Di suatu subuh, awal 2011, saya tiba-tiba teringat pada Ibu Salim, beliau adalah guru ngaji saya sewaktu masih kecil. Ketika melihat kebiasaan saya yang melakukan wudhu sekedar kecipak kecipuk asal basah. Beliau nyeletuk “Lho, kok kurang disiplin sih mas? Yang urut, tiga kali untuk masing-masing bagian, yang bersih dan menyeluruh. Jangan ngedumel, wudhu itu niatnya harus ikhlas”.
Sesudah saya mengulang wudhu dengan benar (sambil sedikit menggerutu dalam hati), Beliau menambahkan satu pesan: “Mas, wudhu itu bukan hanya sekedar niat dan ritual membersihkan atau menyucikan. Wudhu itu komitmen!”. Waktu kecil, saya mana ngerti tentang arti komitmen?
Commited to what? Exactly?
Beranjak dewasa, saya mungkin jadi bisa sedikit mengerti apa yang beliau maksud dibalik wejangannya dulu (sedikit mengerti, as after all, we are still learner mind you?). You see, every body parts that being washed; are actually the part that we represent to the world and Allah.
Mari telusuri lebih lanjut.
Umumnya dalam interaksi sosial, wajah adalah bagian yang kita nilai terlebih dahulu. Wajah sebagai representasi kepribadian dan jati diri seseorang. Demikian juga ketika kita sholat. Wajah kita hadapkan pada Allah. Mengacu pada do’a iftitah yang kita baca :
“inni wajahtu wajhiya lilladzii fatharassamaawati wal ardhi..”
Artinya : aku menghadapkan wajahku kepada Dzat Yang Menciptakan langit dan bumi
Kita menghadap pada-Nya dengan wajah yang bersih.
Sering kita bicara tanpa kontrol, tanpa sadar berkomentar pada hal yang sebenarnya sungguh tidak penting. Kita bergunjing, membicarakan kejelekan orang lain. Pun ketika hal tersebut tidak kita ucapkan, tapi otak kita mencetuskan pikiran tersebut. Lalu mata kita yang melihat hal-hal yang tidak pantas, hidung kita mencium berbagai macam bentuk polusi, dan telinga kita mendengar suara gunjingan yang tidak pantas. Lalu tangan kita yang kadang malas melakukan pekerjaan. Kaki yang terasa berat untuk kita langkahkan ke tempat kerja atau tempat ibadah kita.
Dalam satu hari saja, sudah berapa kali kita tercemar atau mencemari diri kita sendiri?
Filosofi wudhu’ adalah penyucian. Tak hanya raga, tapi juga hati. Lewat niat yang kita ucapkan, lalu berproses ke air yang kita kucurkan, lalu tangan kita yang membasuh untuk membersihkan. Kita mendisiplikan diri untuk melakukan urutan wudhu secara tertib. Memastikan bahwa setiap bagian tersapu air dan benar-benar bersih. Coba kita perhatikan Niat Wudhu dan Do’a sesudah Wudhu.
Niat Ber Wudhu :
“Nawaitul wudu’a liraf’il hadasil asgari farda lillahi ta’ala”
Artinya: “Aku niat berwudu untuk menghilangkan hadas kecil fardu karena Allah Taala.”
Lalu perhatikan doa setelah wudhu:
“Asyhadu allaa ilaaha illallah wahdahu laa syarikalahu wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluhu, Allahummaj ‘alni minat tawwabiin waj’alni minal mutathahhiriin.”
Artinya: “Saya bersaksi bahwa tiada ilaah yang berhak disembah dengan benar selain Allah semata tiada sekutu bagi-Nya. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Yaa Allah jadikanlah hamba termasuk orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang mensucikan diri.“
Subhanallah. Luar Biasa sekali. Makin merunduk kita dihadapan Allah SWT. Makin kecil kita, jika kita mengetahui hal hal yg sederhana tetapi mempunyai makna yang luar biasa. Justru hal hal itu sering dilewatkan dan dianggap remeh oleh kita manusia.
Mungkin ini yang dimaksud dengan Ibu Salim dulu. Komitmen kita sebelum menghadap Allah lewat sholat. Bahwa lewat wudhu; kita sudah ikhlas dalam menyiapkan batin, kita sudah menyucikan diri dari polusi yang lengket di tubuh, sebelum berbicara pada-Nya. Bahwa wudhu, hanyalah satu langkah awal, satu bentuk persiapan sebelum menghadapi berbagai macam ujian dari-Nya. Bahwa kita, Insya Allah, siap.
Jika kita tela'ah secara sedehana arti dari Maha adalah sesuatu yang paling tinggi, paling hebat. Maka nama nama Allah SWT atau yg biasa kita bilang dgn ‘Asmaa-ul Husnaa’ adalah nama nama yang paling agung.
Sekarang kita coba konsentrasikan kepada Yang Maha Pengasih dan Yang Maha Penyayang. Karena saya merasa Bismillahirrahmanirahim adalah awal dari segala sesuatu. Sepertinya Allah SWT selalu ingin mengingatkan kita kalau Dzat yang Maha Agung, pemilik semua Pujian dan Mulia ini Cinta dan sayang kepada makhluk nya. Seperti semua terbuka lebar untuk kembali Fitrah. Seperti tidak ada kata tertutup bagi manusia yang ingin bertaubat atau Hijrah di jalan Nya.
Rasa Sayang dan Cinta dari sang Maha ini lah yang mendasari segala macam kejadian pada kehidupan di semesta alam ini. Allah meng inginkan semua makhluknya masuk ke dalam Surga nya Allah S.W.T. Kita tidak akan mampu menghitung nikmat Sayang dan Cinta nya Allah ke kita. Tapi mari kita coba telaah sebagian kecil saja.
