Salam ini ada tulisan dari mbak Enny Kusrini ( @3nnyk ) Silahkan,
Aswrwb wahai sahabat yang dimuliakan alloh,
Sebagian dari kita pasti pernah mendengar kalimat amar ma’ruf nahi munkar, mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran. Namun sering juga kita merasa mengapa sih berbuat baik kok harus mengajak-ajak?, lantas orang berbuat maksiat kok kita sibuk ikut mengurusi? ya urusan dosa kan urusan masing masing, bukankah itu urusan ustadz saja? Jangan saling mengambil lahan masing masing laaah..kelak ustadz dan ustadzah tidak ada kerjaan…hehhe berbagai protes bermunculan.
Baiklah, mari kita lihat dari sudut pandang lain, Jika kita mempertanyakan Mengapa kita tidak pernah boleh berdiam diri ketika melihat kemunkaran di depan mata kita (lha iya wajar dong bertanya begini tho, wong dia dosa, ya dosa sendiri, mabuk ya mabuk sendiri kok, uangnya ya uang dia sendiri..kok repot, iya kalau tidak dimarahi, kalau dia malah berbalik emosi terhadap kita, bagaimana?)…
Ustadzah Wirianingsih pernah bercerita, kita Ibaratkan hidup ini seperti kapal yang sedang membawa kita ke akhirat, ke pantai Syurga. Kapal tersebut seluruhnya berbentuk kamar-kamar dengan penumpang didalamnya. Namun jika kita simak lebih dekat, Ada sebagian golongan penumpang yang sepanjang perjalanan kerjanya hanya membolongi kamarnya sendiri, sementara penumpang lain tahu tapi memilih berdiam diri di dalam kamar dan tidak juga mencegah perbuatan itu meski hal itu membahayakan. Kita pasti tidak heran lagi bila dalam perjalanannya, kapal itu tidak pernah sampai ke tujuan karena tenggelam. Artinya penumpang yang tidak membolongi kapal dan tidak juga melarang penumpang lain membolongi kapal juga terkena dampak dari perbuatan itu.
Begitu juga dengan hal tadi, ketika kita mendiamkan orang lain berbuat maksiat sementara kita tahu, namun kita diam saja, maka disuatu masa, disuatu saat dampak perbuatannya akan mengena pada diri kita juga. (contoh paling gampang AIDS, dulu kita diam saja kan? Karena ya salah mereka kok, mau-maunya berbuat sesama jenis? namun sekarang, pernah kah kita tidak takut pada saat kita “terpaksa” menjalani transfusi darah, Apa iya tidak terlintas pikiran, darah yg dimasukkan ke tubuh saya steril tidak ya atau jangan jangan………? Atau ke pada saat di toilet umum kantor (bagi perempuan nihhh), terlintaskah dalam pikiran kita, toilet duduk ini habis digunakan teman saya yg free sex, duhh menular ga ya klo ada penyakit dia ? see???? dampaknya sudah terjadi pada kita kan?).
Setelah kita pada sampai ada pemikiran ini, mudah mudahan kita tidak lagi berfikir, bahwa mengajak kepada kebaikan (dan bernilai ibadah) bukan lagi hak prerogative Ustadz ustadzah, namun kewajiban kita semua jika kita menginginkan kita hidup lebih baik dan sampai ke syurga. Selain itu setiap kita disadari atau tidak, memiliki kewajiban berdakwah, ya itu tadi, amar ma’ruf nahi munkar. Allah berfirman, “Wahai Anakku, Laksanakanlah shalat dan suruhlah (manusia) berbuat yang ma’ruf dan cegahlah (mereka) dari yang munkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting” (QS (31) : Al-Luqman ayat 17). Dengan cara kita masing masing, dengan kapasitas kita masing masing, dimana kapasitas dan tanggung jawab seorang presiden, anggota DPR, atau ustadz/ah, yang pastinya lebih besar dari pada kita, kita tetap dimintai pertanggungjawaban oleh Alloh dalam rangka mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran.
Selain itu, Di hari akhir ketika kita berjumpa dengan Alloh dan Alloh mempertanyakan apakah kita telah mengingatkan si Fulan akan bahaya perbuatan maksiatnya, maka kewajiban kita di hadapan alloh telah gugur karena kita telah mengingatkan dan mengajak si fulan pada kebaikan, atau juga kita pasti ditegur Alloh dan dimintai tanggung jawab, karena sepanjang hidup kita di kantor tidak pernah satu kalipun kita mengajak dan mengingatkan rekan kerja kita untuk bersholat lima waktu karena sifat ibadahnya yang wajib, dan serta mengenalkan lebih jauh tentang islam. Alangkah sisa-sia amal kebaikan kita, karena kita lupa mengingatkan orang sekitar kita. Karena mencegah kemunkaran berpotensi menahan langkah kita memasuki Syurga Alloh yang penuh kenikmatan itu.
