Henry Fordf, Sr, dalam The Internasional Jew: The Wolrd Foremost Problem, berkomentar: “Kita tidak sekadar memberikan pengaruh yang menentukan dalam sistem politik yang kita kehendaki serta kontrol terhadap pemerintah; kita juga melakukan kontrol terhadap alam pikiran dan jiwa anak-anak mereka.”

Kita sering menyaksikan berita seputar infotainment, misalnya: Luna Maya balik lagi ke Ariel, Nycta Gina lagi jengkel, Pasha Ungu aniaya istri, sampe si fulanah kejepit pintu, dan si fulan ketabrak becak dan lain-lain dan sebagainya. Wuah, kejepit pintu ama ketabrak becak aja bisa jadi berita? Nah, itu dia. Berhubung selebriti ini termasuk orbek, maka kejadian or peristiwa yang menurut kita nggak layak jadi berita, malah bisa diekspos dan jadi duit buat pengusaha media. Sama halnya kalo misalnya Presiden Amrik Barack Obama kepalanya ketiban papan penggilasan, itu bakal jadi berita besar. Apalagi diliput CNN, bisa geger seluruh dunia. Berita kecil apapun tentang mereka acapkali menjadi heboh. Dalam bahasa jurnalistik dikenal pameo: name makes news.

Coba kamu perhatiin deh, berapa banyak majalah or tabloid yang memuat berita tentang para selebritis? Juga, amati ada berapa program acara televisi yang menayangkan seputar sisi kehidupan mereka. Ambil contoh tayangan infotainment yang pernah dan sedang tayang. Semuanya senantiasa hadir terdepan dalam menguliti kehidupan kaum seleb sampe ke yang remeh-temehnya, semua televisi punya prog­ram tersebut. Malah ‘gokilnya’ beberapa acara tersebut diputer ulang menjelang shubuh. Beuh!

Bro en Sis, sejak lama acara infotainment itu bikin bete. Sebenarnya kalo dikatakan para seleb butuh infotainment nggak juga sih. Buktinya mereka banyak juga yang nggak suka kalo diusik terus masalah pribadinya. Kasus terbaru Luna Maya yang ngungkapin kekesalannya kepada infotaiment di akun twitter miliknya dengan pernyataan yang cukup kasar bikin geger dunia hiburan, khususnya pihak pengusaha dan pekerja infotainment. Luna bukan yang pertama, dulu ada Parto yang sempat menembakkan pistol ke udara untuk mengusir kerumunan pekerja infotainment yang terus memberondongnya dengan pertanyaan seputar masalah pribadinya. Nicky Astria juga pernah marah-marah ketika pekerja infotainment terus menguntitnya untuk mencari tahu masalah perceraiannya.

Namun anehnya, banyak juga lho masyarakat yang doyan nonton acara infotainment. Padahal, beritanya nggak menarik-menarik amat gitu lho. Ambil contoh, misalnya tentang seleb yang ulang tahun, koleksi sepatunya, atau bagaimana menikmati liburannya. Coba kalo kita yang begitu, nggak bakalan masuk berita. Tapi, karena mereka orbek, maka hal kecil tetap aja menarik di mata media. Juga di matamu. Jiahahah…!

Tontonan miskin manfaat

Ngomongin soal informasi, berarti kita nggak lepas dari yang namanya komunikasi. Salah satunya adalah komunikasi massa. Maka bermunculanlah media komunikasi seperti koran, majalah, tabloid, televisi, radio, dan yang lainnya. Tujuannya jelas, yakni untuk menyampaikan informasi. Menurut Defleur dan Dennis dalam bukunya Understanding Mass Communication (1985), bahwa “komunikasi massa adalah suatu proses di mana komunikator-komunikator menggunakan media untuk menyebarkan pesan-pesan secara luas, dan secara terus-menerus menciptakan makna-makna yang diharapkan dapat mempengaruhi khalayak yang besar dan berbeda-beda dengan melalui berbagai cara”. Catet ya!

Dengan begitu, khusus masalah berita seputar selebritis, maka berita yang disampaikan adalah untuk memberikan gambaran bahwa beginilah dunia kaum seleb. Tapi sayangnya, nggak dibarengi dengan penilaian yang objektif dan memberikan bimbingan. Ya, berita itu dibiarkan meluncur dan pembaca atau penonton sendirilah yang kudu menyimpulkan. Wuah, bahaya besar nih namanya.

