Betapa tersinggungnya kaum musyrikin Mekkah ketika Rasulullah shalallahu alaihi wasallam mengajak mereka untuk meninggalkan berhala-berhala pujaannya. Ratusan berhala diletakkan di sekitar Ka’bah dan di dalamnya, tak satu pun yang menarik hati beliau. Padahal saat itu tiap-tiap kabilah memiliki berhalanya sendiri-sendiri, bahkan konon setiap rumah memiliki berhala juga.
Disodori harta, ia tak berminat. Ditawari tahta, ia tak terpikat. Dipilihkan wanita, ia tak juga tergoda. Bahkan ketika orang-orang Musyrik ‘melunak’ dan menawarkan agar Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dan para pengikutnya sudi menyembah berhala sehari dan menyembah Allah sehari, turunlah wahyu yang kemudian mengalir deras melalui lisannya, “Qul yaa ayyuhal kaafiruun, laa a’budu maa ta’buduun, wa laa antum ‘aabiduuna maa a’bud, wa laa ana ‘aabiduuna maa ‘abadtum, wa laa antum ‘aabiduuna maa a’bud, lakum diinukum wa liyadiin…”
‘Amr bin Luhayy-lah oknum pertama yang membawa tradisi penyembahan berhala ke Mekkah. Ia sempat berkelana ke Syam yang masyarakatnya menyembah berhala. Saat kembali ke Mekkah, ia membawa serta berhala-berhala itu. Berkembanglah tradisi penyembahan berhala beserta segala inovasinya di tengah-tengah kaum yang nenek moyangnya pernah dibimbing oleh Nabi Isma’il alaihis salam. dan Nabi Ibrahim alaihis salam. itu.
Tradisi penyembahan berhala di Mekkah pada masa itu tidaklah melupakan keberadaan Allah Ta'ala sama sekali. Masyarakat Mekkah masih mengakui Allah sebagai Sang Pencipta. Hanya saja mereka merasa tak bisa berkomunikasi langsung kepada Allah lantaran dirinya tak suci dari dosa. Untuk mengatasi masalah itu, mereka pun menjadikan berhala-berhala sebagai perantara. Mereka bangun berhala dari batu, tanah atau pohon, namun mereka tak pernah menyembah bebatuan, tanah dan pepohonan di alam. Karena suatu alasan yang begitu sulit untuk dijelaskan, mereka hanya mau menyembah benda-benda yang sudah mereka olah dengan tangannya sendiri.
Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam jelas bukan Nabi pertama yang berhadapan dengan para penyembah berhala. Jauh sebelum masanya, Nabi Ibrahim alaihis salam telah mendebat kaumnya yang bersikeras menyembah berhala. Pada jamannya Nabi Musa alaihis salam, Fir’aun bahkan telah menjadikan dirinya sendiri sebagai berhala yang menandingi Tuhan. Fir’aun dengan lantangnya menantang siapa saja yang merasa punya tuhan selain dirinya. Namun ketika berhadapan dengan Nabi Musa alaihis salam dan Nabi Harun alaihis salam, ia minta juga dibuatkan menara yang tinggi agar ia bisa menjangkau langit dan memandang wajah Tuhan-nya Musa alaihis salamdan Harun alaihis salam. Mengaku tuhan tapi minta dibuatkan menara?
Ketika Rasulullah shalallahu alaihi wasallam . dilahirkan, agama Nasrani telah menetapkan dogma bahwa manusia takkan selamat kecuali melalui iman kepada penyaliban Yesus. Tuhan menciptakan manusia, kemudian menyesal. Karena manusia berlumuran dosa, maka tak bisa menjangkau tuhan. Maka tuhan pun berinisiatif mengutus ‘anaknya’ ke dunia untuk disalib, karena hanya dengan penyaliban itulah tuhan bisa ‘berdamai’ dengan manusia.
Meski demikian, doktrin trinitas dan penyaliban sampai detik ini masih saja sulit dicerna. Muncullah doktrin credo ut intellegam (aku beriman supaya aku bisa mengerti). Karena tidak juga bisa dimengerti, diformulasikanlah doktrin berikutnya, yaitu credo quia absurdum (aku beriman justru karena doktrin itu tidak masuk akal). Pada akhirnya, akal logika pun ‘menyerah’ ketika harus menjelaskan doktrin-doktrin paling penting dalam agama Nasrani, sehingga St. Jerome pun harus mengakui, “De mysterio Trinitatis recta confessio est ignoratio scientia” (misteri Trinitas hanya dapat diimani dengan mengakui bahwa kita tidak bisa memahamiya).
Perilaku manusia dari masa ke masa tidaklah berbeda jauh. Substansinya, manusia adalah manusia dengan fitrah sebagaimana manusia telah diciptakan sejak masa Nabi Adam alaihis salam. Kebingungan para penyembah berhala jaman dahulu tidak jauh berbeda dengan para penyembah berhala kontemporer. Kemusyrikan jaman sekarang tidaklah lebih modern daripada para pendahulunya. Di mana-mana dapat kita temui orang yang menyimpan jimat dengan pembenaran, “Ini hanya ikhtiar!”. Ada orang yang mengunjungi makam orang-orang saleh dengan seribu permintaan dengan alasan, “Yang disembah tetap Allah, ini hanya perantara!”
Sementara itu, Islam datang membawa ajaran tauhid yang begitu sederhana. Allah Maha Besar, Maha Kuasa, Maha Melihat, Maha Mendengar, Maha Mengetahui, Maha Kaya dan Maha Penyayang. Kalau masih ada pertanyaan tentang Allah, jawabannya sederhana saja:
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku dekat. (QS. Al-Baqarah [2]: 186)
Betapa sederhana penjelasan al-Qur’an, dan betapa tepat sasarannya! Allah itu dekat, dan karenanya, tak perlu jauh-jauh mencari! Tak perlu mendaki gunung untuk mencari batu terbaik atau menembus hutan untuk mendapatkan kayu terbagus hanya untuk membuat ‘perantara’. Tidak ada sesuatu pun di antara Allah dan manusia, kecuali manusia itu sendiri yang menciptakan jarak dengan-Nya. Sementara semua ajaran kemusyrikan mempersulit syarat untuk membuat koneksi antara manusia dengan Tuhan-nya, Islam justru membuka pintu selebar-lebarnya; saluran langsung dua puluh empat jam sehari, tujuh hari dalam seminggu, bahkan tak perlu menunggu nada sela barang sedetik pun!
Untuk berkomunikasi dengan Allah, tak perlu persyaratan macam-macam. Siapa pun akan didengar suaranya oleh Dia Yang Maha Mendengar. Tapi kalau perlu komunikasi yang lebih khusus, lebih intim, apalagi kalau sedang membutuhkan pertolongan, maka kita disuruh mendirikan shalat. Orang lain susah payah mencari Tuhan, umat Muslim justru lima kali sehari berkomunikasi dengan-Nya. Minimal!