الحمد لله، نحمده ونستعينه ونستهديه ونستغفره، ونتوب إليه، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأن محمداً عبده ورسوله صلى الله عليه وعلى آله وصحبه وسلم تسليما كثيراً
Di tempat wudhu masjid Aisyah kami berjumpa dengan Yasir, seorang anak kecil berumur 6 tahun. Gigi depannya ompong dan selalu tersenyum. Badannya gendut dan selalu digerak-gerakkannya, menandakan bahwa dia anak yang periang. Ketika kami tanyakan siapa yang mengajarkannya berwudhu, Yasir menjawab dengan senyum, “Abi.”
Kami sering berjumpa dengan Yasir di masjid Aisyah. Sang ayah kerapkali mengajaknya kesini apalagi saat majelis ilmu berlangsung padahal kami dan anda mengetahui bahwa anak kecil seperti dia masih belum mampu mencerna tema-tema besar yang dibahas apalagi memahami istilah ataupun kosakata dalam dalam disiplin ilmu syar’i yang sedang diuraikan ustadz.
Begitu pula saat tarawih 11 raka’at tiap malam di bulan Ramadhan lalu, Yasir pun diajak sang ayah, padahal sang imam membaca 1 juz Al-qur’an yang membutuhkan waktu sekitar 90 menit. Subhanallah.
Dari potret ini, kami melihat bahwa Yasir hidup dalam ketaatan walaupun usianya yang masih amat belia. Oleh sang ayah, tentu ibunya juga, Yasir dibiasakan untuk melaksanakan adab-adab islam. Dari celananya, Yasir sudah tidak Isbal (celana di bawah mata kaki). Bagian kepalanya tertutup dengan peci putih. Dan masih banyak kelebihan lain yang kami ketahui dari Yasir.
Ini potret Yasir pada tahun 1433 H/2012 M ini, saat umurnya 6 tahun. Kelak, akankah Yasir menjadi permata hati yang jiwanya menyurga? Akankah Yasir kelak akan menjadi kesatria tangguh di jalan keimanan yang terhiasi ilmu dan akhlak yang mulia? Akankah Yasir menjadi anak yang amat dibanggakan tuanya?
Kami dan anda tentu saja berharap demikian.
Hanya saja, kami, anda dan kedua orang tuanya tidak mengetahui bagaimana keadaanya kelak ketika menginjak remaja dan dewasa. Bisa jadi ia menjelma menjadi pemuda yang terlumuri dengan fitnah syubhat dan syahwat sehingga menjadi sosok yang liar baik dalam cara berpikir, berpenampilan dan bertindak.
>>Mereka Saat Ini
Dalam lembaran kehidupan remaja, akan ditemukan bahwa ada diantara mereka yang meninggal dalam kecelakaan balap motor, mereka memperkosa saudari kandungnya, membunuh keluarganya, penyalahgunaan narkotika, perkelahian antar pelajar, mengkonsumsi minuman keras, bunuh diri, seks bebas, dan seabrek tindakan-tindakan lainnya
Bagaimana tidak demikian, zaman ini adalah zaman penuh ujian. Seorang pemuda yang tadinya berada dalam sejuknya ketaatan dan larut dalam syahdunya ilmu syar’i bisa gugur dari rel hidayah yang telah diraihnya lalu berkubang dalam lautan syubhat dan syahwat dunia. Zaman ini adalah zaman dimana dosa-dosa tak lagi terhitung baik dari level syirik, bid’ah hingga maksiat-maksiat.
Semua jenis dosa tersebut ini terlakoni sempurna oleh anak adam tanpa satupun yang tidak diperagakan. Adakah dosa dan maksiat yang belum pernah dilakukan anak adam?
Semua peragaan dosa tersebut terpampang dan tersuplai di hadapan kita. Mata kita melihatnya tiap hari. Telinga kita mendengarnya setiap saat. Dan kita hanya sebagai penonton di hadapan layar tersebut tanpa rasa risih, tanpa merasa gaduh.
Ibarat virus, semua adegan dosa itu mampu menyebar dan merasuk dalam tubuh dari berbagai jalur. Para remaja lah yang menjadi lahan empuk dan remaja tersebut adalah anak-anak kita, adik-adik kita, dan bahkan kita sendiri.
Kami dan anda sedang ditantang oleh ganasnya perputaran roda zaman yang mampu menggilas bulir-bulir keimanan. Ditambah kondisi lingkungan yang benar-benar tidak kondusif telah menjadi problem besar bagi tumbuh kembangnya jiwa sang anak.
Kami tuturkan bahwa pembicaraan kali ini kembali kami arahkan kepada anda, wahai muslimah. Ini bukan menuduh dan menjadikan anda sebagai tersangka atau biang kerok permasalahan yang dihadapi kaum muslimin. Kami berharap ini adalah sebagai salah satu solusi dari permasalahan yang sedang sama-sama diemban.
