Allah menganugerahi kepada para hamba Nya dengan nikmat yang sangat banyak sampai tidak terhitung, mungkin nikmat yang terpenting bagi kita sebagai manusia adalah nikmat telah diciptakannya kita sbg manusia, kita juga diberikan nikmat umur panjang agar dapat bertaubat juga nikmat hidayah, atau juga nikmat akan terbatasnya diri kita dan nikmat yang teragung dan tertinggi dari nikmat-nikmat tadi adalah nikmat Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW sebagai utusanNya. Tidak ada keberuntungan bagi umat manusia di dunia dan akhirat kecuali dengan Islam. Allah menciptakan alam ini sebagai bukti akan kesempurnaan ilmu dan kekuasaannya. Islam adalah penerang nya yang menjelaskan perkara yang bermanfaat dan berbahaya. Karena setiap manusia membutuhkan syari'at. Maka, dia berada di antara dua gerakan: gerakan yang menarik kepada perkara yang berguna dan gerakan yang menolak mara bahaya.

Nah, untuk masalah Agama Islam itu ada tiga tingkatan: Islam, Iman danIhsan.

 Perbedaan di antara Islam, Iman dan Ihsan:

            Jika disebutkan secara bersamaan, maka yang dimaksud dengan Islam adalah amal perbuatan yang Nampak atau terlihat secara jelas, yaitu rukun Islam yang lima, sdgkan pengertian iman adalah amal perbuatan yang tidak Nampak, yaitu rukun iman yang enam.

Keimanan ini mencakup keyakinan dan kepercayaan dalam hati.

Dan bila hanya salah satunya (yang disebutkan) maka maksudnya adalah makna dan hukum keduanya.

Ruang lingkup ihsan lebih umum daripada iman, dan iman lebih umum daripada Islam. Dari segi makna maka Ihsan lebih umum dari sisi maknanya; karena ia mengandung makna iman/keimanan. Seorang manusia tidak akan bisa menuju martabat ihsan kecuali apabila ia telah merealisasikan iman.

Kemudian makna Iman lebih umum daripada Islam dari sisi maknanya; karena ia mengandung Islam. Maka, seorang hamba tidak akan sampai kepada tingkatan iman kecuali apabila telah merealisasikan atau dgn kata lain menjalankan Islam. Karena ahli iman adalah segolongan dari ahli Islam (muslim), bukan semuanya.

Maka, jelas sekali kalau setiap mukmin adalah muslim dan tidak setiap muslim adalah mukmin.

Mari kita telusuri lebih dalam.

Pengertian Islam:

            Islam itu adalah Ikhlas/berserah diri kepada Allah dengan tauhidNya dan tunduk kepadaNya, dengan taatNya dan berlepas diri dari perbuatan syirik. Allah ingin komitmen kita. Komitmen yang mana? Komitmen akan SyahadatAin, bahwa SyahadatAin adalah garis batas yang memisahkan keislaman dengan kekafiran.  Tidak ada wilayah abu-abu di antara keduanya.  Pilihannya hanya dua: beriman atau kafir. Lalu kita punya komitmen lagi, sebelum kita diturunkan ke dunia :

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengata-kan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)” (QS Al Araaf:172)

Nah ke 2 contoh tsb diatas adalah bentuk penyerahan diri kita kepada Allah SWT. Bentuk kepasrahan diri kita. Mari kita kembalikan ke konteks ke Islaman. Barangsiapa yang berserah diri kepada Allah, maka dia adalah seorang muslim. Dan barangsiapa yang berserah diri kepada Allah dan yang lainnya, maka dia adalah seorang musyrik. Dan barangsiapa yang tidak berserah diri kepada Allah, maka dia seorang kafir yang sombong. Islam adalah agama yang lurus, yang sangat bijaksana dan sempurna dalam segala berita dan hukum-hukumnya. Ia tidak memberitakan kecuali dengan jujur dan benar, dan tidak menghukum kecuali dengan yang baik dan adil. Tentu kita tidak bisa melupakan Syari’ah Islam. Nah, Syari’ah Islam itu bertujuan untuk:

1. Memperkenalkan manusia dengan Tuhan dan Pencipta mereka, melalui nama-nama-Nya yang mulia dan sifat-sifat-Nya yang agung, serta perbuatan-perbuatan-Nya yang sempurna.

2. Menyeru manusia untuk beribadah hanya kepada Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya; dengan menjalankan semua perintah dan menjauhi semua larangan-Nya, yang merupakan kemaslahatan bagi mereka di dunia dan akhirat.

3. Mengingatkan mereka akan keadaan dan tempat kembali mereka setelah mati, dan apa yang akan mereka hadapi di dalam kubur, serta ketika dibangkitkan dan dihisab. Kemudian tempat kembali mereka surga atau neraka.

Rukun-Islam

            Rukun Islam ada lima:

“Rasulullah bersabda, ‘Islam dibangun atas lima perkara: Bersaksi bahwa tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan dan berhaji.”

Pengertian Iman

            Iman: Engkau beriman atau mempercayai tanpa ada keraguan kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari kiamat, dan engkau beriman kepada qadar (ketentuan) baik dan buruknya.

            Iman adalah ucapan dan perbuatan. Iman adalah komitmen. Ucapan hati serta lisan, atau kombinasi antara amal hati, lisan dan anggota tubuh, iman itu bertambah dengan taat kepada Sang Maha Pencipta.

