Seorang ustadz pernah mengatakan bahwa Islam adalah satu-satunya ideologi yang memiliki ‘manusia acuannya’; siapa lagi kalau bukan Rasulullah shalallahu ‘alaihi was salam. Posisi beliau sebagai uswatun hasanah adalah bagian tak terpisahkan dari ajaran Islam, bahkan ia adalah bagian fundamental dari aqidah, dan karenanya dicantumkan secara eksplisit dalam syahadatain. Tanpa mengucap syahadatain, jangan harap bisa mengaku sebagai Muslim. Tidak memenuhi syarat.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi was salam sendiri disebut oleh ‘Aisyah ra sebagai ‘Al Qur’an berjalan’, karena akhlaq-nya adalah sebagaimana yang diajarkan oleh Al Qur’an. Kata-katanya, perbuatannya, sikap hidupnya, bahkan diamnya, adalah pengejawantahan yang pasti terhadap kandungan Al Qur’an. Ada saja yang bertanya, “Lantas mengapa Rasulullah shalallahu ‘alaihi was salam pun pernah berbuat salah, misalnya bermuka masam, hingga dikisahkan dalam Surah ‘Abasa?”

Ya, memang beliau pernah berbuat salah, namun setiap kesalahannya selalu ditegur langsung oleh Allah SWT dan beliau langsung memperbaikinya. Itulah makna ma’shum. Allah perlu menurunkan manusia teladan yang sesekali berbuat salah, agar mereka yang meneladaninya juga tahu apa yang mesti diperbuat jika berbuat salah. Memperbaiki kesalahan adalah bagian dari ajaran agama. Kalau teladannya tak pernah berbuat salah, dan karenanya juga tak pernah memperbaiki kesalahan, maka umat Islam hingga akhir jaman niscaya akan kebingungan terus-menerus.

Kalau ingin memahami Islam, maka tengoklah Rasulullah shalallahu ‘alaihi was salam. Ini adalah rahmat yang hanya Allah berikan kepada umat Islam. Adapun ideologi-ideologi lain, mereka senantiasa kesusahan menentukan siapa yang hendak jadi acuan. Soekarno dan Soeharto, misalnya, adalah pahlawan pembela Pancasila, tidak diragukan lagi. Akan tetapi apakah kepemimpinan keduanya adalah acuan yang baik untuk menafsirkan Pancasila?

Karl Marx adalah acuan bagi Marxisme, sebuah ideologi yang bermimpi bisa memperbaiki keadaan di dunia. Pada kenyataannya, Karl Marx adalah pribadi yang tak bisa mengurus diri sendiri. Kehidupannya berantakan, keluarganya tak terurus, pemasukan hanya dari penerbitan tulisan-tulisannya yang sepenuhnya diusahakan oleh sahabatnya, Engels, kesehatannya rusak, kamarnya selalu penuh dengan asap rokok, bahkan istrinya pun menganggapnya menjijikkan. Itulah Marx yang tak mampu mengurus diri sendiri namun berfantasi hendak mengatur dunia.

Siapa acuan bagi agama Kristiani? Paus disebut sebagai pribadi suci oleh umat Katolik, namun pada kenyataannya dahulu pernah diangkat para Paus yang perilakunya tidak suci, sehingga sepeninggalnya ia malah dianggap murtad dan disebut ‘anti-Paus’ (antipope). Paulus dianggap sebagai peletak dasar ajaran Kristiani yang kita kenal hari ini, namun ia justru meralat ajaran Yesus. Di puncak, ada Yesus, tentu saja. Namun Yesus bahkan tidak pernah mengaku sebagai Tuhan.

Siapa yang bisa menjadi acuan bagi demokrasi, baik pribadi, institusi atau negara? Bahkan negeri para filsuf Yunani yang merupakan kampung halaman istilah “demokrasi” itu sendiri tidak selalu bersikap demokratis. Para pejuang demokrasi banyak yang dibenci orang justru lantaran tidak demokratisnya. Kalau yang bicara demokrasi adalah Amerika Serikat atau Israel, jangan salahkan kalau banyak orang yang tertawa terbahak-bahak.

