23. Kemuliaan seseorang diukur dengan ukuran ketakwaan kpd Allah, sebagaimana firman-Nya : #Tawadhu’
24. “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu.” #QS.49:13 #Tawadhu’
25. Janganlah kita anggap diri kita lebih baik dr org2 yg bertakwa. Tdk ada yg mengetahui jati dirinya lebih bertakwa dr org lain. #Tawadhu’
26. “Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” #QS.53:32 #Tawadhu’
27. Janganlah kalian memberitahukan kpd manusia lain bahwa kalian itu suci dalam rangka memuji dan menyombongkan diri sendiri. #Tawadhu’
28. Sejatinya, ketakwaan itu tempatnya di hati. Dan hanya Allah Azza wa Jalla yang mengetahuinya serta hanya Dia yg membalasnya. #Tawadhu’
29. Sepatutnya kita tdk memandang diri lebih baik dr muslim lain, krn kita tdk mengetahui kebaikan yg tersembunyi yg dilakukannya. #Tawadhu’
30. Selayaknya seorang muslim adalah #Tawadhu’ dan belajar melaksanakannya.
31. Aisyah radhiallahu anhu dalam kitab min akhbaaris salaf, “Sesungguhnya kalian benar2 lalai dr ibadah yg palng afdhal, yaitu #Tawadhu’ !”
32. Semoga Allah Azza wa Jalla mengkaruniakan kepada kita sikap #Tawadhu’ , amin
Wallahu Ta'ala A'lam.
twitter : @mamoadi