>>Engkaulah Dokter Jiwa Itu
Saudari muslimah, dalam level rumah tangga dan durasi pendidikan anak seumur hidup, kami menobatkan anda sebagai dokter jiwa yang mengobati hati dan akal pikiran anak-anak dari berbagai penyakit psikis yang menjangkiti mereka. Kami tidak mungkin menobatkan gelar ini kepada pembantu di rumah anda, atau wanita-wanita lain di luar sana karena andalah adalah ibu dari anak-anak anda yang bertugas dalam mengatur ritme lalu lintas pendidikan untuk mereka di surga mini anda.
Andalah dokter jiwa yang memberikan “resep higienis” kepada mereka dan ini merupakan amar ma’ruf nahi munkar sekaligus sedekah indah dari seorang wanita mulia seperti Anda. Bukankah objek paling utama dalam semesta pembicaraan amar ma’ruf nahi munkar adalah keluarga kita?
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
وأمر بالمعروف صدقة، ونهي عن المنكر صدقة
“…memerintahkan yang ma’ruf adalah sedekah dan melarang dari yang munkar juga merupakan sedekah…”[1]
Dalam kitab Kaifa Nu’aliju Akhta’a Abnaa-ina[2], kami mendapati tiga piranti/sarana yang harus dimiliki oleh seorang dokter jiwa. Berikut tiga piranti yang kami maksud beserta pembahasannya yang sengaja kami perluas dari literatur-literatur yang lain dan dari cara pandang kami yang kami anggap selaras dengan pembahasan ini.
>>Pertama: Kemilau Pesona Ilmu.
Kami, laki-laki, memberikan nilai plus sekaligus penghargaan kepada anda yang mendedikasikan diri terhadap ilmu. Apalah yang bisa diserap dari seorang yang nihil ilmu dan pengamalannya?
Dan ilmu syar’i lah yang kami maksud dalam pembahasan ini baik yang berhubungan dengan apa yang akan diajarkan kepada anak-anak anda berupa islam itu sendiri, ilmu tentang penyaluran/tranformasinya kepada sang buah hati dan ilmu lainnya yang serumpun dengan pendidikan anak seperti bagaimana mengembangkan kreatifitas mereka.
Begitu banyak pujian dan perkataan para ulama tentang keutamaan ilmu dan ahlinya. Telah ma’ruf (dikenal) bagi kami dan anda ucapan Ali bin Abi Thalib tentang ilmu. Beliau radhiyallahu ‘anhu berkata:
“ilmu menjagamu dan sedangkan engkau harus menjaga harta… kecintaan terhadap ilmu termasuk bagian dari ajaran agama karena bisa mewujudkan ketaatan dalam hidup. Ahli ilmu tetap dikenang walaupun sudah meninggal karena ilmunya tetap bermanfaat…”[3]
Dalam salah satu kitab yang ditulis oleh syaikh Ibrahim bin ‘Amir Ar-ruhaili, kami menemukan perkataan Imam Malik tentang para salaf yang mengajarkan ilmu kepada buah hati mereka. Imam malik bertutur:
كان السلف يعلمون أولادهم حب أبي بكر و عمر كما يعلمون السورة من القرآن
“Dahulu para salaf mengajarkan anak-anak mereka mencintai abu Bakr dan Umar sebagaimana mengajarkan surat dalam Al-qur’an.”[4]
Mereka mengajarkan anak-anak mereka sebuah ilmu yang mulia yaitu alqur’an. Mereka bisa mengajarkan anak-anak mereka karena ada ilmu yang dahulu mereka geluti. Bagaimana bisa mengajarkan ilmu jika ilmu itu sendiri tak kita miliki?
Saudari muslimah yang kami muliakan.
Bagi anda sebagai dokter jiwa, tujuan ilmu adalah untuk mencari ridha Allah dan mengharapkan pahala yang melimpah ruah. Sedangkan salah satu target ilmu sendiri adalah untuk bekal anak-anak anda, anak-anak kaum muslimin. Sebab dengannya akan mengualitaskan ketakwaan bagi anda dan bagi mereka.
Salah satu tema yang kami luaskan pembicaraannya dalam poin ‘ilmu’ ini adalah pendidikan anak. Anda, sebagai muslimah yang sudah menjadi istri dari lelaki shaleh yang merupakan suami anda, sangat perlu untuk memiliki lalu mempelajari literatur tentang pendidikan anak. Ini sebagai aktualisasi dan penghormatan terhadap ilmu yang merupakan piranti pertama dalam proses perbaikan kualitas diri dan keluarga.
Hal ini juga sebagai aktualisasi firman Allah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu;”[5]
Begitu pula bagi anda muslimah calon dokter jiwa dalam arti belum menikah, diharapkan memiliki pengetahuan tentang pendidikan anak dan penjabaran tema pendidikan anak bisa diperoleh dari referensi yang tersedia.
Dalam sebuah pertemuan, seseorang menyalahkan fulan yang sedang membaca buku bertemakan pendidikan anak. Ini dikarenakan fulan belum menikah dan dianggap belum layak membaca buku-buku seperti itu.
Ijinkan kami memberi respon sederhana dalam beberapa poin.