Dan dakwah yang baik , dimulai dari keluarga kita dahulu, sebelum memperbaiki ummat, perbaiki dulu keluarga kita agar tidak jadi bumerang dikemudian hari. Ada beberapa alasan, sebagai contoh, Untuk seorang laki laki : yang menjadi tanggung jawabnya dalam upaya perbaikan akhlak adalah ibunya, istrinya, anak perempuannya, serta saudara perempuannya (berat ya jadi laki laki?). Jika dia –dengan amal perbuatannya, timbangan amalnya menentukan dia masuk syurga–, proses memasuki syurga-nya dapat tertahan karena anak perempuannya mengadu kepada alloh “Bapakku tidak pernah mengajarkan ku kebaikan dan dia tidak pernah meluruskan ku ketika aku salah dan tidak juga mengajarkan sholat lima waktu Ya Rabb !”. ingat ayat yang mengatakan “Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” ?
Akhir kata, teringat pada perkataan Abdullah bin Azzam-seorang syuhada dari Afghanistan, yang mengatakan, ukuran keberhasilan dakwah seseorang adalah : apabila di dalam keluarganya, ada seseorang yang lebih sholeh dari pada yg mendakwahi. Artinya nasehat yg telah disampaikan itu telah sampai ke keluarga dan telah diterapkan dengan baik. Sudahkah kita begitu?
Satu kunci ketika ber amar ma’ruf nahi munkar, ikhlaskan hati, luruskan niat, bahwa semua itu dilandasi karena alloh, karena kewajiban kita adalah melakukan proses, masalah hasil akhir adalah urusan alloh. Hidayah adalah urusan alloh, bukan paksaan kita. Nabi Nuh AS sepanjang 950 tahun berdakwah ummatnya HANYA 80 (delapan puluh) orang! anak dan istri nabi Nuh AS saja bukan pengikut nabi.Seorang ustadz negri ini saja, perlu waktu belasan tahun mendakwahi seorang pembesar negri untuk kemudian menuai hasilnya. Karena itu tadi, hasil akhir adalah urusan Alloh, Mudah mudahan hal ini dapat membesarkan hati jika nanti hasil tidak sesuai harapan.
Sahabat yang dirahmati Alloh, selamat beramar ma’ruf nahi munkar, selamat bertaqarrub-mendekatkan diri dengan Alloh, karena sejauh mana kedekatan kita kepada Alloh sejauh itu pulalah Alloh mendekatkan persoalan kita dengan solusi. Semoga tidak ada lagi waktu kita yang tidak bermanfaat, karena setiap nafas kita adalah diarahkan untuk kebajikan.
Akhir kata, selamat beramar ma’ruf nahi munkar, ingat bawah setiap cobaan diberikan alloh bukan untuk mematikan langkah dakwah, namun agar iman kita “naik kelas” setiap saat.
Wass wrwb
Disarikan dari berbagai sumber ceramah dan nasehat.
19 April 2009
Note: Dakwah bukanlah kata kata yg mengerikan bukan pula harus berarti berceramah di depan public, mengajarkan mengaji pada orang orang, namun yaitu ketika kita mencegah seseorang menimbulkan bahaya dari perbuatannya, atau berbicara baik, santun, keikhlasan, atau lagi, sebagai pekerja kita bekerja dengan baik, menjaga “amanah waktu”-tidak membolos, Menjadi suri tauladan dalam perbuatan keseharian, juga sudah merupakan dakwah jika semua diniatkan karena alloh,
IslamDiaries berterimakasih banyak kepada mbak Enny
Seorang ustadz memberi nasihat agar dalam setiap rumah tangga hendaknya cinta dibangun di atas pernikahan, dan bukan sebaliknya. Jika cinta dibangun di atas pernikahan, maka ia mendapat landasan yang sah dan dibenarkan oleh agama. Namun jika pernikahan dibangun di atas cinta, entah cinta yang bagaimana yang dijadikan landasan, sebab sejak awal tidak jelas aturan mana yang menuntun cinta itu.
Dahulu ada ungkapan “cinta itu buta”, kini malah ada yang berseru bahwa “cinta takkan salah”. Dulu, orang masih mau mengaku terus terang bahwa cinta dalam hati bisa saja salah sasaran, karena ia buta. Sekarang, orang sudah terlanjur Haqqul Yaqiin pada cinta, sehingga sikapnya pada cinta sudah sama seperti sikap seorang Muslim pada Al-Qur’an; laa rayba fiihi (tiada keraguan di dalamnya).
