Pernah melihat reaksi suporter sepak bola saat tim yang dijagokannya kalah? Jika kita lihat fakta di negerinya Wiro Sableng ini tak akan asing dengan ulah sebuah kelompok suporter bola yang luar biasa…ancur! Mulai dari merusak pagar, konvoi sampe bikin lalu lintas mampet, tak lupa sebagai ibadah rutinnya tawuran sampai babak belur. Malah ada korban tewas segala. Hal ini pasti tak akan terjadi jika tanpa sebab. Juga dampak hebat dari sebuah fanatisme terhadap sebuah golongan ini mampu membuat mereka berjuang mati-matian. Masih akrab dalam ingatan kita kasus suporter bola yang meninggal karena tersangkut kabel listrik kereta api. Juga dalam beberapa kasus tawuran, terinjak injak tak jarang muncul korban jiwa…

Itu yang di Stadion. Sekarang lihat yang di Twitter. Gampang banget itu omongan ‘Kebun Binatang’ serta ‘Cacian’ yang keluar dari tulisannya. Ajang Bully mem bully, ajang twitwar. Padahal jika mereka sudah memperoleh hasil pertandingan bahwa tim andalan mereka menang/kalah, lalu apa yang akan para suporter dapat? Apa yang sang klub pujaan berikan untuk dia? Apakah memberikan ilmu yang bermanfa’at? Yang bisa bermanfa’at dunia akhirat? Tidak kan?

Untuk nonton Live yang siaran nya bertepatan dengan Waktu Sholat. Kebanyakan (laki laki) Sholat nya di rumah gak di Masjid. Ada pertanyaan nih… .. kalo memang mencintai Allah Ta’ala, bolanya jangan di duluin dong..

Kalo Live dini hari. Kebanyakan mereka bela belain banget. Alhamdulillah kalo ada Sholat Tahajjud nya. Tapi dilaksanakan pada masa istirahat mau babak ke 2. Ada pertanyaan lagi ni. Nah.. kalo memang mencintai Allah Ta’ala, bolanya jangan di duluin dong..

Untuk bisa hadir melihat secara langsung saja supporter harus membelitiket. Dan kebanyakan kalau nonton di Stadion suka bablas deh tuh yang namanya Sholat Maghrib dan Isya. Dikerjain nya setelah nonton.. Padahal tim yang dijagokan bermain bola tak lain karena demi mencari uang, bukan membela suporter mereka. Tentu anda lebih tahu jawabnya. Saat masuk arena pertandingan penuh sesak dan tak mungkin keluar jika pengin nonton sampe kelar, usai gitu jika kalah dilanjutkan dengan prosesi tawuran dan jika menang berlangsung dengan konvoi (kawinan, kaleee..!). pulang malam trus kecapekan deh ujung-ujungnya besok kesiangan. Sholat lima waktu atau bahkan sempatkah ngaji? Balik lagi pertanyaan nya.. Nah.. kalo memang mencintai Allah Ta’ala, bolanya jangan di duluin dong..

Agamaku SepakBola

Masih ingat diingatan. Opening Ceremony Euro 2012 dilakukan di National Stadium Warsawa, Polandia, 8 Juni 2012 lalu. Tanda dimulainya gelaran empat tahunan ajang sepak bola bergengsi di benua biru tersebut. 16 negara berjibaku menjadi jawara Eropa. Lebih dari tiga pekan ke depan hajatan sepak bola Piala Eropa digelar. Kita yang ada nun jauh dari sana, bisa menyaksikan juga secara langsung meski melalui layar kaca.