Bro en Sis, kita tahu sama tahu deh, bahwa berita kayak begituan itu hanya ngabisin secara sia-sia jatah energi kita untuk mikirin masalah lainnya. Tanpa maksud memvonis teman remaja, yang itu berarti kamu termasuk di dalamnya, saya mencoba memberikan fakta bahwa remaja sekarang kebanyakan lebih memilih menjalani kehidupan ini dengan nyantai. Ini memang disebabkan karena pengaruh lingkungan juga tuh.

Walhasil, dalam hidup ini kita jadi orang yang dimanja dengan model kehidupan yang “adem ayem”. Pagi-pagi, saat bangun tidur, ada teman remaja yang langsung menyalakan radio, karena kebetulan doi termasuk remaja yang malas bangun shubuh. Padahal biasanya kalo shubuh acara radio maupun televisi berkaitan dengan persoalan agama. Ketika berangkat sekolah, teman-teman di sana udah ngerumpi tentang film, sinetron, selebritis, bintang NBA, juga pahlawan-pahlawan di EPL atau ISL, misalnya. Bacaan yang dipelototi bukan lagi pelajaran kimia, matematika, biologi, bahasa dan lainnya, tapi yang dibaca adalah majalah remaja yang mengupas abis tren, gaya, dan gosip selebriti lokal maupun mancanegara. Siang sampe sore hari, televisi sudah siap dengan acara infotainment dan itu mesti ada hubungannya dengan kaum selebriti.

Membius akal sehat

Teman teman, kita benar-benar dikepung dari segala arah. Nyaris nggak bisa lepas dari suguhan beragam tayangan murahan dari semua stasiun televisi. Selain infotainment, marak juga sinetron yang nggak mendidik. Menyedihkan banget.

Inilah pertarungan budaya yang memaksa kita jadi korbannya. Kita menerima dan menyukai karena banyak tersedia. Bukan karena kita butuh. Tayangan televisi banyak yang kental banget dengan budaya pop. Kamu tahu budaya pop? Kata orang pinter, budaya pop adalah budaya yang ringan, menye­nangkan, trendi, dan cepat ber­ganti.

Kritikus Lorraine Gam­man dan Marga­ret Marshment, keduanya pe­nyunting buku “The Female Ga­ze: Women as Viewers of Popu­lar Culture (1998)”, berse­pakat bah­wa bu­daya popu­ler adalah sebu­ah medan pergu­latan ketika me­ngemukakan bah­wa tidaklah cu­kup bagi kita untuk semata-mata menilai bu­daya populer se­bagai alat kapi­talisme dan pat­riarki yang menciptakan kesadaran palsu di kalangan banyak orang. Bagi mereka, budaya populer juga tempat dipertarungkannya makna dan digugat­nya ideologi dominan. Hmm.. waspadalah!

Celakanya, dalam pertarungan tersebut, siapa pun bisa terlibat dalam lingkarannya. Termasuk tentunya remaja. Perang ideologi nggak bisa dihindarkan lagi sobat, alias kudu pasti terjadi benturan. Lucunya, acapkali kita, kalangan remaja, udah merasa down duluan dari pada harus bertarung melawan budaya terse­but. Halah, ini untuk tidak mengatakan kalo remaja biasanya pura-pura tidak tahu apa-apa, dan lebih memilih “terbawa” arus budaya yang lebih kuat. Parahnya lagi, seperti diakui banyak pengamat, bahwa budaya populer yang sekarang lagi ngetren bergerak amat cepat. Saking cepatnya, sampe tanpa sadar kita dipaksa patuh dengan logic of capital, logika proses produksi, yakni hal-hal yang dangkal dan cepat ditangkap yang cepat laku. Inilah yang sering dijuluki sebagai instans culture.

Anthony Giddens menyebutnya sebagai dunia yang sedang berlari dan semua yang selalu berlari satu track lebih tinggi ini memang tidak memiliki kesempatan untuk merenungkan lebih dalam. Yang penting dalam dunia ini adalah menjual dan membeli. Nah, lho.