Islam memang mengajari manusia untuk membangun cinta di atas pernikahan. Menikah dulu, baru bicara cinta. Kalau belum menikah, tak perlu lancang bicara cinta. Pernikahan adalah satu-satunya institusi sah yang menaungi cinta dari sepasang manusia. Agama mengatur dengan tegas aturan-aturan pernikahan; ada mahar, ada ijab-qabul, ada saksi. Yang mendahului semua itu tentunya adalah kesepakatan, yaitu sepakat untuk menjadikan agama sebagai penuntun. Jika menikah berdasarkan Islam, maka rukunnya begini dan begitu. Kewajiban suami menurut Islam adalah begini-begitu, kewajiban istri menurut Islam adalah ini dan itu. Akhlaq pada suami atau istri menurut Islam begini, akhlaq pada anak-anak begitu, dan akhlaq pada mertua begini dan begitu.
Bayangkan jika tidak pernah ada kesepakatan sebelumnya. Yang penting cinta; saya cinta dia, dia cinta saya. Saya suka sikapnya yang begini-begitu, dia suka sikap saya yang begini-begitu. Padahal sebelum menikah keduanya sama-sama jaim. Setelah menikah, baru keluar semua sifat aslinya. Ketika terjadi masalah, karena sejak awal tidak ada kesepakatan untuk mengikuti tuntunan agama, maka sibuklah mereka bertengkar. Menurut suami begini, maunya istri begitu. Kecenderungan suami begini, tapi istri ngotot ingin begitu. Suami sifatnya begitu, istri tak mau tahu. Istri senangnya begini, suami sebodo amat. Padahal Islam sudah mengajarkan cara berumah tangga yang baik, menyenangkan pasangan, menjaga perasaannya, menerima kekurangannya, mengompromikan hal-hal yang bisa dikompromikan, dan seterusnya.
Pada titik ini, mungkin Antum merasa heran mengapa judul artikel ini sama sekali tidak menyebut soal cinta. Memang poin penting yang dibicarakan di sini bukanlah soal cinta, karena cinta itu alamiah saja dan sudah terlalu jelas untuk dijelas-jelaskan. Cinta tidak perlu penjelasan. Yang dibutuhkannya adalah tuntunan. Sekarang pertanyaannya, sejauh apa komitmen kita untuk mematuhi tuntunan tersebut? Cinta tidak lain hanyalah satu dari sekian banyak masalah dalam hidup.
Dalam peradaban Barat yang sudah terlanjur sekuler, kebenaran dianggap sebagai hal yang relatif. Menurut Anda benar, menurut orang lain belum tentu. Untuk segala ketidaksetujuan, tidak diperlukan alasan yang bernas. Artinya, orang boleh saja tidak setuju, meski tanpa alasan bisa dicerna oleh akal sehat. Kalau kita katakan minuman keras itu haram, tidak boleh dikonsumsi karena kita punya data seribu satu keburukannya, maka orang lain boleh saja menampik semua data tersebut hanya dengan alasan bahwa kebenaran itu relatif. Akhirnya, negara-negara sekuler tak mampu melarang masyarakatnya untuk mengkonsumsi minuman keras, walaupun mereka juga tak bisa menjelaskan secara ilmiah mengapa zat berbahaya semacam itu harus dikonsumsi. Akhirnya mereka buatlah peraturan; kalau mabuk tak boleh menyetir. Tapi tetap saja kecelakaan lalu lintas akibat mabuk menempati posisi tertinggi di negara-negara semacam itu. Belum lagi kasus-kasus kecelakaan lainnya, kekerasan dalam rumah tangga dan seterusnya, yang penyebabnya sama-sama miras.
Kalau manusia modern dengan yakinnya berkata bahwa kebenaran itu relatif, maka kini telah tiba era post-modern yang ditandai dengan penolakan terhadap kebenaran itu sendiri. Manusia sibuk berfilsafat, awalnya mencari kebenaran, namun kini malah menolak untuk mengakui bahwa kebenaran itu ada. Tidak ada yang benar atau salah, yang ada hanya kesepakatan. Kalau Kongres AS sepakat bahwa menginvasi Irak dan Afghanistan itu perlu dilakukan, maka hal itu bisa dilakukan. Bukan soal benar dan salah, karena setiap orang hanya merepresentasikan dirinya masing-masing. Urus urusan sendiri, tak usah pikirkan orang lain. Kalau ada kepentingan bersama, bolehlah berkompromi, asalkan ada win-win solution.
Dalam dunia yang semakin sekuler ini, kita melihat dengan jelas bahwa kebenaran itu semakin dibuat buram, bahkan hendak dihapus sekalian. Jika dulu orang sibuk memperdebatkan kebenaran, maka kini orang hanya memperjuangkan kepentingan masing-masing. Puluhan tahun hidup di dunia, mungkin baru di akhir hayatnya sajalah jiwa-jiwa sekuler ini mau berpikir tentang kebenaran.
Sumber: http://www.fimadani.com/kebenaran/
Akmal Sjafril