Teman2, baca aja sampe tuntas ya karena ini lebih jelas. Tom Hundley, menulis di Chicago Tribune pada 4 Juni 2006, “more than a game, soccer is a religion” (lebih dari sekadar permainan, sepak bola adalah agama). Hmm…kamu percaya? Boleh percaya boleh nggak kok. Tinggal ditimbang-timbang rasa, dipikir-pikir. Silakan saja dinilai. Namun kamu perlu mencatat bahwa sepak bola, selain sebagai sebuah permainan, juga adalah industri, politik, dan tentunya jadi semacam keyakinan baru jika dilihat dari gejala para penggemar fanatiknya. Mereka menjadikan ‘hidup-mati’ bagi sepak bola atau klub sepak bola. Hehehe… ini saya temukan dari baju kaos bola anak saya (penulis) yang dihadiahkan seorang kerabat. Saya sempat geleng-geleng kepala karena tertulis: “Kuserahkan hidup-matiku hanya untuk Persija”. Waduh!

 Sejatinya sepak bola itu bisnis

Lha, kenapa subjudulnya jadi begini? Sebab, gimana ya? Mau kasih tau dan memperjelas aja, kalo mereka (klub) hanya mementingkan Bisnis semata. Karena di satu sisi bagi para penggila fanatik sepak bola dan klubnya, permainan 22 orang di tengah lapangan hijau memperebutkan satu bola untuk dimasukkan ke dalam gawang di antara kedua klub itu semacam kepuasan tersendiri. Asa yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata saat sebuah klub sepak bola berhasil ‘membantai’ klub sepak bola lainnya. Misalnya saja perseteruan ‘abadi’ antara Real Madrid dan Barcelona, dalam laga yang dikenal El Clasico. Atau Derby Ac Milan dan Inter Milan, Atau di Inggris, Big 5 ( M.U, Arsenal, Liverpool, Chelsea, Man. City) yang ketemu. Musti Rame kan… Nah, Ketika kedua klub musuh bebuyutan itu bertanding, selain perang kata-kata di dalam stadion, juga berbuntut saling cemooh di internet dan Twitter atau malah bentrok fisik. Perseteruan mereka bukan sekadar soal sepak bola tapi juga soal politik.

Di sisi yang lain, fakta suporter fanatik inilah, yang sebagian besar menganggap sepak bola sebagai ‘agama’ mereka dimanfaatkan (Take advantage)  para pebisnis untuk mengeruk keuntungan. Pikir aja, tuh merchandise berupa kaos, slayer, gantungan kunci, mug, dan jenis lainnya pasti dijual kepada kepada para fansnya—itu artinya, keuntungan buat pemilik klub. Itu yang resmi lho (maksudnya dijual khusus oleh klub sepak bola yang bersangkutan). Kalo yang ‘liar’ pasti jumlahnya lebih banyak lagi, di pasar-pasar tradisional di negeri kita juga udah banyak kok. *mungkin ada di antara kita yang malah jualan juga

Teman2 kalo kita mau sedikit teliti juga, sebenarnya logo-logo klub sepak bola di Inggris, Italia dan juga Spanyol dan beberapa negara lainnya (termasuk di jersey timnas mereka) banyak yang ‘memodifikasi’ lambang Salib. Lihat deh Juventus, AC Milan, Inter Milan,  Barcelona dan Real Madrid. Empat klub itu sengaja saya tulis karena selain mudah untuk dilihat (karena agak mencolok) juga karena cukup terkenal di dunia. Dan liat deh kita, begitu nge golin kita juga ikut ikutan mencium logo tersebut… Mencium salib dong… Meski belakangan, Real Madrid dan Barcelona rela menghapus lambang Salib demi fulus. Ujungnya  bisnis juga.