Justru fulan memiliki cara pandang yang bagus dan langkah yang cerdas dalam menghadapi problem masa depan yang berhubungan dengan pendidikan anak walaupun dia sendiri belum tahu kapan menjadi seorang ayah, bahkan menjadi suami. Betapa banyak ikhwan atau akhwat yang menggandrungi buku-buku pernikahan saja namun pada saat yang sama mereka tidak ‘melirik’ buku pendidikan anak. Hasilnya mudah ditebak yaitu ketiadaan bekal sekaligus kemampuan dalam menghadapi permasalahan yang muncul dalam dinamika kehidupan anak mereka.
Mari memahami dengan bijak dan arif bahwa buku-buku yang membicarakan pendidikan anak juga seyogyanya menjadi bacaan utama bagi pihak-pihak berikut yang kami anggap perlu disebutkan, selain orang tua:
Hemat kami, ada lima pertimbangan yang menjadikan empat ‘kubu’ di atas juga seyogyanya ‘melahap’ sebagian atau seluruh buku pendidikan anak selain buku-buku tentang pernikahan:
>>Pertama. Dalam setiap bidang apapun, teori umumnya lebih didahulukan dibanding aplikasi. Demikian juga konsep dalam islam yang sangat masyhur (terkenal) di kalangan penuntut ilmu yaitu berilmu sebelum berkata dan beramal/bertindak/bersikap.
Islam sebagai cahaya telah memberikan kemilaunya dalam hal pendidikan anak dan ini telah diperagakan dengan apik oleh generasi emas umat ini. Kisah-kisah mereka tertulis tinta sejarah dan telah dikumpulkan oleh para ulama maupun para penulis dalam kitab/buku, jurnal penelitian atau hasil studi literatur maupun dalam majalah-majalah yang menyediakan rubrik pendidikan anak atau majalah yang dikhususkan untuk tema ini.
>> Kedua. Kemajuan tekhnologi yang semakin pesat dan perkembangan zaman yang menggilas peradaban islam tentu akan mengambil bagian dalam menjadikan anak mampu memiliki dunia tersendiri dan berbeda dengan kehidupan orang tuanya dahulu ketika masih kecil. Oleh karena itu, buku-buku yang membahas tema ini begitu sangat diperlukan.
>>Ketiga. Pendidikan anak adalah sebuah keterampilan yang harus diasah dan ini membutuhkan proses. Ketika proses pembelajaran tentang pendidikan anak dimulai oleh orang tua ketika anak bermasalah maka penyelesaian masalah tersebut akan terhambat dan membutuhkan waktu yang lama bahkan tidak terselesaikan. Ingatlah bahwa anak adalah titipan Allah dan tentu sebagai orang tua harus benar-benar menjaga ‘titipannya’ hingga mereka bersama-sama menginjakkan kaki kelak di Surga. Insya Allah.
>>Keempat. Persiapan ikhwan atau akhwat yang mempelajari perihal pendidikan anak saat pra nikah justru menunjukkan bahwa mereka lebih siap dan siaga dalam membina rumah tangga dan dalam menyiapkan generasi rabbani lagi tangguh. Sebagai contoh kasus, dalam sebuah tabloid, tepatnya di rubrik konsultasi, seorang wanita mengeluhkan sikap suaminya yang tidak siap menjadi ayah setelah kehamilannya yang pertama. Hal ini menyebabkan retaknya hubungan mereka.
>>Kelima. Apa yang dilakukan hari ini, detik ini, bisa dituturkan sebagai gambaran kehidupan di hari esok. Merencanakan masa depan yang cerah tentu saja membutuhkan aktualisasi dini yang bertahap dan harus dilakukan di detik ini. Sehingga menghayalkan masa depan yang cerah bukanlah hayalan yang hanya menghabiskan waktu saat dihayalkan. Menghendaki terbitnya surga di beranda rumah tentu harus menyiapkannya sedini mungkin.
Wallahul muwaffiq a’la shiratil mustaqim. Bersambung, insya Allah.
Mataram Kota Ibadah, 10 Shafar 1433 H/ 04 Januari 2012 M.
Abdullah Akiera Van As-samawiy (Fachriy Aboe Syazwiena)
http://raudhatul-muhibbin.blogspot.com/2012/08/nak-aku-siap-jadi-ibu.html#more
________
End Notes:
[1] Hadits shahih riwayat Muslim, Abu Daud dan Ahmad
[2] Diterjemahkan oleh penerbit Pustaka Yassir dengan judul “Anakku, Ayah & Bunda Sayang Kamu”
[3] Lihat buku 30 Ways To Serve Religion oleh Abu Muhammad Mu’taz Billah Ridha. Jakarta: Qisthi Press, 2007, hal. 105.
[4] Syarah Ushul I’tiqad Ahlussunnah, Juz 7 hal. 1240.
[5] QS At-tahrim: 6
Allah, aku sayang anakku.
Bekal buat kami para calon ibu.. semoga Allah melindungi Anak keturunan kami nantinya dari hal2 yang menjauhkan mereka...