Lihatlah jika kita ambil rata rata umur manusia adalah sampai 65 th. Maka tidak kah kita berfikir Allah SWT memberikan waktu untuk kita agar Taubat sampai dengan 65th. Dan 65 th adalah waktu yang amat sangat lama. Tetapi Allah SWT sangat sabar karena bagian dari sifat Rahman dan Rahiim nya kepada hamba nya. Maka Allah memberikan waktu sedemikian lama untuk kita berTaubat.
Dan bila kita lebih berfikir jernih lagi, maka semua yang ada di dunia ini jika kita sesuai dengan ajaran Allah SWT dan Rasulnya maka semuanya dihitung sebagai Ibadah. Bagaimana tidak, semua sudah terhampar di depan mata kita. Maka Allah SWT pun berfirman :
“Jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah (12:87)“
Apa sih maksud nya Kita tidak boleh berputus asa? Kita buat simple. Dalam kehidupan sehari hari Senyum pun dikatakan Sedekah. Sedekah juga ibadah kan. Bekerja ibadah.Bahkan berhubungan Suami Istri dgn pasangan yang sah pun dikatakan ibadah. Hal hal itu kan juga menambah pahala. Bahkan kita sakit pun bisa dikategorikan pengikisan dosa. Seperti diriwayatkan pada suatu hadist
“Setiap musibah yang menimpa mukmin, baik berupa wabah, rasa lelah, penyakit, rasa sedih, sampai kekalutan hati, pasti Allah menjadikannya pengampun dosa-dosanya.”
(HR al-Bukhari dan Muslim)
Subhanallah… Lalu manusia masih tetap saja mengeluh?
Bahkan Rasulullah bersabda :"Bila hr Jum'at tlah tiba.. para Malaikat berdiri di pintu masjid mencatat org yg pertama dtg dan seterusnya.Bila imam tlh dtg (naik mimbar).. mrk tutup buku,kemudian mendengarkan khutbahPerumpamaan org yg pertama dtg spt bersedekah unta.. sesudah itu spt bersedekah lembu…kemudian spt bersedekah kambing, kemudian spt bersedekah ayam, kemudian spt bersedekah telur.”(HR. Muslim).
Dan Rasulullah pun pernah bersabda “Jika seseorang dalam keadaan suci( Wudhu) dan berjalan menuju Masjid pada waktu Sholat tiba. Maka setiap langkahnya adalah pengampunan dosa baginya.”
Sebenarnya kita sudah sangat di mudahkan oleh Allah SWT untuk beribadah dan mencari pahala. Semua ada jalannya kalau kita benar benar berfikir. Hal itu tidak dapat terjadi jika Allah SWT tidak sayang sama kita, tidak mau hambanya masuk Surga. Tidak mungkin. Allah sangat menyayangi hambanya, dan sangat ingin hambanya masuk Sorga.
Berfikirkah kita? Karena agama Islam mengajak kita untuk berfikir, berbasis ilmu yang saling berkaitan satu sama lainnya. Dahsyat sekali Islam ini.
Lalu di bulan puasa Ramadhan Tidur saja bisa dikatakan sebagai ibadah.Tetapi tidur di bulan Ramadhan itu juga ada “kode etik”-nya. Tidur ialah suatu pilihan untuk menghindari dari perbuatan-perbuatan yang tidak bisa dijamin baik. Bahkan karena sangat detail nya maka memberikan makan pada orang yang berpuasa pun akan mendapat pahala. Dan Rasululllah SAW bersabda “Barangsiapa yang memberi makanan berbuka bagi orang yang berpuasa, maka baginya pahala yang semisal orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut sedikit pun.” (HR. At Tirmidzi)
Sekarang coba lihat dari sisi pahalanya. Pahala puasa itu tak terhingga, terserah kepada Allah. Dalam sebuah hadits dikatakan,
“Setiap amalan kebaikan anak Adam akan dilipatgandakan menjadi 10 hingga 700 kali dari kebaikan yang semisal. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (yang artinya), ‘Kecuali puasa, amalan tersebut untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya karena dia telah meninggalkan syahwat dan makanannya demi Aku.’” (HR Muslim)
Dan kita pun belum membahas hal hal lainnya seperti Puasa Senin Kamis, Sholat Sunnah lain, dzikir, malam Lailatul qadr, sedekah, sabar, ikhlas dan lain lain. Betapa terbukanya Rahmat Allah dan pahala Allah. Dan hitungan Allah gak pernah salah.
Lalu pertanyaannya sekarang, begitu dahsyatnya Allah mencintai hambanya. Apakah hal itu berlaku terbalik. Insya Allah, kita termasuk orang orang yang mencintai Allah SWT dan Rasulnya, yang bergetar jika di lafalkan nama nama Allah, atau pujian pujian yang hanya untuk Allah. Karena di dalam Qur’an Allah berfirman :
Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu” (3:31)“
Maka mari kita ber doa dengan sebaik baiknya doa kepada Sang Maha Esa. Karena “Doa adalah otaknya ibadah, senjata seorang mukmin, cahaya langit dan bumi. Barangsiapa enggan berdoa, Allah akan murka kepadanya.”
Allah mencintai kita makhlukNya, Allah mencintai hambaNya, Allah pun memberikan dunia ini sebagai tanda untuk kita agar kembali Fitrah. Semua itu didasari oleh Rasa Cinta, Rasa sayang dan pemurah. Jika tidak, maka tidak akan mungkin semua ini akan terhampar secara luas.
Mari kita akhiri dengan :
“Memohonlah kepada Nya dengan menyebut Asmaa-ul Husnaa”
(Al-Raaf:180)