Nah, ngomongin soal Real Madrid yang menghapus lambang Salib pada logo klub di bagian atasnya (mahkota) ternyata tujuannya adalah untuk mendapatkan kontrak yang nilai fulusnya gede banget. Berdasarkan catatan Republika.co.id  (2 Juni 2012), Real Madrid membuat kebijakan kontroversial dengan menghapus tanda salib pada logo klub pada April 2012. Langkah tersebut membuat Los Blancos mendapat proyek besar di Timur Tengah dengan diberi izin untuk membangun resor olahraga di Uni Emirat Arab senilai 1 miliar dolar AS atau sekitar Rp 9,5 triliun. Hehehe mungkin para petinggi klub berpikir: “maafih fulus mamfus” (nggak ada duit koit), maka berlombalah mengeruk duit sebanyak-banyaknya. Kalo Real Madrid baru April kemarin menghapus tanda salib pada logo klub, ternyata Barcelona udah sejak 2007 silam. Barcelona, melakukannya pada tahun tersebut, ketika investor Qatar Foundation menyatakan ingin bergabung dengan Blaugrana. Kesepakatan terjadi pada akhir 2010, ketika Barcelona mengumumkan telah menandatangani kontrak lima tahun bersama sponsor yang berasal dari Kota Doha tersebut. Nilai kontrak sebesar 150 juta euro alias Rp 1,76 triliun dari tahun 2011 sampai 2016. Kesepakatan kedua pihak adalah terkait pemasangan sponsor di jersey klub dengan catatan El Barca setuju menghilangkan satu palang di emblemnya agar tidak terlihat seperti salib.

So, dengan demikian, bagi penggila sepak bola, yakni para suporter sepak bola, sepak bola adalah ideologi, sepak bola adalah politik, sepak bola adalah penyaluran harapannya, bahkan bisa jadi sepak bola juga adalah agama mereka. Tetapi bagi pemain, karyawan klub dan terutama pemilik klub, sepak bola adalah bisnis yang tentu saja hubungannya ama dekat dengan fulus bin duit. Ibaratnya mereka berteriak, “Barang siapa yang mencintai klub sepak bola, maka harus diwujudkan melalui dukungan di stadion dengan cara membeli karcis, mengoleksi merchandise dan menjadikan sepak bola sebagai jalan hidupnya.” *tepuk jidat!

Satu bukti lagi bahwa sepak bola itu bisnis adalah gaji pemain top di klub kaya raya di jagat ini yang jumlahnya nyaris seperti dalam mimpi. Fantastis. Jika seorang marbot di masjid sekitar kita digaji Rp 500 ribu sebulan, maka seorang Lionel Messi, dari hasil menggiring, menggocek, menendang bola dan memasukkannya ke gawang lawan (termasuk juga dari iklan dan bonus lainnya) dalam seminggu bisa mengantongi Rp 7,2 miliar (dihitung dari total pendapatan Messi di tahun 2011 dalam setahun yang mencapai sekitar Rp 376 miliar). Itu baru Messi lho, belum pemain sepak bola lainnya macam David Beckham, Ricardo Kaka, Kevin Prince Boateng, Cristiano Ronaldo atau Zlatan Ibrahimovich dan lainnya. Untuk kesekian kalinya saya tulis, sepak bola memang bisnis.

 Judi dalam sepak bola

Bagi para penjudi, atau yang memiliki syahwat judinya tinggi, nggak seru nonton sepak bola tanpa taruhan. Bahkan mungkin sebenarnya mereka nggak perlu-perlu amat untuk nonton pertandingannya, tapi judinya yang mereka gilai. Saya pernah dapat cerita dari kampung halaman waktu musim Piala Dunia 2010 silam, seorang bandar bawang di Brebes Jawa Tengah bisa ngabisin duit Rp 300 juta rupiah untuk judi sepak bola. Duit segitu bukan untuk sebulan ajang Piala Dunia lho, tapi semalam. Nggak habis pikir. Saya kembali geleng-geleng kepala (bukan lagi ngewirid, tapi heran ama tuh orang). Orang lain mah susah nyari duit, termasuk para pemain bola yang berlaga di ajang itu, eh nih yang udah punya duit malah dibuang-buangin buat taruhan alias judi bola. Parah kuadrat ini mah!