Para pengusaha televisi juga kayaknya doyan menyihir pemirsa. Demi mengeruk banyak uang, mereka rela meracuni anak bangsa. Kita benar-benar dibius dengan tayangan murahan seperti itu. Akibatnya, jangan kaget kalo ada pemirsa yang akhirnya bertindak nekat karena merasa benar dengan apa yang ditayangkan televisi. Inilah kalo dalam bahasa komunikasi ada sebuah efek yang namanya efek spiral kebisuan. Artinya kalo info itu salah sekalipun, tapi ditayangkan berulang-ulang bisa berubah jadi ‘benar’, lho.  Apalagi nggak ada tayangan tanding­an­nya. Udah deh, wassalam itu mah. Ckckck…

Itu sebabnya, pakar komunikasi seperti Mc.Luhan, yang juga penulis buku Understanding Media: The Extensive of Man, menyebutkan bahwa media massa adalah perpanjangan alat indera kita. Yup, dengan media massa kita memperoleh informasi tentang benda, orang atau tempat yang belum pernah kita lihat atau belum pernah kita kunjungi secara langsung. Realitas yang ditampilkan media massa adalah realitas yang sudah diseleksi.

Televisi memilih tokoh-tokoh tertentu untuk ditampilkan dan mengesampingkan tokoh yang lainnya. Surat kabar pun, melalui proses yang disebut “gatekeeping” lebih banyak menyajikan berbagai berita tentang “darah dan dada” (blood and breast) dari pada tentang contoh dan teladan. Itu sebabnya, kita nggak bisa, atau bahkan nggak sempat untuk mengecek peristiwa-peristiwa yang disajikan media. Boleh dibilang, kita cenderung memperoleh informasi tersebut semata-mata berdasarkan pada apa yang dilaporkan media massa. Bener-bener membius akal sehat!

Bikin malas

Sobat muda muslim, kalo kamu membaca tradisi kehidupan Rasulullah dan para sahabatnya, juga para ulama salaf, kayaknya kita kudu malu deh. Kenapa? Kehidupan mereka nyaris menyatu dengan persoalan-persoalan ilmu dan ketakwaan.

Kondisi saat ini bagaimana? Walah, berita-berita seputar kehidupan selebritis malah mengalahkan berita yang lainnya. Di hampir semua stasiun televisi swasta, ada acara infotaiment. Di majalah remaja, tabloid remaja, berita soal seleb juga hadir dalam kemasan yang eksklusif. Duh, bener-bener kita digempur dari sana-sini.

Maka nggak usah heran kalo banyak teman remaja lebih hapal grup-grup musik dan lagu-lagunya ketimbang persoalan politik, ekonomi, sosial, hukum, apalagi pemerintahan. Ah, nggak tega kalo harus nyebut buta banget mah. Lho kok ini nyebut sih?

Nyadar kenapa?

Bukan kami merasa sok benar sendiri, apalagi sok suci. Tapi maksud saya adalah supaya kamu juga mulai berpikir lebih rasional, serius, dan dapat menghasilkan karya positif. Jadi otak kamu benar-benar produktif.

Sebab, Allah Ta’ala telah membimbing kita untuk memberdayakan otak kita dengan hal-hal yang benar dan baik.

Sebagai contoh, firmanNya (yang artinya): Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS al-‘Alaq [96]: 1-5)

Penjelasan ayat ini mengajak kita untuk memaksimalkan peran otak untuk mendukung akal dalam berpikir. Jadi, mulai saat ini, bersikaplah bijak. Tontonan dan bacaan seputar kehidupan selebritis, mulai sekarang sedikit demi sedikit dikurangi, dan lebih banyak menyantap berita-berita yang erat hubungannya dengan masalah kehidupan kaum muslimin.

Oke deh, sekarang kami mau tanya—khususnya kepada kamu yang doyan dan getol mengikuti liku kehidupan kalangan seleb, apa sih yang selama ini kamu dapatkan? Terus aplikasinya ke mana? Kerasa nggak manfaatnya?

Ketahuilah Otak kita ini pun dilatih untuk berpikir serius alias tidak nyantai. Beda banget dengan menyantap berita soal selebritis, itu berita ringan dan miskin manfaat. Ya, kalo pun kudu baca, anggaplah buat selingan aja, bukan pokok. Tapi celakanya, sekarang kan nggak begitu. Banyak teman remaja yang justru menjadikan berita tentang selebriti sebagai menu utama dalam bacaan dan tontonannya. Walah, celaka dua belas ini mah!