Liberalisme adalah paham yang, saking tak ada acuannya, dianggap sebagai fantasi belaka. Negeri-negeri yang mengusung liberalisme justru menolak kebebasan. Mau menutup aurat saja diprotes. Mau memanjangkan janggut saja dipermasalahkan. Mau bangun masjid saja dipersulit. Mau ijin shalat di tengah-tengah rapat saja dianggap fundamentalis. Mau mengatakan bahwa agamanya adalah yang paling benar saja dituduh radikal.

Lain halnya untuk masalah-masalah yang memanjakan hawa nafsu, ada saja pembenarannya. Entah berapa banyak film dibuat dengan mengarahkan simpati pada salah satu tokoh yang berprofesi jadi pelacur. Bahkan para aktris merasa tertantang untuk berperan jadi pelacur. Orang ‘bebas’ untuk merusak sel-sel otaknya sendiri dengan alkohol, bebas menebar penyakit kotor dengan berganti-ganti pasangan, bahkan di beberapa tempat, seks dan narkoba sudah menjadi bisnis yang legal. Kabar terakhir, Indonesia ikut-ikutan hendak melegalkan ganja, meski dalam jumlah terbatas.

Beruntunglah umat Islam karena punya teladan terbaik yang bisa menjadi acuan. Teladan tersebut bukanlah Superman; ia tidak terbang, tidak kebal peluru, tidak berlari secepat kereta Shinkansen, tidak bisa meniup lawan hingga beku, atau memelototinya hingga terbakar. Beliau adalah sebenar-benarnya manusia yang segala tingkah lakunya menjadi perhatian para sahabatnya dan terus menjadi bahan kajian kita hingga detik ini. Jangankan kata-kata indah dan perbuatan mulianya, bahkan kesalahan beliau pun menjadi teladan bagi kita. Darinya kita belajar cara bersikap santun, mencintai sesama, membangun keluarga, meminta maaf, menjaga komitmen, memenuhi janji, meng-hisab diri, memperbaiki diri, hidup zuhud, menjaga silaturrahim, dan seterusnya.

Janganlah heran jika sunnah Rasul shalallahu ‘alaihi was salam menjadi salah satu titik yang paling sering dijadikan sasaran oleh kaum orientalis dan musuh-musuh Islam. Begitu umat Islam mulai meragukan Rasulullah shalallahu ‘alaihi was salam, terombang-ambinglah ia dalam kesesatan, karena ia tak lagi memiliki acuan.

Sumber: http://www.fimadani.com/sunnah/

Akmal Sjafril

Pembenaran tidak sama dengan kebenaran. Kebenaran itu satu, tapi pembenaran bisa seribu satu. Meskipun sama-sama menggunakan kata dasar “benar”, namun makna “kebenaran” dan “pembenaran” justru kontradiktif. Jika kebenaran itu selalu didukung fakta, maka pembenaran justru biasanya merekayasa fakta.

Belakangan ini, televisi dibanjiri pemberitaan tentang artis perempuan yang usia kandungannya lebih tua daripada usia pernikahannya. Menikah sebulan, tapi hamil sudah empat bulan. Tidak ada yang bertanya, tapi dia sendiri yang mengumumkan. Sekarang, seluruh dunia sudah tahu sama tahu.

Bagi setiap kesalahan, ada saja pembenarannya. Sebelum berbuat, akal manusia pun seringkali sudah mengarang sekian banyak pembenarannya. Ah, nggak sampai segitunya kok. Ah, cuma coba-coba. Ah, cuma nyerempet-nyerempet. Ah, cuma sekali. Ah, cuma sesekali. Ah, yang penting nggak merugikan orang lain. Ah, nggak perlu ada orang lain yang tahu. Begitu terus sampai akhirnya tiba pada jurus pamungkas, “Ah, yang penting bertanggung jawab!”

Dibuatlah berbagai perbandingan. Lebih baik begini daripada mereka yang tidak bertanggung jawab, mau berbuat tapi ogah mengaku. Lebih baik berbuat kemudian menikah secara bertanggung jawab, daripada harus aborsi seperti orang-orang labil itu. Lebih baik yang begini daripada korupsi. Lebih baik bercinta daripada meledakkan bom. Sampai kehabisan napas mengumbar berbagai perbandingan, tak sekalipun kata “zina” disebut. Sayang, mereka yang menikah baik-baik dan hamil di waktu yang wajar tidak masuk dalam perbandingan.