Tingkatan-tingkatan Iman:

              Iman itu memiliki rasa, manis dan hakekat.

Adapun rasanya iman, maka Nabi menjelaskan dengan sabda-Nya: “Yang merasakan nikmatnya iman adalah orang yang ridha kepada Allah sebagai Rabb (Tuhan), Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai rasul.” (HR. Muslim)

Adapun manisnya iman, maka Nabi menjelaskan dengan sabdanya: Ada tiga perkara, jika terdapat dalam diri seseorang, niscaya dia merasakan nikmatnya iman: bahwa Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya dari apapun selain keduanya, dia tidak mencintai seseorang kecuali karena Allah dan dia benci kembali kepada kekafiran sebagaimana dia benci dilemparkan dalam api neraka.” (Muttafaqun 'alaih)

Adapun hakekat iman, maka bisa didapatkan oleh orang yang memiliki hakekat agama. Berdiri tegak memperjuangkan agama, dalam ibadah dan dakwah, berhijrah dan menolong, berjihad dan berinfak.

Cinta yang sempurna kepada Allah & Rasul-Nya memberikan suatu konsekuensi adanya sesuatu hal yang dicintainya. Apabila cinta dan bencinya hanya karena Allah, yang keduanya adalah amal ibadah hati, dan pemberian dan tidak memberinya hanya karena Allah, yang keduanya adalah amal ibadah badan, niscaya hal itu menunjukkan kesempurnaan iman dan kesempurnaan cinta kepada Allah.

Dari Abu Umamah, dari Rasulullah SAW bersabda, Barang siapa cinta karena Allah, memberi karena Allah, dan melarang karena Allah SWT niscaya dia telah menyempurnakan Iman”

Pengertian Ihsan

Dalam beribadah kepada Allah. Kita beribadah seolah-olah kita melihat Allah. Jika tidak bisa, kita harus yakin bahwa Allah SWT yang Maha Melihat selalu melihat kita. Ihsan ini harus kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga jika kita berbuat baik, maka perbuatan itu selalu kita niatkan untuk Allah. Sebaliknya jika terbersit niat kita untuk berbuat keburukan, kita tidak mengerjakannya karena Ihsan tadi.  Ini sangat tidak mudah. Ini merupakan sebuah tingkat kepercayaan yang sangat tinggi. Sebuah kecintaan yang sangat tinggi. Sebuah ke khusyukan akan kehidupan. Kalo dilihat khusyuk itu artinya apa : state of kekhusukan adalah dalam artian keadaan dimana kita benar-benar sadar kita adalah makhluk Allah, totally. Ingat kan arti Hablumminallah dan hablumminannas. Makhluk Allah dulu baru Makhluk Sosial, Bukan kebalikan. Nah, yang harus diusahakan adalah bagaimana caranya untuk khusuk di dunia ini selagi kita masih belum mati. Dalam arti kata, cobalah untuk sering menggoyahkan konsep "kita adalah makhluk sosial” dengan mengingat bahwa kita ini adalah makhluk Allah terlebih dahulu, dan baru menjadi makhluk sosial. Bukan berarti kita tidak boleh kejar dunia, Allah dan Rasulnya malah menyuruh kita untuk mencari dunia sebanyak banyaknya dan seluas luasnya kok, tapi janganlah sampai kebablasan. Janganlah jadi lebih cinta dunia dari akhirat. Balance. Kalau kita sudah sadar sepenuhnya bahwa kita adalah Makhluk Allah, maka akan timbul kepercayaan yang amat sangat kepada Allah. Kepasrahan menyeluruh. Kepasrahan untuk diatur oleh Allah SWT. Karena pasrah yang benar akan membawa ketiadaan diri atas pengakuan kemampuan ego manusia dan menyerahkan seutuhnya kepada Allah SWT. Jangan takut untuk menyerahkan diri kepada Allah karena semua akan digantikan oleh Nya. Itulah yang dimaksud dengan Ihsan. Luar biasa bukan?

Oleh karena itu patut kita berbangga hati kalau Islam, itu agama ku.

Ilmu dalam Agama Islam ini sangat lah luas dan saling berkaitan. Jadi jika kita mau mempelajari Islam haruslah menyeluruh jangan sepotong sepotong. Karena nanti kita pasti akan mengerti satu demi satu. Jika kita sudah mengerti satu demi satu, maka akan sulit bagi kita utk bisa “nyambung” dalam pola pikir orang orang yg belum mengerti Islam, atau yang belajar dengan sepotong sepotong. Karena patokan utama kita adalah Al Qur’an dan hadis. Maka perlu diingat “Manusia adalah makhluk individu dalam beramal shaleh untuk mendapatkan ridha Allah”.

Oleh karena itu selanjutnya, dalam Agama Islam juga mengatur kehidupan pemeluknya secara individu dan kelompok, dengan konsep yang menjamin kebahagiaan hidup mereka dunia dan akhirat. Tetapi di masa sekarang semua seperti menjadi rancu. Oleh karena itu kita ambil yang pasti pasti saja deh, yaitu hubungan antara manusia dgn Tuhan nya. Malah mungkin dengan bersikap seperti ini kita malah makin belajar akan segala sesuatu. Besihkan hati kita saja dulu, pahami betul semuanya. Karena Hati yang bersih dan selamat akan selalu melihat kebenaran sebagaimana mata melihat matahari.

 

 

  1. myshorttime reblogged this from islamdiaries
  2. islamdiaries posted this