Seorang kawan bercerita bahwa ada agen judi togel yang menggelar lapaknya persis di samping dia jualan pulsa telepon, banyak ragam orang yang mampir ke agen togel untuk masang angka (termasuk di antaranya oknum polisi). Waduh! Cerita kawan lainnya, banyak orang yang gila judi sampe-sampe orang gila aja ditanyain nomor berapa bakal keluar sehingga kalo dipasang bisa menang judi togel. *ini yang gila siapa jadinya?

Kalau di Bara, perusahaan judi online malah ikutan jadi sponsor klub sepak bola. Bagi mereka, agar keuangan klub tetap lancar ngalir, ya harus ngeruk sponsor. Tak peduli apakah sponsornya perusahaan judi sekalipun, yang penting fulus. Maka, lihat deh logo perusahaan judi online yang pernah tertera di jersey klub Real Madrid, AC Milan, Juventus, termasuk Sevilla (yang waktu itu salah satu pemainnya bernama Frederic Oumar Kanoute sempat ogah make kaosnya gara-gara disponsori judi online, ia muslim dan menolak judi). Ini juga bukti, bahwa sepak bola, dan segala pernik yang melingkupinya tak jauh dari bisnis.

BTW, kalo mau dituliskan berbagai cerita soal ini, rasa-rasanya nggak bakalan ada habisnya. Sebab, masih banyak dan banyak lagi. Tetapi cukuplah beberapa contoh tadi menjadi wakil dalam koleksi data untuk sekarang, cukup sebagai bukti/fakta bahwa sepak bola bagi orang-orang yang memainkan peran dalam pengerukan uang adalah bisnis yang menggiurkan. Hanya suporter fanatiknya saja sepertinya yang menjadikan sepak bola sebagai ‘agama’ baru mereka. Mereka rela mati demi sepak bola dan klub atau timnas negara yang dibelanya. Ironi dan amat memilukan kondisi seperti ini.

Akhir kata, menutup pembahasan ini, saya ingin menyampaikan bahwa “hidup-mati” kita hanyalah untuk Allah Ta’ala dan RasulNya. Ingat lho waktu kita baca doa iftitah dalam sholat,

إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ. اللَّهُمَّ اهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَعْمَالِ وَأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَقِنِي سَيِّئَ الْأَعْمَالِ وَسَيِّئَ الْأَخْلَاقِ لَا يَقِي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ

Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku, hanya semata-mata untuk Allah Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Oleh karena itu aku patuh kepada perintahNya, dan aku termasuk orang yang aku berserah diri. Ya Allah, tunjukilah aku amal dan akhlak yang terbaik. Tidak ada yang dapat menujukkanku kepadanya kecuali Engkau. Jauhkanlah aku dari amal dan akhlak yang buruk. Tidak ada yang dapat menjauhkanku darinya kecuali Engkau”. (HR. An Nasa-i 1/141, Ad Daruquthni 112)

Catet! Itu sebabnya, ngapain sih kudu bela-belain klub sepak bola sampe lupa diri dan lupa agama kita sendiri, dan yang penting jangan pernah lupa agama Islam ini. Cukuplah kalo pun mau nonton, ya nonton aja di rumah via layar kaca. Itu pun seperlunya aja, jangan fanatik lah, biasa aja, apalagi sampe ikutan taruhan atau bahkan menjadikan sepak bola sebagai agama kedua kita. Hadeuuh, itu sih namanya lebay. Nggak banget!

Penulis : (Frk) dan [solihin | Twitter: @osolihin]

Sumber : http://forlima.wordpress.com/2010/03/24/fanatisme-suporter-bola/ dan http://www.gaulislam.com/agama-sepak-bola dengan sedikit editan dari kami tanpa menghilangkan esensi nya.

