Via
B : “ Bener2 gila !! Allah kok dikatakan diatas langit.. Kalo emang di atas langit, kok para atronot waktu ke langit gak ketemu ya sama Allah ?? ”
A : “Ooo.. Jadi Allah gak diatas langit ya mas ??”
B : “Ya nggak laaah.. Kalo Allah dilangit, berarti sama dong dengan makhluk ??? Kan manusia juga ada yang kelangit !!”
A : “Saya tanya ya.. Allah itu ada nggak mas ??”
B : “Hah ?? Pertanyaan macam apa itu ?? Jelaslah Allah itu ada..”
A : “Trus, manusia itu ada nggak ??”
B : “Ya jelas ada lah, maksudmu apa sih ??”
A : “ Wah.. Berarti mas ini juga menyamakan Allah dengan makhluk donk ??? Mas katakan Allah itu ada, berarti sama dengan manusia yang juga ada.. Allah dan makhluk sama2 ada dong ??”
B : “Kamu ini jangan menyamakan Allah dengan makhluk ya !!”
A : “Siapa yang menyamakan mas ?? Justru mas sendiri yang menyamakannya.. Kan mas yang bilang Allah dan makhluk itu sama2 ada..”
B : “Mmm.. Enggg.. Lho, tapi kan, keberadaannya manusia itu beda dengan keberadaannya Allah.. Jangan disamakan ya..”
A : “Nah… Begitu juga dengan keberadaan Allah dilangit juga beda mas dengan keberadaan manusia yang ke langit..”
B : “Mmm… Enggg.. (sambil garuk2 kepala walo sedang tidak gatal) Iya yaa ??”
A : “Saya tanya lagi ya mas.. Allah itu bisa melihat nggak ???”
B : “Ya bisa lah.. Bahkan Allah maha melihat..”
A : “Nah lho ??? Mas menyamakan lagi Allah dengan makhluk.. Bukankah manusia juga bisa melihat, sama dong Allah dengan Makhluk-Nya ?? Yakni sama2 bisa melihat..”
B : “Mmm.. Enggg.. Iya siih.. Tapi kan.. Kalo Allah dilangit, berarti Allah butuh langit dong untuk bersemayam disitu ??? Kan cuma makhluk yang butuh tempat..”
A : “Yang menyimpulkan Allah butuh langit atau butuh tempat kan akal mas saja.. Saya tanya : Allah mampu gak mencabut nyawa manusia ???”
B : “ Mampu lah !!”
A : “Lalu kenapa Allah menciptakan malaikat maut ??? Apa berarti Allah membutuhkan malaikat maut untuk mencabut nyawa manusia ??? Tidak kan ??? Justru malaikatlah yang membutuhkan Allah.. Begitu juga dengan semua makhluk dan semua ciptaan Allah, semua membutuhkan Allah, bukan sebaliknya mas !!”
B : “Tapi kaaan.. Mmm.. Enggg..”
A : “Nah.. Sekarang pertanyaan paling penting.. Allah itu ada dimana ??”
B : “Allah itu tidak bertempat dan tidak ber-arah !!”
A : “Haaa ??? Jadi Allah itu gak ada ???”
B : “Haduuuh.. Kamu ini gimana sih !? Allah itu ada, tapi tidak diatas tidak dibawah, tidak dikanan tidak dikiri.. Pokoknya ya, Allah itu ada tapi tidak bertempat dan ber-arah !!”
A : “Oooo… Jadi menurut mas, Allah itu tidak disana tidak disini tidak disitu, dst.. Jadi Allah itu ada, tapi gak ada dimana2 ???”
B : “Mmm… Enggg… Ya begitulah..”
(Oopz, tiba2 datanglan si C yang langsung menyela obrolan)
C : “Ngawur kamu ini !! Allah itu ada dimana2 !! Buktinya Allah bisa tahu semua tindakan hambaNya..”
(Oopz, tiba2 lagi, datanglah si D yang juga langsung nimbrung dalam obrolan)
D : “Salah semua !! Allah itu ada dihati setiap manusia !! Buktinya Allah tahu setiap yang terbetik dalam hati kita..”
A : “Lho lho lho.. Yang bener yang mana nih mas ???”
B : “Halah.. Semua bener.. Yang salah tuh yang bilang Allah diatas langit !!”
B dan C : (serempak berkata) “Ya bener itu !! Yang jelas Allah tidak diatas langit..”