Teman teman, kalo kita perhatiin, di balik gencarnya berita tentang selebritis ini, paling nggak kita melihat tiga bahaya besar yang mengancam. Pertama, menuntun pambaca dan penonton menuju kejumudan berpikir. Kedua, memalingkan pembaca dan penonton dari masalah yang seharusnya mendapat perhatian lebih. Ketiga, menyuburkan tradisi ghibah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَلاَ يَغْتِبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُ وَاتَّقُوْا اللهَ إِنَّ اللهَ تَوَّابٌ رَحِيْمٌ

“Dan janganlah sebagian kalian mengghibahi sebagian yang lain. Sukakah salah seorang dari kalian memakan daging bangkai saudaranya yang telah mati, pasti kalian membencinya. Maka bertaqwalah kalian kepada Allah, sungguh Allah Maha Menerima taubat dan Maha Pengasih”. [Al Hujurat :12]

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyamakan mengghibahi saudara kita dengan memakan daging saudara (yang dighibahi tadi) yang telah menjadi bangkai, yang (hal ini) amat sangat dibenci oleh jiwa manusia. Sebagaimana kalian membenci memakan dagingnya -apalagi dalam keadaan bangkai, tidak bernyawa- maka demikian pula hendaklah kalian membenci mengghibahinya dan memakan dagingnya dalam keadaan hidup” [Taisir Karimir Rahman tafsir surat Al-Hujurat :12].

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ قَالَ : أَتَدْرُوْنَ مَا الْغِيْبَةُ ؟ قَالُوْا : اللهُ وَ رَسُوْلُهُ أَعْلَمُ، قَالَ : ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ، فَقِيْلَ : أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِيْ أَخِيْ مَا أَقُوْلُ ؟ قَالَ : إِنْ كَانَ فِيْهِ مِا تَقُوْلُ فَقَدِ اْغْتَبْتَهُ, وَ إِنْ لَمْ يَكُنْ فِيْهِ مَا تَقُوْلُ فَقَدْ بَهَتَّهُ

“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwsanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tahukah kalian apakah ghibah itu?”. Sahabat menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Yaitu engkau menyebutkan sesuatu yang tidak disukai oleh saudaramu”, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya: “Bagaimanakah pendapat anda, jika itu memang benar ada padanya ? Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Kalau memang sebenarnya begitu berarti engkau telah mengghibahinya, tetapi jika apa yang kau sebutkan tidak benar maka berarti engkau telah berdusta atasnya”. [Muslim no 2589, Abu Dawud no 4874, At-Tirmidzi no 1999 dan lain-lain]

Hal ini juga telah dijelaskan oleh Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu.

عَنْ حَمَّاد عَنْ إبْرَاهِيْمَ قَالَ : كَانَ اِبْنُ مَسْعُوْدٍ يَقُوْلُ : الْغِيْبَةُ أَنْ تَذْكُرَ مِنْ أَخِيْكَ مَا تَعْلَمُ فِيْهِ. وَإِذَا قُلْتَ مَا لَيْسَ فِيْهِ فَذَاكَ الْبُهْتَانُ

“Dari Hammad dari Ibrahim, dia berkata : Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berkata :”Ghibah adalah engkau menyebutkan apa yang kau ketahui pada saudaramu, dan jika engkau mengatakan apa yang tidak ada pada dirinya berarti itu adalah kedustaan”.[ Lihat Kitab As-Somt no 211, berkata Syaikh Abu Ishaq Al-Huwaini : “Rijalnya (para perawinya) tsiqoh (terpercaya)”]

Dari hadits ini para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan ghibah adalah “Engkau menyebutkan sesuatu yang ada pada saudaramu, yang seandainya dia tahu maka dia akan membencinya”. Sama saja, apakah yang engkau sebutkan adalah kekurangannya yang ada pada badannya atau nasabnya atau akhlaqnya atau perbuatannya atau pada agamanya atau pada masalah duniawinya. Dan engkau menyebutkan aibnya di hadapan manusia dalam keadaan dia ghoib (tidak hadir). Syaikh Salim Al-Hilali berkata: “Ghibah adalah menyebutkan aib (saudaramu) dan dia dalam keadaan ghaib (tidak hadir di hadapn-mu). Oleh karena itu (saudaramu) yang goib tersebut disamakan dengan mayat, karena orang yang ghoib tidak mampu untuk membela dirinya. Demikian pula mayat tidak mengetahui bahwa daging tubuhnya dimakan, sebagaimana orang yang ghoib juga tidak mengetahui ghibah yang telah dilakukan oleh orang yang mengghibahinya”. [Bahjatun Nadzirin 3/6]

Akhir kata jajanan baru ini akan bikin generasi masa depan kita buram, jumud, malas, dan nggak produktif. Yang pasti Ghibah! Jadi Kanibal dong! Hih, syerem! [solihin: osolihin@gaulislam.com | http://osolihin.com]

Sumber : http://www.gaulislam.com/infotainment-selebriti-dan-pemirsa dengan sedikit edit dari kami tanpa mengurangi esensi tulisan nya

  1. islamdiaries posted this