Belum cukup sampai di situ, sibuklah sang artis berteori di depan layar televisi. “Ini cuma masalah waktu,” katanya. Seks baginya hanya masalah waktu. Kalau sudah berkomitmen, bolehlah mendahului akad. Mungkin ia lupa bahwa akad itulah yang menandakan teguhnya komitmen. Kalau komitmen tak perlu ditegaskan oleh akad, maka institusi pernikahan pun tidak lagi bermakna. Semua orang boleh mengaku berkomitmen, tanpa perlu bersusah payah mengucap akad di hadapan para saksi. Padahal yang sudah mengucapkan akad pun masih banyak yang berkhianat pula. Ah, bicara soal pengkhianatan terhadap komitmen, tidakkah ini seperti deja vu?

Sebagai pembenaran tambahan, diberikan pula suatu fakta yang diakui secara konsensus namun tidak relevan, “Kami sudah sama-sama dewasa!” Ya, justru kedewasaan itulah salah satu faktor yang mengantar kita pada pembatasan hubungan antara dua manusia yang berlainan jenis. Satu fakta memang bisa dipandang berbeda dari dua kacamata yang berbeda, apalagi kacamata kebenaran dan kacamata pembenaran yang memang selalu terlibat konflik bersenjata.

Sekarang ini ada saja cara untuk memberikan pembenaran. Untuk kalangan artis, sudah ada forum khusus untuk keperluan itu, antara lain dalam sebuah acara yang dipandu oleh seorang pelawak terkenal yang kerap kali dikritik karena tamu-tamunya yang seringkali tampil seronok dan candaannya yang kurang pantas. Dalam acara itu, semua artis punya hak untuk membenarkan semua perilakunya. Mereka diberi waktu untuk ‘membela diri’, tanpa ada seorang pun yang boleh menyanggah. Mereka pun bebas berteori, membangun konsep-konsep kebenarannya sendiri, kemudian host acara akan menindaklanjuti dengan menambahkan pepatah-pepatah indah seolah-olah yang diundangnya adalah orang-orang alim berbudi baik lagi terpuji akhlaq-nya.

Sudah berapa banyak artis seronok angkat bicara, sedangkan jawabannya nyaris tak pernah beda, modus operandinya juga selalu sama. Peran buka-bukaan disebut “menantang” dan “tuntutan profesi”, komitmen untuk membuka aurat disebut “berani”, panjangnya antrian di bioskop disubstitusi dengan “prestasi”. Maka, agar “berprestasi”, seorang artis haruslah “berani” memenuhi “tuntutan profesi” yang begitu “menantang” untuk dijalani. Semuanya itu dianggap positif, selama tidak mengganggu kepentingan orang lain, tidak menyakiti orang lain, tidak membikin orang lain terluka, terbunuh dan seterusnya.

Pembenaran memang diciptakan untuk melindungi seseorang dari rasa bersalahnya sendiri. Jangan heran kalau para pecinta pembenaran ini nampak begitu sibuk berteori di depan kamera, berpanjang-panjang untuk membenarkan tindakannya. Ironisnya, semakin panjang teorinya, biasanya akan semakin bertumpuk pula kesalahannya. Satu pembenaran akan membawa pada pembenaran berikutnya, karena untuk membenarkan kesalahannya, manusia perlu merombak konsep kebenaran itu terlebih dahulu. Padahal, kesalahan pada Tuhan dapat diselesaikan dengan cara sederhana, dimulai dari pengakuan (tidak memberi pembenaran) hingga menyempurnakan taubat. Tapi kalau sudah melibatkan pembenaran, besar kemungkinan akan kena pasal berlapis di akhirat kelak.

Ini, tentu saja, adalah bahasan bagi orang-orang yang beriman dan masih punya rasa malu. Sebab, sebagaimana sabda Rasulullah saw., “Kalau tak lagi merasa malu, maka perbuatlah semaumu!(HR Bukhari).

Sumber: http://www.fimadani.com/pembenaran/

Akmal Sjafril