Sungguh sangat memalukan dan mengenaskan, ngakunya muslim tetapi kelakuan berandal, kriminal, senengnya pacaran, hobinya seks bebas, ngelawan orang tua, nggak hormati guru, doyan judi, malas, lebih seneng haha hihi cekikikan di facebook dan Twitter ketimbang serius belajar Islam, banyak yang malah sering baca status dan komen di facebook atau dengerin musik (tinggalin aja) ketimbang baca al-Quran, dan seabrek kelakuan negatif lainnya. Aduuuh… nggak banget deh kalo ada generasi muda dengan ciri-ciri seperti di atas. Padahal, seharusnya Islam menjadi aturan. Tetapi, jika kenyataannya begitu, diletakkan di mana, Islam bagimu?

Yuk, kita interospeksi diri, evaluasi diri, dan tentu saja segera sadar kalo kita udah salah jalan. Balik arah kembali kepada Islam yang emang menjadi agama kita. Jangan sampe deh kamu ngakunya muslim tetapi banyak dari ajaran Islam malah kamu nggak lakuin. Ngakunya muslim tetapi kamu malah minder dengan status muslimmu. Ketika rame-rame orang menuduh kegiatan rohis di sekolah sebagai sarang teroris, atau fitnah terhadap institusi pesantren sebagai tempat untuk memproduksi para teroris, eh kamu malah kalap lalu ikut-ikutan nyalahin mereka. Yah, kalo kayak gitu berarti kamu udah termakan opini musuh-musuh Islam. Sebab, memang mereka menginginkan agar umat Islam benci—atau minimal—minder dengan agamanya sendiri. Payah dan menyebalkan!

Memang nggak mudah jalani keyakinan ajaran Islam ketika kita lemah iman. Jangankan lemah iman, kalo kita lemah kondisi tubuh aja kita mudah terserang penyakit. Itu sebabnya, kalo kita lemah iman maka berbagai macam penyakit hati dan pikiran akan mudah menginfeksi. Contohnya: hasad, dengki, sombong, riya’, wahn, malas, futur, bakhil, kikir dan sejenisnya. Juga penyakit pikiran macam liberalisme, komunisme, sosialisme, feminisme, kapitalisme, hedonisme, permisifisme, sekularisme, termasuk di dalamnya ajaran-ajaran kekufuran dan kesesatan lainnya seperti yang ngelakuin pacaran, seks bebas, make narkoba, tukang berzina, aktivis tawuran dan sejenisnya. Itulah akibat lemah iman. Maka, ayo perbagus imanmu agar senantiasa bisa memfilter berbagai ide yang bertentangan dan bahkan menentang Islam. Iman kepada Allah Ta'ala insya Allah akan memberikan ketahanan kita terhadap hal-hal yang bisa merusak akidah, juga dengan iman yang kuat akan bisa membentengi diri dari hal yang melanggar syariat Islam. 

Malpraktek terhadap syariat Islam

Kita perlu berpikir serius mengenai hal ini. Gimana nggak, kita sering menghadapi kenyataan bahwa banyak kaum muslimin yang salah dalam mengamalkan syariat Islam, dan malah lebih parah lagi tidak mengamalkan syariat Islam meski ngakunya muslim. Padahal, akibatnya bisa fatal lho. Kalo di dunia medis saja ada istilah malpraktek yang bikin nyawa orang lain melayang gara-gara salah prosedur dalam menangani penyakit, maka dalam Islam lebih parah lagi akibatnya kalo ada kaum muslimin yang malpraktek terhadap syariat Islam. Bahaya kuadrat karena memungkinkan pelakunya mendapat dosa dan siksa di akhirat kelak!