A : “Hhhmmm.. Yang satu bilang Allah tidak ada dimana2, satunya yakin Allah ada dimana2, lainnya percaya Allah ada dihati manusia.. Hebatnya : Walo saling kontradiktif, kalian tetep kompak menolak mengimani Allah diatas langit ??? Ya udah.. Sekarang saya tanya pada kalian semua : Kalo Allah tidak diatas langit, trus dalam peristiwa Mi'roj, Nabi shallallahu alaihi wa sallam pergi kemana dan ketemu siapa ya ????”
B,C,D : (serempak) “Mmm.. Enggg…”
A : ”Apakah kamu merasa aman terhadap DZAT yang di atas langit, bahwa Ia akan menenggelamkan ke dalam bumi, maka tiba-tiba ia (bumi) bergoncang ?” (Al-Mulk : 16)
Pertanyaan : Siapakah DZAT yang di atas langit tsb ??
B,C,D : “Mmm.. Enggg..”
A : Nabi shallallahu'alaihi wa sallam telah bersabda :
”Orang-orang yang penyayang, mereka itu akan disayang oleh Allah Tabaaraka wa Ta’ala (Yang Maha berkat dan Maha Tinggi). Oleh karena itu sayangilah orang-orang yang di muka bumi, niscaya Dzat yang di atas langit akan menyayangi kamu”. (Shahih. Diriwayatkan oleh Imam-imam : Abu Dawud No. 4941. Ahmad 2/160. Hakim 4/159. dari jalan Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash. Hadits ini telah dishahihkan oleh Imam Hakim dan telah pula disetujui oleh Imam Dzahabi).
Juga sabda Beliau :
”Barangsiapa yang tidak menyayangi orang yang dimuka bumi, niscaya tidak akan di sayang oleh Dzat yang di atas langit”. (Shahih, diriwayatkan oleh Imam Thabrani di kitabnya ”Mu’jam Kabir No. 2497).
Pertanyaan : Siapakah Dzat yang di atas langit yang dimaksud ???
B,C,D : “Mmm.. Engg..”
A : ”Jabir bin Abdullah telah meriwayatkan tentang sifat haji Nabi dalam satu hadits yang panjang yang didalamnya diterangkan khotbah Nabi shallallahu'alaihi wa sallam di padang ‘Arafah : ”(Jabir menerangkan) : Lalu Nabi mengangkat jari telunjuknya ke arah langit, kemudian beliau tunjukkan jarinya itu kepada manusia, (kemudian beliau berdo’a) : ”Ya Allah saksikanlah! Ya Allah saksikanlah ! ( Riwayat Imam Muslim 4/41).
Pertanyaan : Kenapa Nabi shallallahu'alaihi wa sallam mengangkat jari telunjuknya ke arah langit seraya berkata “Ya Allaah saksikanlah !” ???
Umar bin Khatab juga pernah mengatakan :
”Bahwasanya segala urusan itu (datang/keputusannya) dari sini”. Sambil Umar mengisyaratkan tangannya ke langit ” [Imam Dzahabi di kitabnya’‘Al-Uluw’'hal : 103. mengatakan : Sanadnya seperti Matahari (yakni terang benderang keshahihannya)].
Pertanyaan : Siapa yang dimaksudkan Umar radhiyallahu anhu yang diatas langit tsb ??
B,C,D : “Mmm.. Enggg..”
A : “Masih gak percaya bahwa Allah di atas langit ???”
B,C,D : “Mmm.. Engg..”
A : Sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam :
“Tidakkah kalian mempercayaiku ? Padahal aku dipercaya oleh Dzat yang di atas langit.” [Hadits Shahih, HR. Bukhari (no. 4351) dan Muslim (no. 1064)].
___________
All, Yakin atau tidak yakin, Iman atau tidak iman, itu pilihan hamba dan perbuatan hamba. Sebagaimana penjelasan Imam Abu Hanifah rahimahullah :
“Iman dan kufur adalah perbuatan hamba. Namun Allah Ta’ala MENGETAHUI (bukan memaksa) siapa saja yang kafir. Dan jika hamba yang kafir tersebut lalu beriman, Allah mencintainya dan sesungguhnya Allah sudah mengetahuinya (bahwa ia akan beriman) tanpa ada perubahan ilmu pada sisi Allah (dari tidak mengetahui menjadi mengetahui)” (Al Fiqhu Al Akbar , hal. 302).
Agar iman kita tidak mamang, tidak hambar, tidak menggantung.. Maka mari kita semua berusaha memupuknya dengan mulai serius dan bersungguh-sungguh belajar agama, terutama belajar aqidah yang benar.. Wallahu Ta'ala A'lam Bish-showaab..
Barakallahu fiikum.
via page Membedah Bid'ah
https://www.facebook.com/PemudaMuslimCom/posts/712723428753384