oleh Ustadz Kholid Syamhudi LC
Diantara sebab-sebab agamis (diniyyah) adalah:
1. Amal sholeh, sebagaimana firman Allah: “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.(Qs.an-nahl :97)
Dalam ayat ini Allah menjadikan amal shalih sebagai sebab mendapatkan kehidupan yang baik yang diterjemahkan oleh ibnu Abas, Sa’id bin Jubeir, Atha’ dan selain mereka.
Demikian juga firmanNya: “supaya Allah memberi Balasan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh. mereka itu adalah orang-orang yang baginya ampunan dan rezki yang mulia.” (Qs. Saba’ :4).
Rasulullah juga menegaskan hal ini dalam sabda beliau:
« إِنَّ الْكَافِرَ إِذَا عَمِلَ حَسَنَةً أُطْعِمَ بِهَا طُعْمَةً مِنَ الدُّنْيَا وَأَمَّا الْمُؤْمِنُ فَإِنَّ اللَّهَ يَدَّخِرُ لَهُ حَسَناتِهِ فِى الآخِرَةِ وَيُعْقِبُهُ رِزْقًا فِى الدُّنْيَا عَلَى طَاعَتِهِ »
Sesungguhnya orang kafir apabila mengamalkan kebaikan maka diberi makanan dari dunia. Sedangkan seorang mukmin, maka Allah menyimpan untuknya kebaikan di akherat dan memberikan reeki di dunia atas ketaatannya (HR Muslim no.7628).
2. Tawakkal kepada Allah. Tawakal menjadi salah satu sebab utama memperoleh rezeki Sebagaimana Allah Ta’ala sebutkan dalam firman-Nya,
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.” (QS. Ath Tholaq: 3)
Sahabat Abu Dzar al-Ghifari pernah berkata:
جَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتْلُو عَلَيَّ هَذِهِ الْآيَةَ { وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا } حَتَّى فَرَغَ مِنْ الْآيَةِ ثُمَّ قَالَ يَا أَبَا ذَرٍّ لَوْ أَنَّ النَّاسَ كُلَّهُمْ أَخَذُوا بِهَا لَكَفَتْهُمْ
Rasulullah mulai membacakan ayat () hingga selesai kemudian menyatakan: Wahai Abu Dzar seandainya manusia seluruhnya mengambil hal ini tentulah mencukupkan mereka. Yaitu seandainya manusia betul-betul bertakwa dan bertawakkal, maka sungguh Allah akan mencukupi urusan dunia dan agama mereka.[ Lihat Tuhfatul Ahwadzi bisyarhi Jaami’ At Tirmidzi, 7/7-8]
Ibnu Rajab mengatakan, ”Tawakkal adalah seutama-utama sebab untuk memperoleh rizki”.
Ibnu Jarir Ath Thobari rahimahullah ketika menjelaskan surat Ath Tholaq ayat 3 mengatakan, “Barangsiapa yang bertakwa pada Allah dengan menjalankan perintah-Nya dan menyandarkan hatinya pada-Nya, maka Allah akan memberi kecukupan bagi-Nya.”
Al Qurtubhi rahimahullah menjelaskan pula tentang surat Ath Tholaq ayat 3 dengan mengatakan, “Barangsiapa yang menyandarkan dirinya pada Allah, maka Allah akan beri kecukupan pada urusannya.”
Asy Syaukani rahimahullah menjelaskan, “Barangsiapa menyerahkan urusannya pada Allah, maka Allah akan berikan kecukupan pada urusannya.”
Syaikh As Sa’di rahimahullah menjelaskan pula, “Barangsiapa yang menyandarkan diri pasa Allah dalam urusan dunia maupun agama untuk meraih manfaat dan terlepas dari kemudhorotan, dan ia pun menyerahkan urusannya pada Allah, maka Allah yang akan mencukupi urusannya. Jika urusan tersebut diserahkan pada Allah Yang Maha Mencukupi (Al Ghoni), Yang Maha Kuat (Al Qowi), Yang Maha Perkasa (AL ‘Aziz) dan Maha Penyayang (Ar Rohim), maka hasilnya pun akan baik dari cara-cara lain.
Namun kadang hasil tidak datang saat itu juga, namun diakhirkan sesuai dengan waktu yang pas.”
Demikian juga dijelaskan Rasulullah dalam sabda beliau:
لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا
Seandainya kalian berawakkal kepada Allah dengan benar tentulah kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki, berangkat pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang disore hari dalam keadaan kenyang.
Realisasi tawakkal ini tidak meniadakan pelaksanaan sebab-sebab materi dan usaha mencari rezeki, bahkan tawakkal tidak benar tanpa usaha.
3. Memperbanyak istighfar. Hal ini disampaikan Allah dalam firmanNya tentang kisah Nabi Nuh: “Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-,niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan Mengadakan untukmu kebun-kebun dan Mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (Qs. Nuh :10-12)
Disini Allah menceritakan tentang RasulNya yang menyeru kepada kaumnya untuk memperbanyak istighfar dan taubat kepada Allah. Apabila mereka bertaubat pasti Allah akan ampuni dosa mereka walaupun sudah ada dipuncak kekufuran dan kesyirikan. Istighfar mereka ini –bila dilakukan- akan memberikan hasil positif untuk kemaslahatan dan kebahagian mereka didunia dan akherat.
Diantara hasil positif tersebut disampaikan nabi Nuh adalah: Allah turunkan hujan yang teratur, menganugerahkan harta dan rezeki melimpah, menumbuhkan kebun-kebun yang rimbun dan sungai-sungai yang mengalir disela-selanya.
Rasulullah pun sempat menjelaskan hal ini dalam sabda beliau:
مَنْ أَكْثَرَ مِنْ الِاسْتِغْفَارِ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
Siapa yang memperbanyak istighfar, Allah akan menjadikan semua kesulitannya menjadi mudah dan semua kesempitannya menjadi longgar dan memberikan rezeki dari tempat yang tidak terduga.
4. Doa adalah salah satu sebab memperoleh rezeki, karena ia adalah permintaan kepada yang maha pemberi rezeki. Oleh karena itu Rasulullah banyak berdoa memohon rezeki kepada Allah, seperti dijelaskan dalam hadits Ummu Salamah :
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ إِذَا صَلَّى الصُّبْحَ حِينَ يُسَلِّمُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا
Sesungguhnya nabi dahulu menyatakan apabila selesai sholat shubuh ketika (habis) salam, “Wahai Allah aku memohon kepadamu ilmu yang manfaat. Rezeki yang baik dan amal yang diterima.
Juga pernah berlindung kepada Allah dari kefakiran, seperti dalam hadits yang berbunyi:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْفَقْرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْقِلَّةِ وَالذِّلَّةِ وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ
Sesungguhnya Rasulullah pernah berdoa: Wahai Allah aku berlinding kepadaMu dari kefakiran dan berlindung kepadaMu dari kekurangan dan kerendahan”.
Bahkan diantara doa beliau adalah:
اللَّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
Wahai Allah cukupkanlah aku dengan yang halal dari yang haram dan keyakanlah aku dari selain Engkau.
Semoga manfaat.
Sumber : http://majelisfiqih.wordpress.com/2011/11/16/untaian-nasehat-%e2%80%93-kiat-mencari-rezeki/