Bener banget lho. Ngakunya muslim, tapi memilih diatur bukan dengan syariat Islam. Itu namanya malpraktek terhadap syariat Islam. Mereka yang mengklaim dirinya muslim, tetapi menolak penerapan syariat Islam, ini juga termasuk golongan yang malpraktek terhadap syariat Islam. Belum lagi yang meyakini bahwa ukhuwah itu sesama kaum muslimin, tetapi prakteknya kok cuma sesama kelompoknya? Ngaku-ngaku ke orang sekampung kalo dirinya muslimah, tapi kok nggak berhijab? Pasang pengumuman di lapak, “gue remaja muslim taat syariat”. Tapi kok pacaran? Ngakunya muslim, tapi kok liberal? Nggak nyambung. Muslim itu taat, liberal itu membangkang. Baca al-Quran sih tiap hari. Tapi kok, nggak pernah mau ikuti petunjukNya di al-Quran? Dalam sunyi sepi sendiri bermunajat memohon ampunan Allah Ta’ala. Tapi setelahnya malah percaya dukun. Duh, kondisi ini udah sering hadir dalam kehidupan kita. Sungguh menjadi bahan evaluasi diri, sebab bisa jadi kenyataan model gitu juga kita alami tanpa sadar. Jleb!

Teman2, yang melakukan malpraktek terhadap syariat Islam adalah termasuk mereka yang ngakunya sesama muslim itu saling menolong, eh prakteknya yang ditolong cuma sesama teman pengajian saja. Ngakunya al-Quran sebagai petunjuk. Tapi kok bilang: “demokrasi laa roiba fihi”? (baca: tak ada keraguan sedikit pun di dalamnya). Wasyah, hukum buatan manusia itu pasti ada cacatnya, kok malah setuju demokrasi dan malah menolak syariat Islam? Aneh!

Selain itu, deretan ciri-ciri malpraktek terhadap syariat Islam adalah mereka yang ngakunya muslim dan bahkan namanya juga identik nama-nama islami, tapi kok malah menuding kaum muslimin teroris? Shalatnya getol, dakwahnya mantap, shadaqahnya dahsyat. Tapi kenapa menolak syariat Islam? Ngakunya muslim, tapi kok rela diborgol dalam ikatan nasionalisme, kesukuan dan ashobiyah terhadap kelompok dakwah? Ngakunya muslim, tapi malah merendahkan muslim lainnya sambil memuja musuh-musuh Islam. Ngakunya muslim, dan katanya menjadikan al-Quran pedoman hidup, tapi kok ngerujuk ke primbon gak jelas untuk selesaikan problem hidup? Weleh-weleh itu namanya pelecehan dan penghinaan terhadap syariat Islam, Boy!

Bener banget, masih banyak pelaku malpraktek terhadap syariat Islam. Ada banyak yang ngakunya muslim, tapi setiap kali berjanji tak pernah sekalipun ditepati. Katanya percaya takdir diatur oleh Allah Ta’ala., tapi kok masih percaya ramalan dan iseng-iseng ‘main’ zodiak? Katanya sesama mukmin itu bersaudara, tapi kenapa bertahun-tahun memelihara karat kebencian hanya karena berbeda harokah (kelompok dakwah)? Ngakunya ikhlas semata mengharap ridho Allah Ta’ala, faktanya raih ridho manusia lebih prioritas baginya. Memohon kepada Allah Ta’ala dalam doa ingin dapatkan jodoh terbaik, tapi kok dirinya belajar Islam aja ogah? Berharap banget jadi wanita shalihah, tetapi kok disuruh pake kerudung aja nggak mau, apalagi kalo disuruh pake jilbab? Sadarlah, semua itu adalah cermin diri kita. Kita dan saudara kaum muslimin saat ini memang jauh banget dari pelaksanaan terhadap syariat Islam. Itu terjadi karena banyak di antara kita yang lemah iman kepada Allah Ta’ala. Jadi, ayo perbagus imanmu!

Evaluasi diri

Jika dirimu merasa telah banyak berbuat baik, apakah yakin semua itu dikerjakan dengan ikhlas? Kalo boleh bilang: “Berbuatlah sesukamu. Tapi ingat akan pertanggungan jawabmu di hadapan Allah Ta’ala kelak di yaumil hisab.” Jika kamu bangga dengan dosa-dosamu, tobatlah sebelum ajal menjemputmu. Jika kau berpikir bahwa deretan prestasi dan penghargaan sebagai bukti kesuksesanmu, apakah itu membuatmu takabur atau bersyukur? Andai saja kau merasa berjasa kepada banyak orang, apakah itu dilakukan demi raih ridho Allah atau ridho manusia? Jika dalam hatimu kau mengklaim paling hebat dakwahmu, renungkan: apakah demi Islam atau eksistensi dirimu? Kau teramat bangga dengan status sosialmu, tetapi kenapa malu mengakui diri muslim sejati? Kau teramat teliti terhadap keluar-masuknya hartamu, tetapi amat lalai atas pahala dan dosa yang kau perbuat.

Duh, pernyataan dan pertanyaan dalam paragraf di atas seharusnya bisa memberikan suntikan interospeksi diri buat kita semua. Iya, apalagi jika faktanya kita memang melakukan hal-hal buruk itu. Bener sobat, kita perlu bertanya juga kepada diri kita: Apakah sebagai muslim kau merasa bangga dengan Islam? Jika “ya”, kenapa tak memperjuangkan tegaknya syariat Islam? Bagi para aktivis dakwah, sentilan ini mungkin cukup menjadi cambuk: “Kau sering merasa lelah dalam dakwah, padahal usahamu sedikit tetapi keluh kesahmu selangit.” Walah!

Kalian yang merasa bangga dengan segala titel akademik, tetapi mengapa malu mengakui predikat kemusliman kalian? Kau merasa begitu resah saat gagal dalam perniagaan, tetapi tetap tenang ketika waktu shalat di batas akhir dan kau belum juga melaksanakan shalat. Kau bisa lebih tegas bersikap atas harga dirimu yang diinjak orang lain. Kau akan memilih emas murni sebagai perhiasanmu, tetapi kenapa tak pernah berusaha memurnikan akidahmu? Kau amat terluka saat kekasihmu selingkuh, tetapi tak jua sadar dan tobat saat dirimu menyekutukan Allah Ta’ala. Kau sangat semangat berburu perhiasan duniawi, tetapi amat sedikit usahamu untuk akhiratmu. Pikirkan baik-baik ya.

Begitu pula, banyak di antara kita yang daftar doanya kepada Allah Ta’ala dipenuhi daftar keinginan duniawi, tetapi kenapa ibadah kepadaNya seperlunya saja? Kita selalu memohon yang terbaik bagi hidup kita kepada Allah Ta’ala, tetapi sering lupa mentaati perintahNya. Saat gelisah dan kecewa Allah Ta’ala selalu kita sebut namaNya, tetapi di kala suka dan bahagia kita lupa menyembahNya. Kita terlalu sering berharap kebaikan diguyurkan Allah Ta'ala untuk kita, tetapi amat sedikit kita bersyukur kepadaNya. Kita senantiasa khusyuk memohon kepada Allah Ta’ala di kala resah, tetapi kenapa berharap seperlunya di saat bahagia? Jika keinginanmu dikabulkan Allah Ta’ala kau memujiNya, tetapi kenapa saat tak dikabulkan kau berburuk sangka kepadaNya? Aduh, renungkan sobat! Interospeksi diri yuk. Sebab, sudah terlalu banyak dosa dan salah yang kita lakukan.

Semoga sedikit fakta dan ciri-ciri negatif yang udah kita bahas di tulisan ini, bisa membuat sadar kita yang mungkin saja selama ini meletakkan Islam bagi kita di nomor sekian dari urusan kehidupan duniawi kita. Sadarlah dan segera bertobat lalu bangkit untuk amalkan syariat Islam dengan benar dan baik sesuai tuntunan Allah Ta’ala dan RasulNya. [solihin | Twitter: @osolihin]

Sumber : http://www.gaulislam.com/diletakkan-di-mana-islam-bagimu dengan editan dari kami tanpa merubah esensinya